
Setibanya di kantor Evan, mereka menunggu di lobi selagi staff menghubungi Evan.
Sedangkan Evan tengah memimpin rapat di ruang meeting.
Riingg.....
Telpon di mejanya berbunyi. ia pun langsung menjawabnya.
"Tuan presdir, di lobi ada nona Wilona dan tuan Hans mau menemuimu."
"Baiklah, aku segera ke bawah."
"Pak direktur, tolong lanjutkan rapatnya sampai selesai. Aku keluar dulu." Evan langsung meninggalkan ruangan meeting menuju lobi di lantai dasar kantor.
Ia tersenyum saat melihat orang yang ia cintai ingin menemuinya.
"Hans, Wilo? ada perlu apa kemari? ayo keruanganku."
"Van, aku hanya mengantar Wilo, dan memastikannya sudah bertemu denganmu. Aku mau ke kantor, nanti tolong antar Wilo pulang ya." sahut Hans.
"Oh gitu, baiklah. Makasih banyak Hans, hati-hati di jalan."
"Oke. jaga Wilo ya, dia baru saja pulih.
Wil, aku pergi dulu."
"Htai-hati Hans." Wilo melambaikan tangannya.
Setelah Hans pergi. Evan mengajak Wilo ke ruang kerjanya.
"Wil ada apa kemari? tumben sekali. Maaf ya pagi ini aku gak sempat jenguk kamu, karna ada meeting mendadak." ujarnya sambil menutup pintu.
"Van, tujuanku kesini, aku mau kasih tau kamu kalo ingatanku sudah pulih total." ujar Wilo dengan riang.
"Hah? serius?? Astaga, makasih ya allah." saking senangnya, Evan menggendong Wilo dengan semangat dan tawa riang.
"Evan, kepalaku pusing. turunkan aku." tegas Wilo sambil memegang kepalanya.
"Eh iya. maaf.. maaf. hehe.
Btw, kapan ingatanmu kembali? apakah mereka semua tau?" ujar Evan sambil menggenggam tangan Wilo.
"Gak, hanya kau dan dokter Meri yang tau.
Van, aku minta padamu, tolong rahasiakan ini. Karna ada yang harus aku kerjakan sebelum aku keluar dari rumah itu."
"Wil, aku selalu mendukung apapun itu keputusanmu dan apapun yang ingin kau lakukan. karna aku tau, itu pasti hal yang baik. Aku percaya padamu." Evan kembali mendekap Wilo.
"Van, makasih banyak. Aku beruntung sekali punya seorang sahabat sepertimu." Wilo menatap Evan dengan mata berbinar sendu.
"Aku yang beruntung, bukan kamu.
Aku akan terus berada di belakangmu untuk mendukungmu. Jangan takut melangkah." tutur lembut Evan sembari mengusap rambut Wilona.
*Dia gak kalah lembut dari Hans, tapi entah kenapa hatiku gak bisa menerima cinta Evan. padahal aku sudah berusaha membuka hati untuknya. dia sangat baik padaku. tapi aku gak bisa mencintainya walaupun sudah kucoba.* batin Wilo saat dalam dekapan Evan.
*Wil, aku tau kamu gak bisa mencintaiku. aku yakin sudah ada pria lain yang ada di hatimu. tapi gak apa-apa, dengan hubungan persahabatan seperti ini saja sudah membuatku bahagia. aku akan selalu ada di sisimu, karna aku sudah berjanji akan menjagamu.*
Tok... tok...
Ketukan pintu itu menyadarkan keheningan mereka berdua. Mereka pun langsung memisahkan diri.
"Bos, bolehkah saya masuk?" ujar sekretaris Evan
"Masuk saja." sahutnya dari dalam.
Sekretaris itu masuk membawa sebuah dokumen.
__ADS_1
"Bos, ini dokumen hasil rapat tadi. tolong tanda tangani."
Evan langsung menanda tangani berkas tersebut.
"Bos, siapa gadis itu?" bisik sekretaris.
"Dia orang terdekatku." jawab Evan singkat.
"Aku sudah menanda tanganinya. Kau boleh keluar sekarang."
"Baiklah, makasih banyak bos."
_
Di sisi lain.
Sila dan Vino sedang mengadakan pertemuan di sebuah kafe.
"Gimana persiapan kamu sil?" ujar Vino
"Aku sih siap-siap aja, tergantung di kamu nya."
"Aku menunggu bocoran dari kamu, sekarang juga bisa kita lakukan.!" tegas Vino yang sudah tersurut amarah
"Baiklah, aku akan mengirim semua data kantor, tapi aku harus tau alamat e-mail kamu beserta paswordnya. Supaya aku percaya." sahut Sila.
"Tenang saja, nanti kau kirim melalui chat. sekarang ayo kita pergi, jangan terlalu lama, nanti ada yang melihat."
"Baiklah. makasih waktunya." timpal Sila tersenyum sinis.
_
Di ruangannya, Sila langsung membuka komputer untuk mengambil data penting.
Namun ia tak bisa lagi membuka pasword data-data tersebut.
"Permisi bos, aku boleh masuk?"
"Silahkan." sahut Hans dari dalam.
"Maaf bos, saya mau tanya, kok pasword data kantor gak bisa di buka ya.? apa sudah di ganti?"
