
Sore Hari.
Hans pulang kerja di sambut oleh istrinya. Namun Melo tak menampakkan yang ia rasakan.
"Hans, Wilo kok belum pulang ya?" tanya Melo sambil membawakan tas kerja Hans.
"Hah? Kemana mereka? Tapi dia bersama Evan, harusnya kita gak boleh cemas, mungkin bentar lagi pulang."
Mama Hans pun datang menyambangi.
"Loh, Hans? Wilo gak pulang bareng kamu? Terus dia sama siapa?"
"Dia sama Evan ma, gak usah cemas. Karna Evan itu menyukai Wilo, dia pasti menjaganya kok." jawab Hans dengan santai.
Tidak lama kemudian, suara Wilo pun terdengar dari luar.
"Asallamu'alaikum.." ujarnya sambil melangkah masuk bersama Evan.
"Nah, itu Wilo. Kalian kemana aja? Kok pulangnya telat." ujar mama Hans cemas.
"Maaf tante, tadi aku yang ngajakin Wilo jalan-jalan.
Aku pulang dulu ya. Wil, istirahat dengan baik ya." Evan tersenyum penuh cinta pada Wilona.
"Van, makasih banyak untuk hari ini. Karna demi aku, kau harus meninggalkan pekerjaanmu." ucap Wilo tertunduk.
"Heii, aku rela melakukan apapun asalkan kau bahagia, jangan merasa gak enak hati. Aku akan terus melakukan yang kau inginkan." Evan mengusap lembut kepala Wilo.
"Sekali lagi makasih Van."
"Ya sudah, aku pulang ya. Sampai jumpa besok." perlahan Evan melangkahkan kaki keluar, di iringi oleh pandangan Wilo yang membuatnya kagum dengan cara Evan memperlakukannya.
Setelah melihat kedekatan Evan dan Wilo, mama Hans mendadak tidak menyukai Evan.
*Ini gak bisa di biarkan, bahaya kalo ntar Wilo jatuh cinta pada Evan, bukan pada Hans, aku harus membatasi pertemuan mereka.*
"Em... Wil, ayo tante antar ke kamar kamu." mama Hans langsung menggandeng tangan Wilo.
Sementara Hans dan Melodi heran dengan tingkah mama mereka itu. "Ada apa sih dengan mama. Kok kayaknya suka banget sama Wilo." ujar Hans.
"Hans,, ayo ke kamar, lebih baik kamu mandi dulu." ujar Melo sambil menarik tangan suaminya itu.
Saat dalam kamar, Hans mengunci pintu dan langsung memeluk Melo.
"Sayang, aku kangen sama kamu." ujarnya berbisik.
"Hans, kamu kok aneh sih? Ada apa?" tanya Melo bingung.
"Oh iya, tadi di kantor Wilo kerja gak? Dia kan masih sakit." tambah Melo.
"Gak kok. Aku aja heran kenapa tiba-tiba Wilo dan mama ke kantor. Terus kepala Wilo jadi sakit dan pingsan, tapi malah mama ninggalin dia. Jadinya aku yg jagain dia.
Tadi Wilo ngigo, mungkin dia mengingat sesuatu."
*Syukurlah, ternyata aku hanya salah faham.* batin Melo lega.
_
Malam harinya, Wilo sengaja mendatangi Melo saat Hans sedang bekerja di ruang kerja nya.
"Wil, ada apa? Ayo kita ngobrol di depan." ujar Melo dengan senyuman.
"Mel, gak ada Hans kan? Aku hanya ingin ngobrol sedikit saja." Wilo duduk di samping Melo.
"Ada apa Wil? Kok kamu keliatan murung."
Wilo menggenggam tangan Melo dengan wajah tertunduk.
"Mel, aku minta maaf. Benar-benar minta maaf.
Hari ini aku sudah melakukan kesalahan, kamu pasti membenciku." ujar Wilo dengan perasaan gusar.
"Ada apa Wil? Ayo katakan saja, insha allah aku akan menerima apapun itu." sahut Melo sambil menepuk pundak Wilo.
__ADS_1
"Mel, aku tau kamu baik, sabar, tapi semua itu ada batas nya kan?. Hari ini... Tadi pagi aku pingsan saat di kantor Hans, tapi aku mengigo, saat aku bangun, aku langsung memeluk Hans. Itu bukan ku sengaja Mel, tolong percaya padaku." Wilo terisak tangis menyesali yang ia perbuat.
