Dua Pilihan

Dua Pilihan
Kejahatan Sila


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Melodi pulang dari rumah sakit. Ia bersikeras untuk tetap mempertahankan janinnya apapun resiko yang harus ia hadapi.


Hans pun memanggil kemari dokter Meri yang sempat merawat Wilona dulu, untuk menjaga dan memantau kesehatan Melodi.


Dibawah sinar matahari pagi. Melo duduk di kursi taman kecil di halaman belakang rumahnya.


Ia bicara sendiri dengan kandungannya, sesekali ia mengelus perutnya.


"Apapun yang terjadi padaku, aku akan tetap mempertahankan kamu nak, jangan takut. kita punya Allah yang selalu menjaga kita. papa kamu juga tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu dengan mamamu ini. Kita harus yakin, kita kuat!!"


Melo tersenyum sendiri merunduk bicara pada janinnya.


Sedangkan Hans berdiri di belakangnya tanpa ia ketahui.


*Bagaimana aku tega jika harus menghilangkan bayi kita. sedangkan dia begitu semangat. lindungilah istri dan calon anakku ya Allah. semoga mereka semua selamat.*


Hans menghela nafas, membuang semua prasangka buruk. ia juga harus yakin dan semangat seperti istrinya.


Ia pun menghampiri Melodi dan duduk di sebelahnya.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. jaga dirimu baik-baik. jangan lupa minum obat.


Oh iya, jaga juga calon anak kita. papa berangkat kerja dulu ya sayang"


Hans mencium perut Melodi, kemudian mencium keningnya sebelum ia berangkat ke kantor.


_


Di dalam ruangannya, Hans selalu memikirkan kesehatan Melodi. karna ia tau bahwa Melodi bukanlah orang yang memiliki fisik yang kuat.


Wilo masuk ke ruangannya sembari mengantarkan beberapa dokumen.


"Selamat pagi bos, ini beberapa dokumen laporan keuangan kita bulan ini. sepertinya keuangan kita mulai naik lagi." jelas Wilo


"Ehh iya Wil. letakkan saja di sana. nanti ku baca." jawabnya singkat.


"Oh iya, gimana kondisi Melo? sudah baikan?"


"Dia sudah mendingan, tapi aku yang cemas. Wil, gimana menurutmu dengan keputusan Melodi itu?" tanya Hans.


"Jika aku ada di posisi Melodi, aku pun mengambil jalan yang sama dengannya Hans.


Karna keinginan dan tujuan wanita menikah itu ingin mempunyai keturuanan. itu juga yang di pikirkan Melodi." jelas Wilo memberikan pendapatnya.


"Gitu ya. aku akan dukung apapun keputusannya, asalkan dia bahagia."


sementara itu, dari luar ruangan, Sila sudah mendengar percakapan mereka. saat itu ia hendak masuk, tapi karna ada Wilo, ia pun menundanya.


*Saat ini Melodi sudah hamil. dan Wilo sudah tunangan. itu artinya Wilo gak akan lagi merebut Hans dari Melodi. tapi kesempatanku untuk mendapatkan Hans sangat kecil, karna istrinya sekarang sedang mengandung. aku harus lakuin sesuatu. aku gak akan biarkan kalian bahagia sebelum Hans jadi milikku.*


Sila menggepalkan tangan, tak terima melihat Hans dan Wilona bahagia.


terhadap Wilo, ia begitu iri karna Wilo di kelilingi orang-orang yang baik.


Saat Wilo keluar dari ruangan Hans. Sila sengaja menabrak bahu Wilo dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


Wilo menarik tangan Sila, karna ia tak terima.


"Kamu sengaja nabrak aku? mau cari masalah?!" ketus Wilo.


"Lepasin gak tangaku! gak ada gunanya aku cari masalah denganmu!" tegas Sila.


"Lain kali, kalo gak gak suka sama orang, jangan terlalu kelihatan. Kau pikir aku gak berani denganmu?! jangan samakan aku dengan Wilona yang dulu.!!"


Wilo menatap mata Sila dengan tajam. ia nampak begitu tegas.


Wilo pun menghempaskan tangan Sila kemudian berlalu meninggalkannya.


"Sialan!! awas kau Wil!! aku gak akan biarkan hidupmu bahagia.!!" gumam Sila sambil menggertakan gigi.


Saat dalam ruangan Hans. Sila tidak mendapati Hans di meja kerjanya. saat itu Hans dengan berada dalam toilet.


"Bos, kamu dimana? aku perlu tanda tangan sekarang." ujar Sila sembari duduk di depan meja kerja Hans.


"Tunggu saja di sana. aku lagi di toilet." sahut Hans.


"Hm.. oke Bos.


ehh, apa ini?" Sila melihat kertas yang tergeletak di atas meja. ia pun membukanya.


Sila kaget setelah membacanya.


"Hah? jadi Melodi punya penyakit jantung?.


hmm.. makin mudah untuk membuatnya tersingkir dari dunia ini." Sila menyeringai jahat.


