Dua Pilihan

Dua Pilihan
Kejutan


__ADS_3

Masih dalam keheningan suasana. Wilona berlari ke kamarnya, ia pun segera mengemasi semua barang dan pakaiannya ke dalam koper sambil menangis.


"Astaga, baru kali ini aku merasa bersalah dan di salahkan. sebenarnya mereka kenapa sih? pada diam gitu mana aku ngerti lah. apa mereka semua marah karna aku pura-pura lupa ingatan. mereka udah tau atau belum sih"


Wilo bicara sendiri dengan kesal.


Setelah berkemas. ia langsung keluar kamar sambil menarik kopernya.


"Kok gelap? listrik padam kah?" gumam Wilo sambil jalan.


"Wil, sini kubantu bawain koper." ujar Melo yang datang menghampirinya.


"Melo? kenapa rumah ini gelap?" tanya Wilona sambil mengiringi Melodi jalan.


"Wil, bukannya kami mengusirmu. kau tau kenapa gelap? karna kita belum bayar listrik.


Wil, demi kesehatanmu, kau harus tinggal bersama orang tuamu. karna kami sudah gak sanggup bayar jasa dokter Meri."


Wilo kaget mendengar ucapan Melo, ia pun menghentikan langkahnya.


"Mel, tunggu. Apa maksudmu? apa kalian sudah gak punya uang lagi? gak masalah kok, karna memang aku harus keluar dari rumah ini."


"Bukan gitu Wil, tapi... perusahaan Hans di ambang kebangkrutan, dan butuh suntikan dana yang besar. Makanya itu semua pembantu di rumah ini di istirahatkan untuk menghemat pengeluaran." jelas Melo tertunduk


"Astaga, kok aku gak tau sih. kenapa kalian gak cerita, pantas saja hari ini sikap Hans sedikit aneh.


Mel, aku akan bantu selagi aku bisa, kalian jangan khawatir." Wilo menggenggam tangan Melodi dengan wajah cemas.


"Makasih banyak Wil. ayo kita ke depan."


Mereka berdua kembali melanjutkan langkah menuju ruang tamu.


*Kenapa jadi seperti ini? apa ini ulah Vino? aku gak bisa tinggal diam.* batin Wilo sembari merunduk.


"Wil... " panggilan itu mencengatkan kepala Wilo, namun tak begitu jelas dengan wajahnya.


"Evan?? apa itu kau?" tanya Wilo untuk meyakinkan.


Evan menggenggam kedua tangan Wilona.


"Ya ini aku, Evan. aku ke sini ingin menjemputmu."


Wilo langsung memeluk Evan sambil menangis.


"Van, kau tau semua ini kah? kau tau kalo perusahaan Hans akan bangkrut? Van, bagaimana caranya aku membantu mereka. Aku jadi gak tega ingin memberitahu kepura-puraanku selama ini."


"Wil tenang dulu... jangan menangis oke. Semua ini bukan seperti yang kau bayangkan. justru kau sudah berusaha dengan baik." Evan mengusap rambut Wilo dengan senyuman.


Saat Wilo mencengatkan kepalanya, tiba-tiba lampu kembali menyala.


Namun ia sudah dalam kerumunana.

__ADS_1


"Ada apa ini??" ujarnya bingung.


"Taraaaaa...!!!"


"Selamat ulang tahun Wilona...!!!"


Wilo tercengang, kaget dan juga bingung. apakah ini mimpi atau.... apa ini? perasaannya campur aduk. suasananya gak karuan.


Ruangan itu sudah di hiasi dengan balon-balon dan juga bunga yang indah. beserta kue ulang tahun yang super besar.


Makanan dan buah-buahan sudah tersaji lengkap di beberapa meja. dan juga lampu lilin yang memepercantik ruangan.


"Apa ini? apa aku ulang tahun?" tanya Wilo dengan wajah yang masih bingung.


"Happy birthday bunny. kamu terlalu sibuk dengan urusan orang lain, hingga kau melupakan hari kelahiranmu sendiri. Sekarang umurmu sudah 26 tahun, semoga makin dewasa ya." Evan merangkul Wilo sambil memberikan setangkai mawar merah


"Makasih banyak Van, tapi aku benar-benar gak tau kalo hari ini ulang tahunku. hikss.."


"Sudah jangan menangis. pasang ini di jari manismu, sebagai hadiah ulang tahunmu." Evan meraih tangan Wilo dan menyematkan cincin berlian di jari manis Wilona.


