
Dion dan Rissa masih tercengang, menatap Melati yang kini tengah berdiri menghadap mereka.
Dion berjalan mendekati istri pertamanya itu, lidahnya kelu, namun ia berusaha untuk setenang mungkin.
"Sayang," sapa Dion dengan gemetar.
Melati menghela nafasnya, menatap Dion dengan selidik.
"Kamu kenapa disini? Kenapa tidak masuk menyusul aku?" Tanyanya.
Dion terkejut, sepertinya Melati tidak mendengar apa yang ia bicarakan dengan Rissa sejak tadi.
"I-iya aku minta maaf, aku tadi malah mengambil barang bawaanmu dari Rissa." Dion berdalih.
"Ya sudah tidak apa-apa," sahut Melati.
"Kamu belum selesai belanjanya?" Tanya Dion.
Melati menggeleng, "aku belum puas," jawabnya.
"Oh iya, kenapa Mas menyusul kesini? Memangnya cafe sepi?" Tanya Melati.
"Cafe ramai, tapi aku ingin menemani kamu berbelanja saja. Sudah lama juga kita tidak jalan-jalan," alasan Dion.
Rissa yang sedari tadi berdiri di antara suami juga madunya, merasa kehadirannya tak di anggap sama sekali. Namun bukan Rissa namanya, jika ia tak memiliki seribu cara untuk tetap terlihat tegar.
"Ya sudah kamu mau beli apa lagi? Oh iya, Sa kamu belanja juga, kan?" Dion beralih kearah Rissa, seolah-olah bertanya, namun di balik itu Rissa paham bahwa suaminya tengah menyuruhnya untuk ikut berbelanja.
"Iya, aku lihat-lihat dulu Mas." Rissa menjawab.
"Ya sudah, aku mau kesana," pinta Melati sembari menunjuk pada sebuah toko pakaian wanita.
Dion menyetujui, dan mereka bertiga pun berjalan beriringan.
Rissa berada di samping kanan suaminya, sedangkan Melati berada sisi lainnya.
Melati menggandeng mesra suaminya, berbeda dengan Rissa yang menahan diri dari suaminya.
Tanpa Rissa dan Melati sadari, tangan Dion kini meraih lengan istri keduanya. Hal itu sontak membuat Rissa terkejut, saking terkejutnya ia bahkan tak mampu menepis genggaman tangan suaminya.
Rissa berjalan mengikuti arah langkah suaminya, mata Dion menatap Melati namun tangannya memegang lengan wanita lain.
"Ya Allah, jika seperti ini. Aku tampak seperti perempuan simpanan," gumam Rissa dengan lirih.
***
__ADS_1
Mereka kini telah masuk ke dalam toko, Melati dengan semangat berhambur menyerbu setiap pakaian yang terpajang disana.
"Mas, ini bagus tidak?" Tanya Melati, menunjukkan sebuah gaun selutut dengan motif bunga berwarna hijau pada suaminya.
"Apapun yang kamu pakai, pasti terlihat cantik." Dion memuji istrinya.
Rissa yang berada di belakang Dion, seketika memalingkan wajahnya menahan hatinya yang semakin terasa panas.
"Sa, kamu lihat-lihat baju sana!" Pinta Dion, ia sengaja memelankan suaranya.
Rissa mengangguk, dan berjalan menuju rak baju yang memajang berbagai model. Pilihannya jatuh pada kemeja bertangan panjang, motifnya tak seramai milik Melati. Namun, kemeja itu terlihat begitu indah.
Rissa melihat harga yang tercantum pada baju kemeja itu, ia terkejut melihat nominal untuk sepotong atasan.
"Mahal sekali," ucapanya.
Rissa menaruh kembali kemeja itu pada tempatnya, dan hendak berlalu mencari yang lain.
"Kemeja sepotong saja harganya sampai segitu," gumamnya.
"Kamu suka ini?" Tanya Dion sembari menunjuk kemeja yang sedari tadi Rissa perhatikan.
Rissa menoleh, "Tidak, Mas. Harganya terlalu mahal, aku cari yang lain saja." Rissa berbohong, dalam hatinya ia sangat menyukai dan menginginkan kemeja itu. Namun Rissa tak terbiasa membeli barang-barang mahal, ia lebih baik menggunakan uangnya untuk keperluan yang lebih penting. Terlebih, boros bukanlah kebiasaannya.
