Dua Pilihan

Dua Pilihan
Insiden Tak Terpuji


__ADS_3

Sudah pagi, Melodi masih menunggu Hans pulang. dari semalaman ia tak bisa tidur memikirkan Hans yang tak ada kabar sama sekali.


"Ya Allah, kemana sih kamu Hans. kau tau sekarang aku lagi begini. aku butuh sekali perhatianmu. kenapa kau membuatku cemas."


Melo bolak balik keluar masuk rumah menanti suaminya itu pulang.


Mama Hans pun menghampirinya karna heran melihat tingkah Melo.


"Mel, ada apa denganmu? kenapa sepertinya gelisah sekali?"


"Gimana aku gak gelisah ma. dari tadi malam Hans gak pulang ke rumah. aku khawatir terjadi sesuatu dengannya."


"Astaga. dia ke mana? kamu sudah telfon?" ujar mertuanya itu panik.


"Sudah dari semalam ma. tapi gak pernah di jawab. aku cemas sekali."


Klentung....


bunyi notif pesan dari ponsel Melodi.


"Jemput aku di Hotel xx. sendirian saja."


Dengan antusias Melo memberitahu mamanya.


"Ma barusan Hans ngirim chat. aku ke sana dulu ya."


Melo langsung menghampiri supirnya, kemudian minta antar ke hotel yang sudah di sebutkan Hans.


Di waktu bersamaan.


"Aaaaaakkkkkhhhh...!!!" Teriak Silsila dengan kencang saat mengetahui tubuhnya sudah tak mengenakan pakaian dan tidur di sebelah Hans.


Hans pun kaget mendengar jeritan itu, ia pun terbangun. namun ia juga teriak mengetahui Silsila yang berada di dekatnya.


"Bos.. kenapa aku ada di sini?!! kau apakan aku hah?!! katakan di mana ini.?!!" teriak Sila sambil menangis.


"Aku juga gak tau ini di mana. dan....


di mana bajuku.? apa yang sudah terjadi." Hans benar-benar kebingungan.


"Hikss... apakah kita sudah melakukan hal yang terlarang? apa yang kau lakukan padaku Bos!!! akkhh... perutku sakit."


Sila menangis sembari menekan perutnya dengan mata terpejam.


"Kau jangan sembarangan! mana mungkin aku melakukan itu padamu.! lagian kenapa kau ada disini.!" bentak Hans.


"Hikss. apa kau lupa? tadi malam setelah meeting, hanya tinggal kau dan aku. setelah itu...." Sila menghentikan ucapannya.


Hans pun mulai mengingat kejadian yang menimpanya.


_


Tadi malam, setelah Sila membubuhkan sesuatu ke dalam minuman Hans. tiba-tiba pikiran Hans jadi tidak karuan, ia mabuk berat.


Hans menggenggam tangan Sila. "Sayang, kenapa kita ada di sini? aku sudah ngantuk. ayo kita ke kamar."

__ADS_1


"Bos, sadarlah. aku Sila bukan Melodi. dan kita lagi ada di hotel sekarang. mari ku antar kau pulang." Sila mengangkat tubuh Hans hendak membawanya ke mobil.


"Aku sudah gak kuat sayang. Ayo kita cek in saja. kau pesan lah satu kamar buat kita berdua ya." dengan senyum manis Hans mencium kening Sila.


"Tapi... Bos??"


"Sudahlah. biar aku saja, ayo." Hans langsung menuju lobi dan memesan satu kamar. Hans pun memaksa Sila untuk mengikutinya.


*Hm.. memang ini yang ku inginkan.* batin Sila berpura-pura takut.


Braakk..!!


Hans melempar Sila ke ranjang, dan langsung mengunci pintu. lalu ia memperlakukan Sila layaknya Melodi. setelah itu, ia tak ingat apapun lagi.


_


"Astaga. gak.... gak mungkin aku melakukan itu sama kamu Sil.. ini pasti ada yang salah. gak mungkin." Hans mengusap wajahnya, menyangkal semua ingatan yang ada.


Sila memeluk Hans sambil menangis. "Bos. apa kau pikir aku rela? aku gak mungkin melakukan ini dengan orang yang gak aku cinta! tapi ini sudah terjadi, aku harus gimana?? hiks..."


Braakkk...


Suara pintu terbuka.


"Astaga. Hans?.. Sila?!!" Ya Allah. apa yang kalian lakukan?!" Melodi menutup mulutnya menahan tangis.


Ia sama sekali tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Hans dan Sila juga kaget. mereka pun memisahkan diri namun masih menutupi tubuh dengan selimut.


Degg... detak jantung Melo berdegub menyesakkan dada.


"Sayang, dengar dulu. ini ada yang salah. aku juga gak tau kenapa bisa tidur di dekat Sila. aku yakin, aku gak ngelakuin apapun. tolong percayalah!"


Hans bingung, ia hendak memakai baju, namun letaknya cukup jauh dari tempat tidur. jika ia berdiri menggunakan selimut, maka tubuh Sila akan terlihat. ia pun memilih diam di tempat.