"Benarkah? aku tidak menggantinya. coba kau tanyakan pada direktur, aku lagi sibuk." jawab Hans cuek.
"Astaga, baiklah bos. makasih. Aku permisi."
Sila juga pergi ke ruangan direktur, namun sang direktur juga tidak mengetahui hal tersebut.
Sila kembali lagi ke meje kerjanya dengan kesal.
"Sialan! kok pada gak ada yang tau sih? masa iya ganti sendiri." Sila bergumam sendiri tiada henti.
Wilo dan Evan pun muncul. Sila langsung menghadangnya.
"Wil.. tunggu bentar." ketus Sila
"Maaf, saya harus mengantar Wilo ke ruangan Hans, jika ada keperluan dengannya, silahkan bicarakan di sana." timpal Evan dengan wajah datar.
"Kurang ajar!" gerutu Sila sambil menggepalkan tangannya.
Evan dan Wilo pun masuk keruangan Hans, membuatnya kaget.
"Loh, Wil? kok ke sini? kenapa gak langsung pulang ke rumah?" tanya Hans heran.
"Hans, kalian pergi dari rumah berdua, dan pulangnya juga harus berdua. Tadinya aku mau antar Wilo pulang, tapi aku gak mau mama kamu marah padaku." jelas Evan.
"Iya Hans, karna tante gak suka sama Evan." sambung Wilo.
__ADS_1
"Bener juga. ya udah gak apa-apa. Malasih ya Van sudah antar Wilo kesini."
"Gak masalah Hans, ya sudah aku pergi dulu.
Wil, jaga dirimu ya." Evan mengusap rambut Wilo, kemudian keluar dari kantor Hans.
Masuklah Silsila dengan wajah yang sok manis saat Evan menatapnya.
*Pergi sana, ini bukan tempatmu.* batin Sila
"Sil, ada apa lagi kau kemari?" tanya Hans.
"Ini bos, aku mau menanyakan pasword tadi pada Wilo."
"Pasword apa ya Sil?" tanya Wilo heran.
"Gini Wil, kamu mengganti pasword data kantor gak? soalnya semua data gak bisa di buka."
"Kayaknya iya deh. tapi aku lupa pasword barunya. hehe." sahut Wilo cengengesan.
"Astaga Wil.. gimana cara kita membuka data kalo paswordnya gak tau." Sila mulai kesal pada Wilo.
"Sil, nanti saja kita bahas, biarkan Wilo mengingatnya dulu. sekarang kamu pergilah." tegas Hans.
"Baik bos." Sila pergi dengan emosi meluap.
"Wil, apa benar kau mengganti pasword itu?." tanya Hans menatap Wilo.
"Benar, tapi aku ingat kok paswordnya. Aku sengaja berbohong padanya. hehe maaf ya bos." dengan santainya Wilo menjawab.
"Astaga, tujuan kamu apa Wil mengganti pasword itu. kamu tau kan itu tugas penting untuk Sila."
"Maaf sebelumnya Bos, bukannya aku mau su'uzon terhadap Sila. tapi aku pernah melihat dia menemui orang yang menculikku dulu. aku takut mereka kerja sama." jelas Wilo
"Bentar, orang yang menculikmu siapa?"
"Aku sendiri lupa dia siapa. tapi aku kenal dengan wajahnya."
"Hmm.. apakah dia..Vino? mantan pacar kamu itu kan?" ujar Hans.
"Ya mungkin saja. tapi aku curiga pada mereka berdua, makanya aku ganti semua pasword data. Bos biarkan aku yg ambil alih data kantor."
"Kau yakin? baiklah, kuserahkan padamu."
"Makasih bos.
Em.. sebelum aku aktif kerja, hari ini aku mau santai dulu ya. Aku capek."
"Kau istirahat saja di sofa. kau juga baru pulih." Hans melanjutkan kerjanya kembali.
Saat Hans tengah sibuk. Wilo menulis kembali diary yang sempat tertunda karna ia hilang ingatan. Buku itu berisikan semua hal tentang Hans.
Hari itu mereka sangat sibuk, begitu juga dengan Melodi, ia hampir tak memegang ponsel seharian. Ia juga tak sempat memberi kabar pada Hans.
"Fiuhh.. udah sore aja. Aku baru sempat megang Hp. gimana kabar Wilo ya, apa dia sudah sadar. Aku telpon ke rumah aja deh."
Ketika Melo menghubungi telpon rumah, yang menjawab telpon adalah mertuanya.
Melo menanyakan kabar Wilona, namun dengan ketus mertuanya itu menjawab, mengatakan bahwa Wilo dan Hans sedang jalan bersama. dan telpon itu pun langsung ia tutup.
"Astaghfirullah. capek-capek gini dapat ucapan kayak gitu. Tabahkanlah aku ya allah, sebenarnya aku sudah gak sanggup dengan mertuaku. Tapi aku harus berbakti demi suami. dan aku percaya pada suamiku."
Melo mengusap dada, menahan emosi. dan menguatkan kesabaran. karna ia percaya, di balik hujan panas akan muncul pelangi.
Mungkin ini ujian cintanya dan Hans, tapi dia tetap tabah, di balik ujian pasti ada hikmah.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG