
Dibawah hujan lebat, di malam yang sepi dan jalanan yang tertutup derasnya air hujan, Wilo berjalan tertunduk menarik kopernya.
Ia bersedih bukan karna keluar dari rumah itu, melainkan ia tak habis pikir dengan sikap Hans yang berubah begitu saja.
Ia tak henti-hentinya berpikir apakah ada yang salah pada dirinya hingga Hans begitu tega padanya. Padahal baru tadi pagi ia merasakan tangan Hans menyentuh kepalanya dengan lembut dan senyuman manis.
Langkah kaki Wilo terhenti saat ia tak merasakan lagi air hujan menyerbu tubuhnya. Saat ia melihat ke atas, ia kaget ternyata ada sebuah payung yang melindunginya.
"Eh..??" Wilo menoleh ke belakangnya.
"Evan??" koper yang ia pegang langsung ia lepaskan, kemudian ia memeluk Evan sambil menangis.
"Wil, ayo masuk mobil, kau sudah basah kuyup, nanti kamu sakit." Evan langsung membawanya ke dalam mobil.
"Ku antar ke rumah kamu ya." ujar Evan sambil melajukan pelan mobilnya.
"Van, aku gak mungkin pulang ke rumah. Aku harus bilang apa sama orang tuaku." tutur Wilo merunduk.
"Aku gak tau Wil, kau pikirkan dulu mau kemana. Maaf, aku gak bisa bantu." timpal Evan dengan wajah datar.
"Hm.. aku mengerti." Wilo kembali tertunduk sambil mengelap air mata di pipinya.
*Astaga, kasihan sekali melihatnya seperti ini. tapi entah kenapa aku sedikit kesal dengannya.* batin Evan sambil mengerutkan keningnya.
"Gini aja Wil, aku punya rumah yang tidak kutempati. kau tinggal di sana saja dulu. besok kau boleh pulang."
"Makasih banyak Van. kau terlalu baik padaku.
Van, apakah kau tau kenapa Hans bersikap kayak gini? dia menyuruhku keluar dari rumahnya saat malam begini. apa aku ada salah padanya?"
Evan terdiam sesaat dengan pertanyaan Wilo.
"Maaf Wil, aku gak tau. mungkin dia merasa terganggu. Memang harusnya lebih baik kau keluar dari rumah itu"
"Aku memang mau pergi dari sana Van, tapi bukan dengan cara kayak gini. Aku merasa sangat direndahkan. apakah aku gak pantes di perlakukan dengan baik?" Wilo kembali meneteskan air matanya.
"Sudahlah, jangan menangis. dan jangan bicara lagi."
~
Setibanya di rumah Evan, mereka masuk ke rumah yang tanpa penghuni itu.
"Masuklah, silahkan tidur di kamar depan. Ganti bajumu lalu tidur. Aku gak bisa lama-lama Wil, aku masih ada kerjaan."
Evan langsung pergi tanpa mengantar Wilo ke dalam. padahal dalam rumah itu sangat gelap dan gak ada orang sama sekali.
Walau terlihat bersih dan rapi, tetap saja Wilo merasa takut.
"Evan kenapa ya? sikapnya gak kayak biasanya. Aku bingung padanya dan Hans." gumam Wilo sambil mengunci pintu.
Wilo mengambil ponselnya untuk menyalakan flash, ia berjalan perlahan untuk mencari kontak lampu. Namun saat dia menghidupkan lampu, tapi tak kunjung menyala.
"Kok gak idup? apa mati lampu ya? masa sih jakarta mati lampu?" gerutu Wilo. ia langsung kembali menuju kamar hanya dengan sinar dari hp.
Setelah ia mengganti pakaiannya, Wilo berbaring di kasur dan di kamar yang asing baginya.
Hujan deras, sendirian dan dalam keadaan gelap makin membuat Wilo ketakutan. Ia tak bisa tidur sama sekali.
__ADS_1
Gemuruh bersautan tanpa henti. Wilo duduk sambil memeluk lutut nya.
"Apa aku sedang mimpi? apa yang terjadi dengan hidupku? kenapa aku seperti di buang begini. hiks..
Mama, papa, dek dona. Aku kangen kalian. Aku takut di sini sendirian..hiks.."
Wilo menangis tiada henti. berharap ini hanyalah mimpi buruk. ia terus merunduk memeluk lutut karna rasa takut.
~
Di sisi lain. Evan masih menyetir mobilnya hendak pulang ke rumahnya. Ia berfikir sepanjang jalan.
Ada rasa kesal di hatinya, karna orang yang ia sayang mencintai orang yang sudah beristri. Itu menyakitkan hatinya. Andai saja Hans masih single, mungkin bukan masalah bagi Evan.
Tapi ia berfikir lagi. Bahwa cinta memang tak memandang siapa orangnya.
"Apa aku terlalu jahat ya sama Wilo. dia pasti heran banget dengan sikapku. Apa aku berlebihan? apakah harus aku menyalahkan dia?" Evan memperlambat laju mobilnya.
