Dua Pilihan

Dua Pilihan
Rencana mama Hans.


__ADS_3

Setibanya di rumah Hans.


"Hans, aku jalan kaki saja, sepertinya aku sudah kuat untuk berjalan. Gak enak sama mama kamu dan istri kamu." ujar Wilo sambil membuka pintu mobil.


"Tunggu Wil, biar aku papah kamu sampai ke rumah, nanti kamu jatuh di jalan." dengan langkah cepat, Hans menyambangi Wilona dan membantunya berjalan.


Sahabat Wilo. Shinta dan Mira masih menunggunya di teras depan rumah Hans, walau hujan masih melanda dan angin yang cukup kencang, namun mereka memilih untuk menunggu Wilona pulang, dari pada masuk dan duduk manis di dalam rumah bos mereka itu.


"Eh, itu Wilo...!" seru Mira riang.


"Ah iya, benar.! Itu Wilo.


Syukurlah dia selamat" sahut Shinta.


Mendengar kericuhan mereka berdua, mama Hans dan Melodi pun keluar untuk melihat.


"Ada apa kalian ribut-ribut?" tanya mama Hans.


"itu tante, Wilona sudah kembali dengan selamat." ujar Mira dan Shinta bersamaan.


"Benarkah?


Melodi.! Cepat ambilkan handuk dan mantel hangat untuk Wilona." tegas mama Hans menyuruh menantunya itu.


"Baik ma." Melo bergegas mengambilkan handuk Wilo dan baju hangat.


Saat melintasi kamar dokter Meri, ia mengetuk pintunya.


"Dok, tolong bawakan obat untuk Wilona, dia kehujanan. Jangan sampai dia sakit lagi. Sekarang ya." ujar Melo, kemudian buru-buru pergi.


Saat masuk ke dalam rumah. Wilo di sambut antusias dengan kecemasan dari para sahabatnya dan juga mama Hans.


Lalu mama Hans memberinya handuk yang di ambilkan oleh Melodi, kemudian ia membawa Wilo ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


*Mama secemas dan seperhatian itu dengan orang lain. Aku jadi iri.* batin Melo tertunduk sedih.


"Sayang, ayo siapkan bajuku."


Ucapan Hans menyadarkan Melo dari lamunannya.


"eh iya sayang, ayo." timpal Melodi sembari berjalan menuju kamar mereka.


Saat Melo sedang mencari pakaian Hans dalam lemari, tiba-tiba ia di peluk dari belakang.


"Hans.. Ada apa? Ganti dulu bajumu. Bajuku bisa basah nih." Melo berusaha melepaskan diri.


"Biarin, nanti bisa ganti. Aku lebih suka basah-basahan. Bila perlu, kita mandi hujan bersama." bisik Hans, dan tetap memeluk erat istrinya itu.


Hans melakukan itu untuk menghibur Melo, karna ia tau apa yang sedang di rasakannya. Ia tua bahwa mamanya lebih peduli dengan Wilona dari pada istrinya sendiri.


Ada rasa ingin menangis, namun Melo menahannya. Karna dia merasakan bahwa Hans tau dengan perasaannya, walaupun ia tak bicara.


Selama ini, hanya Hans alasannya untuk tegar. Walaupun ia tidak bisa memberikan keturuanan.

__ADS_1


Melo sudah mencoba memberi saran untuk mengadopsi seorang bayi, bahkan ia menyuruh Hans untuk menikah lagi, namun Hans menolaknya.


Alasan di balik itu, karna Hans sangat mencintai istrinya. Satu dan untuk selamanya.


Cukup orang tuanya yang membuat ia bersedih, tapi tidak dengan Hans, karna ia lah pelindung nyata untuk Melodi.


Dalam pikiran kosong dan air mata yang sudah di ufuk mata. Melodi memutarkan tubuhnya dan berbalik memeluk Hans.


Dalam keheningan itu, mereka sama-sama mengerti dengan perasaan masing-masing, tanpa harus di jelaskan.


"Sayang, aku mencintaimu. Sejak dulu, sekarang, bahkan nanti sampai aku mati. Walaupun mama berusaha keras untuk memisahkan kita dengan cara apapun. Aku akan tetap ada di sisimu selama aku hidup. Kecuali kehendak Allah."


Hans menciumi dan mengelus kepala istrinya yang sedang ia peluk itu.


"Tapi. Bagaimana jika suatu saat ada wanita penggantiku? yang mencintaimu lebih dari cintaku? Yang mempedulikanmu lebih dariku? Bagaimana Hans? Apakah hatimu yakin untuk itu?" Melo menatap dalam mata suaminya itu


Hans kembali memeluk Melo. "Jangan bicarakan apapun tentang itu. Karna aku yakin dengan hati dan pendirianku. Aku bukan pria yang mudah tergoda dengan wanita secantik apapun, seseksi apapun, dan sebaik apapun.


Karna istriku lebih sempurna dari wanita manapun."


"Hans.....?


Hiks.. Hiks.. Maafkan aku sudah berburuk sangka padamu. Aku percaya dan aku yakin dengan perasaanmu padaku. Sekali lagi maafkan aku." Melo makin memeluk erat suaminya itu, tak peduli bajunya sudah basah akibat pindahan dari baju Hans.


