
Selama di paris, Wilo merasa tenang dan nyaman berada di sisi Evan. bagaimana tidak, Evan memperlakukannya dengan sangat baik dan sangat lembut.
Wilo baru menyadari bahwa ada orang yang lebih membuatnya berharga dari pada Hans yang sudah menjadi milik orang lain.
Hari ini, Wilo sendirian di dalam kamar Hotel. sementara Evan sedang bekerja. walaupun mereka berbeda kamar, tapi Wilo merasa dekat jika ada Evan.
Saat matahari terbit, cahayanya masuk melalui kaca jendela kamarnya. Wilo pun beranjak untuk membuka tirai.
Ia menatap keluar, pemandangan kota paris menyegarkan matanya, ditambah langit yang biru cerah membuat suasana hatinya jadi sejuk.
Sekarang aku berada jauh dari negeriku, dari orang tuaku, dari semua masalah yang selalu menimpaku. Di kota ini, aku akan mengubur masa lalu dan membuka masa depan bersama orang yang mencintaiku.
Kuharap aku bisa bahagia bersama dia, aku akan mencoba untuk selalu mencintainya. Dia orang yang baik, dia yang selama ini melindungiku, dia pantas mendapatkan cintaku.
Evan, kota Paris menjadi saksi bahwa aku mengatakan ini dengan sungguh-sungguh. terimakasih selalu menungguku. maafkan aku selama ini selalu mengabaikanmu.
Angin berhembus menyapu rambut Wilo yang baru saja bangun dari tidur. ia memejamkan mata untuk menikmati angin pagi yang segar itu.
"Hm... ini nyaman sekali" gumamnya sambil tersenyum.
"Lebih nyaman mana dengan dekapanku? selamat pagi bunny sayang." entah sejak kapan Evan berada di kamar Wilo. ia datang dan langsung memeluk Wilo dari belakang.
"Eh?? sejak kapan kau di sini? dan bagaimana cara kau masuk?" ujar Wilo heran.
"Hmm.. kau lupa ya? kunci kamar ini menggunakan sidik jariku. jadi, kapanpun aku bisa masuk." Evan menyeringai sembari menempelkan dagunya di bahu Wilo.
Wilo memegang tangan Evan yang tengah melingkar di perutnya. "Hm.. kau benar, lebih nyaman dekapanmu dari pada suasana ini. Ehh.. bukannya kamu kerja ya?"
"Hah? kapan aku bilang? kan meetingnya cuma sehari, sudah kemarin kan. Hari ini dan selanjutnya aku akan menghabiskan waktu untuk bersamamu selama kita di paris. sekarang kamu mandi gih, kita akan jalan-jalan"
Hari itu, mereka berdua menghabiskan waktu bersama.
~
Di lain sisi di kantor perusahaan Hans.
Melo tengah duduk termenung sembari menatap keluar jendela.
Hans datang menghampirinya, dan duduk di debelahnya.
"Sayang, ada apa denganmu?"
"Hans, apakah kita adil bersikap cuek terhadap Wilona? kenapa aku jadi kasihan padanya. apalagi keadaannya belum pulih total." tutur Melodi.
"sayang, aku cuek padanya karna alasan yang kuat. Supaya dia menjauhiku, dan itu baik untukmu. Maafkan aku kemarin, kejadian itu benar-benar tidak di sengaja. aku akan memberikan peluang libur yang banyak untuk Wilo, supaya dia bisa lebih dekat dengan Evan."
Duuugg.....
__ADS_1
Jantung Melodi berdetak lebih sakit. ia merunduk sembari memejamkan mata.
"Hans, apa kau tau? saat aku melihatmu terjatuh bersama Wilona kemarin, dadaku sakit, aku sesak nafas. tapi aku tahan supaya kau tidak cemas."
"Hah? kau serius? kalo gitu, kita ke rumah sakit sekarang." wajah Hans sangat khawatir terhadap ucapan istrinya itu.
"Gak perlu. itu karna aku kaget saja. aku yakin darahku naik. tapi sekarang sudah baikan." sahutnya tersenyum.
"Ya sudah, maafin aku ya karna gak peka." Hans merangkul Melo dan mengecup kepalanya.
Dari luar, Sila menyaksikan itu semua saat ia hendak masuk keruangan Hans. namun ia mengintai terlebih dahulu.
*Sial! kenapa aku harus menyaksikan ini! setelah Wilo gak ada, sekarang Melo yang nempel mulu! rasanya pengen kubasmi secepatnya mereka berdua! tapi sabar... tunggu waktunya.*
Sila menghela nafas, menghilangkan ekspresi wajahnya yang kesal. ia pun pura-pura tersenyum manis untuk memasuki ruangan Hans.
