
Beberapa bulan kemudian…
_Tanah Jepang_
"Yeeyy.. kita sudah sampai di jepang! wahh. ini beneran nyata? indah sekali." Wilona sangat antusias menggambarkan perasaan bahagianya.
"Apa kau bahagia sayang? aku senang melihatmu tertawa." ujar Evan sembari merangkul Wilo.
"Semuanya. lebih baik kita ke hotel dulu. ini baru pertama kalinya kita ke sini. kita istirahat saja dulu, nanti sore kita jalan-jalan mengelilingi kota tokyo." ujar Hans sembari menggandeng tangan Melodi.
"Hans. aku sudah gak sabar ingin melihat taman sakura." rengek Melodi.
"Ntar sore sayang. kita baru sampai loh, masih capek. ayo kita ke hotel dulu." timpal Hans tersenyum sembari mengusap kepala Melo.
"Emm.. ya udah deh. Ayo semuanya kita ke hotel." ujar Wilona. mereka pun segera menuju hotel yang sudah mereka pesan.
Mereka berempat ke jepang bukan hanya liburan, melainkan juga mengurus pekerjaan baru.
Hans mengembangkan sayap perusahaannya, setelah ia membuka cabang di beberapa kota, kali ini ia memberanikan diri membuka cabang di jepang, walaupun saingan perusahaan di sana sangat sulit. tapi ia bermodalkan keyakinan dan pengalaman.
Sore harinya. mereka pergi ke taman sakura. betapa bahagianya Wilona dan Melodi. mereka bak anak kecil memetik bunga sakura dengan riang.
"Wil, apa gak apa-apa kita petik bunganya. ntar di marah gimana?" ujar Melodi
"Kalo di marah, ya tinggal kabur. hehe."
"Kalian berdua. ayo duduk di sini. bunga itu gak boleh di petik. mending kita nikmati saja aromanya." ujar Hans mencoba menghentikan mereka.
"Hm.. padahal lagi seru, ya kan Mel.?" gumam Wilo cemberut.
"iya. tapi ayolah kita turuti saja."
Evan tiba dari membeli beberapa makanan ringan. "Ayo kita sambil ngemil. tapi ingat ya, jangan buang sampah sembarangan atau kita akan di denda."
"Benar, jepang sangat disiplin kesehatan." timpal Hans.
"Hans, berapa lama kita di sini.?" tanya Evan
"Cukup lama, karna aku harus mengurus dan membeli gedung perusahaan. aku akan kembali setelah perusahaan dibuka, mungkin waktunya sekitar dua bulan. dan yang pasti, Wilona harus bersamaku. karna dia lah yang nanti akan membantuku." jelas Hans.
"Aku gak masalah Hans, tapi aku gak bisa menemanimu sampai grand opening. karna aku juga harus mengurus butik." ujar Melodi tersenyum.
"Iya sayang, aku ngerti kok. makasih pengertian kamu. nanti aku antar kamu pulang ke indonesia." Hans menggenggam tangan Melo
"Gak perlu Hans, karna aku juga gak bisa lama-lama. aku juga harus mengurus perusahaanku. biar Melodi pulang bersamaku." cela Evan
Wilo tertunduk sedih karna nanti harus di tinggalkan Evan.
"Jadi, aku dan Hans saja di sini?" tutur Wilo dengan suara lemas.
Evan menggenggam tangan Wilo dan menatap matanya. "Sayang, aku akan selalu ada di sisimu. walaupun kita terpisah jarak dan waktu, tapi aku selalu di hatimu. kita sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab untuk pekerjaan kita.
Hans, aku titip tunanganku ya. jagalah dia baik-baik. aku akan menyalahkanmu jika terjadi sesuatu padanya sedikitpun."
__ADS_1
Hans hanya tersenyum. "Kau ini, apa gak percaya padaku? kamu tenang saja Van. selagi kamu gak ada. aku yang bertanggung jawab untuk kesehatan dan keselamatannya."
"Iya. iya... aku percaya.
Eh, sudah mau gelap saja. gak kerasa kita ngobrol di sini enak banget. ayo kita kembali ke hotel."
~
Di dalam kamar hotel, Wilo merasa tubuhnya gemetar. "Astaga ada apa denganku.? apa karna cuaca di sini dingin?"
"Tubuhku rasanya kembali saat aku sakit dulu. Astaga, aku lupa. sudah hampir setengah tahun aku gak minum obat itu. akhh ini menyakitkan."
Wilo membungkus dirinya di dalam selimut tebal.
Drttt....
Telfon dari Evan.
"Kenapa dia nelfon? aku gak mau dia tau kalo aku lagi sakit."
Setelah beberapa kali Evan menelfon. Wilo pun menjawabnya karna tak tega.