Saat keluar dari ruangan Hans. Sila menyempatkan diri menghampiri Wilona.


"Ehh! aku mau tanya. waktu itu Vino menyusul kalian di paris. kalian pasti bertemu dengannya kan? lalu di mana dia sekarang? kenapa gak ada kabar sama sekali hah? apa kalian sudah membunuhnya?!" ujar Sila sembari mengkerutkan alisnya.


"Jaga ucapanmu!. kau pikir kami pembunuh? yang ada, dia hampir membunuhku!


dia gak ada kabarpun aku gak peduli. ngapain kamu repot-repot nanya kabar dia ke aku. kurang kerjaan." timpal Wilo cuek.


"Hm.. jika suatu saat dia kembali. maka kau gak bisa tenang lagi Wil, hehe." Sila terkekeh.


"Bodo amat! kuharap sih dia gak akan pernah kembali lagi. walaupun dia kembali, semoga saja dia bukan lagi orang yang jahat sepertimu!. pergi sana! aku masih banyak kerjaan!"


"Awas saja kau.!" Sila terpaksa meninggalkan tempat itu.


~


Karna kurangnya dukungan, Sila pun harus memikirkan rencana kejahatannya sendirian. dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


Cinta yang tidak mendasar itu lah yang sudah membutakan mata dan hatinya. kejahatan demi kejahatan pun tega ia lakukan demi mencapai tujuannya.


Sedangkan Melodi dan Wilona bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.


Melodi sendiri mendapat kebahagiaan tiada tara, setelah ia hamil, ia jarang sekali beraktifitas. penyakitnya juga jarang terasa karna rutin minum obat herbal yang tidak mengganggu janinnya.


Satu bulan kemudian..

__ADS_1


"Sayang, hari ini waktunya kamu cek kandungan kan? semoga kamu dan anak kita baik-baik saja ya." Hans memeluknya dari belakang sembari mengelus perut Melo.


"Iya, aku di temani mama. Hans, calon anak kita sudah berusia dua bulan, semoga saja kami bisa bertahan sampai dia lahir. aku merasa sehat kok." ujarnya tersenyum manis.


"Aku selalu berdoa untuk kesehatan kalian sayang. jangan telat minum obat ya.


Aku mesti ngantor nih, udah siang. dah sayang." Hans mengecup kening Melo dengan lembut.


Hari itu, Hans mengadakan meeting di luar kantor, ia mengajak Wilona dan Sila selaku asisten dan sekretarisnya.


Meeting itu cukup lama, karna banyak juga klient dan kolega dari berbagai perusahaan.


Hans mengatur pertemuan itu di Hotel berbintang, ia sengaja menyewa ruang meeting yang luas dan berkelas dengan fasilitas yang mewah untuk memanjakan partner perusahaannya.


Meeting itu usai hingga malam hari.


setelah meeting, Hans mengajak Wilo dan Sila makan malam, karna ia tau mereka juga lelah.


"Wil, kamu pulang sama Evan?" tanya Hans.


"Iya, dia udah di jalan kok, bentar lagi sampe." jawab Wilo sembari menghabiskan makanannya.


"Em.. Bos, aku nebeng ya. Soalnya tadi kan gak bawa mobil." ujar Sila menyeringai.


"Owh. baiklah." jawab Hans singkat.


Setelah Evan tiba, mereka berbincang sejenak. kemudian mereka berpamitan untuk pulang lebih dulu. karna Evan hendak mengajak Wilo jalan ke Mall.


Hanya tinggal mereka berdua, Sila sengaja memperlambat makannya supaya bisa lebih lama bersama Hans.


"Bos, maaf ya aku makannya lama. soalnya aku gak bisa makan cepat, perutku langsung mules." tutur Sila berpura-pura.


"Ku tunggu 15 menit lagi, aku juga gak bisa lama-lama." timpal Hans cuek sambil membuka laptopnya.


*Hm.. pas banget dia buka laptop.* batin Sila.


Mereka duduk berhadapan, namun gerak gerik Sila tak terlihat akibat tertutup laptop Hans.


Sila mengambil sesuatu dari dalam tasnya, ia mengeluarkan botol kecil sebesar jempol tangan yang berisi seperti air biasa.


Pluk....


Sila sengaja menjatuhkan dokumen di dekat Hans.


"Ehh, maaf Bos. tadi aku mau merapikannya, tapi malah jatuh." ujar Sila berakting.


"Biar aku yang ambil, kau lanjutkan saja makanmu. jangan terlalu lama." ujar Hans sembari memunguti dokumen yang berserakan di dekat kakinya.


Begitu lengah. Sila langsung menumpahkan isi air dalam botol itu ke dalam gelas jus milik Hans. dengan cepat ia mengaduknya supaya merata.


Sila tersenyum jahat. entah apa yang sudah ia campurkan ke dalam minuman Hans.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2