"Gak, disini Wilo gak salah. gak seharusnya aku membuatnya seperti ini. Itu akan membuatnya makin sedih. Ya allah Evan.. ! apa yang kau lakukan ini? kau bodoh sekali." Evan bergumam sendiri sambil memukul setir mobilnya.
Ia pun memutar balik mobilnya.
"Astaga, aku lupa menghidupkan skring listriknya. Pasti Wilo ketakutan banget. Ya allah, aku sudah berbuat apa sih? kenapa aku bisa jadi tega kayak gini."
Dengan cepat, Evan mengemudikan mobilnya. Ia sengaja menyimpan kunci serep rumahnya supaya memudahkannya membuka pintu.
Duaaaarrrr....!!
Petir menggelegar dengan sinar yang terang masuk ke sela jendela kamar Wilo dan menggetarkan kaca-kaca rumah itu.
"Wilo..!!" Evan datang tepat waktu dan langsung memeluk Wilo yang sedang teriak ketakutan.
"Aaaa.. Siapa kamu?" Wilo mendorong Evan sekuat tenaga, karna ia tak bisa melihat jelas wajah Evan.
"Wil, ini aku, Evan. kamu gak apa-apa?"
Dengan cepat, Wilo memeluk Evan. "Aku takut sekali, aku sendirian di sini. Van, lebih baik aku pulang kerumahku saja. Aku gak sanggup di sini. plisa.. hiks.." Wilo merengek menangis.
*Astaga, ternyata dia begitu ketakutan. ini semua salahku.*
Evan mengusap kepala Wilo dalam dekapannya. "Maafkan aku Wil, ini salahku telah membiarkanmu sendirian. Sekali lagi aku minta maaf."
"Kau tunggu di sini. Aku akan menghidupkan listriknya." Evan melepaskan pelukannya.
"Gak. aku mau ikut Van, aku takut."
"Biklah. Ayo."
Dengan menggunakan flash ponsel, mereka berdua pergi ke belakang rumah untuk menghidupkan listrik.
Wilo terus menggandeng tangan Evan, tak mau lepas sedetikpun. ia takut tertinggal dalam kegelapan.
Setelah lampu menyala, barulah nampak jelas seluruh isi rumah itu. Evan pun menyalakan tv supaya terasa ramai.
"Kau sudah makan?" tanya Evan menatap Wilo.
"Tadi aku baru makan sedikit, tapi...."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita masak." Evan tersenyum mengelus kepala Wilo.
"Emangnya ada bahannya?"
"Ada dong, aku ke rumah ini tiap dua hari sekai. jadi, isi kulkas gak pernah kosong."
Mereka mulai berbincang sambil masak bersama. Setelah itu mereka makan malam.
"Wil, ini sudah jam 12 lebih. Aku pulang dulu ya."
"Kau mau pulang?? aku sendirian lagi?" Wilo tertunduk, rasa takutnya kembali muncul.
"Haiss.. Baiklah. aku gak jadi pulang. Sekarang kau tidurlah. Kamarku ada di sebelahmu. kalo ada apa-apa teriak saja sampai aku bangun."
Evan mengantar Wilo ke kamarnya, untuk beristirahat.
"Makasih banyak Van." ucapnya tersenyum.
"Andai saja kau pacarku. Aku sudah memeluk dan mencium kepalamu.
Aku ngomong apasih, okelah. good night."
Evan hendak melangkah keluar.
"Tunggu." Wilo mendekat dan memeluknya.
"Kau bisa memelukku malam ini. karna kamu sudah menolongku. Kau juga boleh mencium kepalaku." ujar Wilo sambil memeluk erat Evan.
"Benarkah??" Evan pun membalas memeluk Wilo dan mencium kepalanya.
Seketika hening, karna Evan sangat nyaman di peluka orang yang ia sayangi.
"Van, aku minta maaf jika aku ada salah."
"Kau ngomong apa sih. Ayo sana tidur." Evan melepas pelukannya dan menyuruh Wilo istirahat.
"Good night Van." ucap Wilo dengan senyuman mengiringi Evan yang keluar dari kamarnya.
Beberapa jam setelah itu. Evan keluar dari kamarnya untuk melihat keadaan Wilo.
Pintu kamarnya tersingit, Evan pun langsung masuk.
"Gadis ini kalo tidur kayak gini ya. gak ada sopan-sopannya sama kasur. Sepre aja sampe menggulung. heran."
Evan merapikan sepere itu kembali, dan juga membenarkan posisi tidur Wilo. kemudian ia menyelimutinya.
*Andai saja kau mencintaiku seperti kau mencintai Hans. Aku gak akan berpikir dua kali untuk menikahimu. Wanita sepertimu sulit di temui dan sangat langka.*
Evan mengecup kening Wilo sebelum ia keluar.
*Maafkan aku, bukan bermaksud lancang, itu hanya tanda sayang dariku. Maafkan aku juga karna tadi sempat mengabaikanmu, aku sungguh menyesalinya.*
Evan keluar dan menutup pintu dengan rapat.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1