
Setibanya di rumah Wilo. Hansel di paksa masuk oleh orang tua Wilona.
"Wil, kamu baru pulang? Eh siapa ini? ayo masuk, bajumu basah semua nak." dengan ramah mama Wilo menyapa Hans.
"Gak perlu tante, aku langsung pulang aja." timpal Hans menolak halus.
"Udah, masuk aja dulu. Biar tante buatkan teh ya." mama Wilo tetap memaksa Hans.
"Iya deh tante, maaf merepotkan." jawab Hans dengan sopan sembari masuk ke rumah Wilo yang sederhana itu.
"Wil, tolong ambilkan handuk untuk temanmu, mama mau buat teh dulu." teriak mama Wilo dari dapur.
*Apaan sih mama. Sok baik banget, kenal aja kagak.* batin Wilo sembari mengambil handuk.
Adik Wilona bernama Widona itu keluar dari kamarnya. Ia kaget melihat pria tampan yang sedang duduk di kursi tamu rumahnya itu.
*Siapa dia? pacar kakak kah? ganteng nya luar dalam, eh luar biasa...* batin Widona sambil berjalan mendekati Hans.
"Hai kak. anda pacar kakak saya kah? tampan sekali. Kenalin namaku Widona, adik kak Wilona satu-satunya." Dona mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada Hans.
Prakkk...
Wilona menepis tangan adiknya itu.
"Jangan sembarangan sama suami orang! pergi sana!." ketus Wilo menatap tajam adiknya.
"Yaelah.. cuma mau kenalan doang kak. Pelit amat, lagian kalian kan belum nikah, udah panggil dia suami aja." gerutu Dona sembari pergi menjauh dengan kaki sedikit pincang krna terluka dari kecelakaan beberapa hari lalu.
Wilo tak menghiraukan ucapan adiknya itu.
"Nih, handuk. Keringkan rambutmu." Wilo memberikan handuk itu pada Hans dengan wajah yang dingin.
Mama Wilo datang dan membawa segelas teh hangat.
"Nak, ini teh nya, silahkan di minum.
Oh iya Wil, siapa dia." tanya mama penasaran.
Belum sempat Wilo menjawab, Hans sudah menjawabnya terlebih dahulu.
"Namaku Hansel Winata, tante. Aku bos nya Wilona. tadi dia dari makan malam bersama keluarga kecilku di rumah."
"Wah, kamu bos Wilona? kayaknya kalian cocok. Kapan kalian nikah?" tanya mama dengan mata penuh harapan.
"Mama apaan sih? dia itu udah punya istri. Tadi aku di undang istrinya buat makan malam di sana." ketus Wilona.
Mamanya terdiam seketika, merasa harapannya terbuang.
"Ahh.. maaf. kupikir kau masih bujangan. Ya udah deh, tante pergi dlu." mama Wilo pergi dengan wajah sedikit kecewa.
"Apaan sih mama. gak bisa liat orang ganteng dikit, langsung di jodohin.* batin Wilo geram.
Setelah menghabiskan teh nya, Hans berpamitan hendak pulang.
"Wil, aku pulang dulu ya, kayaknya udah gak hujan lagi."
"Hmm... dari tadi kek." gumam Wilo.
__ADS_1
Saat Hans di luar teras, ia menghentikan langkahnya untuk menoleh pada Wilo.
"Apa kau masih marah padaku? maafkan atas sikapku tadi ya jika sudah membuatmu takut."
"Sudah, pulang saja sana." Wilo langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Wilo... kau mengusirnya?" mama Wilo tiba-tiba di belakangnya.
"Astaga mama..! ngagetin aja sih, kenapa tiba-tiba di sini. Udah kayak jelangkung aja."
"Ya maaf, abisnya mama penasaran. Emangnya dia udah nikah beneran?" tanya mama lagi.
"Dia itu sudah menikah 9 tahun yang lalu saat umurnya masih 18 tahun. Sudahlah, kepo amat sih. Wilo mau tidur. dah.." Wilo pergi begitu saja menuju kamarnya.
"Haisss,.. sayang sekali. Padahal aku mau jodohin mereka." gumama mama.
_
Di sisi lain.
Melodi masih bengong berbaring di sofa ruang tamu sambil menunggu Hans pulang.
"Hans berani mengungkapkan isi hatinya pada Wilo, walaupun itu dalam keadaan marah. Aku gak tau dengan perasaanku sekarang, semoga dia merasa lega setelah menceritakannya pada Wilo."