"Gak perlu minta maaf sayang, karna hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia. Dan aku sudah berjanji demi kebahagiaanmu, dan kebahagiaan rumah tangga kita." Hans mengusap air mata Melo yang perlahan jatuh.


_


Saat semuanya berkumpul di ruang tamu. Evan pun datang, namun ia sudah berganti pakaian, karna ia pulang dulu sebelum ke rumah Hans.


"Iya, ku pikir dia pacarku. Ternyata bukan. Siapa dia?" sambung Wilo.


"Vino itu sahabat kita. Dia mantan pacar Wilona, namun dia selingkuh dengan sahabat kita yang lain, dan mereka menikah tanpa memikirkan perasaan Wilo. Karna waktu itu Evan dan Wilo masih pacaran."


Mereka kaget mendengar penjelasan Evan.


"Bagaimana mungkin? Lalu kenapa di rumahnya gak ada orang?" tanya Wilo heran.


"Wil, dia hidup sendirian, karna dia sudah cerai dengan istrinya. Mereka punya satu anak, namun di bawa oleh mantan istrinya. Kamu hati-hati ya sama dia, karna sekarang dia sedang mengincar kamu untuk kembali lagi padanya." tambah Evan.


"Astaga. Aku gak nyangka sama sekali.


Maafkan aku ya semuanya, aku pikir ucapannya benar.


Aku sudah merepotkan kalian sampai-sampai kehujanan. Lain kali aku gak akan mudah percaya sama orang."


"Gak apa-apa Wil. Aku akan melindungimu.


Ya sudah, aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati di sini." Evan mengelus kepala Wilona dengan senyuman sebelum ia pergi.


Lalu Sinta dan Mira juga turut pulang, karna sudah merasa lega melihat keadaan Wilo.


"Ya ampun, sampai kapan aku seperti ini. Aku ingin ingatanku segera kembali. Aku gak mau celaka atau mencelakai orang lain.

__ADS_1


Hans, Melo, antarakan saja aku pulang, lebih baik aku tinggal bersama orang tuaku saja, aku sudah sangat merepotkan kalian di sini."


"Jangan Wil. Kita sudah janji akan merawatmu sampai sembuh, kamu yang sabar ya. Dokter Meri akan mengobatimu supaya ingatanmu cepat pulih." tutur Melodi cemas.


"Tapi aku gak enak di sini. Aku di perlakukan seperti tuan rumah. Aku ingin pulang saja." jawab Wilo merunduk.


Mama Hans menghampiri tempat duduk Wilo.


"Wil, tante belum mengizinkan kamu pulang, selama tante di sini, tante mau kamu juga di sini, supaya tante ada teman ngobrol." timpal mama Hans.


*Mama apaan sih. Melo kan bisa di ajak ngobrol.* batin Hans sambil mengerutkan dahi.


_


Esok pagi.


Mama Hans berinisiatif mengajak Wilona ke rumah sakit. Alasannya untuk menemaninya cek-up.


"Loh, mama sama Wilo mau kemana?" tanya Hans saat ia hendak berangkat kerja.


"Mama minta temani kerumah sakit sama Wilo."


"ma, Wilo itu baru sembuh, ntar dia kecapean, mama juga yang repot." timpal Hans.


"Aku gak apa-apa kok Hans, lagian aku bosan di rumah. Aku sudah minum obat kok." sahut Wilo tersenyum.


"Oh, ya sudah kalo gitu. Jangan lupa bawa supir ya. Biar bisa bantu jaga kalian. Aku ke kantor dulu."


Saat Hans hendak keluar rumah. Melodi memanggilnya sambil lari kecil.


"Hans.. Tunggu. Ini jas kamu ketinggalan."


"Ah iya. Aku lupa, maaf ya sayang sudah merepotkanmu. Aku pergi dulu ya." Hans mencium kening Melo. Lalu Melo menyalami dan mencium tangan suaminya itu.


Itu sudah biasa mereka lakukan tiap Hans pergi dan pulang kerja.


Melihat kemesraan mereka, entah kenapa hati Wilo berdegup, seakan tak sanggup melihat semua itu.


Ia pun mengalihkan pandangannya ke sisi lain.


"Wil, ayo kita pergi." mama Hans menggandeng tangan Wilona dan membawanya keluar rumah.


"Mel, aku temani tante bentar ya." pamit Wilo pada Melodi.


"iya Wil, kalian hati-hati di jalan ya." timpal Melo tersenyum, namun hatinya sakit.


_


Setibanya di rumah sakit, mama Hans pura-pura memeriksakan keadaan dan ingatan Wilo. Padahal ia memeriksakan rahim Wilo untuk mengetahui bahwa ia bisa hamil atau tidak.


Namun ia merasa lega, saat dokter memberikan surat hasil tes yang menyatakan bahwa rahim Wilo baik-baik saja dan bisa hamil.


Ia pun tersenyum lebar. Niat untuk menikahkan Hans dan Wilo pun makin membara di benakknya, tanpa memikirkan perasaan menantunya.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG


__ADS_2