
Siang hari, Melodi pergi lebih dulu karna masih ada urusan.
"Hans, aku pergi dulu ya, masih ada yang harus aku beli."
"Iya sayang, hati-hati ya. Nanti sore aku jemput kamu untuk melihat ruko yang akan kita beli." sahut Hans tersenyum sembari mendekati Melodi.
"Oke, aku tunggu di rumah, jangan lupa ajak Wilo ya. Aku pergi dulu."
Hans mencium kening melodi sebelum ia pergi.
Sementara itu, Silsila mengintai mereka dari bilik pintu.
Saat Melodi keluar, ia bersembunyi supaya tidak ada yang melihat.
*Dasar Melodi payah! Dia gak cemburu Wilona dekat dengan suaminya. Hmm.. Apakah dia juga gak cemburu kalo aku mendekati Hans?. Aku bisa memberikan anak untuk Hans, siapa tau Melodi mengizinkan aku jadi madunya. * Sila menyeringai jahat. Kemudian pergi.
_
Sore hari, Hans melihat Wilo yang masih berbaring di sofa dalam ruangannya itu.
"Gadis ini, di kasih hati minta jantung!"
Hans berjalan menuju Wilona dengan kedua tangan di atas pinggulnya.
"Wilo! Bangun! Ini sudah sore! Kau malah enak-enakan tidur tanpa bekerja? Ayo cepat bangun, ikut aku sekarang."
Wilo kaget, perlahan ia membuka matanya mendengar suara teriakan bos nya itu.
"Hm.. Ya, kurasa aku istirahat terlalu lama. Maafkan aku." sahut Wilo sambil mengucek matanya.
*Dia berbeda dari yang tadi. Saat terjebak di lift, dia sangat cemas padaku. Dasar orang aneh.* gumam Wilo sambil beranjak.
"Kau keluarlah lebih dulu, aku mau menutup laptopku." ujar Hans sembari menuju meja kerjanya.
Saat Wilo duduk di meja kerjanya, desas-desus ocehan pun mulai terdengar.
"Lihat tuh, karyawan kesayangan bos dan istrinya. Baru sebulan kerja, sudah jadi asisten bos besar. Tiap hari gak ada kerjaan, cuma tidur dan pergi bareng bos."
"Benar, gak akan lama lagi, dia akan jadi pelakor tuh.. Haha. Secara bos kita kan tampan dan kaya. Istrinya juga sangat baik, mungkin nanti buk Melo mau-mau aja di madu demi keturunan. Haha" sahut yang lain.
Melihat sahabatnya di ejek dan dihina, Sinta dan Mita pun tak tinggal diam.
"Heii kalian, gak ada kerjaan ya! Lebih baik pulang sana!"
"Mereka tuh iri sama Wilo, kalian ingin di posisi Wilona kan?" sambung Mita.
"Sinta, Mita, sudahlah, biarkan saja mereka mau bilang apa, di tanggapi juga percuma." tutur Wilona dengan eskpresi tak peduli.
Sila yang melihat itu hendak ikut menghujat Wilona, namun ia tak sengaja melihat Hans yang berdiri diam di dekat pintu ruang staff.
*Kasihan juga dia, jadi bulan-bulanan mereka, padahal dia gak salah * batin Hans sembari menuju meja Wilo.
"Ehem... Apa yang kalian katakan! Kalian menghujat Wilona? Aku menjadikannya asisten atas permintaan istriku. Dan dia juga cerdas, membantuku dalam segala urusan. Jika kalian bisa sepertinya, silahkan tukar tugas kalian dengannya! Jangan cuma bisa omong doang!"
Melihat kemarahan bos nya, mereka semua diam seketika dan merundukkan wajah.
"Minta maaf pada Wilona. Jika aku mendengar ini lagi, siap-siap kalian akan di pecat!" tambah Hans dengan tegas.
"Ba...baik bos.. Wilo, maafkan kami ya. Kami janji gak akan ulangi lagi. Maaf."
"Iya, aku juga minta maaf, tolong jangan membenci kami ya." sahut lainnya.
