Dua Pilihan

Dua Pilihan
Rumah Sakit


__ADS_3

Malam hari. Keluarga Wilo dan Evan mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Wilona.


Saat itu Hans dan Melodi tengah membahas sakit di kepala Wilo. namun Wilona seperti orang ling-lung.


Evan berlari kencang menghampiri Wilona, di susul oleh adik dan orang tua Wilo.


"Wil, kamu gak apa-apa kan? kamu gak terluka kan?" ujar Evan cemas.


"Em.. aku baik-baik aja kok, emangnya ada apa?" sahut Wilo bingung.


Evan juga bingung dengan jawaban Wilo. namun Hans mencoba untuk menjelaskan.


"Van, wilo baik-baik saja. hanya saja pikirannya belum normal total. Karna otak belakangnya kena masalah." jelas Hans.


Evan seakan emosi, ia pun menyengkram baju Hans dengan tatapan tajam.


"Ini semua karna kamu! Kenapa di setiap urusan kalian harus aja dia hah!! Kerjaan dia itu di kantor. Bukan di ruko!!" bentak Evan.


Melodi memejamkan mata karna rasa takut dan juga bersalah saat mendengar teriakan dari Evan.


Orang tua Wilo mencoba melerai mereka.


"Nak Evan, sudah. jangan salahkan mereka. Ini terjadi begitu saja, gak ada yang salah dan di salahkan. Wilona adalah bawahan mereka, makanya itu wajar jika mereka menyuruhnya." tutur mama Wilona.


Melodi langsung memeluk mama Wilo sambil menangis.


"Maafkan aku tante, ini semua salahku. Wilo celaka karna melindungiku.


Aku janji, aku akan menebus semua ini. Aku akan membayar gaji Wilona dua kali lipat. Kalo kalian mengizinkan, aku akan mengurus Wilo di rumahku sampai dia sembuh."


Melodi mecium tangan mama Wilo untuk memohon. Sedangkan Wilo sendiri bingung dengan tingkah mereka yang di anggapnya aneh.


"Nak, bukannya kami gak mau, tapi Wilona gak terbiasa tinggal di rumah orang. Biarkan kami yang mengurusnya. kamu gak perlu minta maaf, dan gak perlu membayar gajinya dua kali lipat. Dengan kalian membayar rumah sakit ini saja, itu lebih dari cukup." timpal papa Wilo.


Widona berfikir sejenak. "Ma, pa. biarkan saja kak Wilo di rawat mereka. Lagian kalo di rumah, siapa yg urus? kalian kerja, aku kuliah, sedangkan pembantu kita cuma satu. Lagian cuma sampe kak Wilo sembuh doang kok." usul Dona.


Hans juga turut mendekati mereka.


"Benar om, tante. Biarkan istriku bertanggung jawab. Kami janji akan merawat anak kalian dengan baik." tambah Hans.


Sementara Evan merasa tak terima.


"Hei.. apa-apaan kalian! kenapa harus maksa? biarkan Wilona di rawat di rumah sakit. Aku yang menjaganya dan aku yang membiayai semuanya." tegas Evan.


"Maaf tuan, bagaimana kalo kita tanyakan langsung saja pada Wilona." cela Melodi.

__ADS_1


"Iya itu lebih baik. Karna semuanya tergantung pada Wilona." sahut mama Wilo.


Mereka semua mendekati ranjang Wilona.


Melo duduk di kursi di dekat ranjangnya sembari menggenggam tangan Wilo.


"Wil, apakah kamu mau tinggal di rumah kami untuk sementara? aku akan merawatmu. Aku akan menyewa dokter juga untukmu." jelas Melodi.


"Apakah rumahmu bagus? kalo jelek, aku gak mau." jawab Wilo cuek.


"Iya.. iya.. Rumah kami bagus kok. Kamu kan sering kesana, apa kau lupa?"


"Oh iya ya.. Aku baru ingat, hehe.


Aku mau deh tinggal di sana. Tapi harus di kamar yang gede ya." sahut Wilo cengengesan.


"Iya, kamu tenang aja. Semuanya bisa di atur. Jadi, besok kita pulang ya."


"Iya.. iya. aku udah gak sabar." timpal Wilo menganggukkan kepala bak anak kecil.


