Dua Pilihan

Dua Pilihan
Aksi Vino


__ADS_3

Malam hari di rumah Hans.


Mereka sedang bersantai sambil nonton tv di dalam kamar.


"Sayang, aku punya tugas untukmu. kuharap kau bisa mengerjakannya." ujar Hans dengan serius.


"Hah? tugas apa?" tanya Melodi.


Hans pun langsung memberitahu apa yang harus di kerjakan Melo.


"Hm.. aku akan berusaha Hans, tapi maafkan aku jika aku gak berhasil, karna aku gak bisa ngedrama." tutur Melo merunduk.


"Aku percaya padamu sayang. kau pasti bisa. ini demi kita dan perusahaan kita." Hans merangkul mesra istrinya itu.


Di lain sisi.


Silsila tengah memandangi layar ponselnya saat bermain sosial media. Ia seketika geram saat melihat foto kebersamaan Wilo dan Evan yang mesra di lengkapi pemandangan indah kota paris.


"Kau bersenang-senang ya disana! kenapa sih hidupmu selalu ada aja yang menolong! kenapa kau gak bersukur di cintai Evan dan Vino. kenapa masih menginginkan Hans!" tegas Sila geram.


"Hari ini rancanaku gak berhasil. tapi lain kali, tidak akan gagal lagi. Wilo. aku akan membuatmu terpuruk sampai tak bisa bangkit lagi.!" Sila menggepalkan kedua tangannya dengan tatapan kebencian.


Sila langsung menghubungi Vino untuk memberitahu masalah itu.


Saat itu, Vino sedang bersantai.


Drrrtttt... Ddrrttt...


"Ada apa sih orang ini nelpon malam-malam. ganggu aja."


"Halo, Sil ada apa?"


"Vin, apa kamu gak liat di sosial media Wilo. fotonya bersama Evan mesra banget. apa kamu gak cemburu.? kayaknya mereka pacaran."


"Hah? serius? oke bentar."


Vino langsung membuka laptopnya dan mencari sosial media milik Wilo. *hm.. aku gak yakin mereka pacaran, karna Wilo mencintai Hans. tapi... gimana kalo itu beneran?.*


"Halo Sil. besok aku akan ke paris. kau tetap lanjutkan rencana kita di sin**i."


"Hah? mau ngapain kamu kesana?"


"Kau gak perlu tau. ya sudah, ku tutup telponnya."


~


Esok Hari.


Vino bertekat untuk pergi ke kota romantis itu. entah apa yang hendak ia lakukan. ia tak pergi sendirian, melainkan mengajak beberapa orang suruhannya.


Setibanya di sana, ia langsung menelpon nomor telpon di kamar hotel Wilo. ia begitu cerdik hingga dengan mudah mendapatkan nomor telpon kamar tersebut.


Suara telpon berdering, saat itu Wilo batu saja bangun dari tidur.


Ia pun menjawabnya dengan menggunakan bahasa inggris.


"Hello? siapa?" tanya Wilo dengan ramah.

__ADS_1


"Selamat pagi nona. ada titipan bunga mawar untukmu dari seseorang. tapi dia ingin anda mengambilnya sendiri di belakang hotel, karna dia ingin menemui anda."


"Owhh. oke. aku segera kesana. dahh"


Wilo menutup telponnya dengan senyuman. ia merasa bahwa orang itu adalah Evan. ia pun langsung ke bawah menggunakan lift.


Masih menggunakan baju tidur dan sandal hotel, ia berjalan pelan sambil melihat sekitar untuk mencari orang itu.


"Dia dimana sih? kenapa gak anterin ke kamar aja coba." gerutu Wilo masih terus melangkah.


Ia pun melihat seseorang menggunakan style modern dengan jaket tebal, namun wajahnya tak nampak karna menghadap ke sisi lain.


Wilo berfikir bahwa itu adalah pacarnya, Evan. ia pun hendak mendekati.


Namun saat ia hendak memanggil nama Evan, ucapannya terhenti saat ponselnya bergetar. terlihat dari layar ponsel ada nama Evan yang sedang memanggil.


"Loh, Evan nelfon?" ia pun menjawabnya dengan santai tanpa curiga sedikit pun.


"Good morning bunny tersayang. kamu sudah bangun? aku baru bangun nih." ujar Evan dalam telpon tersebut dengan nada serak karna baru bangun dari tidur.


"Van, kamu di mana? bukankah kamu mau kasih aku kejutan ya?"


"Hah? kejutan apa? aku masih di kamar, ini baru melek. kamu dimana?"


"Aku... aku di belakang hotel. kamu buruan kesini."


