Dua Pilihan

Dua Pilihan
Diary


__ADS_3

Malam Hari


Wilo membuka kado satu persatu di dalam kamarnya.


ia duduk di depan meja riasnya sambil membuka semua kado. Sebelum itu, ia menatap cincin yang di berikan Evan.


"Makasih banyak Van, kamu itu malaikat pribadiku. Makasih atas semua yang kau lakukan untukku. Tapi aku merasa gak enak hati karna aku gak bisa membalas cintamu. Kau pria yang baik." tutur Wilo sambil memandangi cincin di jari manisnya.


Kemudian ia beralih dengan kado yang diberikan Hans.


Ia pun langsung membukanya, dan isinya sangat menakjubkan.


Sebuah kalung berwarna perak dengan liontin dari kristal yang mempunyai inisial huruf W di baliknya. Berkilauan ketika kena cahaya.


"Astaga, ini bagus sekali. Mungkin aku gak akan sanggup membelinya seumur hidupku. Makasih banyak Hans, aku akan menjaganya baik-baik." Wilo begitu terharu mendapat hadiah dari orang yang ia cintai.


"Untung Hans ngasih kalung, aku bisa memakainya tanpa terlihat dengan jelas." gumam Wilo sambil mencobanya.


Ia makin cantik setelah kalung itu terpasang di lehernya. Senyumnya begitu lebar memandangi kalung itu melalui cermin di hadapannya.


Ia juga membuka semua kado, termasuk dari Melodi.


Kado yang di beri Melo tak hanya satu, yaitu tas, sepatu, alat-alat makeup, dan pakaian untuk kerja.


Wilo tak habis pikir, kenapa Melo memberinya kado sebanyak itu. Jika di total, bisa mencapai ratusan juta. Karna semua barang itu dari brand ternama.


~


Pagi Hari, mereka tangah sarapan bersama.


"Hans, Mel. Mungkin hari ini hari terakhirku berada di rumah ini. Besok aku akan pulang. Maafkan aku jika selama aku di sini banyak bikin masalah." tutur Wilo tertunduk.


"Loh, kok pulang Wil? Gak ada yang usir kamu loh. Walaupun kamu sudah sembuh, tapi kamu boleh kok tetap tinggal di sini" timpal Melo


"Makasih banyak Mel, tapi gak baik jika ada orang lain dalam rumah ini. Aku juga gak mau menganggu ketenangan kalian. Lebih baik aku pulang kerumahu sendiri."


"Ya sudah, itu kehendak kamu. Kami gak bisa maksa." timpal Hans dengan santai.


"Makasih banyak Hans, aku sudah menjadi beban kalian di sini. Ya sudah, ayo kita berangkat kerja! Semangat buat semua!!" Wilo tersenyum ceria mengawali harinya.


Drtt.... Drttt...


Telpon dari Evan di layar ponsel Wilo.


"Selamat pagi Van, ada apa?"


"Pagi juga Bunny. Maafin aku ya, aku gak bisa jemput kamu. Karna aku udah di kantor sekarang." sahut Evan


"Kok pagi sekali? Ada meeting ya?." tanya Wilo


"Iya, tapi meeting di luar kota. Makanya aku berangkat pagi, maaf ya. Kamu ke kantor bareng Hans dulu hari ini."


"Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Hati-hati di jalan ya."


"Oke, thanks bunny." Evan menutup telponnya.


"Ada apa Wil?" tanya Melo penasaran.


"Gak apa-apa. Ya udah, aku berangkat duluan ya semuanya.. Dah.." Wilo langsung menyandang tas nya dan pergi ke luar.


Ia menunggu taxi di tepi jalan.


"Taxi mana sih, gak lewat-lewat. Pesan online aja deh." gumamnya sambil menatap ponsel.


Tinnn......


"Ayo berangkat." mobil Hans berhenti di hadapan Wilo


"Em...aku. kamu duluan aja deh." tolaknya dengan senyuman.


"Cepat masuk. Ini sudah siang." paksa Hans dengan wajah datar. Wilo pun menurutinya, dan masuk ke dalam mobil Hans.


Tibanya di kantor, Wilo buru-buru ingin keluar dari mobil Hans karna gak mau jadi bahan cibiran karyawan yang melihatnya.

__ADS_1


Karna terlalu ingin buru-buru, tas miliknya tak sengaja jatuh, isi nya pun berserakan.


Hans ingin mencoba membantu mengambilkan tas Wilo yang terjatuh di dekat kakinya, namun Wilo juga hendak mengambilnya hingga terjadi bentrokan pada kepala mereka.


