
Pagi hari, saat Hans membuka matanya, ia kaget melihat Melodi yang sudah siap dan sangat cantik tengah berias diri di depan cermin.
Yang membuat ia terperangah bukan hanya kecantikan istrinya itu, melainkan sesuatu yang istimewa.
Ya, Melodi sudah menutupi tubuhnya menggunakan baju syar'i dan hijab yang panjang namun tetap modis.
Berkali-kali Hans mengucek matanya, mengira semua itu mimpi, atau Melodi hanya mencoba baju-baju yang ia jual di butiknya saja.
Hans turun dari ranjang dan menghampiri Melodi, lalu mendekapnya dari belakang.
"Istriku kenapa cantik sekali hari ini? mau kemana pakai hijab segala?" ujar Hans memujinya.
Melodi tersipu malu, namun ia hanya tersenyum tanpa menjawab.
Hans memutarkan tubuh Melodi dan menatap wajah cantiknya itu.
"Sayang, kamu makin cantik mengenakan hijab kayak gini. kamu terlihat makin solehah, adem, dan sejuk di pandang."
Melo mengalihkan pandangannya, dan membelakangi Hans.
"Hans, aku gak tau apakah baju seperti ini pantas aku kenakan. tapi aku sudah memikirkannya berhari-hari. dan aku memantapkan keputusanku untuk berhijab, tapi aku belum percaya diri. aku takut."
Melo tertunduk, Hans menghampirinya sembari tersenyum. lalu memeluknya.
"Apa yang kau takutkan sayang? ini adalah keputusan yang sangat baik. aku bangga sekali padamu, sudah berani melangkah sendiri." Hans mencium kening Melodi dengan cintanya.
Melo merasakan ketenangan setelah mengenakan hijab dan lebih mendekatkan diri pada yang kuasa.
Saat di kantor, mereka yang melihatnya turut takjub dengan perubahan drastis dari istri seorang CEO itu.
"Hans, Wilo gak ngantor?"
"Dia libur, karna hari ini Evan pulang dari rumah sakit setelah ia sadar beberapa hari yang lalu.
oh iya sayang, hari ini jadwal kamu cek kesehatan jantung kamu ya?"
"Iya, nanti setelah pulang dari rumah sakit. kita ke rumah Evan ya. aku mau melihat kondisinya." ujar Melodi dengan lembut.
"iya sayang. ya sudah, kamu disini saja ya, Kau mau rapat sebentar." Hans mengusap kepala Melodi lalu meninggalkannya pergi ke ruang meeting.
"Hm.. suntuk. aku harus ngapain ya?
lihat data kantor saja deh."
Saat mengacak isi komputer Hans, Melodi tanpa sengaja membuka video bukti-bukti saat Sila melakukan kejahatan yang belum dempat di pindahkan oleh Hans ke dalam laptopnya.
Melodi mulai tersurut emosi. ingatannya mulai terbayang pada saat ia keguguran.
"akkhhh... Dasar wanita sialan!! kau sudah membunuh anakku!! aku gak akan mengampunimu!!"
Melo melampiaskan emosinya, ia melempari semua benda yang ada di meja kerja Hans.
__ADS_1
Suara itu di dengar oleh salah satu karyawan Hans, ia cemas dengan apa yang di lakukan Melodi. ia pun langsung menjenguk Hans di ruang meeting.
"Bos, kayaknya nyonya bos sedang ngamuk di ruangan anda." bisik karyawan lelaki itu.
Hans kaget, ia pun langsung menghentikan meetingnya. "Direktur, silahkan lanjutkan rapat. aku pergi dulu."
dengan buru-buru Hans menuju ruangannya. saat membuka pintu, ruangan itu sudah berantakan, banyak vas bunga yang pecah. buku-buku beserta dokumen sudah berserakan kemana-mana.
Melodi menangis tersedu-sedu, terkadang juga menjerit menyebut nama Sila.
"Astaga, sayang kamu kenapa. ya Allah." Hans langsung memeluk Melodi erat untuk menenangkannya.
"Aku benci dia Hans.. aku benci orang yang bernama Sila itu!! biarkan aku mencarinya. aku ingin membunuhnya!!" teriak Melo sembari memukuli dada Hans.
"Astaga, kamu kenapa bisa dendam bnget sama Sila?."
"Tadi.. aku tanpa sengaja melihat video itu di komputermu." Melo masih terisak sambil menunjuk pada meja kerja Hans.
"Astaga, harusnya kamu jangan emosi kayak gini sayang. aku jadi khawatir, kau baru saja sembuh. sudah ya, tenangkan dirimu sekarang." Hans mengelus kepala Melo hingga ia tenang kembali.
