Dua Pilihan

Dua Pilihan
Dilema


__ADS_3

Satu minggu kemudian..


Hari bahagia tiba. Evan dan Wilo melangsungkan pertunangan mereka. walaupun baru beberapa bulan mereka pacaran, tapi mereka sudah yakin untuk saling terikat satu sama lain.


Di rumah Evan, suasana begitu ramai. tapi yang di undang hanya teman dekat, keluarga dan semua karyawan kantor saja.


Ketika Hans dan Melodi tiba di sana, mereka cukup ternganga dengan dekorasi di rumah itu. acara pertunangan itu bertemakan mawar putih bak dunia dongeng.


Tiba-tiba Hans tertunduk diam.


*Rumah ini pernah di tempati Wilo beberapa hari setelah ku usir dari rumahku. pasti dia sangat terpuruk dan ketakutan saat itu. maafkan aku Wil, tapi sekarang kebahagiaanmu sudah menunggu.*


"Hans, ada apa? ayo masuk." ujar Melodi.


"Iya sayang, ayo." Hans pun menggandeng tangan Melodi dan masuk bersamaan.


Banyak tamu-tamu terhormat dari kalangan perusahaan ternama. tak satu pun yang tidak mengenal Hans si raja bisnis.


Semua karyawan Hans juga turut di undang, tak terkecuali sahabat Wilona.


Silsila juga datang, namun ia sendirian saja.


"Andaikan Vino ada di sini. pasti aku sudah datang bersamanya. tapi dia kemana ya. kenapa gak ada kabar sama sekali setelah menyusul Evan dan Wilo ke paris dua bulan lalu. pasti dia sakit hati melihat Wilo sudah di tunang orang lain!"


Sila bergumam sendiri sembari mengambil minuman yang sudah di sediakan di atas meja.


Sementara itu, Shinta dan Mira tengah memperhatikan Sila


"Aku yakin, dia pasti tak terima melihat Wilo bahagia. lihat saja raut wajahnya itu" bisik Shinta.


"Benar. kita harus waspada." timpal Mira.


~


Acara itu berlangsung dengan lancar dan penuh canda tawa.


Degg...


Jantung Melodi kembali berdetak tak biasa. dadanya pun mulai terasa sesak.


*Ada apa lagi ini ya allah. kenapa dadaku sakit sekali.* Melo memejamkan mata, namun ia tetap menahan rasa sakit itu.


"Sayang, kamu kenapa? wajahmu terlihat pucat." Hans merangkul Melo dengan cemas.


"Aku gak apa-apa, mungkin karna di sini terlalu ramai, dadaku sedikit sesak."


"Ya sudah, kita keluar aja ya."


"Gak usah Hans, gak enak sama Wilo. aku sudah baikan kok." Melo tersenyum, mencoba menutupi rasa sakitnya.


Hingga pada penghujung acara. suasana rumah pun mulai sepi. yang tersisa hanya keluarga Wilo, Evan dan Hans.


Mereka berbincang sambil makan bersama.


"Tuan, bagaimana dengan tanggal pernikahan mereka?" ujar papa Evan ke pada orang tua Wilo.


"Maaf pa, tapi kita baru saja bertunangan. jangan bahas pernikahan dulu. kita jalani saja dulu ikatan ini." sahut Evan dengan cepat.


"Benar om. kita harus menata masa depan bersama. masih banyak keinginan yang belum kita capai. terutama aku. Aku ingin membenahi diri supaya lebih sukses, supaya layak bersanding di sisi Evan." jelas Wilo merunduk.


"Kalian kurang apa lagi? semua keinginan bisa di capai dengan uang bukan?" timpal Hans mencela.


"Hans, cara pikir wanita dan lelaki itu berbeda." sahut Melodi.

__ADS_1


"Sudah.. sudah. jangan pikirkan itu dulu. sekarang kita senang-senang dulu. Ayo kita makan bersama." pungkas mama Evan menghentikan percapakan mereka.


Melodi menatap Wilo. "Wil, selamat ya. ini adalah awal kebahagiaan di hidupmu. semoga kalian langgeng sampai nanti menikah." tutur Melodi tersenyum sambil menepuk pundak Wilo.


