Dua Pilihan

Dua Pilihan
Ingatan Kembali


__ADS_3

Sore Hari.


Mereka pulang ke rumah Hans.


Saat melihat Wilo, mama Hans langsung menghampirinya.


"Wil, ayo istirahat, tante antar ke kamar kamu ya."


"Baiklah tante." mereka pun pergi menuju kamar Wilona.


"Tan, aku mandi dulu ya. Kepalaku sakit, jadi setelah mandi aku harus tidur."


"Oke gak apa-apa, tante bisa menunggumu di sini, tante akan menemanimu sampai kau tertidur." sahut mama Hans.


"Baiklah tante, makasih banyak." Wilo meneruskan niatnya untuk mandi.


Drtt.... ponsel Wilo bergetar di dalam tasnya.


"Eh, ada telpon? dari siapa ya? kali aja penting, atau dari orang tuanya." gumam mama Hans


Mama Hans mencoba mencari ponsel Wilo di dalam tasnya.


Braakkk...


Sebuah buku terjatuh.


"Apa ini?" karna halamannya terbuka, mama Hans pun tak sengaja membacanya.


"eh, diary? ini memo Wilo ya?" masih bergumam sambil melanjutkan membaca.


Betapa kaget mama Hans saat membaca semua itu. Ia mengetahui bahwa Wilo menyukai anaknya.


"Hah? diary ini di buat sebelum Wilo hilang ingatan. Itu artinya, dulu dia menyukai Hans? wah.. ini sangat bagus!"


Dengan senang hati ia begitu bersemangat untuk mengembalikan ingatan Wilo kembali.


Beberapa saat kemudian.


Wilo baru saja keluar dari kamar mandi.


"Eh, tante dimana ya? udah keluar kah?" gumam Wilona.


Ia pun tak menghiraukan semua itu.


~


Esok Pagi


Dengan baik hati, mama Hans mengantar makanan ke kamar Wilo dengan senyum lebar. Karna ia tau bahwa Wilo menyukai Hans sewaktu dia belum hilang ingatan.


"Tante? Tumben bawain aku makanan? Aku bisa sarapan bareng kalian di meja makan." ujar Wilo kaget.


"Gak apa-apa, makan di sini saja. Karna sehabis makan, tante mau ajak kamu berkeliling di rumah ini. Siapa tau ingatan kamu bisa cepat pulih." jawabnya tersenyum.


"Oh gitu, baiklah. Aku juga gak mau ingatanku hilang selamanya. Makasih banyak ya tan." tutur Wilo dengan senyuman.

__ADS_1


Sementara itu dokter Meri tengah menyiapkan beberapa obat buat Wilo yang biasa ia berikan setiap hari. Namun mama Hans menyuruhnya keluar setelah menyiapkan obat, karna ia sendiri yang akan memberikannya pada Wilona.


Di ruang makan, Melo dan Hans sedang sarapan bersama.


"Sayang, mama dimana ya?." ujar Hans


"Kayaknya di kamar Wilo, tadi aku melihatnya membawa makanan ke sana.


Hans, maafkan aku yang harus mencurigai mama. Sepertinya dia sungguh ingin menjodohkanmu dengan Wilo."


Hans memegang sebelah pipi Melo. "Sayang, gak usah di pikirkan. Karna aku gak akan terpengaruh dengan usaha mama. Percayalah, aku hanya mencintai kamu." Hans tersenyum menatap Melo yang sedang tertunduk.


"Tapi gimana jika Wilo mencintaimu Hans? Apa kau bisa untuk tetap berkata tidak?" tegas Melodi.


"Sayang, hatiku gak semudah itu untuk terbuka pada wanita lain. Aku jadi heran deh sama kamu sekarang. Kita ini menikah sudah lama, tapi kenapa sekarang kau meragukan aku?"


"Maaf, maafkan aku Hans, itu karna perasaanku tidak enak. Aku takut kehilanganmu. Sekali lagi maafkan aku." Melo tertunduk menahan tangis.


~


Di sisi lain.


Setelah Wilo selesai makan dan minum obat. Mama Hans segera mengajaknya berkeliling di dalam rumah.


Ia menunjukkan satu per satu ruangan dalam rumah itu.


Hingga tibalah di ruang kerja Hans. Ingatan Wilo mulai terkenang. Terbayang saat Hans menceritakan isi hatinya dengan emosi sampai membuat Wilo menangis.


"Hans...." kepala Wilo mulai terasa sakit menerima ingatan itu.


*Hans pernah bilang, bahwa keluarganya membenci Melodi, termasuk tante ini. Waktu itu Hans membentakku di sini..*


"Ahh... Kepalaku sakit......" Wilo terus memegang kepalanya menahan sakit yang makin berat.


"Wil kau ingat sesuatu? Ayo kita istirahat jika kepalamu masih sakit." mama Hans itu menopang Wilo untuk keluar dari ruang kerja.