Wilo mundur perlahan tanpa menutup telponnya.


*Kalo itu bukan Evan.. lalu...... siapa dia?*


Wilo mulai panik, ia pun berbalik badan dan hendak lari. namun dua orang menghadangnya dari depan dan langsung memegang kedua tangan Wilo


"Gak perlu ngomong pake bahasa inggris nona." jawab kedua pria berpakaian serba hitam di lengkapi dengan masker dan kaca mata itu.


"Kalian orang indonesia? mau apa kalian? lepaskan aku. atau aku akan teriak."


"Teriak saja kalo berani." timpal pria itu dengan sinis.


"Help...!! Help me, please.....!!" teriak Wilo dengan keras.


Tak tinggal diam, pria itu langsung menyekap mulut Wilo dengan saputangan yang sudah di beri obat bius.


Ponsel Wilo terjatuh, terdengar suara Evan yang terus memanggilnya.


Pria yang membawa bunga mawar itu pun mendekat.


"Heh, Wilona.. ini akibatnya jika kau menolakku dan lebih memilih orang lain." pria itu adalah Vino yang sengaja menjebak Wilo.


Mereka pun membawa Wilo masul ke mobil.


Sementara Evan baru saja tiba di tempat kejadian.


"Ini ponsel Wilo." ia memungut dan menyimpannya.


"Ahh. itu Wilona. heii tunggu..!" beruntung Evan melihat Wilo yang sedang mereka gotong ke dalam mobil.


Mobil itu langsung tancap gas dan melaju kencang saat melihat Evan di belakangnya.

__ADS_1


Evan pun tak tinggal diam, ia juga langsung mengambil mobilnya di parkiran dan mengejar mobil Vino.


"Kurang ajar! aku kehilangan jejaknya!" dengan kesal Evan memukul setir mobilnya.


Evan terus mengejar mobil itu, sembari berfikir akan mereka bawa kemana pacar kesayangannya.


~


Tibalah mereka di rumah megah berlantai tiga.


Wilona di letakkan di kasur yang sangat empuk dan kamar yang luas dan mewah.


Satu jam kemudian, obat bius itu sudah habis. Wilo pun mulai sadar.


Betapa kagetnya dia saat melihat Vino yang berbaring di sebelahnya sembari membelai rambutnya.


Wilo langsung berdiri dan turun dari temlat tidur.


"Vino.?? kenapa kau di sini hah?" ujar Wilo panik.


"Ini rumahku, dan kamu ada di kamarku. Sini dong, kita rebahan bareng kayak tadi." tutur Vino tersenyum.


"Cuihh.. najis!! Vino, kamu sudah gila ya?! kenapa sih gak biarin aku hidup tenang! di luar sana masih banyak wanita yang lebih sempurna dariku.!"


Vino turun dari ranjangnya dan mendekati Wilona.


Wilo semakin takut, ia terus berdoa supaya Evan dapat menemukannya tepat waktu.


Wilo mundur perlahan saat Vino terus mendekatinya.


*Aku harus gimana? aku gak akan biarin dia menyentuhku sedikitpun!*


Wilo terus mundur hingga mentok di dinding. ia pun makin panik namun pura-pura tenang.


"Kau tau? di dunia ini memang banyak gadis cantik, bahkan banyak yang lebih seksi. tapi aku lebih tertarik padamu. Karna kamu berbeda dengan mereka.


Hari ini kau harus jadi milikku."


Vino membelai wajah Wilo yang tengah ketakutan itu.


Wilo terus memalingkan wajahnya sembari mencari celah untuk keluar dari kamar itu.


"Jangan berfikir untuk kabur. karna pintu dan jendela sudah kupasang rantai gembok. percuma kamu berontak kabur." tegas Vino sinis.


"Vin, kamu kok jadi jahat kayak gini sih. mana Vino yang dulu aku kenal baik. tolong sadarlah Vin.! jangan terlalu berambisi." ujar Wilo geram.


"Ambisi kamu bilang? ini bukan ambisi, tapi hasrat. karna aku gak bisa lupain kamu, dan aku gak rela kau jadi milik orang lain."


Evan mencekam tangan Wilo dan hendak menciumnya.


dengan cepat, Wilo memutarkan badannya lalu mendorong Vino ke dinding dengan kuat.


Wilo berusaha membuka pintu dan jendela, namun dikunci dengan rantai, kecuali pintu. Wilo berusaha mencari semua kunci untuk membukanya.


sementara Vino masih mengerang kesakitan karna terdorong ke dinding cukup kencang. ia merasa nafasnya sesak.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2