"Amiin.. Makasih banyak Mel. kamu juga semoga selalu bahagia ya, dan sehat selalu." balas Wilo dengan senyuman.


Degggg...


Dada Melo kembali sesak. wajahnya pucat seketika.


*Akkh.. aku gak sanggup lagi.* Melodi terus menahan dadanya, dan akhirnya ia terjatuh dari kursi.


Semua orang kaget dan panik, karna ia tiba-tiba pingsan.


"Melo!!" Hans langsung menghampirinya dan mengangkat kepalanya.


"Astaga. ada apa dengan Melodi." ujar mama Hans panik.


"Hans, ayo kita bawa ke rumah sakit. cepat angkat Melodi." pungkas Evan.


*Ada apa denganmu Mel? kenapa sepertinya kau punya penyakit yang parah.* batin Wilo sambil mengiringi mereka menuju mobil.


Dengan kecepatan tinggi, Hans melajukan mobilnya menuju rumah sakit. di iringi oleh keluarganya dan juga keluarga Evan dan Wilo.


Tik....


tik...


Suara infus yang jatuh tetes demi tetes masuk dan mengalir ke tubuh Melodi.


Hans menatapinya dari luar ruangan, ia nampak begitu sedih sekaligus cemas. ia sangat penasaran apa yang sudah terjadi pada istrinya itu.


Ruang tunggu rumah sakit nampak penuh karna terlalu banyak keluarga yang menunggu. itu bisa mengganggu ketenangan pasien lain.


"Tuan, nyonya. baiknya kami pulang dulu. gak enak terlalu ramai di sini. Melodi juga butuh ketenangan. nanti kami akan membesuknya di rumah saja jika dia sudah pulang." tutur papa Evan.


Mereka semua pun pergi kecuali Evan dan Wilo dan juga orang tua Hans.


"Wil, kamu teman dektanya Melodi. apakah kamu tau apa yang sudah terjadi padanya. akhir-akhir ini Melo sering terlihat pucat." ujar mama Hans.


"Aku juga gak tau tante, karna kita sama-sama sibuk. Melo lebih sering bersama Hans jika di kantor."


"Astaga, ada apa dengan Melodi"


Semua orang nampak cemas melihat keadaan Melo dengan selang yang terpasang di hidung dan tangannya.


Beberapa jam kemudian. Melo mulai sadar, dokter pun langsung memeriksa keadaannya. Beberapa dokter juga sudah melakukan tes untuk mengetahui penyakit Melo.


Seorang suster keluar dari ruangan. "Keluarga nyonya Melo. silahkan masuk."


"Sus, apakah kami semua boleh masuk?" tanya Wilona.


"Silahkan, asalakan jangan berisik."


dengan langkah cepat, mereka semua masuk ke kamar pasien.


Hans langsung mencium kening Melo yang baru sadar itu. "Sayang, kamu kenapa? apa yang sudah terjadi denganmu?" ujar Hans cemas.


"Tuan, nyonya. ada yang perlu saya sampaikan. mohon di simak." ujar dokter wanita itu.


"Silahkan dok."


"Kami sudah melakukan beberapa tes. ada dua hal yang ingin saya sampaikan. ada kabar baik dan juga buruk."

__ADS_1


"Dok, silahkan sampaikan kabar baik terlebih dahulu." ucap Hans.


"Kabar baiknya adalah...


Nyonya Melodi sedang hamil. usia kandungannya sudah memasuki minggu ke empat."


Melo dan semua orang kaget. "Benarkah?? bukankah saya mandul dok? bagaimana bisa saya hamil?" ujar Melo menangis haru seakan tak percaya.


"Percayalah, jika allah sudah berkehendak. maka apapun bisa terjadi, bahkan hal yang kita anggap tidak mungkin. bersyukurlah nyonya. ini mukjizat." jelas sang dokter.


Saking bahagianya, merekapun memeluk Melodi bersamaan. bahkan Hans menangis haru sambil menggenggam tangan Melodi.