"Tante, aku sudah gak kuat." keringat dingin mulai bercucuran, tubuhnya pun mulai lemas, sudah tak sanggup menahan sakit di syaraf otaknya. Dan akhirnya Wilo tak sadarkan diri.


Dengan panik, mama Hans berteriak sekencangnya meminta bantuan.


"Hans.... Tolong Wilo.!!"


Hans dan Melo yang saat itu sedang makan pun kaget mendengar teriakan mamanya. Mereka pun langsung menghampiri sumber suara tersebut.


Hans dan Melo kaget saat menemukan Wilo yang sudah tergeketak tak berdaya di pangkuan mamanya.


"Astaga!! Ma apa yang terjadi?" ujar Hans panik sambil menggendong Wilona.


"Nanti saja mama jelaskan, sekarang bawa dia ke kamarnya." sahutnya cemas.


*Astaga, ada apa dengan Wilona? Semoga dia baik-baik saja.* doa dari dalam hati Melodi.


Perlahan Hans meletakkan Wilo di atas tempat tidurnya, kemudain langsung di tangani oleh dokter Meri.


"Tolong jangan panik ya nyonya, tuan. Sepertinya nona Wilo mengingat sesuatu. Saya segera memberinya obat, silahkan kalian tunggu di luar, dan biarkan nona Wilo istirahat. " ujar dokter Meri.

__ADS_1


"Baiklah, ayo semuanya keluar." timpal Hans sembari melangkah pergi.


"Hans, ada yang mau mama sampaikan padamu." mama Hans menghentikan langkahnya.


Melo mengerti dengan maksud mertuanya itu, dia pun pergi ke kamarnya meninggalkan mereka berdua.


"ada apa ma?" ujar Hans sembari duduk di sofa ruang tamu.


"Hans, mama mau tanya. bagaimana pendapatmu jika Wilona menyukaimu? dan, misalkan dia mau menjadi istri keduamu dan memberikan keturunan untukmu? apa kau mau dengannya?"


Hans menanggapi cuek ucapan mamanya itu.


"Ma, aku sudah punya Melodi, dan dia hanya akan jadi menantu mama satu-satunya. Anak bukanlah alasanku untuk menikah lagi, karna kami bisa mengadopsinya." tegas Hans menjawab pertanyaan itu.


Mamanya hanya bisa diam, namun dalam hatinya masih bertekat untuk menjodohkan mereka. Karna ia tidak mau punya cucu hasil adopsi.


Hans pergi ke kakamarnya untuk menemui Melodi.


"Hans, maaf ya. Aku harus ke butik, karna ada konsumen yang memesan beberapa gaun. aku harus turun tangan." ujar Melodi sambil bergegas.


"Gak apa-apa sayang, silahkan kamu kerja. hati-hati di jalan ya." timpal Hans sambil mendekap istrinya itu.


"Biaklah, aku jalan sekarang. Tolong jaga Wilona ya. Kabari aku jika nanti dia sudah sadar."


"Iya, tenang saja."


_


Beberapa jam berlalu, mereka menunggu Wilo sadar.


"Emmp. di mana aku?" Wilo baru saja membuka matanya. ia nampak bingung melihat kamar yang asing baginya.


"Astaga, jangan-jangan ini rumah Hans?? tapi kenapa aku ada di sini? bukankah aku..... Ahhh.. aku baru ingat kalo aku lupa ingatan. tapi sekarang aku sudah mengingat semuanya. aku harus temui mereka dan segera meninggalkan rumah ini."


Wilo bergegas berjalan keluar, namun tanpa sengaja ia mendengar percakapan Hans dan mamanya.


"Hans, gimana tanggapanmu soal tadi. tolong pikirkan lagi Hans, ini demi masa depan kamu juga. Andai saja mama punya dua anak, maka mama gak akan terlalu berharap padamu."


"Ma, sudahlah. Aku sudah bilang, apapun usaha mama mau menyuruhku nikah lagi, aku tetap gak bakal mau ma. Karna aku gak mau menghianati Melo. dan aku gak bisa membuka hati untuk wanita lain. Aku juga gak tega lihat Melo tersakiti. Apa mama gak ngerti dengan perasaannya hah?!" tegas Hans dengan emosi.


"Hans, mama gak minta kalo kamu cari wanita lain. pinta mama cuma satu, yaitu kau dan Wilona. Dia gadis yang baik, dan pasti bisa memberikanmu keturunan. mama yakin Melodi pasti ngerti kok." timpal mamanya bersitegang.


"Serah mama. Sampai kapanpun, itu gak akan terjadi. titik.!!" Hans pergi begitu saja dari hadapan mamanya.


Sementara itu, Wilona hanya diam dalam geram mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamarnya.


"Pertama, aku sedih karna yang pasti cintaku gak akan terbalas.


Kedua, aku gak akan tinggal diam jika tante itu merusak rumah tangga Hans." gumam Wilo sambil menggepalkan tangannya.


Terbesit sebuah ide dalam benak Wilo untuk membuat keadaan itu akan membaik.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2