Dua Pilihan

Dua Pilihan
Kebencian, kesedihan.


__ADS_3

Setibanya di rumah Hans. orang tua Wilo dan adiknya tercengang melihat rumah yang megah bak istana itu.


"Ayo masuk semuanya." ujar Melodi dengan senyuman.


Setelah berkumpul di dalam, Evan mengenalkan dokter yang ia sewa untuk merawat Wilona.


"Wil, ini dokter Meri, dia yang akan merawat kamu sampai kamu sembuh. Aku akan sering datang ke sini untuk menjengukmu. Kamu jaga diri baik-baik ya. Aku pulang dulu."


Evan mengusap kepala Wilona kemudian ia beranjak hendak pergi.


"Loh, nak Evan, kok cepat sekali? baru juga sampe." ujar papa Wilona.


"Maaf om, aku ada meeting, jadi harus pergi sekarang." timpal Evan.


"Oh, ya sudah, hati-hati ya." tutur mama Wilo.


Kemudian Evan pergi tanpa pamit pada Hans atau Melo.


*Tuh orang kurang ajar banget! minta kena tinju kayaknya. Gak ada sopannya di rumah orang.* batin Hans kesal.


Setelah mereka di suguhkan makan siang. Orang tua Wilo pun berpamitan untuk pulang.


Namun Wilo seakan tak menghiraukan kepergian mereka. Ia bertingah seperti orang bodoh.


"Wil, ayo ke kamarmu, kita sudah menyiapkannya." ujar Melodi dengan lembut.


"Benarkah? ayo kesana!" seru Wilona semangat.


"Hans, kamu antar Wilona dan dokter Meri ke kamar mereka ya. Aku mau ambilin semua pakaian untuk Wilo." tambah Melodi.


"Oke sayang, jangan lama-lama ya." timpal Hans sambil memutar kursi roda Wilo. Di iringi oleh dokter Meri.


Dalam perjalanan menuju kamar Wilo, ia melihat ruang kerja Hans yang dulu sempat ia masuki.


Otak Wilo mulai bekerja mengingat kejadian itu, dimana Hans pernah membentaknya dan membuatnya menangis.


*Ahh.. apa ini? apakah aku pernah masuk ke sana? tapi kenapa aku gak ingat.* batin Wilo sembari meremas rambutnya.


"Wil, ada apa denganmu?" tanya Hans sambil menghentikan mendorong kursi.


"Hans.. kamu... Kamu bos aku kan? aku pernah ke rumah ini kan?" tanya Wilo mendesak.


"Iya.. aku bos kamu, dan kamu sudah tiap hari ke sini. Ada apa Wil?"


Wilona tidak menjawab, ia masih mengingat semua kejadian itu. Tapi lagi-lagi, syaraf otaknya bermasalah hingga membuat kepalanya sakit.


"Dok, apa yang terjadi padanya. Tolong bantu dia." ujar Hans cemas.


"Tuan, mungkin otaknya akan kembali normal jika dia sudah mengingat semua kejadian dalam rumah ini. Tapi tentu saja harus di dukung dengan obat. Tadi dia mengingat selintas hal yang pernah terjadi di sini." jelas dokter Meri.


"Benarkah?. ya sudah terima kasih dok. Aku akan membantunya mengingat semua."


Saat di depan kamar mereka, Hans menunjukkan kamar dokter Meri yang bersebelahan dengan kamar Wilona.


Kemudian Hans melanjutkan membawa Wilona ke kamarnya yang luas.


"Ini kamarku??" tanya Wilo girang.


"Iya, ini kamarmu. Gimana, kamu suka?" tanya Hans dengan senyuman.


"Suka banget. Makasih ya Hans.


Tolong bantu aku ke tempat tidur, aku mau rebahan." Wilona mengulurkan tangannya, kemudian Hans memapahnya ke ranjang.


