Dua Pilihan

Dua Pilihan
Nyawa Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Masih berada dalam kamar Vino, Wilo terus mencari cela untuk melarikan diri dari orang jahat itu.


"Brengs*k! sama sekali gak ada cela. Aku harus gimana?" gumam Wilo dengan panik.


"Heh. Wilo.. Wilo.. kamu gak akan bisa keluar. walaupun kamu berhasil lari dari kamar ini, tapi kamu gak akan berhasil keluar dari rumah ini. karna ada penjanga di depan pintu."


Vino mencoba bangkit kembali setelah rasa sakitnya berangsur pudar.


"Sial! aku harus gimana?!" Wilo melihat sesuatu dari atas lemari.


Selagi Vino masih kesakitan, Wilo pun bergerak cepat mengambil benda tersebut.


"Hm.. dapat! mungkin ini bisa membantu." sebatang besi yang cukup besar telah ia dapatkan. Wilo bergegas memukul gembok dan rantai itu supaya bisa meloloskan diri.


"Sial kau Wilo.! akkhh.. dadaku masih sesak, dorongannya cukup kuat." Vino berusaha bangkit perlahan sambil memegang dadanya.


"Ayolah.. ku mohon." gumam Wilo. ia terus memukul gembok itu hingga terlihat percikan api yang keluar. sesekali ia menoleh Vino yang tengah berusaha bangun itu.


Kraakk....!!


Gembok itu terbuka.


"Alhamdulilah." dengan cepat Wilo membuka rantai di jendela itu, dan akhirnya dia bisa membukanya.


Wilo mengambil kursi, kemudain memanjat untuk keluar. namun Vino langsung berdiri cepat dan mengejar Wilo yang masih di jendela.


"Sial..! bajuku nyangkut!"


Vino semakin dekat, namun Wilo.terus menarik bajunya yang tersangkut di engsel jendela. ia pun memariknya dengan kuat hingga bajunya robek.


Saat hendak terjun dari jendela. Vino pun berhasil meraih kakinya..


"Kamu gak akan lolos dariku Wilona.!" Vino terus menarik kaki Wilo hingga Wilo kembali jatuh ke dalam kamar.


"Lepasin bangs*t!!" Wilo terus mendorong Vino dan memukulinya.


Vino menggendong Wilo dan meletakkannya di kasur.


"Aku gak akan biarin kamu lolos lagi. hehe. Sekarang ayo kita lakukan." Vino membuka bajunya dan langsung menindih Wilo.


"Menyingkir kau b*jingan!! Lepasin aku.! kau bukanlah manusia!!" Wilo teriak memaki Vino yang terus berusaha menciumnya, namun Wilo selalu berpaling.


Tangan Wilo sudah lelah karna terus memukul tubuh Vino, namun orang itu seakan tak merasakan sakit. bahkan Wilo menggigit tangan Vino sampai berdarah. namun Vino tetap melanjutkan aksinya.


"Kamu sudah gila Vino...!!"


Vino sengaja tak memberi cela pada Wilo, supaya Wilo tak bisa bergerak. ia juga sudah merobek baju atas Wilo dan berusaha untuk mengecup dadanya.


"Kurang ajar!! b*jingan!!" Wilo menabrakkan kepalanya dengan kuat ke kepala Vino, walaupun dia merasa sakit, setidaknya Vino juga kesakitan.

__ADS_1


"Akhh.. Gadis sialan!" Vino menampar wajah Wilo hingga telapak tangannya membekas di pipi Wilo yang mungil itu.


"Kau yang sialan! bedeb*ah!!" teriak Wilo dengan air mata.


"Heh! aku semakin berhasrat untuk memilikimu." Vino mulai membuka celananya.


Dalam kesempatan yang sangat sedikit itu, Wilo pun menendang alat vital Vino dengan kuat hingga Vino terguling tak berdaya menahan sakit.


"Cewek gampangan!! awas kau.!" geram Vino dengan mata terpejam.


"Rasakan itu!!!" ujar Wilo sambil naik jendela. akhirnya dia berhasil keluar dari kamar itu walaupun keadaan bajunya sudah tak sedap di pandang.


Belum berakhir sampai di situ, di luar kamar ternyata ada dua penjaga. Wilo berjalan mengendap-endap supaya tidak ketahuan.


"Hei.. mau kemana kau?"


*Sial. aku ketahuan.* Wilo pun langsung berlari mencari pintu keluar rumah itu.


Terjadilah kejar-kejaran, hingga Wilo berhasil keluar dari rumah.


Bruukkk....


Wilo di hadang lagi oleh penjaga yang lain. tangannya langsung di cekal.


Wilo berontak sambil teriak. "Lepasin aku brengs*k!!"


Penjaga itu membawa Wilo kembali masuk ke dalam rumah, ia pun bertemu lagi dengan Vino.