"Aw.. " Wilo meraba kepalanya yang lumayan sakit.


"Maaf.. maaf.. apakah sakit?" ujar Hans menatap Wilo yang masih menggosok kepalanya.


"Em.. lumayan. tapi gak apa-apa, hehe."


"Ya udah, maaf ya. Ayo turun." Hans menggosok kepala Wilo sebelum ia turun.


Wilo hanya diam sambil berjalan masuk kantor, ia meraba kepalanya bekas sentuhan Hans.


Ia duduk termenung di meja kerjanya. *Hans ini membuatku bingung. kadang ia bersikap lembut, kadang tegas dan kadang tak peduli padaku. Entah kenapa sulit sekali melupakannya.*


"Heii masih pagi sudah melamun, mikirin apa sih?" Mita yang tiba-tiba datang mengagetkan Wilo


"Astaga Mita. kau membuatku jantungan." ketus Wilo.


"Lagian, masih pagi udah banyak pikiran."


"Heii kalian ngapain ngerumpi pagi-pagi. sana kerja!" ketus Sila menghentikan obrolan mereka.


Mita langsung pergi, dan Wilo segera menuju ruangan Hans.


~


Sore hari, Wilo pulang bersama Evan yang menjemputnya. sedangkan Hans masih kerja karna masih ada sedikit kerjaan yang harus ia selesaikan.


Saat pulang, ia kaget ada sesuatu yang menjanggal dikakinya ketika ia hendak memijak pedal gas mobilnya.


"Eh, apa ini?" ujar Hans sembari merunduk untuk melihatnya.


Terselip sebuah buku kecil didekat kakinya. ia pun langsung memungutnya.


"Buku siapa ini?" dengan penasaran, ia pun langsung membukanya.


Hans melanjutkan membuka lembar demi lembar halaman buku kecil tersebut. Ia membaca dari awal hingga akhir. Semua tulisan itu berceritakan tentang dirinya.


"Hah? apa-apaan ini. jadi selama ini Wilo mencintaiku? astaga, aku harus gimana? aku gak akan tinggal diam, sebaiknya aku membuatnya menjauhiku."


Hans melajukan mobilnya, namun ia bukan pulang ke rumah, melainkan menuju rumah Evan.


Setibanya di rumah Evan, ia di sambut dan di ajak masuk.


"Tumben kamu kesini, ada yang penting kah?" tanya Evan sambil menyuguhkan makanan ringan.


"Nih, kamu baca." Hans langsung memberikan buku itu pada Evan. dengan segera ia membuka dan membacanya.


Dengan santai Evan menanggapi itu, walaupun hatinya terasa sakit. "Lalu apa rencanamu Hans?" tanya Evan sembari menutup buku tersebut.


"Aku gak ada rencana apapun, aku hanya minta agar kau lebih dekat lagi dengan Wilo, dan buat dia jatuh cinta padamu. Bila perlu, tarik dia ke perusahaan kamu."


"Apa?! maksudmu, kau mau memecat Wilo dari kantormu? itu gak adil buat dia Hans, dan pasti dia akan curiga.


Lagian, cinta itu gak bisa di paksa. aku sudah mengutarakan perasaanku padanya, tapi dia hanya menganggapku sahabat."


Hans beranjak dari duduknya. "Van, masalah ini kau saja yang urus, aku hanya kasihan pada Wilona, dia selalu melihatku dan Melodi, pasti hatinya sakit. Aku gak mau dia mencintaiku, karna percuma. hanya membuang waktu dia saja. Aku pulang dulu, semoga Wilo mencintaimu."


Hans pergi dari rumah Evan dan kembali ke rumahnya.


Setibanya di rumah, ia langsung mencari Wilo yang saat itu sedang makan malam sendirian.


"Wil. .." panggilnya dengan wajah datar.


"Hans, kau sudah pulang? maaf ya aku makan duluan, karna aku sudah lapar. tapi melodi akan makan jika kau sudah pulang. Aku panggilkan dia ya."


Wilo beranjak hendak memanggil Melo, namun Hans mengehntikannya.


"Gak perlu. biarkan dia datang sendiri." pungkasnya langsung duduk.


"Baiklah, kau mau langsung makan? biar kuambilkan." Wilo membuka piring hendak membubuhkan nasi untuk Hans

__ADS_1


"Aku gak lapar.


