Dua Pilihan

Dua Pilihan
Suasana Pagi


__ADS_3

Dengan langkah cepat. Hans berlari menghampiri Wilo.


Wilo yang saat itu terjatuh di dekat lemari pakaiannya. karna hendak mengambil obat saat penyakitnya menyerang.


Hans langsung menggendongnya dan meletakkannya di kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Wil, bangun Wil, kamu kenapa? jangan membuatku cemas." Hans menepuk pipi Wilo.


"Astaga, gimana ini? aku harus apa?" Hans bingung. ia pun mengambil air hangat lalu mengusapkannya ke wajah Wilo


"Emm.. Mama, papa, Evan....." ucap Wilo dalam bawah sadarnya.


"Wil, ayo bangun. kamu kenapa?" Hans masih terus membuatnya sadar.


Wilo perlahan membuka matanta. "Tolong carikan obatku di dalam lemari." ujarnya terbata-bata.


Hans kalang kabut mencariakannya obat. namun tak kunjung jumpa.


"Gak ada Wil, dalam kotak ini pun gak ada, apa sudah habis?. biar kucari di tas kamu ya."


Saat membuka tas Wilo, ia menemukan sedikit obat. "Nah, mungkin ini!"


Hans kembali menuju Wilo dengan membawa segelas air hangat. "Ayo duduk dulu, minum obatnya."


Wilo bernafas lega setelah minum obat itu, namun tubuhnya tetap lemah, ia selalu merasa kedinginan. badannya menggigil sampai bergetar.


"Astaga, dia demam kah? Wil, maafkan aku ya. biar aku membantumu."


Hans turut duduk di dekat Wilona, ia merangkul Wilo supaya tetap hangat.


"Tidurlah. aku akan menjagamu." Hans meletakkan kepala Wilo di dadanya sambil mendekapnya di bawah selimut tebal.


Hans berusaha menahan kantukya supaya tidak tertidur. karna Wilo masih dalam keadaan mengigil.


"Aku harus gimana nih. biasanya kalo Melo demam kayak gini, aku selalu memeluknya.


mudah-mudahan Wilo cepat sembuh." gumam Hans sambil menepuk-nepuk kepala Wilo.


Hans menghubungi Evan untuk memberitahunya.


~


Drttt... getaran ponsel Evan, ia tengah tertidur pulas di waktu yang sedikit berbeda.


"Siapa sih nelpon tengah malam kayak gini" gumamnya sambil meraih ponselnya.


"Halo, siapa ini?" ujar Evan tanpa melihat layar ponselnya.


"Heii Evan. ini aku Hans. Wilo sedang sakit nih, dia menggigil. aku harus gimana?" tegas Hans dengan cepat.


Evan langsung membuka matanya dan turun dari ranjang. "Apa?! kau serius?! cepat beri dia obat! selamatkan dia!!" ujar Evan panik.


"Aku sudah memberikannya. oh iya obatnya sudah habis. btw, dia sakit apa sih?"


"Obatnya habis? astaga baru seminggu.


ya sudah, besok aku kirimkan lagi obatnya. kamu gak perlu tau dia sakit apaan.


oh iya Hans, tolong bantu rangkul dia ya, kasihan dia sendirian dalam keadaan sakit kayak gitu."


"Apa gak apa-apa? kamu gak marah?" ujar Hans ragu, padahal ia tengah merangkul Wilo.

__ADS_1


"Kamu sudah punya istri, jadi aku gak akan cemburu atau pun marah. aku percaya padamu. tolong dia ya" Evan begitu memohon demi kesehatan Wilo.


"Baiklah. ya sudah, aku tutup dulu telponnya ya."


~


"Akkhh... aku di beri tanggung jawab besar demi nyawa seseorang. Wil tolong cepatlah sembuh, aku takut kau kenapa-napa."


Hans menyiakan rambut Wilo yang menutupi wajah cantiknya.


*Dia cantik sekali*


"Astaghfirullah.. aku ngomong apa barusan!!" Hans memukul bibirnya sendiri.


Beberapa saat kemudian, Wilo sudah membaik, ia tak lagi mengigau. ia juga sudah tidur pulas dan tidak mengigil lagi.


Perlahan Hans meletakkannya di bantal, dan menutupinya dengan selimut. ia juga meletakkan guling di sisi kiri dan kanan Wilo supaya ia tetap hangat.


"Semoga dia gak sadar tadi aku merangkulnya. bisa di tuduh mesum aku kalo dia tau." gumam Hans.


Hans hendak keluar menutup pintu. namun saat melihat Wilo, ia merasa kasihan.


Hans pun kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut dan jaket tebal beserta makanan yang sudah ia pesan. lalu kembali lagi ke kamar Wilona.


"Huuh.. aku lapar sekali. ngomong-ngomong, Wilo kelaparan gak ya? dari tadi dia belum makan."


Hans menyisakan makanan untuk Wilona, ia letakkan di dalam lemari es. kemudian ia tidur di sofa dalam kamar Wilo, supaya ia bisa memantau Wilo.


