Dua Pilihan

Dua Pilihan
Terjadinya Kecelakaan


__ADS_3

Wilo dan Evan buru-buru naik ke mobil Evan. meteka pun menuju Hotel xx, dimana hotel itu adalah tempat mereka meeting, dan juga tempat Hans dan Sila terjadi tidur bersama.


"Sayang, maaf ya agak ngebut, soalnya aku ada meeting siang ini." ujar Evan tersenyum pada Wilo sembari melajukan mobilnya.


"Iya gak apa-apa. aku gak takut kok."


Mobil itu melaju cukup kencang.


Hingga tiba di lampu merah, Evan hendak memperlambat laju mobilnya. Namun saat ia menginjak pedal rem, rem itu tak berfungsi.


"Loh.. ada apa dengan mobil ini?" Evan mulai panik.


"Kenapa Van?" tanya Wilo juga turut panik


"Sayang, rem nya gak berfungsi."


"Hah? serius? kita akan nabrak Van, di depan banyak mobil melintas, ini di simpang lampu merah, di disini sangat ramai." ujar Wilo yang sudah ketakutan.


"Sebelum kita menyeberangi lintasan lampu merah, lebih baik kau terjun sekarang Wil, kita akan tertabrak." ujar Evan sembari membukakan belt Wilona.


"Gak.. aku gak akan keluar sendirian. gimana denganmu Van, di depan banyak sekali mobil dan motor."


mereka terus bersitegang.


"Wilo!! jangan pikirkan aku. aku akan mencoba mengendalikan mobil ini. buruan kamu keluar sebelum menerobos lampu merah!" teriak Evan


"Enggak.. aku gak mau Van." Wilo mulai menangis, bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini.


tanpa pikir panjang, Evan membuka pintu mobil, dan mendorong Wilona keluar hingga ia terjatuh dan bergulingan di jalan.


Sekujur tubuh Wilo penuh luka gores, tubuhnya juga tersenggol knalpot sepeda motor yang sedang berdiam menunggu lampu merah.


hampir saja ia tak tertabrak mobil yang datang di belakangnya. Wajahnya pun luka akibat goresan aspal jalan. kakinya juga terkilir saat ia terjatuh dari mobil.


Namun ia langsung beranjak karna ingin melihat mobil Evan yang masih melaju itu.


Tak lama kemudian..


Duuaaaarrrrrrr !!!!!


Tabrakan beruntun tak terhindarkan karna jalan yang lumayan padat dan juga ia menerobos lampu merah dengan kecepatan cukup tinggi.


"EVAN!!!!!" teriak Wilo sambil menangis.


Semua orang menyaksikan kejadian na'as itu.


Wilo langsung membuang sepatu nya, lalu ia berlari menuju tempat kecelakaan itu.


walaupun kakinya sangat sakit, namun itu tak ia rasakan lagi.


Banyak korban yang terluka akibat kejadian itu. polisi pun datang untuk menangani masalah itu.


Wilo langsung menuju mobil Evan yang sudah tak berbentuk itu.


"Pak. tolong buka pintu mobil ini. Ada tunangan saya di dalamnya." ujar Wilo panik sembari menangis.


Saat pintu itu di buka. betapa kagetnya Wilona melihat Evan yang sudah di selimuti darah.


Polisi pun mengeluarkan Evan dari dalam mobil. banyak sekali luka pada tubuhnya.


di kepalanya ada beberapa tusukan kaca yang masih menancap cukup dalam.


"Ya allah.. Evan..!!" Wilo menyingkirkan kaca-kaca itu dari kepala Evan, ia juga membersihkan wajah Evan yang sudah penuh darah itu.


"Nona, bagaimana insiden ini bisa terjadi? apa penyebabnya?" tanya polisi.


Seorang saksi yang melihat kejadian itu langsung mendekati polisi. "Pak, kurasa mereka bertengkar. karna gadis ini di dorong oleh pacarnya dari mobil hingga mobilnya oleng dan menerobos lampu merah."


"Tidak!! bukan kayak gitu kejadiannya. aku di dorong karna mobil ini rem nya blong.


pak polisi, nanti saja penjelasannya. sekarang aku mau bawa pacarku ke rumah sakit dulu"

__ADS_1


ujar Wilo tergesa-gesa.


