
Sudah beberapa jam Evan mengikuti Hans mencari keberadaan Wilo, namun tak kunjung menemukan titik terang.
Hari mulai terik, panas mulai menyengat. Sementara mereka yang menunggu di rumah masih dengan perasaan was-was, panik, dan cemas dengan keadaan Wilo yang belum ada kabar sama sekali.
"Dimana kamu Wil, siapa yang berani menculik kamu! Bagaimana jika aku gak bisa nemuin kamu, apa yang harus aku katakan pada orang tuamu."
Hans memukul setir mobilnya dengan perasaan berkecamuk, karna Wilona adalah tanggung jawabnya sejak ia tinggal di rumah Hans.
Sedangkan Evan juga berfikir keras untuk mencari letak lokasi Wilo dan juga orang yang berkemungkinan menculiknya.
"Setahuku, Wilo gak ada musuh, kecuali sekretaris Sila. Tapi buat apa dia menculik Wilo? Kalo bukan dia, lalu siapa?
Dan apa tujuan mereka menculik Wilo.....
Tunggu.... Dia?? Ya.. Bisa saja dia yang menculiknya, karna selama ini dia sangat menginginkan Wilo."
Evan melaju kencang menyusul mobil Hans yang ada di depannya, kemudian ia menghalangi mobil Hans supaya menepi.
"Ada apa dengan orang itu? Udah gila kali ya." gumam Hans sembari memperlambat laju mobilnya.
Kemudian mereka berdua sama-sama menepi.
"Woii.. Ngapain kamu ngalangin jalanku?!" ketus Hans sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
Evan pun turun dari mobilnya untuk menghampiri Hans.
"Hans, aku tau di mana Wilo. Dia ada di suatu temat. Kemungkinan besar dia di culik sama Vino."
"Hah? Siapa Vino?" tanya Hans bingung.
"Sudah, jangan banyak tanya, ayo ikuti aku sekarang." Evan bergegas masuk mobil dan menuju ke rumah Vino yang jaraknya cukup jauh.
"Siapa Vino itu? Berani sekali dia menculik orang yang ada di rumahku? Tapi, kok dia tau rumahku? Apakah dia sudah mengintainya terlebih dahulu? Kurang ajar!" Hans geram dengan menggertakan gigi sembari mengiringi mobil Evan.
Dalam setengah perjalanan, cuaca yang tadinya sangat panas menyengat, berubah menjadi mendung, dan langit sedikit gelap. Lalu mulai turun rintik hujan.
"Sialan! Kenapa harus hujan sih." gumam Evan kesal.
_
Sementara itu, di rumah Vino, ia sedang ngobrol santai bersama Wilo.
"Em... Vin, apakah di sini gak ada orang tuamu?
Apakah aku pernah datang ke sini sebelumnya?" tanya Wilo sembari melihat sekeliling dalam rumah Vino yang nampak sepi.
"Apa kau lupa? Aku sudah lama memisahkan diri dari orang tuaku, sejak aku sukses berbisnis. Kamu tenang saja, di sini ada banyak pembantu, dan kamu sudah sering datang ke sini kok." ujar Vino yang mulai mengelabuhi ingatan Wilo.
"Benarkah?"
*Sampai kapan ingatanku hilang, aku ingin mengingat semuanya seperti dulu. Ini terasa janggal di hatiku.* batin Wilo.
"Iya, bener kok. Kamu sering ke sini. Ya sudah, ayo kuantar ke kamarmu. Kamu istirahat dulu ya, biar cepat pulih." Vino memapah Wilo menuju kamar yang di sediakan Vino.
Setibanya dalam kamar.
"Nah, ini adalah kamar yang sudah aku siapkan untuk kita setelah menikah nanti. Gimana, kamu suka?" ujar Vino sembari membuka tirai jendela.
"Iya aku suka. Ini luas banget. Lebih luas dari kamarku di rumah Hans." timpal Wilo tersenyum.
__ADS_1
Saat membuka tirai. Vino tak sengaja melihat dua mobil yang masuk ke halaman rumahnya.
*Sialan! Mereka menemukanku! Kok bisa? Bukankah Hans gak tau rumahku? Aku harus mencegah mereka.*
Vino menutup kembali tirainya.
"Loh vin? Kok di tutup lagi?" ujar Wilo heran.
"Gak apa-apa. Di luar gelap karna hujan sangat lebat, dan juga banyak petir-petir. Kamu tidur saja ya. Biar aku nyalakan penghangat ruangan. Selamat istirahat." Vino membelai wajah Wilo sebelum ia pergi.
Kemudian ia keluar dan menutup pintu, lalu menguncinya dari luar untuk mengurung Wilo.
Lalu Vino duduk santai di ruang tamu, seolah-olah ia tidak tau apa-apa.
Bruuaaakkkkk!!
Evan menendang pintu rumah Vino dengan baju yang basah kuyup. Lalu Hans menyusul di belakangnya.
"Heii.. Apa-apaan ini? Kalo mau bertamu, yang sopan dong!" teriak Vino.
Evan langsung mencekam baju Vino dengan tatapan matanya yang tajam di penuhi aura emosi yang tinggi.
"Dimana Wilona?! Kau menculiknya kan?!! Katakan dimana dia!!" bentak Evan tegas.