"Ada apa.. aku sudah tidur, maaf lama menjawab." ujar Wilo dengan suara yang sengaja ia lemaskan.
"Aku ada di depan kamarmu, buruan buka. aku mau ngasih obat. karna cuaca di sini dingin. aku khawatir padamu."
*Ehh, kok dia tau.*
Wilo langsung menutup telponnya, lalu membuka pintu. namun ia tetap membawa selimutnya.
"Sayang, ini obat kamu. di minum ya. dan ini ada minuman hangat.
kamu kedinginan ya, kok pake selimut?" ujar Evan sambil memberikan obat.
"Iya. sepertinya cuaca di sini gak cocok denganku. makasih ya sayang sudah nganterin aku obat. aku masuk dulu ya. aku ngantuk sekali."
"Ehh tunggu! kamu gak apa-apa kan?" Evan meraih tangan Wilo.
"Gak apa-apa kok. aku hanya kedinginan. nanti juga sembuh."
"Okelah. met istirahat sayangku." tak lupa Evan mengecup kepala Wilona.
"Iya, kamu juga ya. ya sudah, aku tutup dulu pintunya." dengan buru-buru Wilo menutup rapat pintu kamarnya dan menguncinya.
"Kenapa aku jadi cemas padanya. wajahnya tadi terlihat pucat. semoga dia baik-baik saja." gumam Evan, lalu beralih dari depan kamar Wilo.
Wilo langsung membuka obat yang Evan berikan dan langsung meminumnya. karna ia percaya, cuma Evan yang tau penyakitnya sebelumnya.
Wilo merasa lebih baik setelah minum obat. ia pun mengucapkan terimakasih pada Evan melalui pesan singkat.
[Sayang, terimakasih banyak. I love U ]
Wilo pun bisa tidur dengan aman tanpa rasa sakit lagi.
__ADS_1
_
Setelah melepaskan hijabnya. Melodi mengganti pakaiannya dengan baju tidur dengan menggunakan jaket dan mantel yang tebal.
Saat ia tanpa sengaja melihat keluar jendela. ia berdecak kagum dengan pemandangan indah di ibu kota jepang itu.
Melodi pun membuka pintu menuju teras luar kamarnya. ia berdiri diam terperangah, walapun angin cukup kencang, namun ia tak menghiraukannya.
"Andaikan aku bisa tinggal di sini. aku sungguh bahagia melihat pemandangan ini." gumamnya sendirian.
Baju jaket berbulu tebal mendarat di bahu Melo. Hans yang datang dan memeluknya dari belakang.
"Di sini banyak angin sayang. apa kamu gak kedinginan?"
"Hans? maaf. tadi aku tanpa sengaja ke sini karna aku penasaran dengan suasana di sini. ini indah sekali." Melo berbalik menghadap Hans.
"Tapi wajahmu lebih indah sayang. Aku akan menemanimu selama kau mau di sini."
Hans memeluk Melo dengan erat, supaya ia tak merasa kedinginan. mereka berdua berdiri cukup lama menikmati malam itu.
Sementara Evan tengah cemas memikirkan Wilona yang tak bisa ia lihat. ia ingin sekali bertemu dengannya namun sepertinya Wilo kurang sehat.
"Akhh.. aku jadi gak tenang. keluar saja deh."
ketika Evan membuka pintu, Wilona sudah berdiri di depannya.
"Hai.. hehe" Wilo cengar-cengir gak karuan.
"Heii ngapain cengengesan kayak gitu? katanya sudah ngantuk, ngapain kesini.?"
"Emm.. aku udah gak ngantuk lagi. tadi aku sudah tidur, terus aku terjaga, kupikir sudah pagi ternyata belum. hehe. aku kangen padamu."
Melihat tingkah Wilo itu, Evan langsung menariknya masuk dan membawanya keluar teras kamar.
"Ehh.. apaan sih main tarik aja.
tunggu.. Ini.. indah sekali. aku gak sempat liat di teras kamarku." Wilo terperangah.
"Makanya itu kutarik kesini. kau kan bodoh. sini kupeluk." Evan menarik paksa Wilo lalu ia peluk.
"Kau tau, aku lega melihatmu seperti ini. Izinkan aku memelukmu lebih lama" Evan mengusap kepala Wilo yang tengah ia dekap.
"Apa kau juga tau? aku juga ingin terus bersamamu seperti ini. aku ingin tidur di pelukanmu, bahkan mati pun aku ingin di pelukanmu."
"Kau ini ngomong apa hah? sudah diam saja. lebih baik kita nikmati pemandangan tokyo malam ini."
Evan mengambil sofa dan mendorongnya ke teras. kemudian mereka duduk berdua dan saling rangkul.
Wilo merasa sangat nyaman di dekap Evan. tak lama kemudian, ia pun tertidur.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1