Wil, bukankah kau bilang mau keluar dari rumah ini? kapan kau akan pergi?" ketus Hans dengan tatapan benci.


"Hah? kenapa tiba-tiba kau menanyakan ini?" timpal Wilo bingung.


"Karna aku gak suka kau berada disini lagi, sudah cukup aku dan Melo mengeluarkan banyak biaya selama kau di sini. Kau juga mengganggu ketenanganku dan Melodi." tegas Hans


"A...pa?." Wilo tertunduk, hatinya terhenyuh mendengar ucapan Hans yang seakan membenci keberadaannya.


Melo pun muncul dan mendengar sedikit perbincangan mereka. Ia langsung menghampiri Hans dan Wilo.


"Hans, apa yang kau katakan? kau mengusir Wilona?!" ketus Melo kesal.


"Em.. Mel, kamu gak perlu marah, yang dikatakan Hans itu benar. Baiknya aku keluar dari rumah ini, lagian aku bukan siapa-siapa kalian. Maafkan aku jika selama ini aku menyusahkan kalian." Wilo tertunduk menahan air matanya.


"Bagus! bila perlu kau pergi malam ini juga." tega Hans kembali.


"Hans.. kamu apaan sih? ini sudah malam, di luar lagi gerimis, apa kau sudah gak waras? ada apa denganmu Hans.?" Melo benar-benar marah dengan kelakuan Hans terhadap Wilo.


"Gak apa-apa Mel, aku ke kamar dulu. aku segera berkemas." Wilo berlari kecil menuju kamarnya.


Melo tau bahwa Wilona menangis, perasaannya juga pasti sangat sedih.


"Sudahlah, ayo ke kamar." Hans langsung pergi begitu saja. Melo pun mengiringinya dalam keadaan kesal.


"Hans, ada apa ini? kenapa kau menyuruh Wilo keluar secepat ini? apakah ada masalah?


Kau tau sendirikan, Wilo celaka karna dia menyelamatkan aku, gak seharusnya kau mengusirnya seperti ini." Melo tak tahan lagi bersabar, ia bicara dengan nada yang tak biasa.


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Aku capek, mau mandi lalu tidur."


~


Di dalam kamarnya, Wilo terisak tangis sambil mengemasi semua barang-barangnya ke dalam koper.


Dokter Meri datang karna mendengar suara isakan Wilo.


"Nona, kenapa kau berkemas.?" tanya dokter Meri heran.


"Aku akan pergi dari rumah ini, aku hanya sedih meninggalakn kamar ini. Aku gak apa-apa kok dok. Oh iya bolehkah aku minta sedikit obat? aku sering sakit kepala."


"Baiklah, aku ambilkan dulu ya." dokter Meri langsung keluar dari kamar Wilo.


Wilo melepaskan kalung yang di beri Hans sebagai hadiah ulang tahunnya.


*Baru kemarin aku sangat bahagia karna mendapat hadiah mahal ini darinya, tapi kenapa kebahagiaan ini begitu singkat. hiks...


Hans kenapa ya, dia sepertinya marah padaku. apa aku ada salah.*


Setelah berkemas, Wilo menarik kedua kopernya menuju keluar rumah.


"Wil..." Melo memnaggilnya dari belakang.


"Mel, maafkan aku jika selama ini menyusahkanmu ya. Tolong tetaplah jadi temanku. Aku bersukur pernah di anggap di keluarga ini. Maafkan aku harus pergi."


Wilo melanjutkan langkahnya keluar rumah.


Melo hendak menyusul karna ia tak tega. Hari sudah gelap, hujan pun mulia deras. Tapi Hans meraih tangan Melo untuk menghantikan langkahnya sambil menggelengkan kepala.


Melo hanya bisa menuruti apa kata suaminya itu. dengan sedih hati ia melihat Wilo perlahan menjauh dari rumahnya di bawah guyuran air hujan.


Hans segera pergi ke kamarnya.


Ia langsung menelpon Evan untuk segera menjemput Wilona dan mengantarnya pulang.


*Maafkan aku Wil, sebenarnya aku juga gak tega berbuat jahat terhadap orang sebaik kamu. tapi kamu harus sadar bahwa aku sudah punya istri. lebih baik kau membenciku, supaya kau bisa melupakanku.*


Hans memejamkan matanya, menguat hatinya berbuat jahat pada orang yang tidak bersalah. namun semua itu terpaksa ia lakukan sebelum semuanya semakin jauh dan semakin dalam. karna akan berdampak buruk terhadap Wilo sendiri.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2