"Astaga, aku gak sempat nelpon Melodi malam ini. pasti dia cemas. besok ajalah. aku sudah ngantuk." Hans menarik selimut lalu tertidur pulas.


~


Dini hari menjelang subuh, Wilo bangun karna perutnya terus berbunyi. "Akkhh aku lapar sekali. jam berapa ini?"


Wilo berjalan mendekat. "Hans....." panggilnya pelan.


"Ehh, gak gerak. Dia pingsan kah?


Hans...Banguuun.." teriak Wilo di dekat telinganya.


Hans kaget, ia pun langsung duduk. "Ehh ada apa? ada gempa? tsunami?" ujar Hans bingung.


"Kenapa kau ada di kamarku?" tanya Wilo


"Kau sudah bangun? apa sudah pagi? kenapa teriak-teriak?"


"Ya maaf, habisnya kamu gak gerak, kupikir kamu pingsan. hehe.


Aku lapar, makanya aku bangun. aku mau makan." timpal Wilo.


"Sukurlah kau sudah membaik, aku sangat cemas. tadi tubuhmu menggigil. makanya aku menjagamu di sini. Ya sudah, ayo ke dapur. biar kupanaskan makanan."


"Apa kau baru saja tidur?


biar aku panaskan sendiri saja. kau tidurlah." Wilo pergi ke dapur meninggalkan Hans.


Namun Hans tetap menemaninya, mengiringinya dari belakang, dan duduk di kursi di meja makan.


"Hans, kau gak perlu temani aku. sana tidur aja." Wilo mulai menyalakan kompornya.


Hans mendekati kompor untuk menghangatkan diri sambil memperhatikan Wilo yang sedang masak.

__ADS_1


"Melihatmu seperti ini. aku jadi ingat Melodi. aku kangen padanya." ujar Hans tersenyum.


"Ya, aku tau. aku juga kangen pada Evan. dia selalu ada untukku. semoga kerjaan kita cepat selesai, supaya kita cepat pulang." timpal Wilo.


"Apa kau sudah benar-benar sembuh?"


"Lumayan, tapi aku masih sedikit lemas.


Hans, kayaknya ntar aku gak bisa ikut kamu ke kantor ya. aku mau istirahat dulu." tutur Wilona.


"Iya gak apa-apa. ya sudah makan sana.


biar kubantu bawain ke meja."


Wilo makan dengan lahap, sedangkan Hans menunggunya dalam keadaan ngantuk.


*Kasihan dia*


"Hans, aku bentar lagi sudah selesai makannya. kau balik tidur sana gih, bentar lagi udah mau subuh."


"Benarkah? kamu gak apa-apa?


ya sudah, aku ke kamar lagi ya. mataku berat sekali." Hans kembali lagi ke kamar Wilo, lalu tidur dengan pulas.


Setelah makan, Wilo tak kembali tidur, Ia menyalakan tv di ruang depan sembari menunggu pagi.


Setelah selesai subuh, ia pun masak untuk sarapan, sambil bersih-bersih rumah supaya ia berkeringat.


Setelah semuanya beres, ia kembali ke kamar untuk membangunkan Hans.


"kali ini aku gak akan berteriak" gumam Wilo di depan Hans.


"Hans, ayo bangun. ini sudah pagi, kau harus kerja" bisiknya dengan lembut.


Hans menarik tangan Wilo, ia serasa bermimpi.


"Sayang, aku gak mau kemana-mana, aku mau di sini sama kamu aja. aku ingin kau peluk." Hans terus memaksa Wilo, menarik tangannya hingga berhasil ia peluk.


"Astaga, apa dia pikir aku ini Melodi.?" gumam Wilo.


"Hans..!!! sadarlah! aku Wilona! bukan Melodi!" tegas Wilo yang terus berontak melepaskan diri.


Hans membuka matanya mendengar suara Wilona. ia pun langsung mendorong Wilo.


"Aww... sakit..! kamu gak waras ya!" tegas Wilo yang sudah jatuh ke lantai.


"Hah? maaf.. maaf. aku gak sengaja Wil." Hans membantu mengangkat tubuh Wilo.


"Kalo kamu sudah kangen sama istri kamu. pulang dulu sana. biar gak ngigo terus!" ketus Wilo


"Apa? memangnya aku ngigo ya?" tanya Hans bingung.


"Iya, kamu merengek minta peluk.


wahh.. kayak gini ya sikap kamu pada Melo, manja banget, gak cocok di muka kamu. haha." Wilo terkekeh mengejek Hans.


"Gak lah. mana ada. Kamu jangan asal ngomong. udahlah. aku mau mandi." Hans meninggalkan Wilo begitu saja.


"Hahaha.. ketahuan sisi lainnya. dia pasti malu." gumam Wilo yang terus tertawa.


Hans merasa malu dengan Wilo, ia pun tak bicara banyak di pagi itu. setelah mandi, ia sarapan sedikit dan langsung ke kantor.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG


__ADS_2