"Gak masalah teman." timpal Wilo tersenyum.
"Wilo, ayo kita pergi." Hans dan Wilo pergi keluar bersamaan.
Saat dalam mobil, Wilo masih nampak murung.
"Kau baik-baik saja? Kau bukan seperti yang kukenal." ujar Hans sembari menyalakan mobilnya.
"Ya, aku gak apa-apa bos." sahut Wilo tersenyum paksa.
__ADS_1
*Bagaimana aku tidak kepikiran, aku merasa ini adalah awal keburukan yang akan terus ku alami. Karna aku.... Menyukaimu Hans, suami orang. Aku ingin pergi sejauh mungkin, supaya tidak melihatmu lagi.* Wilo tertunduk diam dan termenung dengan wajah sedih.
"Wil, ayo turun. Kita sudah sampai."
Wilo baru sadar, bahwa ia merenung cukup lama. Bahkan sudah tiba di rumah Hans tanpa ia sadari.
"Bos, biar aku tunggu di sini saja. Silahkan kau jemput Melo."
"Baiklah. Tunggu sebentar ya. Aku masuk dulu."
Hans pergi meninggalkan Wilo di dalam mobil.
Wilo bersandar di kursi mobil. Pikirannya mulai kacau.
Ia pun mengambil buku diary nya dan mulai menulis.
^ Dear Diary. 01.02.xx
Hari ini banyak sekali kejadian yang aku alami. Hari ini juga aku mengakui perasaanku padanya.
Sebenarnya aku tidak ingin ini terjadi padaku.
Aku tidak ingin ada cinta yang salah dalam diriku.
Aku tidak ingin ada yang sakit dan hancur karna kehadiranku.
Tapi, apakah aku yang salah? Ataukah cinta yang salah?
Rasanya aku ingin pergi, supaya tidak ada yang terluka.^
Wilo menteskan air mata dan jatuh ke atas kertas diary yang ia tulis.
"Wil.. Kau kenapa gak keluar." panggil Melodi.
Suara itu makin mendekat, dengan cepat Wilo mengusap air matanya dan menyimpan buku diary nya.
Hans dan Melodi masuk ke mobil bersamaan. Wilo pindah duduk di depan di dekat supir.
"Oke, siap." timpal Wilo tersenyum menoleh pada Melodi. Kemudian ia kembali diam.
*Ada apa dengannya? Apa dia masih memikirkan hal tadi?.* batin Hans.
"Wil, besok dan seterusnya, Melodi akan menjemputmu untuk pergi membantunya. Jadi, kamu gak perlu bawa motor." ujar Hans menatapnya dari kaca mobol di depan Wilo.
"Baik bos." sahutnya tersenyum.
"Panggil saja dia Hans kalo di luar kantor. Biar lebih akrab." pungkas Melo memberikan usul.
"Rasanya aneh kalo aku menyebutnya nama saja. Karna sudah biasa memanggilnya Bos." timpal Wilona.
"Gak masalah, aku gak keberatan." sahut Hans.
"Okelah. Itu yg kalian pinta."
_
Setibanya mereka di lokasi, Melodi tersenyum melihat ruko yang di belikan Hans itu. Warna putih campuran coklat yang ia sukai.
Terlebih tempatnya yang strategis, ramai dan tidak terlalu jauh dari kantor Hans.
"Bos, ini rukonya? Aku suka warnanya." ujar Wilona melongo.
Melodi menatap Wilo. "Kau juga suka warna ini? kita sama dong." tutur Melo tersenyum semeringah.
*Ternyata mereka punya kemiripan dan kesamaan* batin Hans tersenyum.
Hans memberikan kunci ruko itu pada istrinya.
Melo pun membukanya dengan riang. di susul Wilona yg berdiri di belakangnya, kemudian Hans di belakang Wilo.
Saat Melo hendak masuk, ia tanpa sengaja tersandung di rolling door.
__ADS_1
Namun Wilo sempat menahannya. "Mel, hati-hati." tutur Wilo saat menangkap tubuh Melodi.