"Nyonya Bos, aku juga gak tau kenapa kami di sini. tiba-tiba saja kami sudah berada di tempat tidur yang sama." ujar Sila membenarkan ucapan Hans.


"Hiks.. hiks.. kenapa aku harus menyaksikan ini." tubuh Melo seakan terasa lemas, ia hendak terjatuh.


Namun Wilona datang tepat waktu, dan langsung menangkap Melodi.


"Astaga Mel, ada apa?" ujar Wilo cemas.


Melo hanya diam sambil menunjuk pada Hans dan Sila yang masih duduk di tempat tidur.


"Astaga Hans?!! kamu dan Sila ngapain di sana. Sila, cepat kau pergi dari sana!" tegas Wilona.


"Percuma Wil, karna mereka tidak mengenakan pakaian." timpal Melo dengan nadah lesu.


Wilo menggotong Melodi, lalu meletakkannya di kusri. "Kau di sini saja. tenangkan dirimu ya." ujar Wilo.


Kemudian Wilo langsung mengamabilkan baju Hans dan memberikannya.


Wilo juga mengambilkan baju Sila, lalu melemparkannya ke wajah Sila.

__ADS_1


"Tuh, pakai cepat!! setelah itu kau pergi dari sini." ujar Wilo dengan Emosi.


"Apa-apaan kau!? ehh Wilo, jangan-jangan ini semua ulah kamu kan? kamu sengaja menjebak kami, supaya bos Hans dan istrinya berpisah, lalu kau bisa merebut bos Hans. iya kan??!" timpal Sila menuduh.


Praakkkk....


Wilo menampar wajah Sila cukup kuat. "Jangan sembarangan kalo ngomong. jelas-jelas tadi malam aku pulang lebih dulu dari kamu dan Hans. aku pun pulang bersama Evan.!"


"Akkhh.. sakit! dasar bedeb*h!!.


lalu kenapa kau ada di sini kalo memang bukan kamu pelakunya. Ngaku saja, kamu ke sini karna cuma ingin menyaksikan kesakitan hati Nyonya Bos, iya kan?!!" teriak Sila terus menuduh.


"Aku ke sini karna Hans yang menyuruhku datang. dia chat aku tadi pagi. Kau jangan fitnah kalo gak ada bukti Sila!!"


"Kalo gitu, tunjukin chat dari Hans.?" ketus Sila.


Saat Wilo hendak menunjukkan isi pesan itu, ternyata sudah tidak ada, pesannya sudah terhapus, padahal ia tak melakukannya.


"Hah. kok bisa gak ada sih?" gumam Wilo bingung.


"Gak ada kan? itu artinya kau berbohong. akui saja Wil kalo ini jebakan kamu. ya kan?! kamu gak rela melihat bos Hans dan istrinya bahagia kan?


Nyonya Bos, jika aku hamil ntar, aku rela kok anakku buat kalian. dan aku gak akan menikah sama bos Hans. karna aku tau, kalian saling mencintai."


Silsila merunduk, meratap sedih.


"Sila.!! jaga ucapanmu! lagian. Hans belum tentu melakukan itu padamu kan?!" ketus Wilo.


Melodi makin pusing mendengar perdebatan mereka. air matanya sudah tak terbendung lagi. entah siapa yang harus ia percaya saat itu.


Sementara itu, Hans tengah sibuk memasang baju dan celananya di dalam selimut. pikirannya hanya terkait pada kesehatan Melodi, firasatnya sudah mengatakan ini akan berdampak buruk bagi Melo.


Melodi sudah tak sanggup lagi. ia hendak berlari keluar dengan air mata berlinang dan detakan jantung yang lebih cepat.


Bruuuaakkkkk!!!!


Tiba-tiba Melodi jatuh ke lantai dan langsung tak sadarkan diri.


"Melo!!!" teriak Hans. ia pun berlari menghampiri Melo yang sudah tergeletak di lantai, kebetulan ia baru selesai menggunakan bajunya.


Wilona juga turut berlari mendekati Melodi.


Tanpa sengaja, Wilona melihat rok Melodi yang sudah basah. ia pun melihat kaki Melo yang sudah di selimuti darah.


"darah?? Astaga Hans. jangan-jangan!!" Wilo dan Hans saling tatap.


"Gak.. !! enggak..!! itu gak akan terjadi." Hans langsung menggendong Melodi sambil berlari menelusuri lorong kecil kamar hotel dan juga lift.


"Sayang, maafkan aku. kumohon kuatkan dirimu ya. Setelah kau sembuh, aku janji akan mengusut tuntas masalah ini. tolong bertahanlah dan bersabarlah." gumam Hans sambil berlari menuju parkiran.


ia tak henti-hentinya berdoa supaya Melo dan janinnya baik-baik saja. Hans tak kuasa menahan air matanya karna tak tega melihat kondisi istrinya itu.


Wilo juga selalu memanjatkan doa untuk keselamatan Melodi dan calon anaknya.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2