Tok... tok..
"Permisi bos."
"Masuk saja." sahut Hans dari dalam, ia pun kembali ke meja kerjanya.
"Maaf mengganggu bos. saya cuma mau minta tanda tangan." Sila membukakan lembaran-lembaran dokumen tersebut.
"Oke, selesai. ada lagi?" ujar Hans sambil menutup pulpen nya.
"Gak ada Bos, cuma ini aja. Makasih bos, permisi.
"Iya Sil." sahut Melo membalas dengan senyuman.
Saat berada di meja kerjanya, Sila tertawa jahat.
"Mudah sekali mendapatkan ini. Hans... ini awal dari kepahitanmu.! lihat saja, aku akan membuat orang terdekatmu menjauh satu-persatu. hahaha"
~
Malam hari, Sila mengajak Vino bertemu sambil makan malam bersama.
"Kau lihat ini. kerjaku baguskan? heh, tak kusangka aku mendapatkannya di moment yang tepat." Sila menyeringai bangga sambil menyerahkan sebuah dokumen.
Vino langsung mengambil dan membuka berkas tersebut. "Wah.. kamu memang hebat dan bisa di andalkan! ini adalah langkah awal kita. hehe" Vino memicingkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis.
"hmm. aku sudah gak sabar. jika aku gak bisa mendapatkan Hans, setidaknya aku bisa memiliki hartanya. Vino, secepatnya kita beraksi.!" tegas Sila.
"Tenang saja, aku akan mengerjakannya sendiri. Kau pantau saja terus dokumen perusahaan itu."
*Hmm.. Aku akan beraksi selangkah lebih maju darimu.* batin Sila.
__ADS_1
~
Dua hari kemudian. di ruang rapat.
Praaakkkkkk!!!
Hans melempar dokumen dengan emosi di atas meja. Semua atasan perusahaan tertunduk takut.
"Apa-apaan ini? kenapa keuangan kita menurun? kenapa pengeluaran lebih besar?!. kalian kerja atau tidur? jelaskan!!" teriak Hans, namun tak ada yang berani mencengatkan kepala.
Hans membuka lagi dokumen laporan yang lainnya. ia juga menemukan statistik catatan hutang ke perusahaan lain yang meningkat.
Saking emosinya, Hans duduk diam, tertunduk dengan mata terpejam.
"Aakkhhh!! kalian mau aku pecat semua hah?!!! mana admin keuangan?! cepat bawa dia kemari! Kalian gak ada yang becus!!" Bentak Hans. matanya memerah karna terlalu emosi.
Braakkkk...
Melodi masuk karna mendengar suara Hans yang keras.
"Ada apa Hans? suaramu terdengar sampai keluar."
Mereka hanya diam, Hans juga diam. Lalu Melo mencoba memahami situasi itu, ia pun membaca salah satu dokumen.
Melo menghela nafas sejenak, kemudian ia memeluk Hans untuk menenangkannya.
"Sayang, tenanglah. aku tau masalah ini cukup besar, aku ngerti dengan perasaanmu. Tapi kita akan selesaikan ini dan kita diskusikan dengan kepala dingin. aku yakin, kita semua akan menemukan jalan keluar."
Melo terus mengusap dada Hans sampai detak jantungnya terdengar normal. karna jika emosi sudah tinggi, maka detak jantung pun berdegup lebih cepat.
Hans memejamkan mata dan menghela nafas sembari mengusap kepala Melodi yang masih memeluknya.
"Makasih banyak sayang, aku jadi lebih lega. Kau tetap di sini ya selama rapat ini." ujar Hans menatap istrinya itu.
"Baiklah." jawabnya tersenyum.
Rapat itu di mulai kembali, mereka sama-sama mengutarakan pendapat mereka. mereka juga mencari solusi bersama dengan berdiskusi satu dengan yang lain.
Rapat selesai di akhiri dengan senyuman karna sudah mempunyai beberapa rancangan untuk menaikkan pemasukan kembali, walau belum pasti, setidaknya sudah ada planing.
Setelah semuanya keluar, Hans tersenyum memeluk Melodi. "Jika tadi kamu gak masuk, mungkin semua karyawan tadi sudah kupecat. Makasih banyak sayang, kau memang bisa melunakkan emosiku."
"Karna masalah gak bisa di selesaikan dengan emosi. Aku senang melihatmu tersenyum." timpal Melo dengan riang.
Hans sangat berterima kasih pada istrinya yang selalu memberinya kesejukkan di saat hatinya lagi panas.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG
Like. komen