"Baiklah nona. Ambulance sebentar lagi tiba. tim polisi akan mengikuti anda, setelah anda selesai mengantar pacar anda. maka anda ikut kami ke kantor polisi untuk di mintai keterangan."


"Baiklah pak. gak masalah." timpal Wilo.


Setelah ambulance tiba, Evan dan beberapa korban langsung di larikan ke rumah sakit.


"Untung ponselku gak ilang. aku harus hubungi orang tua Evan dan juga Hans."


Setibanya di rumah sakit, ternyata orang tua Evan sudah datang terlebih dahulu.


mama Evan langsung menangis melihat kondisi anaknya.


Evan sendiri langsung di masukkan ke ruang UGD. beberapa dokter handal pun menanganinya dengan cepat.


Wilo langsung memeluk calon mertuanya itu.


"Tente, maafkan aku. tolong doakan supaya Evan bisa di selamatkan." Wilo menangis tergesa-gesa.


"Nak, kenapa bisa jadi seperti ini. kenapa kalian bisa sampai kecelakaan." mama Evan juga tak kuasa menahan tangisnya.


Belum sempat Wilo menjawab, seorang dokter pun memanggilnya. di susul oleh beberapa polisi.


"Nona Wilo, ayo masuk kamar pasien, anda juga harus di tangani. karna luka di tubuh nona juga cukup parah."


Polisi juga turut mendekat. "Maaf mengganggu. kami akan membawa nona ini ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.


"Maaf pak polisi. dia adalah pasien kami. keselamatan lah yang terpenting. nona Wilo harus segera di periksa. anda boleh ikut ke dalam kamar pasien untuk memintai keterangan atau apapun itu." timpal dokter wanita itu tegas.


Polisi itu hanya bisa diam.


beberapa suster pun membawa Wilona ke kamar pasien.


"Dok, apa saya boleh ikut masuk?" pungkas mama Evan.


"Boleh nyonya. silahkan."


Sembari menunggu dokter membersihkan luka-luka di tubuh Wilo, dua polisi itu langsung melontarkan beberapa pertanyaan padanya.


"Nona Wilo, tolong jelaskan kejadian tadi yang sebenarnya."


Wilo menghela nafas, dan mencoba untuk tenang.


"Tadi aku dan Evan hendak menuju hotel xx, karna ada keperluan di sana. Evan melajukan mobilnya cukup kencang karna dia tidak punya banyak waktu.


namun saat hendak berhenti di lampu merah, Rem mobil itu tak berfungsi. dia menyuruhku lompat dari mobil supaya aku gak terluka jika mobilnya mengalami kecelakaan.


memang kami sempat berdebat, karna aku gak mau keluar sendirian ninggalin dia. tapi dia memaksaku keluar, lalu mendorongku hingga aku terpental.


setelah itu......


kecelakaan itu terjadi. hiks.. "


"Apakah yang nyonya katakan ini jujur? di lihat dari mobilnya, sepertinya mobil itu masih bagus. bagaimana bisa rem nya blong, apa kalian sengaja menerobos lampu merah karna mengejar waktu?" timpal polisi itu


Wilo langsung emosi mendengar ucapan polisi itu.


"Eh pak. kalo gak percaya cek aja rem nya!! apa kau pikir kami gak sayang dengan nyawa kami hah!! apa kau pikir kami mau kecelakaan kayak gini!! kalian punya otak gak sih!!" bentak Wilo dalam tangisan.


"Katakan gimana caranya kami ngecek rem nya kalo kondisi mobilnya saja sudah ringsek kayak gitu. dan kalian berdua harus bertanggung jawab karna banyak korban terluka dalam kejadian ini. salah satu dari kalian harus kami tahan." tegas polisi.


Mama Evan langsung mendekat pada polisi itu.


"Eh pak polisi, aku tau kau sedang menjalankan tugas! tapi apa kamu gak punya hati hah?!! gimana jika keluargamu ada di posisi ini gimana?!!" teriak mama Evan.


"Nyonya!!! ini suatu kasus kecelakaan! dan kami harus menjalankan kewajiban kami untuk menahan siapapun yang melanggar aturan lalu lintas!!" bentak polisi tersebut


Prakkk..!!


dengan emosi Wilo melemparkan tiang infus yang ada di dekatnya, hingga mereka semua kaget, termasuk dokter dan suster.

