
Kesuksesan suatu hubungan itu, berawal dari sebuah kejujuran.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Dion mengejar istrinya yang kini berlari di depannya, secepat mungkin ia berusaha untuk menyusul Melati.
"Mel, berhenti. Dengarkan aku," teriak Dion, namun Melati sama sekali tak menggubris. Ia terus berlari menghindari suaminya, ia berlari menyusui tepian jalan.
Seketika Melati menghentikan laju sebuah angkutan umum, ia dengan cepat masuk ke dalamnya.
"Mel, turun. Dengar penjelasan aku!"
Dion mengejar mobil angkutan umum yang membawa istrinya, namun ia tak dapat mengejarnya.
Dion tampak begitu panik, ia segera berbalik berniat untuk menyusul Melati menggunakan mobilnya.
"Mas, Mbak Melati mana?" Tanya Rissa ketika Dion berlari di depannya.
Dion dengan nafas memburu, tampak begitu kecewa pada Rissa.
"Kenapa kamu biarkan Melati datang ke Rumah sakit ini? Aku sudah mengirimu pesan, bawa dia ke Rumah sakit yang sudah aku tentukan!" Bentak Dion pada Rissa.
"Mas, maaf tapi tadi ponselku ketinggalan. Aku tidak tahu Mas menyuruhku membawa Mbak Melati ke tempat yang sudah Mas tentukan," sahut Rissa. Ia mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
"Alasan! Kamu sengaja kan ingin memberitahu Melati yang sebenarnya? Kalau sampai ada apa-apa dengan Melati, aku tidak bisa memaafkanmu!" Seru Dion sembari berlalu meninggalkan istri keduanya itu.
Dion berjalan menuju mobil, dan masuk ke dalamnya.
Rissa berusaha menjelaskan pada suaminya, ia benar-benar tidak tahu semua akan seperti ini jadinya.
"Mas, tolong dengarkan aku dulu. Aku minta maaf, Mas..."
Rissa mengetuk kaca jendela mobil Dion, namun Dion sama sekali tak menoleh ke arahnya. Ia malah menyalakan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan cepat.
"Mas..."
Teriak Rissa, namun usahanya itu hanya sia-sia.
Rissa menangis, mengutuk dirinya sendiri.
"Sa, kamu benar-benar bodoh. Kalau saja kamu bisa menghalangi Mbak Melati untuk masuk, mungkin semuanya tidak akan seperti ini!" Serunya dalam hati.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Rissa tampak kebingungan, ia juga khawatir dengan keadaan Melati saat ini.
Tanpa sengaja, Dokter Radit melihat Rissa yang tengah berdiri di area parkiran Rumah sakit.
Dokter Radit berjalan mendekati Rissa, hendak menanyakan apa yang tengah di lakukan wanita berkerudung itu.
"Hey," sapa Dokter Radit.
Rissa menoleh, menatap Dokter Radit yang berjalan kearahnya.
"Kamu masih disini? Melati mana?" Tanya Dokter Radit.
__ADS_1
"Sepertinya Mbak Melati belum bisa menerima kenyataan ini, dia syok." Rissa menuturkan.
Dokter Radit terdiam, ia juga bersimpati akan apa yang di alami oleh Melati.
"Lalu kamu kenapa masih disini?" Tanya Dokter Melati.
Rissa tak menjawab, ia tidak berniat untuk memberitahu orang lain tentang permasalahan pribadinya.
Dokter Radit memahami sikap Rissa, ia juga tak bermaksud untuk mencampuri urusan keluarga orang lain.
"Dok, maaf sepertinya aku harus pergi. Permisi," pamit Rissa pada Dokter Radit.
"Tunggu!" Seru Dokter Radit.
Rissa menghentikan langkahnya, "iya, kenapa Dok?" Tanyanya.
"Kalau boleh tahu sekarang kamu mau kemana?" Tanya Dokter Rissa.
"Emm, aku mau pulang. Mudah-mudahan Mbak Melati sudah ada di rumah." Rissa menjawab dengan canggung.
"Oh, kalau begitu bagaimana kalau saya antar? Kebetulan saya juga ingin mengecek kondisi Melati," ajak Dokter Radit.
Rissa sejenak berpikir, ia juga ingin cepat menemui Melati.
"Memangnya tidak merepotkan, Dok?" Tanya Rissa.
Dokter Radit menggeleng dengan cepat, "tidak merepotkan sama sekali. Kalau begitu mari,"
Dokter Radit meminta Rissa untuk masuk ke dalam mobilnya.