Saat pertengkaran Wilo dan Hans dalam ruang kerja Hans, Melodi menyaksikan itu di balik pintu sambil menangis. Namun Hans dan Wilona tidak mengetahuinya.
*Aku istri yang beruntung mempunyai suami seperti Hans. tapi aku bukan menantu yang beruntung, karna semua keluarga Hans membenciku karna aku mandul. Aku ingin Hans mempunyai keturunan. Tapi....*
Air mata Melodi mengalir dari ufuk matanya. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat Hans bahagia selain memberi perhatian, cinta dan kasih sayang.
Kreekkkkk...
"Sayang, aku pulang." suara Hans terdengar makin mendekat.
Melo langsung menghapus air matanya, kemudian beranjak mengampiri Hans.
"Cepat sekali pulangnya? rumah Wilo gak jauh kah?" tanya Melodi sembari menggandeng tangan Hans dan membawanya masuk.
"Rumahnya deket kok. Kau belum tidur?"
"Aku menunggumu pulang. Bajumu basah, ayo ganti dulu." Melo dan Hans menuju kamar.
Setelah ganti baju, mereka handak tidur.
Seperti biasa, Melo selalu di dekap Hans untuk membuatnya cepat tidur.
"Hans, bagaimana jika kita mengadopsi bayi?" tutur Melo sembari memeluk suaminya itu.
"Mengadopsi?
nggak. Jika kau gak bisa hamil, maka aku rela kalo kita gak punya anak. Aku gak mau menghidupi anak orang. Karna jika dia besar, dia bisa saja pergi meninggalkan kita. Aku mau anak kandungku sendiri."
"Tapi... Aku gak mungkin bisa Hans, sudah selama ini kita melakukan berbagai cara. Atau kita melakukan program bayi tabung?" paksa Melodi.
"Enggak, karna bayi tabung juga bukan anak kandungku. Sudahlah sayang, jangan bahas lagi ya. Aku menikmati sekali hidup kayak gini. Bisa berduaan terus sama kamu." Hans mengusap dan mencium kepala istrinya itu.
*Bukannya aku gak tau Hans, kalo kamu sangat ingin memiliki bayi. Maafkan aku jika aku bukan istri yang sempurna.*
__ADS_1
*Aku sangat ingin mengadopsi anak, tapi aku takut kau akan kecewa, karna anak yang kita rawat bukan berasal dari rahimmu. Maafkan aku syaang.* batin Hans, bersedih.
_
Esok pagi.
Wilona sedang buru-buru bersiap ke kantor.
"Ma, pa. aku pergi..!!" teriaknya sambil lari.
"Eh tunggu, ponselku dimana?" mengacak tas nya untuk mencari ponsel.
"Gak ada? kemana ya." Wilo masuk lagi kedalam rumah untuk mencari ponselnya.
"Dona, liat hp kakak gak?"
"Mungkin di pinjem tetangga sebelah kak." timpal Dona dari kamarnya.
"Kamvret tuh anak. Ahhh di mana sih?! Udah nyari sampe kolong kursi pun gak ada. Bodo amat lah! mungkin hp itu sudah ditelan semut!"
Wilo pergi buru-buru dan melupakan ponselnya.
Saat ia hendak naik motor...
"Lah, motorku dimana??" Mikir dulu setengah jam.
Tin.... Tin..!!
Suara klakson menyadarkan lamunan Wilo.
"Bos?? ngapain pagi-pagi kesini." gumam Wilo yang masih tak ingin melihat bos nya itu.
"Ngapain bengong! ayo naik, aku ada meeting. cepat." tegas Hans sembari menurunkan kaca jendela.
"Gak, aku bisa pergi sendiri." jawab Wilo cuek.
"Motor kamu lagi di kantor, kau lupa?
Ayo cepat naik."
*Oh iya.. motorku tinggal di kantor. Astaga, males banget bareng suami orang.*
Terpaksa ia naik mobil bos nya itu.
"Nih ponselmu." Hans memberikan hp Wilo yang tertinggal di rumahnya.
"Hp aku kamu curi ya? kupikir sudah di telan semut tadi." langsung merampas hp nya."
"Heh, hp buntut kayak gitu, serarus unit pun bisa kubeli." sahut Hans sambil menjalankan mobilnya.
*Nye nye nye nye* ejek Wilo dalam hati.
Seketika langsung hening.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1
Like. Komen. Vote🙏