"Cuiihh.. beginikah caramu memperlakukan wanita? aku malah bersukur kau cerai dengan istrimu. jika dia tau kelakuanmu seperti ini, pasti dia sangat menyesal pernah mengenal kamu. Aku juga menyesal mengenal orang sepertimu Vino!!"


"Haha.. aku juga bersukur bercerai dengan istriku. karna aku bisa kembali mendekatimu cantik." Vino hendak mencium Wilo.


Brakkkkk.. !!


Wilo kembali menendang Vino, namun kali ini tidak tepat pada target, karna tendangannya mengenai perut Vino.


Brruuggg... !!


Vino memberi pukulan pada wajah Wilo hingga bibirnya berdarah.


"Cewek sialan!! sini kau!" Vino menarik paksa tangan Wilo dengan kasar. dan membawanya naik ke balkon lantai atas rumahnya.


Sambil menangis Wilo berjalan mengikuti langkah Vino yang menariknya dengan cepat, terkadang kakinya gores dan berdarah akibat tersandung di berbagai tempat.


~


Saat itu, Evan tengah berkeliling mencari keberadaan rumah Vino.


"Sial! sudah satu jam aku mencarinya. dia membawa Wilo kemana? sebenarnya siapa mereka? apa tujuan mereka menculik Wilo?!"

__ADS_1


Evan sama sekali tak melihat Vino dalam kejadian itu, ia pun tidak mengira bahwa Vino lah dalang di balik kejahatan tersebut.


Hampir semua jalan sudah ia telusuri.


Evan tak sengaja melihat mobil yang terparkir di seberang jalan. ia pun memperlambat laju mobilnya.


"Tunggu! itu kayakanya mobil yang membawa Wilo tadi. aku harus selidiki." Evan mencari lahan parkir yang tidak jauh dari rumah itu.


Dengan kewaspadaan tinggi, Evan selalu mengawasi gerak-gerik penjaga di rumah itu. ia sudah menyiapkan saputangan dan obat bius, supaya tenaganya tidak habis karna berkelahi.


Evan menghentikan langkahnya sejenak sambil berfikir karna mengingat sesuatu.


"Tunggu... bukankah ini....?? ini rumahnya Vino kan? aku pernah di ajak kesini waktu SMA. gak salah lagi.!


oke, sekarang aku tau seluk beluk rumah ini. Aku akan mencari Wilo dengan cepat. dasar Vino sialan!"


Evan masuk dengan santai ke rumah itu, seakan ia adalah tamu Vino. penjaga itu orang paris asli. dia hanya bisa menggunakan bahasa paris. sedangkan kedua orang suruhan Vino sedang berjaga di lantai tiga.


"Selamat pagi menjelang siang tuan-tuan. Vino nya ada?" tutur Evan dengan bahasa paris.


"Anda siapa? dan dari mana? ada keperluan apa ke sini?" jawab salah satu penjaga.


"Saya temannya Vino dari indonesia. tadi kami sudah janjian ingin bertemu di sini, karna Vino bilang dia akan mengenalkanku pada seorang gadis." ujar Evan mencoba mengibuli mereka.


*Hmm.. sepertinya gadis yang di maksud adalah cewek yang di kurung oleh tuan Vino. sepertinya dia memang temannya.* penjaga itu berfikir sambil meneliti Evan dari atas hingga bawah.


"Gimana tuan? waktu saya gak banyak nih." pungkas Evan tergesa-gesa.


"Oke, silahkan masuk. perlu saya antar?"


"Tidak perlu tuan. makasih banyak." Evan berjalan pelan.


namun tidak ada yang tau bahwa dia sudah menyiapkan beberapa suntikan obat tidur. saat di belakang mereka, Evan pun menancapkan jarum suntik itu di bahu mereka satu persatu dengan gerak cepat, hingga mereka tidak menyadari keberadaan Evan dibelakang.


"Hm.. aman. sekarang lanjut. sepertinya di dalam sudah gak ada lagi penjaga"


dengan langkah cepat, Evan mencari setiap kamar. namun rumah itu nampak sepi. Evan pun mencoba naik ke lantai dua untuk memeriksanya.


Begitu tiba di lantai dua, Evan mulai mendengar suara jeritan Wilona dari atas.


"Itu suara Wilo, sepertinya ada di balkon. Aku harus tetap waspada." Evan berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas.


saat di pintu keluar menuju balkon. ia melihat Wilo yang tengah di dekap Vino dari belakang dengan tangannya yang terikat tali. Wilo di bawa ke ujung balkon dan di hadapkan dengan pemandangan indah.


Namun Wilo gemetaran, karna nyawanya terancam. ia bisa saja terjatuh karna ujung kakinya sudah tak menginjak lantai . sedangkan Wilo memang takut ketinggian.


Vino terus meringkus tangannya dengan berbagai ancaman yang ia lontarkan. jika ia sudah kehabisan akal, dia bisa saja mendorong Wilo dan terjun bebas.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


Like. komen🙏


__ADS_2