"Istirahatlah, sebentar lagi Melodi ke sini untuk menemanimu." Hans mengusap kepala Wilo sembari menyelimuti kaki nya.


Deggg.....


Jantung Wilo berdegup saat Hans membelai rambutnya dan menatapnya dengan senyuman.


*Apa ini? kenapa perasaan ini seperti pernah ku alami. gak! ini gak boleh terjadi * Wilo memejamkan mata rapat-rapat.

__ADS_1


Melihat Hans hendak keluar kamar. Wilo mencoba menahanya.


"Hans.....


Bisa kah kau tetap di sini sampai Melodi datang?"


Tatapan mata Wilo, membuat Hans merasa iba, ia pun mengurungkan niatnya dan tetap berada dalam kamar Wilo.


"Makasih Hans..


Emm.. apakah boleh besok lusa aku ngantor lagi?"


"Tunggu saja sampai kau pulih, karna di kantor banyak yang mengganggu kesehatanmu.


Oh iya, tas kamu kemarin masih dalam mobil. Mau aku ambilkan?"


"Tas?? aku lupa, hehe.


Ambilin aja deh, biar aku inget." timpal Wilo.


Saat Hans hendak keluar, Melodi pun masuk dengan dua koper besar yang ia tarik.


"Sayang, kok kamu tarik sendirian? kenapa gak minta tolong sama pembantu?" ujar Hans cemas.


"Gak apa-apa kok Hans."


"Ya sudah, aku keluar dulu. Kamu temani Wilo ya."


"Iya sayang."


Saat Hans menuju mobil nya, ia kaget karna orang tuanya baru saja tiba dan turun dari mobil.


"Hah? mama, papa?" Hans langsung menghampiri mereka.


"Hans, apa kabarmu nak?" ujar mama Hans sambil memeluknya.


"Sehat ma. Kalian gimana? Ayo masuk dulu."


"Silahkan duduk ma, pa. Aku akan memanggil Melodi." Hans bergegas menuju kamar Wilona untuk menemui Melo.


Kebetulan saat itu Melo dan Wilo sedang ngobrol sambil membuka baju-baju baru Wilona yang diberi Melo.


"Sayang, ada mama dan papa di luar. Ayo keluar dulu." ujar Hans.


"Benarkah? baiklah. Aku kangen sekali sama mereka." dengan semangat Melo beranjak untuk menemui mertuanya itu.


"Hans, Mel. bolehkah aku ikut?" Wilo merundukkan kepalanya.


"Boleh kok." sahut Melodi tersenyum.


"Sayang, lebih baik mama dan papa tidak tau keberadaan Wilo di sini. Ini demi kebaikan kamu dan aku." bisik Hans.


"Maksudnya apa? lagian Wilo cuma mau ikut kita aja. Gak masalah kok sayang. Biar aku yang jelasin sama mama dan papa." Melo bersikeras membantu Wilo duduk di kursi rodanya.


*Yang kumaksud bukan itu Mel, aku takut orang tuaku menyukai Wilona.* batin Hans sembari mengiringi mereka.


Setibanya di depan orang tua Hans. Melodi hendak menyalami mereka. Namun mertuanya itu mengabaikannya.


"Ma, pa. Kalian apa kabar?" tutur lembut Melodi dengan senyuman.


"Udah liatkan kalo kami sehat? kenapa masih di tanya!" tegas mama Hans.


Melo hanya diam dengan senyuman.


"Sukurlah. Aku senang kalian datang berkunjung. Aku bikinin teh dulu ya." Melo bergegas menuju dapur.


*Ya allah, tabahkanlah hatiku, buka kan lah pintu hati mertuaku untuk bisa menerimaku. Sudah cukup hampir 10 tahun aku tidak di anggap. Semoga kesabaranku menjadi hidayah.* tak terasa Melo menjatuhkan air mata. namun ia tetap tersenyum.


_


Saat berbincang, orang tua Hans baru menyadari kehadiran Wilona.