"Van? apa ini gak terlalu berlebihan?" ucapnya menatap Evan.


"Untukmu, gak ada kata berlebihan. Semoga bahagia ya." Evan tersenyum sambil mengusap kepala Wilo.


Semua orang bersorak dan memberinya ucapan selamat. Satu per satu di antara mereka memeluk Wilona.


"Sayang, selamat ulang tahun ya. mama kangen sekali sama kamu." ujar mama Wilo terharu.


"Aku juga ma, tapi mama tenang saja, bentar lagi aku tinggal bareng lagi sama kalian.


Mereka memberikan Wilo kado sebagai kenangan untuknya.


Mama Hans berjalan mendekat. "Wil, ini untukmu. Tante mau, kau pakai ini ya." ujarnya tersenyum sambil memberikan sebuah kotak kecil.


"Ini juga untukmu, jika kau mau, silahkan pakai. kalo gak mau, ya simpan aja." Hans juga memberikan sebuah kotak kecil ke pada Wilo.


Sedangkan Melodi memberinya beberapa kado yang masih di bungkus plastik.


"Apa ini Mel?"


"Buka saja nanti. Itu semua berguna untukmu." tutur Melo tersenyum.


"Makasih banyak semuanya. aku gak tau lagi harus bilang apa.


Eh, tunggu dulu. bukankah tadi Melo bilang kalo perusahaan Hans akan bangkrut?"


"Haha.. itu hanya drama Wil. supaya kau percaya. kami hanya ingin memberi kejutan untukmu." sahut Evan.


"Benarkah? sukurlah.. aku lega.


tapi.. Semuanya, aku ingin menyampaikan sesuatu.

__ADS_1


aku tau aku salah, kalian boleh marah padaku atau membenciku. dan aku akan keluar dari rumah ini."


Semua orang hanya diam sambil menanti ucapan Wilo.


"Ada apa? katakan saja." ujar Hans


"Sebenarnya... Ingatanku sudah kembali beberapa waktu lalu, dan aku pura-pura hilang ingatan. tapi itu semua demi..."


"Sudah cukup Wil.! jangan teruskan lagi. kami mengerti sekarang." ketus mama Hans.


"Wil, apa yang kau katakan itu benar?." timpal Melodi.


"Iya, maafkan aku semuanya.. aku melakukan ini demi.."


"Sudah cukup!!" bentak Hans.


"Ba... baiklah.. maafkan aku..hiks.. ini memang salahku." air mata Wilo mulai terurai, ia pasrah akan keadaan.


*Ya.. aku pantas di benci. hiks.*


Evan mendekat pada Wilo karna merasa kasihan.


Wilo langsung memeluknya karna merasa tidak ada tempat berlindung.


"Van, bantu aku bicara. kenapa kau diam saja. Bukankah kau bilang mau membantuku? mana pembelaanmu Van!" Wilo memukul Evan dengan kesal.


"Heii tenang. Aku sudah membantumu bicara." timpal Evan sambil mengusap kepala Wilo.


"Hah? mana? kapan? yang ada kau hanya diam!"


"memang tidak untuk hari ini. Tapi aku sudah membantumu bicara kemarin." timpal Evan.


"Maksudmu?" Wilo mencengatkan kepalanya menatap Evan.


"Mereka gak marah kok sama kamu. Kemarin aku sudah menjelaskan semuanya pada mereka, sekalian membahas acara ulang tahun kamu ini." jelas Evan dengan senyuman.


Wilo seakan gak percaya. ia memandangi wajah mereka satu persatu.


"Benarkah?? kalian sudah tau aku pura-pura hilang ingatan?" ujarnya masih bingung.


Mama Hans mendekat dengan senyuman. "Hm.. benar Wil,


tante sempat marah karna merasa di bohongi sama kamu. tapi berkat penjelasan Evan, tante jadi mikir dua kali. dan tante sadar bahwa yang kamu lakukan itu tidak salah."


"Huwaa... makasih banyak. Makasih juga buat Evan. aku benar-benar minta maaf sama kalian, mungkin kalian merasa di bohongi. sekali lagi maafkan aku."


Wilo merasa terharu dan juga lega karna pengertian mereka semua. Hari ini ia merasa bahagia dengan semua kejutan yang tak pernah ada di bayangannya.


Ia merasa bersukur karna Evan selalu berusaha membantunya dan melakukan yang terbaik untuknya.


Ulang tahun kali ini, sangat istimewa bagi Wilona.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG


__ADS_2