__ADS_1


"Jaga sikapmu pak!! kau berpendidikan bukan?! beraninya kau membentak orang yang lebih tua darimu!


gini aja! kasih aku waktu satu minggu, aku akan mencari bukti jika aku, Evan dan mobilnya gak bersalah.


tapi jika aku gak nemuin bukti apapun, maka kalian boleh penjarakan aku!!" tegas Wilona.


Tiba-tiba Hans datang dan langsung masuk.


"Aku setuju dengan Wilona. jika dalam waktu seminggu dia gak berhasil nemuin bukti, maka kalian boleh menangkapnya. tapi jika mereka gak salah. maka kantor polisi kalian akan aku gusur!!


satu lagi. semua biaya rumah sakit korban, aku yang tanggung!!" tegas Hans dengan tatapan matanya yang tajam.


"Tuan Hans?? maaf tuan, kami gak bermaksud membuat keributan. tapi nona ini susah di ajak bicara. baiklah, kalau gitu, kami pergi dulu. permisi tuan Hans."


Kedua polisi itu langsung bergegas keluar.


"Makasih banyak nak Hans. jika kau gak datang, mungkin Wilo sudah mereka bawa." ujar mama Evan, matanya berbinar menahan tangis.


"Gak masalah tante, karna Evan adalah sahabatku." jawabnya tersenyum


Hans mendekat pada Wilona, ia melihat sekujur tubuhnya yang masih mengeluarkan darah di beberapa luka.


"Lukamu cukup banyak Wil, di wajahmu juga ada luka goresan." ucap Hans cemas.


"Aku lebih baik dari keadaan Evan, lukanya banyak sekali. aku gak tega melihatnya. hikss.


Akkhh.. lukaku baru terasa perih."


"Nona, kakimu bengkak? apakah tadi terkilir?" tanya dokter.


"Ya mungkin saja dok, karna tadi aku sama sekali gak ngerasain sakit. tapi sekarang sakit sekali." Wilo memejamkan matanya menahan denyutan sakit di sekujur tubuhnya.


"Nanti kakimu kita berikan suntikan."


"Jangan!" timpal Hans.


"Hah? kenapa?" tanya suster.


"Kaki terkilir gak bisa di sembuhkan oleh suntikan. biar aku yang memijatnya. Lagian aku sudah beberapa kali memijat kaki Wilo akibat terkilir. Siapkan mentalmu Wil."


Hans pun langsung memijat pelan kaki Wilo. kemudian ia tarik dengan cepat hingga mengeluarkan suara.


"Akhhh... " teriak Wilo menahan sakit.


"Sudah selesai. coba di gerakkan." ujar Hans.


Setelah Wilo menggerakkan kakinya, ia tak merasakan sakit lagi.


"Alhamdulillah sudah mendingan. makasih Hans."


"Oke. aku mau keluar dulu melihat Evan." Hans mengusap kepala Wilo, kemudian meninggalkan ruangan itu.


Di luar ruangan UGD, Hans mengintip ke dalam, melihat dokter yang tengah menangani Evan. membuka bajunya dan membersihkan semua darah dan lukanya.


Kepala Evan sudah di tutupi perban yang cukup tebal. Walau begitu, masih nampak darah yang membasahi kain putih itu.


Beberapa selang melintasi tubuhnya, beserta tiang infus yang berada dikiri dan kanan ranjangnya.


*Ya Allah. ternyata separah ini keadaan Evan, semoga dia bisa di selamatkan. ini semua salahku. jika saja mereka tidak membantuku untuk ke hotel itu, maka Evan dan Wilo gak akan kecelakaan.


Van, aku janji akan membantu Wilo mengusut masalah ini. lupakan saja semua masalahku. yang terpenting saat ini masalah kalian berdua dan kesehatan kalian juga.


Cepatlah pulih, Wilona membutuhkanmu. dia sangat shok melihatmu. ia tak hentinya menangis. berjanjilah untuk tetap hidup dan berada di dekat kami semua.*


Hans tertunduk, matanya sudah berkaca-kaca. namun ia menahan air matanya.


Hans merasa menyesal akan kejadian ini. karna ia lah yang menyuruh Evan dan Wilona ke hotel tersebut. ia bertekat untuk bertanggung jawab atas nyawa Evan dan semua korban kecelakaan.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2