"Woow.. Slow bro, untuk apa aku menculiknya? Aku mencintainya, aku gak akan pernah menyakitinya lagi. Jadi buat apa aku mengusiknya." bantah Vino dengan santai.
Hans kaget mendengar pengakuan Vino, ia pun mendekat. "Apa kau bilang? Kau mencintai Wilo?! Sekarang jujur saja. Kau menyembunyikannya di mana hah?!!" teriak Hans cukup kencang.
Suara Hans terdengar oleh Wilo yang baru saja hendak tidur. "Itu suara Hans? Ada apa dia ke sini? Tapi kenapa teriak-teriak seperti itu? Apakah dia mau menjemputku?"
Wilo beranjak dan hendak keluar, namun ia heran tidak bisa membuka pintu karna telah di kunci dari luar oleh Vino.
"Kok di kunci sih? Gimana aku bisa keluar." Wilo terus memaksa menekan gagang pintu itu.
Hans.... Aku di sini. Apa kau mau menjemputku pulang?
Hans...!!" Wilo terus memukul pintu kamar itu hingga terdengar oleh Hans dan Evan.
*Gawat, mereka tau Wilo di sini.*
"Hans, cepat bawa Wilo pergi, biar aku yang urus orang ini.!!" ujar Evan yang masih mencengkam baju Vino.
Tanpa pikir panjang, Hans langsung menuju sumber suara Wilona.
Bruukkkk!!
Vino memukul wajah Evan saat dia lengah, lalu ia mengejar Hans untuk menghentikannya.
Namun ia harus terhambat karna Evan menariknya dan balik memukul wajahnya.
Terjadilah baku hantam antar Vino dan Evan.
Evan sengaja melakukan itu untuk mengulur waktu, supaya Hans bisa membawa pulang Wilona.
Sementara itu, Hans bergegas menolong Wilo yang terus memanggil namanya.
"Wil.. Apa itu kau? Adakah kunci di dalam sana?"
"Gak ada Hans.
__ADS_1
Oh iya, ada apa di depan, seperti ada keributan." ujar Wilo heran.
"Nanti saja bertanya nya, sekarang kamu menjauh dari pintu, aku akan mendobraknya."
Sekitar sepuluh menit, Hans berusaha membuka pintu itu dengan tangan kosong, dan akhirnya terbuka setelah berulang kali ia dorong.
"Hans? ada ap....."
Belum selesai Wilona bicara, namun Hans sudah menggendongnya dan membawanya keluar dari rumah Vino.
Sedangkan Vino dan Evan masih saling baku hantam di tengah rumah.
"Hans.. cepat bawa Wilo pulang!! biarkan aku yang mengurus cecunguk ini.!" teriak Evan sembari bergelud dengan Vino.
Hujan makin deras, suara gemuruh pun makin terasa dekat, di iringi dengan sinar kilat yang menjalar seperti akar.
"Hans.. kenapa kita pulang hujan-hujan seperti ini? ada yang gawat kah?" tanya Wilo sambil melindungi wajahnya dari guyuran air hujan.
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang pegangan saja. Hadapkan wajahmu ke dadaku, supaya tidak kena hujan terlalu banyak."
Dengan langkah gagah nya, Hans menggendong Wilo dengan tegap, seakan ia tak merasakan serbuan air hujan.
Melihat mereka kebasahan, Wilo justru tersenyum menatap wajah Hans yang ia anggap seperti super hero.
*Aku tau aku gak ingat apapun saat ini. Tapi entah kenapa, aku ngerasa aku menyukai pria ini sejak lama. Apa mungkin ini hanya kebetulan saja? entahlah, aku merasa nyaman bersamanya.*
Setibanya dalam mobil. Hans langsung mengambilkan handuk kecil untuk Wilo.
"Keringkan wajahmu. lalu pakai selimut itu, nanti kau demam." ujar Hans sambil memeras bajunya.
"Kau sendiri basah kuyup, apa handuknya cuma satu?"
"Sudah, pakai saja. Jangan pikirkan aku.
Kita pulang sekarang." Hans langsung menyalakan mobilnya, dan meninggalkan pekarangan rumah Vino.
Selama dalam perjalanan, Wilo tak henti-henti nya bersin.
"Nanti di rumah, langsung mandi air hangat ya, lalu minta obat sama dokter Meri.
Oh iya Wil, apakah kau tau siapa itu Vino?"
"Bukankah dia pacarku?" jawab Wilo santai.
"Hah? sebelum dia bawa kamu ke rumahnya, dia bilang apa aja, hingga kamu mau ikut bersamanya."
"Dia bilang, kalo aku pacarnya, terus dia mau ngajak aku main ke rumahnya, karna dia sudah izin sama kamu. Makanya aku mau." jelas Wilo dengan jujur.
"Kau salah Wil, kamu itu di culik. Dia sama sekali gak izin padaku ataupun Melo.
Nanti saja kita tanya pada Evan, dia tau semuanya."
"Hah? aku di culik? itu artinya aku bukan pacarnya? pantes saja aku merasa aneh." gumam Wilo dengan suara kecil.
"Ya sudah, jangan di pikirkan. Kita tunggu saja Evan di rumah."
Wilo merasa sangat bahagia saat melihat senyuman Hans yang tertuju padanya, apa lagi saat Hans mengusap kepalanya. ia merasa bahwa Hans juga menyukainya.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG
bantu Like & Komen🥰