Evan bisa mengerti dengan keadaan Wilo yang sekarang, walaupun sikapnya bukanlah seperti Wilo yang ia kenal.


Namun ia tau, bahwa hanya ada gangguan kecil pada syaraf otaknya. dan itu pasti akan sembuh.


"Malam ini aku tidur disini, biar aku yang jagain Wilo." ketus Evan.


"Iya ma. lagian besok pagi papa mau ngantor, di sini juga gak boleh terlalu banyak penjaga pasien. Kita pulang aja ya." ujar papa Wilo.


"Tapi gimana kalo nanti Wiona mencari kita pa?" tanya mama Wilo cemas.


Sekali lagi Melodi menghampiri mama Wilona.


"Tante jangan cemas. ada aku yang selalu bersama Wilona. Tante dan om pulang saja, gak masalah kok." ujar Melodi dengan lembut.


"Baiklah kalo gitu. Tante titip Wilona ya."


Mama dan papa beserta adik Wilona pulang dari rumah sakti setelah berpamitan dengan anak mereka.


Saat di parkiran, mereka di kejutkan dengan kedatangan Vino yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Om, tante. Apakah Wilona di rawat di sini?" tanya Vino.


"Siapa kamu?" ketus papa Wilo.


"Kalian lupa padaku? aku Vino, pacar Wilona selagi sekolah dulu." jelas Vino sembari mencium tangan orang tua Wilo.

__ADS_1


Mama Wilo menepis tangan Vino.


"Aku ingat siapa kamu. Karna kamu adalah orang yang menyakiti hati Wilona hingga ia pernah hampir bunuh diri.!" ketus mama Wilo.


"Itu kan dulu tante, sekarang aku dan Wilo sudah baik-baik saja, kami sudah berteman." sahut Evan menyesal.


"Lalu apa urusanmu? bukankah kamu sudah menikah kan? jadi tolong jangan dekati Wilona lagi, karna aku gak akan pernah suka dengan orang penghianat sepertimu!!"


Vino tetap meminta maaf dengan menyentuh kaki mereka. Namun orang tua Wilona mengabaikannya dan meninggalkannya pergi.


Vino masih berlutut di parkiran sendirian, sembari meratapi kesalahan yang ia buat.


"Wilo... Apakah aku sejahat itu? Apakah hatimu sesakit itu saat kutinggalkan? maafkan aku Wilo...!! Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku!! aku akan memperbaiki semuanya..."


Vino berteriak kencang, mengeluarkan semua isi hatinya hingga ia merasa lega.


Namun ia di kira orang gila oleh semua orang yang lalu lalang ke parkiran.


Vino berusaha mencari kamar Wilona. namun ia tidak menemukannya. Ia malah melihat Evan yang saat itu habis dari toilet.


Vino langsung pergi, karna ia tidak mau Evan mengetahui keberadaannya.


_


Esok hari.


Orang tua Wilona datang lagi ke rumah sakit untuk mengantarkan anaknya pulang ke rumah Hans.


*Ternyata istri Hans sangat cantik dan juga baik. Aku gak percaya bahwa Hans sudah benar-benar menikah. Tapi aku lega jika mereka mengurus Wilo, supaya dia cepat pulih.* batin mama Wilo menatap Melodi yang sedang berkemas membersihkan tempat tidur Wilona.


"Wil, sebelum kamu ke rumah bos kamu, nanti mampir ke rumah kita dulu ya, buat ambil pakaian kamu." ujar Mama sambil mengusap rambut Wilo.


Melodi menghampiri dengan senyuman.


"Gak perlu tante. Kebetulan aku mau buka butik, jadi biar aku yang memberikan Wilona baju. Tante gak perlu khawatir." tutur Melodi.


"Apakah kamu gak rugi nak? bukankah butiknya belum di buka?" timpal mama Wilo.


"Tente tenang saja, itu urusan kecil, aku gak akan rugi sama sekali. Sekarang ayo kita dorong kursi roda Wilo."


"Oh iya, kamu saja yang dorong, biarkan aku dan Dona yang membawakan barang-barang kalian."


Sementara itu, Hans tengah membayar biaya rumah sakit. Sedangkan Evan lagi mencari dokter untuk merawat Wilona.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


Like, komen, vote🙏


__ADS_2