
Perasaan hati Wilo dan Hans saat ini sama.
Orang yang mereka sayang lagi dalam keadaan tidak sehat.
Melodi sehat fisik, namun batinnya terluka hingga seperti orang tak waras.
Terkadang Hans sedih sendiri melihat Melodi yang sering menggendong guling yang ia kira bayinya.
Hans juga sudah memanggil dokter psikolog dan juga ustadz untuk membuatnya lebih tenang dan kembali seperti dulu. namun tetap saja dia larut dalam kesedihan.
Evan sendiri masih terbaring lemah di rumah sakit, entah kapan dia akan sadarkan diri.
"Kamu kenapa gak sadar-sadar Van, aku butuh kamu." Wilo menatapnya cemas, air matanya sudah tak lagi mengalir karna telah terkuras keseringan menangis.
"Van, apa kau tau. aku dan Hans sudah berhasil memenjarakan Sila. dia lah yang berbuat jahat pada kita. dia sudah merasakan sakit. sekarang kau sadarlah untuk melihatnya."
Mama Evan mendekati Wilo. "Nak, gimana kalo kita bawa saja Evan ke luar negeri. tante juga gak tahan melihatnya terbaring terus kayak gini."
"Tante, gimana dengan pekerjaanku? aku gak bisa ninggalin kerjaan, aku juga gak mau jauh dari Evan. biarkan dia di sini tante. aku akan menunggunya"
*Gimana ini. Van, kumohon sadarlah. sudah hampir sebulan kamu terbaring di sini. aku sudah gak tahan melihatmu yang makin mengurus.*
~
Esok pagi, di ruangan kantor Hans.
"Wil, gimana dengan keadaan Evan? apa sudah membaik?" tanya Hans
"Masih kayak biasanya Hans. kau gak tega sekali melihatnya. semoga dia cepat pulih.
Melo gimana kabarnya?. aku belum sempat menemuinya."
Hans tertunduk cemas. "Dia... aku gak sanggup mengatakannya Wil. kau bisa lihat saja sendiri."
"Baiklah. siang ini aku ke sana. tapi gak bisa lama, aku juga harus ke rumah sakit."
Saat Wilo dan Hans pulang. mereka melihat Melodi tengah memandikan boneka bayi di halaman belakang rumahnya.
"Astaga,, Melo" Wilona menutup mulutnya, merasa simpati dengan keadaan Melodi sekarang.
Nampaknya Hans marah dengan apa yang di lakukan Melodi saat ini. ia pun bergegas menuju Melodi.
Hans merebut dan melempar boneka bayi itu hingga keluar dari pagar rumahnya.
"Melo! apa-apaan ini?! dari mana kau dapat boneka ini hah!? sadarlah Mel! Ya Allah, aku sudah sabar dan membiarkan tingkahmu itu selama hampir sebulan ini. tolong jangan kayak gini terus. istighfar!"
Mama Hans mendekatinya dengan cemas.
__ADS_1
"Hans tenanglah. ini salah mama. tadi mama mengajaknya ke mall supaya dia gak suntuk di rumah. tapi dia malah mengambil boneka itu, sudah mama larang, tapi dia menangis, mama jadi gak tega." jelas mama Hans.
"Ma, kenapa juga ngajakin dia ke mall sih. udah tau kondisinya kayak gini." tegas Hans
Melo menangis tersedu-sedu melihat boneka bayi itu sudah di buang oleh Hans.
Hans pun tak tega, ia memeluk Melodi sembari minta maaf.
"Sayang, aku gak bermaksud membentak kamu. tapi tolong sadarlah. mungkin ini cobaan untuk kita. bukankah kamu wanita yang tegar? lalu kenapa kau jadi seperti ini.? mana istriku yang dulu. yang beriman teguh, yang rajin ibadah. kenapa sekarang kau seperti orang lain."
Hans mengusap kepala Melodi mencoba menangkannya.
Melo menatap mata Hans. "Apakah aku dulu wanita yang solehah?" tanya Melodi dengan wajah polos.
"Iya sayang. kamu itu wanita yang sempurna, wanita yang sabar dan kuat. sudah banyak cobaan yang kita lalui. memang cobaan kali ini yang terbesar di hidup kita. tapi aku yakin, kamu pasti bisa melewatinya dengan ikhlas."
Hans memegang kedua pipi Melo, menatap matanya dengan cinta. lalu mencium keningnya dengan lembut.
perasaan tenang dari jiwa Hans seakan mengalir pada Melodi. ia juga terdiam sesaat ketika Hans memeluknya.
*Melo, kumohon, kembalilah seperti dulu.* batin Wilona yang menyaksikan itu sedari tadi.