Melo sedikit kebingungan, namun ia juga sedih saat mengingat kembali foto itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu saja.
"Wil, aku aja gak tau dengan yang sudah terjadi antara kau dan Hans. Tapi makasih banyak kau sudah memberitahuku. Aku tau kau bukan sengaja, aku ngerti kok. Jangan salahkan dirimu." Melo tersenyum menatap wajah Wilona.
"Gak, aku yang salah. Mel besok aku akan kembali ke rumahku saja. Aku sudah hampir seminggu di sini, tapi ingatanku masih belum pulih juga. Aku ingin bersama keluargaku saja."
"Jangan Wil, kami sudah janji pada orang tuamu bahwa kami akan merawatmu hingga kau sembuh total. Tolong tetaplah di sini ya. Aku dan Hans gak akan terganggu sama sekali dengan kehadiranmu." Melo merangkul Wilo yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Mel, kau terlalu baik. Aku ngerasa gak pantas berteman denganmu. Aku gak mampu menyeimbangi sifatmu. Kau pantas bahagia Mel." Wilo melepaskan pelukannya, kemudian ia pergi keluar.
Sedangkan Melo hanya diam dan bingung dengan ucapan Wilona.
"Apa yang dia maksud ya?" gumam Melo dengan suara kecil.
Wilo melangkah pergi dengan air mata yang masih di ujung mata.
*Apa kau tau kenapa aku bilang kayak gitu? Karna mertua kamu mau menjodohkan aku dan suamimu. Memang dia gak bicara langsung padaku, tapi aku tau dengan gerak-geriknya. Aku sadar diri, aku gak sesempurna kamu Mel, dan aku gak pantas untuk Hans, kau dan dia terlalu kuat untuk di pisahkan, kuharap kalian terus seperti ini, bahagia selalu, dan selamanya.*
Tanpa mereka sadari, bahwa Hans sedari tadi mendengar percakapan mereka dari luar pintu kamar.
Hans tersenyum bahagia dengan pengakuan Wilona pada Melodi.
*Dia benar-benar baik mau menjelaskan semua ini, aku tau dia gak akan merusak rumah tanggaku. Aku bangga padanya. Makasih Wil.*
Saat Wilo membuka pintu, ia tepat berhadapan dengan Hans. Wilo menatap sebentar mata Hans dengan matanya yang berbinar. Saling pandang pun terjadi.
"Hans.. Maafkan aku." ujarnya tegar.
Hans hanya membalasnya dengan senyuman. Dan menepuk lembut kepala Wilo.
Lalu Wilo pergi dari hadapannya.
Semalaman itu, Wilo sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Ia ingin sekali supaya ingatannya cepat pulih, supaya bisa cepat keluar dari rumah itu.
"Apa yang harus aku lakukan. Aku malu tinggal di sini terus. Aku ingin pulang.!!
_
Esok pagi.
Mereka sarapan bersama sebelum berangkat kerja.
"Wil, makan yang banyak ya." ujar mama Hans sambil mengambilkan sayur untuk Wilo.
"Makasih tante. Oh iya, apa kalian tau di mana ponselku?"
"Kayaknya masih dalam mobil deh Wil." timpal Hans.
"Benarkah? Ahh pasti batrenya sudah habis, nanti ku ambil.
Em.. Hans, mulai sekarang, aku ke kantor gak bareng kamu ya, aku naik taxi aja. Gak enak kalo tiap hari pergi bersama."
Mama Hans kaget dan gak bisa menerima itu. "Loh Wil? Jangan dong. Gak masalah kok kalo kamu pergi bersama Hans, Melo aja mengizinkan. Iya kan Mel?" mata mama Hans menatap Melo.
"Iya, gak masalah kok Wil, gak perlu gak enak hati. Biarkan saja orang mau bilang apa." sahut Melo dengan senyuman.
"Tolong jangan paksa aku. Aku gak mau ada tekanan atau keterpaksaan." tegas Wilo.
"Ya sudah, terserah kamu saja." timpal Hans tersenyum.
"Oh iya sayang, kapan kau akan melanjutkan mengisi butikmu?" tanya Hans pada Melo.
"Mungkin hari ini, aku mau cari karyawan dulu."
"Baguslah, semoga cepat selesai ya. Ntar aku suruh staf kantor yang membantu kamu. Aku pergi kerja dulu ya.