"Ya.. tapi, apa kau tau di mana wanita itu sekarang?" tanya Melo menatap Hans.
Hans enggan memberitahunya. namun ia juga kasihan dengan istrunya itu.
"Dia sudah di penjara, kau gak perlu khawatir lagi."
"Hans, ayo kita ke rumah sakit sekarang. setelah aku cek up kesehatanku. kita langsung ke rumah Evan ya."
"Baiklah. apa yang gak bisa buat kamu." sahut Hans sembari merapikan hijab Melodi.
Setelah itu mereka langsung keluar ruangan yang masih berantakan itu. Hans pun meminta cleaning service untuk merapikan dan membersihkannya.
Saat di rumah sakit. Melo di periksa dengan tenang. sepertinya kesehatan jantungnya sudah membaik.
"Hasil tesnya bagus sekali. Penyakit jantung nyonya Melo sudah membaik. tapi belum sembuh total, karna emosinya belum stabil. obatnya di minum tiap hari ya." ujar dokter tersebut sembari menuliskan resep.
"Makasih banyak dok. aku lega dengan kabar ini." timpal Hans sembari merangkul Melo
"Ya sudah, ayo sekarang kita ke rumah Evan." pungkas Melo tergesa-gesa.
Saat tiba di rumah Evan, ia tengah duduk di kursi roda di temani Wilo yang sedang menyuapinya makan.
"Asalamu'alaikum" tutur Melodi dengan santun
Evan dan Wilo menoleh pada pintu.
"Ehh, Hans? Melo." Wilo beranjak menghampiri mereka.
"Mel. sekarang kamu berhijab? kamu cantik sekali, subhanallah." Wilo tersenyum kagum menatap wajah Melodi yang cantik dengan hijabnya.
"Kau terlalu memuji Wil, aku jadi malu. oh iya, mana Evan? aku ingin melihatnya." Melo masuk begitu saja meninggalkan Hans dan Wilo yang masih berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
"Hans, apa dia sudah tau semuanya? tapi kau bersukur dengan perubahan besar dalam dirinya yang sekarang." ujar Wilo tersenyum.
"Iya, alhamdulilah Wil. aku juga bangga padanya. semoga dia tetap kuat dan tegar seperti ini."
"Amiin.. ya sudah. ayo masuk."
Melodi memandangi Evan dengan tatapan sedih, matanya berkaca-kaca, ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Evan.
Wajah Evan nampak pucat, badannya juga lebih kurus, bahkan pandangannya sering kosong.
"Van, maafkan aku dan Hans, kau jadi kayak gini karna kami. aku sudah tau semuanya. aku tau ini semua ulah Sila yang jahat itu! tapi sekarang kita semua lega. karna dia sudah mendekam di penjara."
Evan kaget dengan ungkapan Melodi. karna memang ia belum tau dengan masalah itu.
"Apa?? maksudnya gimana?" tanya Evan bingung.
Wilona pun mendekat padanya. dan menceritakan semuanya dengan jelas.
Evan ternganga, namun ia lega karna penjahat itu mendapatkan balasan yang setimpal.
Satu minggu berikutnya.
Kesehatan Evan jauh lebih baik. mereka berempat pun memutuskan pergi ke kantor polisi untuk membesuk Sila.
Ketika Sila di keluarkan dari sel tahanan, ia nampak kurus dan lusuh. rambutnya berantakan tak terurus. ia juga tak banyak bicara, hanya merunduk seperti orang ketakutan.
Melo mendekatinya. mereka duduk saling berhadapan.
"Astaga. ini beneran Sila? gimana rasanya hidup dalam sel tahanan, yang selama ini gak pernah kau bayangkan?
Sila, kuharap kau bisa berubah. karna gak semua kejahatan yang kau lakukan itu akan berbuah manis. contohnya sekarang. kau mendapatkan ganjarannya.
Ini lah saatnya kau kembali ke jalan yang benar."
Sila hanya diam, tak berani menatap mereka. ia pun menangis.
"Kami pulang dulu. ini makanan untukmu." Wilona meletakkan kotak makanan di atas meja.
Lalu mereka berempat pergi dari kantor polisi.
Sejak hari itu, hidup Hans, Melo, Wilo dan Evan kembali tenang setelah tak ada pengganggu.
Mereka pun fokus bekerja.
perusahaan Hans dan Evan pun makin maju. begitu juga dengan butik Melodi. kini makin berkembang.
cinta kedua pasangan itu juga makin terjaga dengan baik.
Berlalu sudah penderitaan, kini berjalan normal kembali.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG