Dua Pilihan

Dua Pilihan
Sisi Lain Wilona.


__ADS_3

Visual



Note: Karakter Visual hanya Ilustrasi Tokoh


~


Setibanya di kantor, para karyawan heran melihat Wilona yang turun dari mobil bos mereka itu.


Namun Wilo dan Hans seperti orang pacaran yang sedang bertengkar.


Saat masuk kantor saling diam dan dingin.


Kedua sahabat Wilona menghampirinya saat Wilo sedang merapikan meja kerjanya.


"Wil, kok lu bisa berangkat bareng bos?" tanya Sinta heran.


"Iya, kok bisa Wil. jangan-jangan lu jadi simpenan bos ya?" sambung Mita.


"Kalian berdua mending diem deh! gue bareng dia karna motor gue tinggal disini. Udahlah jangan di bahas. Males gue inget wajahnya." ketus Wilona garang.


"Iya deh. maaf. Tapi kita kepo." rengek Mita, namun Wilo tak menghiraukannya.


Sektretaris Sila datang menghampiri meja Wilo."Heh udik. di panggil Bos tuh."


Wilo tak menghiraukan Silsila.


"Heii Wilona. denger gak sih?! Bos nyuruh kamu bersihin ruangannya sekarang!" bentak Sila kesal.


"Cleaning service banyak. kenapa harus aku? bilang sama Bos. aku lagi sibuk." timpal Wilo tegas.


"Oke baiklah. itu lebih bagus sih." jawab Sila girang dan berlalu pergi.


Saat dalam ruangan CEO, Sila menyampaikan apa yang di katakan Wilona.


"Maaf bos. Wilo bilang dia gak mau bersihin ruangan bos." tutur Sila.


"Oke gak apa-apa, silahkan kamu pergi." sahut Hans, tak terlalu menghiraukan.


Kriing...Kriingg!!..


Bunyi telpon yang ada di atas meja kerja Hans.


"Ada apa?"


"Bos, client kita meminta rapat di majukan hari ini, pukul 9.00 pagi ini."


"Kenapa mendadak sekali? baiklah, makasih info nya."


"Baik bos."


"Haiss.. ada-ada saja." Hans bergegas menyiapkan berkas kemudian keluar membawa tas kerjanya.


"Sila, siapkan semua dokumen, kita berangkat meeting sekarang. Kutunggu di mobil." tutur Hans saat melewati meja kerja Sila.


"Hah? mee....ting?? kok mendadak?" gumam Sila bengong.


Hans juga menghampiri meja kerja Wilona saat ia sedang sibuk mengetik.


"Wil, bereskan kerjaanmu, dan ikut aku sekarang."


"Mau kema....na?"


"Jangan banyak tanya, kutunggu kau dan Sila di mobil." Hans berlalu begitu saja.


"Apaan sih tuh orang. Maksa aja." gumam Wilo namun ia tetap menuruti bos nya itu.


Saat Wilo hendak jalan keluar, secara kebetulan Sila juga hendak keluar.


"Heii mau kemana kau udik? balik kerja sana!" ketus Sila.


"Bukan urusanmu." sahut Wilo tetap berjalan.


*Orang itu gak bisa di diemin.* batin Sila kesal


Wilo berjalan menuju mobil Hans, dan masuk di kursi belakang di samping Hans.


"Loh, bos? kenapa gak duduk di depan aja samping supir?" tanya Wilo.


"Gak ada seorang bos duduk di depan." sahut Hans singkat.


Kemudian Sila juga datang dan hendak masuk di kursi belakang juga. Namun ia kaget karna Wilo sudah berada di sana.


"Bos, kenapa dia ikut? ntar malu-maluin. Dia kan gak bisa apa-apa, lagian pakaian staff gak cocok di ajak meeting." ujar Sila mengejek dengan puas.


"Hm.. dasar kuntilanak." gerutu Wilo tak menghiraukan.


"Apa? kau bilang aku kuntilanak.? kau belum tau siapa aku hah?! dasar bedebah!." timpal Sila kesal.

__ADS_1


"Sila! mending kamu duduk di depan dekarang! atau kau akan tinggal!" ketus Hans tegas.


"Baik bos." jawabnya tertunduk.


Sebelum ke kantor client, Hans mengajak Wilo ke mall terlebih dahulu untuk mengubah penampilannya


Hanya beberapa menit saja, wajah dan pakaian Wilona sudah di ubah oleh stylis dan make over.


"Wah, nona ini sangat cantik. Lebih cocok jadi model dari pada pegawai kantoran." ujar stylis yang menangani Wilona itu.


"Jangan berlebihan kak. Ya sudah aku keluar dulu ya, bos sudah menunggu."


Semua yang di gunakan Wilo adalah barang branded, dan yang membayarnya adalah Hans, senilai puluhan juta.


Saat Wilo menghadap Hans, ia terlihat melongo melihat perubahan Wilona, begitu juga dengan Sila.


*Gadis ini cantik juga kalo di dandani.* batin Hans memuji tampilan Wilo.


*Dia.. Wilona?? Can..... Ahh enggak, aku lebih cantik darinya dari sudut manapun!* Sila tak mau ada yang menandingi kecantikannya.


"Ayo berangkat, kok bengong? makasih ya bos udah beliin aku baju kerja ini. Bagus sekali, aku suka" tutur Wilo tersenyum riang.


"Jangan lupa potong gaji." sahut Hans sambil berlalu.


"Apaa.... Ahh aku menyesal ikut kalian!!" teriak Wilona dari dalam Mall.


"Pfftt.. hahaha.. Kasian deh." Sila begitu senang dengan derita Wilo.


_


Setibanya di kantor client, semua pandangan pria tertuju pada kecantikan Wilona.


Bagaimana tidak, ia begitu manis dan ramah senyum.


Seseorang datang menghampirinya.


"Eh,, kamu Wilona ya?" ujar Pria tersebut.


"Iya, anda siapa ya?" tanya Wilo heran.


"Kau sudah lupa? aku Evan Alexander, teman kuliahmu dulu."


"Ahh iya.. aku ingat, Wahh.. soulmate, kita ketemu lagi nih, kau makin tampan." ujar Wilona tertawa girang.


"Ehem.. sudah ngobrolnya? kita mau meeting sekarang." ketus Hansel.


"Kau mau meeting? aku juga, ayo kita pergi bersama" ajak Evan dengan senyuman manisnya.


"Maaf semuanya permisi, saya mau ke toilet sebentar." ujar Sila di tengah rapat. Kemudian ia keluar mencari toilet.


"Oke, saatnya sekarang giliran bos besar kita mengutarakan rancangannya." tutur Presdir perusahaan itu.


*Duh, semoga Sila gak lama, kayaknya aku gak bisa jelasin, aku bersin terus* Gumam Hans.


Namun Hans tetap mencoba menjelaskan walaupun ia merasa tidak enak pada tenggorokannya.


Ketika ia bicara terbata-bata karna sambil bersin-bersin, Wilo pun tak tega melihatnya.


*Kayaknya bos demam karna kena hujan tadi malam.*


Tanpa pikir panjang, Wilo mengambil Laptop di hadapan Hans, ia pun mengambil alih untuk menjelaskan semuanya kepada clien, yang seharusnya di gantikan oleh Sila.


Setelah Wilo selesai presentasi, semua orang bertepuk tangan dengan hasil penjelasannya yang begitu rinci.


Evan tersenyum bangga melihat temannya itu.


*Dari dulu kau selalu bisa di andalkan Wil, kau memang cerdas.* batin Evan tersenyum menatap Wilona.


Hans juga turut bengong dengan kemampuan Wilona yang selama ini sama sekali tidak terlihat itu.


*Dia?... Kreatif dan cerdas!*


Saat Sila kembali dari tiloilet, ia bingung melihat semua orang menyalami Wilona dengan senyuman puas.


"Permisi, ada apa ini? kenapa semua orang kayak seneng banget?" tanya Sila pada salah satu keryawan di sana.


"Oh, itu nona, teman anda berhasil memenangkan tender. Proyek ini cukup besar, tapi dia berhasil menanganinya dengan baik."


*What?? gue gak salah dengar?, masa iya si cupu ini....* Sila sama sekali tak percaya, ia pun menyesal karna telah meninggalkan rapat penting ini, dan harusnya ia lah yang mendapatkan pujian.


Setelah meeting selesai, Evan dan Wilo saling bertukar nomor ponsel sebelum mereka pulang.


Selama dalam perjalanan pulang ke kantor, Sila sama sekali tak buka suara karna ia merasa kesal pada Wilona.


_


Setiba diruangannya, Hans langsung berbaring di sofa karna kepalanya terasa pusing dan meriang.


Ia ingin sekali Melodi ada di sampingnya, namun ia memilih tidak memberitahu istrinya itu karna pasti Melo akan cemas.