__ADS_1


"Hans, siapa gadis ini?" tanya mamanya.


"Dia asisten kami ma, dia tinggal di sini untuk sementara" jelas Hans.


"Tapi kenapa dia seperti orang sakit?" timpal papa Hans.


"Iya pa, dia sedikit hilang ingatan. Dia tertimpa patung maneqin." jelas Hans kembali.


"Lah, terus? kenapa dia tinggal disini? Kenapa juga kalian mau merawatnya?" tanya mama Hans penasaran.


"Karna dia menolongku ma. Dia melindungiku dari maneqin itu." timpal Melodi yang muncul dari dapur sambil membawa teh hangat.


"Oh, jadi ini karna kamu??


Memang ya, kamu itu pembawa sial. Kamu mencelakai anak orang. Kenapa gak kamu saja yang tertimpa patung itu." ketus mama Hans dengan tatapan kebencian.


"Ma! mama apaan sih? kok ngomong kayak gitu? dia istriku ma. Tolong hargai aku." tegas Hans membela Melo.


"Hans, sudahlah. Biarkan saja. toh ini memang salahku kan?" Melo tetap tersenyum menatap mata Hans, walaupun matanya sendiri sudah berkaca-kaca.


"Sekarang kamu bawa Wilona ke kamarnya." ujar Hans pada Melo.


"Baiklah.


Aku permisi dulu ma, pa. Silahkan di minum teh nya." tutur Melo tersenyum, kemudian mendorong kursi Wilona menuju kamarnya.


"Mel, itu orang tua Hans ya? kok mereka kayak gak suka sama kamu? padahal kamu baik banget" tanya Wilona bingung.


*Ternyata Wilo gak ingat, padahal Hans sudah menceritakan semuanya.*


"Wil, mereka bukan gak suka sama aku, tapi mereka marah karna aku dan Hans gak tinggal satu rumah sama mereka." ujar Melo berbohong.


"Oh gitu? berarti mereka maunya kalian tinggal di sana? bagus dong. kenapa gak tinggal di sana aja?"


"Em... Sudahlah, jangan di bahas. Kamu fokus sama penyembuhan kamu aja ya, supaya cepat pulih." Melo masih tetap menguatkan hatinya dengan senyuman.


Di saat bersamaan, mama Hans pamit hendak ke toilet, namun ia bukan ke toilet, melainkan menyusul Melo dan Wilo.


"Melo! tunggu."


"Mama? ada apa ma? Ayo ngobrol ke ruang keluarga." tutur lembut Melo dengan senyuman.


"Gak perlu! aku cuma mau tau dengan gadis ini. Tinggal di mana dia? berapa umurnya?"


"Oh, sebelumnya kenalin ma. Nama dia Wilona, dia tinggal gak jauh dari kantor Hans, umurnya 25 tahun ma. Ada apa ya ma?" jelas Melo singkat.


"Halo tante. Aku Wilo." ujarnya tersenyum.


Mama Hans menatap dalam Wilona.


"Halo juga, salam kenal ya." ujarnya tersenyum membuat Melodi heran.


"Ma, ada apa?" tanya Melo kembali.


"Bukan urusanmu!" mama Hans berlalu begitu saja.


"Mel, kok dia aneh ya?" tanya Wilona heran.


"Dia memang sedikit ketus, tapi dia sangat baik kok." timpal Melo membanggakan mertuanya yang membencinya itu.


* Kamu gak tau Wil. selama aku jadi menantunya, dia sama sekali belum pernah tersenyum padaku. Entah apa kesalahan fatal yang pernah kubuat, hingga mereka tak hentinya membenciku.*


"Mel, kamu kenapa? kok matamu berair?"


"Hah? enggak kok. Aku hanya kelilipan maskara. Ya udah, kita bongkar baju baru lagi yok."


Di depan semua orang, Melodi tak pernah menampakkan kesedihannya. Namun perasaan hatinya seperti tertusuk duri.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2