Dua Cincin

Dua Cincin
Terbongkar


__ADS_3

Dokter Radit masih mematung di tempatnya, membuat Melati begitu penasaran.


"Dokter Radit, kenapa diam?" Tanya melati.


Dokter Radit tersadar, dan meminta Melati untuk kembali duduk.


"Kenapa, Dok? Ada apa? Semuanya baik-baik saja, kan?" Tanya Melati.


Dokter Radit menarik nafasnya dalam, mempersiapkan diri untuk memberitahu apa yang seberanya terjadi.


"Begini, Mel. Sebelumnya aku ingin tanya. Sejak kapan kamu tidak menstruasi?" Tanya Dokter Radit, ia memastikan terlebih dulu kebenaran tentang hasil pemeriksaannya.


Melati terdiam, mengingat kapan terakhir ia mendapatkan menstruasi.


"Aku sedikit lupa, tapi sepertinya terakhir aku menstruasi itu saat aku hamil anak pertamaku dulu, tapi sayang... Anakku meninggal saat dulu di lahirkan," tutur Melati dengan nada sedih, mengingat kembali kejadian memilukan pada dirinya.


"Apa aku boleh tahu penyebab anakmu meninggal?" Tanya Dokter Radit.


Melati menggeleng, "aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, yang aku ingat selama kehamilan pertama, aku sering mengeluh sakit di sekitar perutku. Bahkan karena itu aku juga melahirkan sebelum waktunya," jawab Melati.


"Dokter Radit kenapa menanyakan hal itu? Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Melati.


"Apa kamu punya riwayat penyakit seperti kista, atau permasalahan lain?" Tanya Dokter Radit lagi.


Melati mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak mengerti maksud Dokter Radit.


"Sepertinya tidak. Dokter Radit, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Melati dengan memaksa.


"Mel maaf sebelumnya, tapi kamu tidak memiliki rahim..."


Akhirnya Dokter Radit secara gamblang mengungkap kondisi Melati.


Melati terkejut, ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Tidak, tidak mungkin, Dok. Jangan bercanda," ucap Melati dengan tidak percaya.


Di jalan Dion masih berusaha menerobos kemacetan, ia juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ya Allah, semoga aku tidak terlambat."


Itulah do'a yang Dion panjatkan sepanjang perjalanan.


***


"Mel aku tidak bercanda, aku serius. Apa kamu tidak tahu tentang kondisimu?" Tanya Dokter Radit.

__ADS_1


Melati menggelengkan kepalanya lemah, ia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dokter Radit.


"Mel, apa suamimu tahu tentang ini!" Tanya Dokter Radit.


Melati terdiam, nafasnya memburu.


"Mas Dion! Dia pasti tahu tentang ini, aku tidak percaya ini, Mas. Teganya kau membohongiku selama ini," Melati mengepalkan kedua tangannya.


Dion baru saja sampai di rumah sakit, ia segera berlari mencari istrinya.


"Rissa," panggil Dion ketika melihat Rissa yang tengah mondar mandir di depan sebuah ruangan.


"Mas," ucap Rissa sembari menatap Dion yang berlari kearahnya.


"Mana Melati?" Tanya Dion, nafasnya tersengal.


"Mbak Melati di dalam," jawab Rissa dengan gemetar.


Dion tertegun, dengan cepat ia menerobos masuk ke dalam ruangan.


"Mas..."


Rissa memanggil Dion, dan ikut masuk menyusul suaminya.


Melati dan Dokter Radit menoleh, menatap Dion yang datang secara tiba-tiba.


Melati berdiri, menatap suaminya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Sayang, apa konsultasinya sudah di mulai?" Tanya Dion dengan ragu. Ia berusaha untuk terlihat tenang di depan istrinya.


Emosi Melati mencuat ke permukaan, secepat kilat tangannya kini melayang menuju pipi suaminya.


Plak!


Rissa terkejut, begitupun dengan Dion. Ia memegangi pipinya yang memerah, rasa panas kini menjalar di sekitar wajahnya.


"Sayang, kenapa kamu menamparku?" Tanya Dion tidak percaya.


"Kamu jahat! Kamu tega membohongi aku, Mas!" Bentak Melati.


Melati hendak melayangkan lagi tangannya, namun Rissa berhasil menghalangi Dion dari tamparan Melati.


Plak.


"Ah..."

__ADS_1


Rissa meringis, ketika tamparan kedua Melati mendarat di pipinya.


Melati tak menduga jika Rissa akan menghalangi Dion, ia merasa tidak enak hati. Namun, emosinya pada Dion lebih tinggi dari rasa bersalahnya saat ini pada Rissa.


"Astagfirulloh, Sa." Dion terkejut ketika Rissa mendapat tamparan dari istri pertamanya.


"Mel, kamu apa-apaan? Kenapa kamu ini?" Bentak Dion, ia juga tidak menerima perlakuan Melati yang kasar.


"Kenapa kamu menutupi semuanya dariku?" Tanya Melati dengan nada tinggi, dadanya naik turun. Amarah begitu menguasai hatinya saat ini.


"Ma-maksudmu apa, aku tidak mengerti?"


Dion menyangkal, dalam hati ia telah mengira bahwa kini Melati tahu yang sebenarnya.


"Kamu tahu kan kalau sebenarnya aku tidak bisa hamil lagi?" Tanya Melati.


"Sayang aku bisa jelaskan..."


Melati menepis tangan Dion yang menyentuh bahunya, ia dengan cepat meraih tas dan keluar dari ruangan itu.


"Sayang, tunggu. Aku bisa jelaskan..."


Dion mengejar Melati, ia tak ingin jika sampai Melati marah padanya.


Rissa hendak menyusul suami juga madunya, namun di cegah oleh Dokter Radit.


"Hey, tunggu. Biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya," pinta Dokter Radit.


Rissa terdiam, ia tak tahu apa yang harus di lakukannya.


"Maaf, kalau boleh tahu. Kamu siapanya Melati?" Tanya Dokter Radit.


"A-aku bekerja di rumah Mbak Melati dan Mas Dion," jawab Rissa.


Dokter Radit menganggukkan kepalanya, entah mengapa Rissa begitu terlihat menarik di matanya.


"Aku permisi Dok," pamit Rissa pada Dokter Radit.


Dokter Radit mempersilahkan, kini ia menatap punggung Rissa yang keluar dari ruangannya.


"Aku baru tahu Melati punya pekerja seumuran dia," gumam Dokter Radit.


Senyumnya menyembul, membayangkan wajah Rissa yang putih bersih, berubah memerah ketika mendapat tamparan dari Melati.


"Tapi kenapa dia rela menjadi tameng suami Melati?" Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Dokter Radit menghela nafasnya, ia kembali teringat kondisi Melati. Saat ini ia mengerti apa yang tengah di rasakan oleh temannya itu, mendapati kenyataan yang sangat sulit untuk di hadapi seorang perempuan.


__ADS_2