"Saya ambil ini satu," ucap Dion pada salah satu pelayan toko.
"Mas, tapi itu mahal. Aku tidak pantas menerima itu." Rissa menuturkan.
"Semahal apapun, selama itu membuat hubungan akan lebih baik, aku masih mampu membelikannya. Apapun untuk istriku," ujar Dion, ia lalu berlalu menghampiri Melati.
Rissa terdiam, entah kenapa senyuman kecil seakan merekah di wajahnya. Hatinya begitu hangat mendengar ucapan Dion.
"Apa kau benar-benar akan mulai menerimaku, Mas. Semoga ini tak sekedar harapanku," Rissa seketika menaruh harap pada suaminya.
***
Dion dan kedua istrinya kini telah kembali ke rumah, hari ini begitu melelahkan untuk mereka bertiga.
Melati menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, ia merasa sangat lelah.
"Senang sekali hari ini," ucapnya.
Dion ikut mendudukkan tubuhnya di samping Melati, sedangkan Rissa ia memilih berlalu menuju dapur. Meski sama merasakan lelah, Rissa berupaya untuk melayani suami juga madunya. Rissa berniat membuatkan minuman untjk suaminya, ia juga tak lupa membuatkan yang sama untuk madunya.
"Non Rissa, biar Bibis aja yang buat minumannya." Bi Ai menawarkan.
__ADS_1
"Tidak usah, Bi. Ini sudah mau selesai kok," tolak Rissa dengan halus.
Dion mengedarkan pandangannya, mencari sosok istri keduanya.
"Rissa kemana?" Guman Dion.
"Mas, cari siapa?" Tanya Melati.
"Oh, ini aku mencari Rissa. Dia kemana ya," ucap Dion.
Melati terdiam sejenak, "mungkin dia langsung ke dapur."
Beberapa hari ini Melati meras Dion berubah sikap, bahkan sejak pertama Rissa datang ke rumahnya.
Namun, Melati mencoba untuk berprasangka baik pada suaminya. Mengingat bahwa Rissa telah memiliki hubungan yang akrab dengan sang mertua.
"Mas, ini baju siapa? Sepertinya aku tadi tidak mengambil kemeja ini," Tanya Melati sembari mengeluarkan sebuah kemeja yang Dion beli untuk Rissa.
"Itu... Itu baju untuk,"
"Bajunya bagus, aku suka..."
Dion menatap Melati yang tersenyum senang melihat kemeja yang di pegangnya, ia bahkan tak sempat mengatakan bahwa kemeja itu bukan untuknya.
"Aku tahu, kamu pasti diam-diam membelikan aku baju ini. Hemm, romantis banget sih kamu Mas..." Melati memeluk hangat suaminya.
Dion terkejut ketika Rissa telah berdiri di sampingnya, sembari membawa dua buah minuman di tangannya.
Rissa tersenyum tipis, dan menaruh minuman itu di atas meja.
"Sa, lihat! Bagus tidak?" Tanya Melati pada Rissa. Melati tampak senang dengan kemeja itu, beberapa kali ia juga memutar-mutar kemeja itu seraya menempelkan pada tubuhnya.
Rissa mengangguk, "bagus, Mbak."
Ia hanya menjawab seadanya.
"Mas, aku kira kau membelikan kemeja itu untukku. Tapi ternyata aku salah... Ckk, bodoh. Kenapa juga aku masih berharap kalau Mas Dion mulai membuka hatinya untukku! Sa, Sa, kamu benar-benar naif!" Seru Rissa dalam hatinya. Terpampang jelas wajah kesedihan di raut Rissa, membuat Dion benar-benar tak enak hati.
"Aku permisi dulu, Mas, Mbak..."
Rissa berpamitan pada keduanya, ia berjalan cepat menuju kamarnya.
Secepat mungkin Rissa masuk dan mengunci pintu kamarnya, hatinya begitu perih.
"Astagfirulloh, tenang, Sa. Tenang! Ini bukan kali pertama kau menelan kekecewaan, kamu harus kuat. Demi Ibu Anna," pintanya pada hati yang kini serasa tersayat-sayat.
__ADS_1
"Astagfirulloh, lagi-lagi aku membuat Rissa sedih. Aku gagal lagi!" Dion mengutuk dirinya, mengutuk sikapnya yang masih belum bisa berbuat adil pada kedua istrinya.