***
Di tempat lain, Melati tak pulang ke rumahnya. Ia memilih untuk menyambangi makam anaknya, saat ini ia tak tahu harus berbuat apa.
Ia benar-benar merasa di bohongi oleh suaminya, harapannya kini pupus sudah.
"Pantas saja kamu selalu ingin menunda setiap aku meminta untuk di antar konsultasi, Mas. Ternyata kamu menutupi semuanya dariku! Kamu tega, Mas. Tega..."
Melati benar-benar kecewa, ia bahkan tak tahu harus menyikapi masalah ini seperti apa.
"Kenapa semua ini terjadi padaku, kenapa aku harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya..."
Dion terus mencoba menghubungi istrinya, namun ia tak mendapati jawaban dari sang istri.
"Astagfirulloh, Mel. Angkat dong..." Dion terus merasa gusar. Ia sama sekali tak mengingat Rissa yang ia tinggalkan di Rumah sakit, saat ini Dion hanya mengkhawatirkan istri pertamanya.
Dion melajukan mobilnya dengan cepat, tujuannya kini adalah rumah.
Ia berharap istrinya sudah sampai di rumah, tentunya ia juga berharap dapat menjelaskan semuanya pada Melati.
Tak butuh waktu lama, Dion telah sampai di rumahnya. Ia berlari menerobos masuk ke dalam rumah, berteriak memanggil istrinya.
"Mel, Mel..." Dion berjalan cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Dion tak mendapati istrinya. Ia kembali keluar, dan mencari Melati di ruangan lain.
"Bi... Bi Ai,"
Dion hendak menanyakan keberadaan Melati pada Bi Ai.
"Iya, Den. Ada apa?" Sahut Bi Ai dari arah dapur.
"Melati mana?" Tanya Dion tanpa basa basi.
Bi Ai mengerutkan keningnya, "Bibi tidak tahu, Den. Bukannya Non Melati tadi pergi sama Non Rissa?"
Dion menepuk jidatnya, rupanya istrinya tak pulang ke rumah.
"Den, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Bi Ai.
Dion tak menggubris, ia segera kembali pergi dari rumahnya.
"Ya Allah, apa yang terjadi? Kenapa Den Dion sepertinya panik sekali."
Bi Ai tampak bertanya-tanya.
Saat Dion hendak mengeluarkan mobilnya, ketika itu pula ia melihat Rissa turun dari sebuah mobil tepat di depannya.
Setelah Rissa turun, tak lama Dokter Radit menyusul dan hal itu membuat Dion terheran.
Ia kembali keluar dari mobilnya, dan berjalan menghampiri istri keduanya itu.
"Mas," ucap Rissa ketika Dion berjalan kearahnya.
"Kenapa kamu bisa pulang bersama Dokter Radit?" Tanya Dion pada Rissa.
Rissa tampak gelagapan ketika suaminya bertanya secara tiba-tiba, "a-aku tadi..."
"Saya yang menawarinya untuk di antar pulang, kebetulan saya juga ingin melihat kondisi Melati." Dokter Radit menjelaskan pada Dion apa adanya.
"Melati belum pulang," ucap Dion dengan kesal.
"Lain kali jangan pulang dengan sembarang orang, apalagi laki-laki!" Seru Dion pada Rissa dengan tegas.
Rissa terdiam, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa berbicara apapun.
"Kenapa dia tidak boleh pulang bersama orang lain? Saya hanya berniat baik, saya ingin menemui Melati dan kebetulan juga dia bekerja di rumah kalian. Jadi tidak ada salahnya kalau saya memberi tumpangan," tutur Dokter Radit dengan lugas.
"Anda harus tahu dia bukan pekerja..."
"Mas, sudah. Aku minta maaf, lain kali aku tidak akan mengulanginya." Rissa menyela ucapan suaminya.
"Dokter terima kasih untuk tumpangannya, maaf sudah merepotkan..." Rissa membungkukkan tubuhnya.
Dokter Radit menganggukkan kepalanya, ia juga mengulum senyum ramah pada Rissa.
"Sama sekali tidak merepotkan, saya justru senang bisa bertemu sama kamu," ucap Dokter Radit dengan jujur.
__ADS_1
Entah kenapa Dion tampak tak suka dengan ucapan Dokter Radit, bahkan seperti ada rasa kesal ketika Dokter Radit tersenyum kepada istrinya.
Ia segera menarik tangan Rissa, dan menggiringnya menuju rumah tanpa berucap satu katapun pada Dokter Radit.