"Sayang, jaga janin kamu baik-baik ya. mulai sekarang kamu tidak perlu kemana-mana lagi. kau cukup di rumah saja. biar mama yang menemanimu" ujar Hans tersenyum dengan air mata.


"Ya allah. aku bersyukur sekali. aku masih gak percaya ini. terimakasih banyak ya allah. aku akan menjaga amanah ini dengan baik." Melodi terisak tangis.


"Mel, mama akan menjagamu sampai hari lahirnya tiba." ujar mama Hans.


Wilona juga turut menangis menyaksikan kebahagiaan mereka. Hal yang selama ini mereka nantikan dan mereka impikan akhirnya terwujud.


Evan merangkul bahu Wilo dan mengusap air matanya. "Kau bahagia? aku juga bahagia melihat mereka. mungkin ini jawaban dari doa yang mereka panjatkan sewaktu di tanah suci mekah."


"Iya, aku baru ingat. inilah kebesaran Allah. aku terharu melihat Melodi dan Hans sebahagia ini." Wilo tak kuasa menahan air matanya.


Dokter pun kembali mendekat. "Maaf semuanya, masih ada kabar buruk yang belum saya sampaikan."


Mereka pun mulai menyimak, dan mempersiapkan diri untuk menerima kabar buruk tersebut.


"Silahkan katakan saja dok." ujar papa Hans.


"karna nyonya Melodi sedang hamil, ada kemungkinan kalau dia akan sakit dan sulit mengendalikan diri.


Pasalnya.... (dokter itu merunduk)


Nyonya Melo memiliki gejala penyakit jantung. serangan jantung bisa saja terjadi kapanpun, terlebih jika dia kaget atau terlalu lelah."


Semua orang terbelalak kaget.


"Jantung?? Ya Allah... baru saja aku merasa sangat bahagia. hikss.." Melo kembali menangis.


dengan cepat Hans menggenggam tangan Melo untuk menguatkannya. "Sayang, ini baru gejala, tidak perlu cemas. kita bisa melakukan pengobatan, berapapun biayanya, insya allah kita sanggup."


"Maaf dok. apakah jantung menantu saya bisa di sembuhkan?" tanya mama Hans.


"Bisa saja sembuh jika rutin melakukan terapi dan pengobatan. namun efek obat akan beresiko pada janin yang ia kandung. kemungkinan janin itu tidak terbentuk sempurna, atau bisa saja keguguran akibat dorongan obat-obatan yang berdosis tinggi."


"Masha Allah... apa yang harus kami lakukan dok." ujar papa Hans.


"Kalian harus menyelamatkan jantung nyonya Melo, yaitu dengan cara menggugurkan kandungannya. dengan begitu, kita bisa fokus pada menyembuhan jantungnya. jika tidak, maka nyonya Melo beserta janinnya kemungkinan tidak selamat jika penyakit ini di biarkan."


Dengan cepat Melo mengambil keputusan. "Gak! aku gak akan menghilangkan bayiku yang selama ini sudah aku tunggu. aku akan bertahan dengan obat-obatan sampai aku melahirkan. setelah itu terserah kalian mau apakan aku." tegas Melodi.


Hans juga bingung, masalah itu cukup rumit. ia tidak tau keputusan apa yang harus ia ambil.


"Dok, begini saja. Tolong biarkan janin itu, semoga dia tidak apa-apa. Aku akan membawa Melo untuk terus melakukan cek up, supaya jantungnya terpantau. siapa tau jantungnya bisa di sembuhkan melalui obat-obatan dengan dosis yang rendah."


Hans mengutarakn pendapatnya.


"Kami akan berusaha yang terbaik tuan. selebihnya kita serahkan pada yang kuasa. dan jangan lupa berdoa. semoga kami bisa menyembuhkan jantung nyonya Melo tanpa menyakiti janinnya." timpal Dokter.


Saat dokter keluar, suasana ruangan itu seketika hening. Pikiran mereka kacau balau. entah harus bagaimana, dan mendahulukan yang mana.


tapi semoga saja dua-duanya bisa di selamatkan dengan baik.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG


__ADS_2