Beberapa saat dalam keadaan hening.
"Sayang. kamu kenapa diam saja." ujar Hans yang masih memeluknya.
"Alhamdulilah kamu sudah sadar sayang. gak apa-apa kok. aku ngerti dengan perasaan kamu. mulai sekarang perbaiki dirimu ya. hadapi masalah dengan sabar." Hans tersenyum lega, istrinya sudah kembali.
"Ehh, Wilona?? kau ada disini? maaf aku mengabaikanmu." Melo mendekati Wilo yang sedari tadi berdiri di belakang mereka bersama mama Hans.
"Iya Mel, aku ke sini ingin melihat keadaan kamu. maaf aku gak sempat menjengukmu karna aku juga sibuk bolak balik ke rumah sakit." sahut Wilo tertunduk sedih.
"Hah? kenapa kamu ke rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Melo heran.
"Evan sakit Mel, tapi gak parah kok. dia hanya demam biasa. kamu gak perlu cemas." Wilo tersenyum, ia sengaja menutupi ini supaya Melo tak emosi lagi jika ia tau dalang di balik ini adalah Silsila.
"Oh gitu. semoga Evan cepat sembuh ya."
"Iya. makasih banyak Mel, kamu juga ya."
_
Hans bisa tersenyum kembali setelah Melodi berusaha memperbaiki dirinya. walaupun dia masih sering terlihat melamun, namun ia sudah tak pernah menangis atau bicara sendirian lagi.
Terkadang tanpa sengaja Hans melihatnya sedang mengelus perutnya sendiri, ia masih merindukan janin yang pernah ia kandung selama hampir tiga bulan itu.
Perlahan Melodi kembali bangkit dari keterpurukannya. tak lupa Hans selalu mengajaknya ke kantor, supaya ia bisa memantau istrinya itu.
__ADS_1
"Hans, di mana Sila?" tanya Melodi yang baru menyadari bahwa Sila sudah tak bekerja lagi di kantor suaminya itu.
"Dia sudah aku pecat sayang. ini demi kamu. mulai sekarang, jangan ingat lagi nama itu ya."
"Baiklah. itu lebih bagus." Melo masih ingin bertanya lebih banyak lagi karna masih penasaran. namun ia tak berani karna Hans sudah melarangnya.
Di dalam kamar pasien, infus masih terpasang di tangan Evan. dokter sudah melakukan berbagai upaya untuk membuatnya sadar. namun ia tak ada gerak sama sekali.
kali ini Wilo meyakinkan dirinya, ia bertekat membuat Evan segera membuka matanya.
Wilo menggenggam tangan Evan, ia pun bercerita mengenai hubungan mereka, mengingatkan kembali kenangan indah yang pernah mereka lalui.
Wilo tak lagi menangis, melainkan tersenyum dan memberikan energi positif untuk kekasihnya itu.
"Heii, kali ini aku bicara serius. jika kau gak sadar juga, maka aku akan pergi meninggalkanmu selamanya. ingat baik-baik ya." bisik Wilo di dekat telinga Evan.
Ucapan Wilo itu ternyata di respon oleh Evan. matanya mulai berkedip, jemarinya pun bergerak perlahan.
"Ehh.."
Wilo kaget merasakan gerakan tangan Evan yang sedang ia genggam.
"Ada apa Wil?" tanya mama Evan.
"Tante, cepat panggilkan dokter, tadi tangan Evan bergerak." seru Wilona dengan semangat.
Dokter pun tiba dengan beberapa asisten dan suster bersamanya. mereka pun mulai mengecek kesehatan Evan dan memberikannya suntikan supaya membuatnya cepat sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Evan membuka matanya, suhu tubuhnya mulai hangat, namun fisiknya masih lemah.
Wilo langsung memeluknya sambil menangis bahagia. perlahan Evan mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Wilona.
"Sukurlah kau sudah kembali. aku merindukanmu Van." Wilo masih meletakkan kepalanya di atas dada Evan.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja sayang." ujar Evan dengan suara lemas sembari tersenyum.
"Aku gak apa-apa, jangan pikirkan aku. makasih banyak sudah kembali. aku hampir putus asa. hikss.." Wilo menangis haru menggenggam tangan Evan.
"Aku pasti kembali untukmu. karna aku ingin menepati janjiku untuk selalu ada di sisimu. jangan menangisiku. aku gak pantas kau tangisi." Evan mengusap air mata Wilo dengan tangan lemasnya.
*Ya Allah, terimakasih, anakku sudah krmbali. makasih juga Wilo.*
mama Evan tersenyum sembari menangis.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1