"Makasih Wil, untung aku gak jatoh." Melo melanjutkan langkahnya.
Bukannya sadar dengan yang terjadi pada Melo, Wilona juga malah ikut tersandung.
Namun Hans yang menangkapnya dari belakang. "Kau juga harus hati-hati." bisik Hans dengan suara kecil.
"Makasih Ha...n." dengan cepat Wilo kembali berdiri.
*Aku jadi canggung memanggilnya dengan namanya.*
"Wah. ini sudah bersih. gak perlu kita bersihkan lagi. Jadi, besok kita beli dulu rak nya. Tunggu itu apa?." Melodi melihat sesuatu yang masih terpajang di dalam ruko dan hendak mengambilnya.
"Mel, jangan sentuh!!." Wilo berjalan cepat menuju Melodi dan memeluknya.
Praaakkkkk!!!
"Wilo.!!" teriak Hans.
"Wil. kamu gak apa-apa?. Hans gimana ini? Wilo gak bergerak." ujar Melodi panik.
"Mel, kamu kenapa ceroboh! apa kamu gak lihat, itu patung maneqin yang hanya menempel tanpa perekat. Untung saja Wilona melindungimu, kalau tidak, mungkin sekarang kamu yang tertimpa." tegas Hans.
Melodi tercengang heran sekaligus cemas.
* Baru kali ini Hans bicara bernada tinggi padaku, dia terlihat sangat marah.*
"Hans, maafkan aku. Ayo kita bawa Wilona ke rumah sakit sekarang." tutur Melodi tertunduk.
Tanpa pikir panjang, Hans langsung menggendong Wilo dan membawanya masuk mobil, Melodi pun menyusulnya dari belakang.
"Jalan pak." tegas Hans pada supir.
Selama dalam mobil, Hans dan Melo hanya diam tanpa bicara.
Setibanya di rumah sakit, Wilo langsung mendapat perawatan. Hans memintanya di rawat di kamar vip.
Seorang dokter menghampiri Hans dan Melodi setelah ia selesai mengobati Wilona.
"Tuan, Nyonya. Apa yang sudah menimpa kepala nona Wilona? sepertinya itu benda tumpul, karna kepala bagian belakangnya bengkak cukup besar, dan terjadi darah beku di kepalanya, karna kepala tidak luka, jadi darahnya tidak bisa keluar, dan menggumpal di dalam."
"Dok, lakukan yang terbaik untuknya, kalo mau di operasi, silahkan lakukan." timpal Hans.
"Gak perlu tuan, karna kami sudah memberinya obat untuk mencairkan darahnya. Nanti kita sedot saja. Baiklah, aku akan lanjutkan pengobatannya. permisi."
Setelah dokter itu pergi, Melodi menghampiri Hans dengan wajah tertunduk.
"Hans, aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi pada Wilona. Aku benar-benar gak tau kalo patung itu cuma menempel, kayaknya ruko itu bekas butik juga.
Kau marah padaku?"
Melo menggenggam tangan Hans dan menatapnya dengan mata berbinar.
Hans baru menyadari bahwa tadi ia sudah bicara kasar pada istrinya itu. Ia pun langsung memeluk Melodi.
"Sayang, maafkan aku. Tadi aku sudah membentakmu. Tapi kamu jangan salah faham, aku hanya takut kalau itu terjadi padamu, aku takut kamu kenapa-napa." Hans mencium kepala istrinya itu.
"Aku ngerti kok, aku tau kamu mencemaskanku. Tapi, kita harus berterimakasih pada Wilona. dia gadis yang sangat baik."
"Iya sayang, sekali lagi maafkan aku ya." Hans kembali memeluk tubuh Melodi
*Hans, aku tau kau mencemaskanku, aku tau kau tidak akan terima jika itu terjadi padaku.
Tapi entah kenapa, yang aku rasakan bukan seperti itu, melainkan.... Kau mencemaskan Wilona. Astaga, apa yang aku pikirkan. maafkan aku ya allah.*
Melo bergumam sendiri, dan berpendapat sendiri. namun ia tetap percaya pada suaminya.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1
Like🙏