Dua Pilihan

Dua Pilihan
Work


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Wilo merasa jadi lebih baik. namun hari sudah malam. Evan langsung mengantarnya ke rumah Wilo.


Ia di sambut oleh orang tuanya yang sudah mencemaskannya.


Evan tak bertamu terlalu lama, ia cepat pulang supaya Wilo bisa langsung istirahat.


Di dalam kamarnya, Wilo berfikir, penyakit apa yang sudah singgah di tubuhnya. tiap kali ia bertanya pada Evan, dia hanya mengatakan sakit biasa dan tidak masalah.


Namun Wilo tak ingin ambil pusing, karna ia percaya pada Evan.


Esok pagi. keadaannya sudah fit kembali, ia pun kembali bekerja di jemput oleh Evan.


Saat masuk kantor, mereka yang melihat Wilo merasa pangling dengan penampilan baru Wilo yang tak biasa.


Sahabat Wilo, Shinta dan Mira pun langsung menyambanginya, ia meneliti dari atas hingga bawah.


"Ini beneran Wilo? temen kita? wah.. wah.. kamu tambah cantik Wil." puji Shinta sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya, setelah hampir dua minggu di paris, dia jadi seperti orang paris. Aku iri padamu Wil..." sahut Mira


"Astaga kalian apaan sih? aku biasa aja kok. Aku cuma cat rambut sama pake soflens doang. udah yuk masuk."


Wilo pun mengajak sahabatnya itu masuk. dan kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


namun Wilo langsung menuju rungan Hans, sebelum itu, ia menghampiri meja Sila terlebih dahulu.


"Selamat pagi Sila. apa kabar. semoga kau sehat selalu ya. Oh iya, ini aku ada oleh-oleh buat kamu. jangan lupa di pakai ya. itu mahal loh. pacar aku yang pilihin."


Wilo tersenyum ceria sambil memberikan sebuah bungkusan kecil untuk Silsila.


Sila tak banyak bicara, ia membuka bungkusan itu dengan rasa curiga. "Hmm.. hadiah apa ini? kalung? pasti harganya murahan, yakan?" Sila mengabaikan kalung itu.


"Jangan menilai dari luarnya. kamu lihat saja dulu merk nya. disana harganya sudah tertera kok. aku gak mau ngasih orang dengan harga yang murahan." jawab Wilo sedikit menyombongkan diri.


Sila masih belum melihatnya, karna dia gengsi di kasih hadiah oleh musuhnya sendiri. "Ya.. ya.. ya.. nanti aku cek. eh tunggu, tadi kamu bilang pacar? siapa pacar kamu?"


"Siapa lagi kalo bukan Evan. Ya sudah, aku mau ke ruangan bos dulu. dahh Sila.." Wilo tersenyum dengan gaya centil, lalu pergi begitu saja.


Sila merasa heran melihat tingkah Wilo yang tak biasa itu. "Dia lagi kasmaran atau udah stres? bodo ah!"


karna penasaran, Sila pun membuka oleh-oleh dari Wilo. tadi ia sempat membukanya, tapi hanya melihatnya sekilas. ia pun kembali melihat kalung itu dan menelitinya sambil membaca merk nya.


"Ini... gak salah? 30.000 dolar?? hah? itu berarti sekitar 400 juta lebih.. sekaya itu kah Evan?? gak, aku gak percaya. tapi.. ini beneran loh, kalungnya juga bagus banget. hm.. boleh di pamerin nih sama temen-temen. hehe"

__ADS_1


Wilo tersenyum saat mengintai Sila yang bangga dengan kalung itu. padahal itu hanya kalung biasa dengan harga sekitar satu juta saja. Namun merk itu adalah merk kalungnya yang diberi oleh Evan kemarin. ia sengaja memasangkannya di kalung Sila untuk mengerjainya.


*Ppffttt... kamu pikir aku bodoh mau kasih kamu kalung semahal itu. pamerkan saja ke teman-teman kamu sana. haha.*


Wilo merasa puas telah mengerjai orang yang membencinya itu. ia pun segera menuju ruangan Hans.


"Selamat pagi Bos Hans dan Melo." ia menyapa mereka dengan hangat. ia tak lagi memiliki rasa apapun saat menatap Hans.


"Wilo.?? aku kangen banget sama kamu." Melodi memeluk Wilo yang sudah lama tak nampak itu.


"Iya, aku juga kangen sama kamu Mel. kamu sehat?"


"Alhamdulilah sehat. denger-denger ada kejadian yang menimpamu ya waktu di paris. ada apa?" tanya Melodi penasaran.


"Hmm.. itu.. Sudahlah jangan di bahas. Oh iya ini oleh-oleh buat kalian berdua. ini aku beli sewaktu di paris." Wilo memberikan hadiah untuk mereka.


"Wah.. kamu repot banget bawain kita oleh-oleh. btw, kamu sudah pacaran ya sama Evan?"