Saat Hans mengeluarkan mobilnya dari garasi, Wilo buru-buru mendekati untuk mencari tas nya.
"Heii mau ngapain? Jangan buru-buru, nanti kepalamu...."
Bruuukkkk.....!!
__ADS_1
Belum selesai Hans bicara, kepala Wilo pun kepentok pintu mobil. Hans hanya geleng kepala dan menepuk keningnya sendiri.
"Astaga gadis ini. Kenapa ceroboh sekali." gumam Hans sambil mendekati Wilo.
Sedikit benturan itu, membawa kembali sedikit ingatan Wilo tentang yang ia alami di ruko Melodi.
*Ruko itu? Apakah aku hilang ingatan karna tertimpa maneqin itu?* batin Wilo terdiam sesaat sambil mengelus kepalnya.
"Wil, keluarlah. Biar aku yang mencarikan tas kamu." ujar Hans, namun Wilo tetap dalam lamunannya.
"Kenapa lagi dengan gadis ini? Tiba-tiba berubah jadi patung.
Heii Wilona. Ada apa denganmu?" Hans meninggikan nada bicaranya, supaya Wilo mendengarnya.
"Eh,, ohh.. Itu... Baiklah. Aku hanya mencari tasku, sepertinya kau menyimpannya di bawah jok." perlahan Wilo mengeluarkan kepalanya dari mobil.
"Ada-ada saja, ngapain aku menyimpannya di sana. Biar ku cari."
Beberapa menit kemudian, akhirnya Hans menemukan tas Wilo yang sudah berada di bawah kursi.
"Nih tas kamu. Ayo kita berangkat."
"Hans, maaf. Aku gak bisa pergi bersamamu lagi. Aku pergi dulu ya. Aku naik taxi saja." Wilo bergegas pergi meninggalkan Hans.
"Tapi Wil.. Kau belum sehat... Ahh.. Ya sudahlah, terserah dia saja."
Tin... Tin...!!
"Selamat pagi tuan putri." mobil Evan berhenti tepat di depan Wilo yang berdiri di pinggir jalan.
"Hai Van, selamat pagi juga." sahut Wilo tersenyum.
"Ayo naik, biar ku antar." sambung Evan dengan senyuman, sambil membukakan pintu untuk Wilo.
"Dengan senang hati, terima kasih banyak."
Melihat Wilo pergi bersama Evan, perasaan cemas Hans jadi sedikit lega karna ada yang menjaganya.
_
Setibanya di kantor, Vino datang kembali menghampiri Evan dan Wilo yang sedang berbincang di depan mobil.
Vino langsung meraih tangan wilo. "Wil, aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Aku gak maksud untuk membohongimu." ujar Vino menyesal.
"Maaf? Apa kau sadar dengan yang kau lakukan? Kau sudah mengambil kesempatan saat aku sedang tidak ingat apapun." Wilo menepis tangan Vino.
"Wil, aku melakukan itu, karna aku hanya ingin menghiburmu, aku mau ingatanmu kembali lagi." tambah Vino.
"Gak.. Itu bukan tujuanmu. Jika kau berniat baik, maka kau gak akan menculikku. Pergilah, dan jangan pernah temui aku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. jadi, anggap saja kau juga tak kenal padaku.
Wilo hendak pergi menuju dalam kantor, namun Vino masih meraih tangannya.
Tak tinggal diam, Evan langsung menepis tangan Vino.
"Kamu gak dengar? Atau gak punya telinga? Dia bilang menjauhlah darinya. Ngerti.!!" tegas Evan dengan tatapan tajam.
Hans tiba-tiba muncul, saat baru sampai di kantor. "Evan benar, menjauhlah dari Wilo. Karna Evan adalah pacar barunya, dan dia gak akan tinggal diam."
"Apa?? Kau pacarnya Wilo.?? Gak aku gak akan terima.!!" timpal Vino menolak kenyataan dan langsung pergi.
"Hm.. Kenapa kau berbohong?" ujar Evan heran.
"Supaya dia sadar, kalo Wilona sudah ada yang punya.
Van, aku tau kau menyukainya. Kuharap cintamu terbalaskan. Tetap kejar dan dapatkan hati Wilo ya." Hans menepuk pundak Evan, lalu pergi.
*Makasih Hans* batin nya tersenyum dan makin semangat.
•••
BERSAMBUNG
Like
__ADS_1