__ADS_1


Wilona masuk ke ruangan Hans tanpa mengetuk pintu.


"Sudah kuduga, kau pasti demam." ujar Wilona yang sudah berdiri di samping sofa.


"Kapan kau masuk? jangan ganggu aku.


Aku mau istirahat."


"Sebenarnya aku masih marah padamu, tapi aku kasihan padamu." Wilo membawa semangkuk air hangat dan handuk kecil.


Kemudian ia menempelkan handuk itu ke dahi Hans sebagai kompres.


"Apa ini? aku bukan anak kecil, aku gak perlu kompres." Hans mengalihkan handuk itu dari kepalanya.


Wilo tetap memasangkannya lagi, walaupun Hans mengalihkannya lagi. hingga akhirnya Hans lah yang mengalah.


Wilo duduk santai sambil membaca majalah.


"Ngapain kamu masih di sini? kerja sana!" ujar Hans dengan suara serak.


"Mumpung bosku lagi gak sehat, waktunya aku santai hehe." Wilo sama sekali tak takut di pecat dengan tingkahnya itu.


"Gak waras. terserah. Oh iya, tolong ambilkan ponselku, aku mau telpon Melodi."


Wilo langsung berdiri dan mengambilkan ponsel Hans. "Nih, ponselmu. Ada gunanya kan aku disini?" ketus Wilo, dan kembali duduk.


"Iya.. iya. makasih.


Sekalian telponkan Melodi dan pegangi hp nya di telingaku selama aku menelpon."


"Kenapa gak pegang sendiri aja? Aku bukan pembantumu, lagian bisa di speaker kan? gak perlu di pegang." bantah Wilo.


"Tanganku sedikit gemetar, aku takut hp nya jatuh saat menelpon, itu akan membuat istriku cemas. Aku gak mau di speaker, karna aku gak mau jika kau mendengar percakapan kami."


"Haiss... ya sudah." Wilo mengambil kembali hp Hans untuk menelpon Melodi.


Kemudian ia menempelkannya di telinga Hans selama telpon berlangsung.


"Halo sayang, kau sudah makan?" tanya Hans pada Melodi.


"Hans? ada apa dengan suaramu? kenapa terdengar serak?" tanya Melo heran.


"Aku hanya batuk sedikit, kau di mana sayang?"


"Hans, maafkan aku ya, aku lagi di bandung, di tempat mama. Maaf aku baru bilang, dan kayaknya aku gak pulang hari ini. karna ada sesuatu yang akan kuurus."


"Iya gak apa-apa sayang, sudah lama juga kau gak pulang ke sana, hati-hati ya. Kalo boleh tau, ada urusan apa di sana?


"Ada deh, ntar aku kasih tau kalo aku sudah pulang ya."


"Baiklah, apa perlu kujemput?"


"Gak perlu, besok kau kan kerja, aku bawa mobil sama supir kok. Oke sayang, sudah dulu ya. Daah.. Asalamu'alaikum"


"Walaikumsalam sayang"


Selama Hans menelpon, Wilo tak mengalihkan pandangannya pada wajah Hans.


*Astaga, ada apa denganku ini. kenapa dia makin hari makin mengagumkan.


huss.. usir jauh-jauh pikiran yang iya-iya ini. Jangan pikirkan suami orang masih banyak yang perjaka.*


Sedari tadi, Hans memperhatikan Wilo.yang tengah menatapnya dalam.


*Entah apa yang dalam pikiran manusia aneh ini.* gumam Hans dalam hati.


Prak...!


Hans meletakkan hp nya di atas meja, karna sedari tadi masih di pegang Wilo.


Suara itu langsung menyadarkan Wilona.


"Eh, udah selesai nelponnya?"


"Udah dari sejam yang lalu! kamu ngapain liatin aku kayak gitu banget! di larang naksir sama suami orang!" ketus Hans.


Wilo langsung mengalihkan pandangannya sembari berdiri.


"Dih.. yang naksir sama suami orang siapa bos?! tadi aku lagi mikirin adik aku yang dari kecelakaan kemarin. Tolong ya, jadi orang jangan sok ganteng. masih banyak cowok perjaka yang lebih tampan dari anda.! byeee!"


Wilo langsung pergi keluar dari ruangan Hans.


"Pfftt.. kenapa dia jadi salah tingkah. Dasar gadis gak waras.


Ini apaan lagi. gak guna banget!" Hans menyingkirkan handuk kompres yang masih melekat di keningnya.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


Like. Komen. Vote🙏


__ADS_2