"Kok kamu tau?" tanya Wilo heran.


"Karna Evan yang ngasih tau aku. Dia juga yang menceritakan semua kejadian yang menimpamu." timpal Hans.


"Iya.. waktu itu aku sangat terpuruk." Wilo tertunduk mengingat kembali hal pahit itu.


"Benarkah? ah kamu bisa aja Mel. ini berkat Evan, dia yang mengubahku seperti ini." Wilo merasa bangga tampilannya di puji banyak orang, ia merasa Evan berperan penting dalam penampilannya.


Hans berdiri menghadap Wilo. "Wil, maafkan sikapku waktu itu ya. kurasa sekarang kamu sudah tau dengan alasannya. jujur, aku lega dan seneng mendengar kabar bahwa kau sudah pacaran dengan Evan. pertahankan dia, cintanya sangat besar dan tulus. semoga kalian langgeng sampai menikah."


Hans tersenyum sambil menepuk pelan pundak Wilo.


Kali ini Wilo sudah berani menatap mata Hans, ia pun tersenyum bangga. "Terimakasih banyak Hans, sebenarnya aku sangat malu dengan kalian berdua. tapi mau di apakan. hehe. sekarang aku lega karna aku sudah mendapatkan penggantimu. dan Melo gak akan cemas lagi dan gak akan cemburu lagi."


"Kamu apaan sih Mel. udah ah jangan di bahas. aku juga malu karna pernah cemburu padamu. btw, makasih loh hadiahnya. aku suka."


"Iya sama-sama."


Ditengah percakapan mereka, tiba-tiba Evan datang dan langsung masuk ke ruangan.


"Ehemm... seru amat. bahas apa sih.?" Evan langsung merangkul bahu Wilo.


"Evan? kamu ngapain ke sini? gak kerja?" tanya Wilo heran.


"Bos mah bebas, hehe. Aku kesini mau ngasih Hp kamu nih, tinggal di mobil." Evan mengeluarkan ponsel Wilo dari saku celananya.

__ADS_1


"Boleh duduk gak nih.?" ucapnya menyeringai.


"Kita duduk di sofa aja. biar lebih luas." sahut Hans. mereka pun duduk bersama.


"Melo, Hans. sebenarnya ada yang lain yang mau aku sampaikan pada kalian, mungkin Wilo belum menyampaikannya takut menyinggung kalian." raut wajah Evan begitu serius.


"Hah? ada apa Van, katakan saja." timpal Hans santai.


Wilo pun menengahi obrolan tersebut.


"Gini Hans, Mel. waktu kami di paris kami gak sengaja melihat seorang wanita yang lagi ngobrol bersama seseorang sembari makan di restoran.


Wanita itu lagi hamil muda, katanya sih dia berobat menggunakan obat-obatan herbal dari orang yang ngobrol sama dia itu.


Berhubung aku dan Evan penasaran, kami pun ikut nimbrung. ternyata orang itu kayak peneliti atau aklemis gitu, kalo kita sih nyebutnya dukun zaman dulu. terus wanita itu juga jelasin, kalo dulunya dia juga mandul selama 14 tahun, dan sekarang dia hamil karna minum obat itu." jelas Wilo


"Wahh serius? kok bisa? mandul bisa hamil?" timpal Melo penasaran.


"Iya Mel. dukun itu bilang, kalo mandul itu bukan berarti gak bisa punya anak selagi kita mau usaha. karna prediksi dari dokter itu bukan hal yang fatal." sahut Evan


"Terus gimana? aku mau coba dong! ahh tapi jauh banget di paris sana" Melo melepaskan harapannya.


"Tenang aja Mel. karna aku dan Evan sudah membeli obat itu beberapa paket. di sana juga di lengkapi dengan brosur cara meminumnya dan cara olahraga yang baik. pokoknya lengkap deh. Siapa tau aja kan berhasil. tapi saranku sih lebih baik di sertai umroh Mel, berdoa pada yang kuasa." tutur Wilona


"Wilo benar sayang. kita harus umroh dulu." timpal Hans.


"Huwaa.. makasih banyak Wil. kamu dan Evan sampai repot membelikan obat-obatan itu. nanti aku ganti ya uangnya." ujar Melo sambil mendekap Wilo.


"Gak perlu Mel, kita tulus membantu. ntar malem aku anter ke rumah kamu ya."


"Oh iya sayang. gimana kalo kita juga ikut Hans dan Melo umroh. kita bisa berangkat bareng mereka." ujar Evan tersenyum merangkul kekasihnya itu.


"Boleh. kapan?"


"Insya allah minggu depan ya. kita siapin dulu mental dan fisik." sahut Melodi.


*Baru kali ini aku pergi ke mekah. semoga saja tidak terjadi apa-apa di sana. aku sadar aku manusia penuh dosa.*


Ucap Wilo dalam hati sembari merundukkan kepala.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2