Dua Pilihan

Dua Pilihan
Insiden


__ADS_3

Siang hari.


Orang tua Hans makan siang bersama di rumahnya.


Namun mama Hans tidak mengizinkan Melodi duduk di dekatnya, melainkan Wilona yang di izinkan duduk di samping Hans.


*Hmm.. gadis ini lebih cocok di sisi Hans dari pada si Melodi itu.* batin mama Hans.


"Hans, mama mau bermalam di sini." ujar mama Hans.


"Wah.. berapa malam ma?" tanya Melodi dengan semangat.


"Terserah aku mau berapa malam. toh ini rumah anakku." ketus mama dengan muka judes.


Hans merasa kasihan dengan istrinya yang sudah bersikap baik itu.


"Ma, kalo mau menginap di sini, boleh saja. Tapi dengan syarat, tolong jaga sikap dan ucapan mama terhadap Melodi. karna dia istriku. Jika tidak setuju dengan syarat itu, maka mama boleh pulang sore ini juga." tegas Hans.


Sontak semuanya diam, bahkan Melodi pun ikut tertunduk takut. Namun Wilona bingung dengan kondisi itu, wajahnya sama sekali tak menghiraukan, dan tetap lanjut makan.


"Em.. baiklah Hans. mama setuju." jawab mama dengan terpaksa.


"Mama kamu saja yang menginap Hans, papa gak bisa karna pagi-pagi papa harus kerja." sahut papa Hans.


"Iya pa, gak masalah"


"Em, kalo gitu, aku siapin kamar buat mama dulu ya." Melo buru-buru pergi padahal ia belum selesai makan.


"Aku permisi dulu, aku mau istirahat.


Wilo, habiskan makan siangmu ya. Habis itu langsung tidur siang." Hans juga turut meninggalkan ruang makan itu dan menyusul Melodi.


Yang tersisa tinggal Wilo, dan mama papa Hans yang masih lanjut makan.


"Ma, apa kau tidak terlalu kejam dengan Melodi. Dia wanita yang baik dan sopan." ujar papa Hans yang mempunyai sikap netral itu.


"Papa tau sendiri kan apa alasan mama gak suka dengan wanita itu. Dia itu wanita j*lang, bisa saja dia bermuka dua." timpal mama.


Wilo kaget, karna mama Hans menyebut Melodi wanita jal*ng. Padahal yang ia tau bahwa Melo itu begitu baik.


"Maaf om, tante. Kalo aku boleh tau, kenapa ya kalian gak suka sama Melodi? dia itu baik loh. Mereka aja mau merawatku di sini." cela Wilona.


"Kau mau tau? ayo ikut tante." mama Hans beranjak dan langsung mendorong kursi roda Wilona menuju halaman belakang rumah.


Setibanya di sana, mama Hans mulai bercerita dengan suara kecil.


"Maaf tan, kenapa harus cerita di sini?" tanya Wilo dengan wajah bingung.


"Sebelum itu, tante mau tanya. Apakah benar kamu hilang ingatan non permanen?"


"Mereka bilang sih gitu. Aku gak tau tan." jawab Wilo bingung.


"Berarti kamu memang lupa, tapi tidak semuanya kau lupakan.


Kau mau tau kenapa tante sangat-sangat membenci Melodi?"


"Memangnya kenapa tan?"


"Dulu, waktu mereka sekolah, Melo itu ngontrak di jakarta. Lalu dia dan Hans pacaran. Entah kenapa mereka bisa di gerbak dalam kontrakan itu." jelas mama.


"Tapi kan, mereka belum tentu berzinah tan?"


"Kita mana tau lah. Dan tante yakin, si Melodi itu yang menggoda anak tante. Jujur tante malu banget dengan pernikahan mereka yang mendadak itu, padahal Hans masih sangat muda. Di tambah dia gak bisa hamil, aku jadi makin gak suka sama dia." lanjut mama Hans.


Wilo hanya diam dan mencerna apa yang di ucapkan mama Hans itu.


"Ohh.. gitu ya tan?"

__ADS_1


*Tapi kok aku ragu ya dengan cerita ini.*


"Iya Wil. oh iya, Apa kamu sudah punya pacar?"


"Pacar? kayaknya gak ada tan." jawab Wilo tersenyum lebar sambil berpikir.


"Hm.. baguslah. Besok kita ke rumah kamu ya. Tante mau ketemu sama orang tua kamu."


"Maaf tan, tapi aku sendiri lupa jalan menuju rumahku. Nanti aja ya, kalo aku sudah sembuh." timpal Wilo sungguh-sungguh.


"Nggak apa-apa Wil. kamu gadis yang baik dan ramah, tante senang bisa ngobrol sama kamu kayak gini." mama Hans mengusap kepala Wilo.


"Em.. ya udah tan, ayo kita masuk. Aku harus istirahat."


"Baiklah." mama Hans mendorong kursi roda Wilo dan langsung mengantarnya ke kamar.


Kemudian mama Hans menuju kamar yang saat itu tengah di bersihkan Melodi.


Namun ia tak sengaja mendengar percakapan Hans dan menantunya itu.


"Hans, kenapa sepertinya mama menyukai Wilona? tadi aku tanpa sengaja melihat mama mendorong kursi roda Wilo dan mengajaknya ke halaman belakang."


Hans mendekap Melodi untuk menenangkan hatinya. "Sayang, mama gak mungkin lah suka sama Wilona. Lagian kalo mama suka, kenapa?"


"Hans, aku takut.


Aku takut kalo suatu saat mama menyuruhmu menikahi Wilona." air mata Melo sudah tak terbendung dengan perasaan berkecamuk.


"Walaupun mama menyuruhku menikah lagi, aku tetap gak mau. Karna orang yang kucintai cuma kamu, satu dan untuk selamanya."


Mendengar ucapan Hans, senyuman Melo mulai terpancar kembali. Ia sangat bersyukur mempunyai suami yang setia dan begitu menyanginya juga menerima kekurangannya.


"Ehem... Udah selesai rapihin kamarnya?" ketus mama Hans.


"Udah ma, silahkan istirahat. Kami pergi dulu." ujar Hans agak cuek. lalu ia merangkul Melo dan membawanya keluar kamar. Sedangkan Melo hanya diam tanpa menatap mertuanya itu.


Esok pagi.


Dokter Meri mengajak Wilo berjemur di halaman belakang rumah.


"Non, hari ini kamu belajar berdiri dulu ya. Mari saya bantu." ujar dokter Meri.


"Baik dok, makasih ya."


Melihat kegigihan Wilo yang ingin pulih, mama Hans pun menghampiri untuk membantu.


"Dok, biar aku yang membantu Wilona. Kamu bisa kerjakan tugas yang lain." ujar mama.


"Baik nyonya. permisi."


Setelah dokter itu pergi, mama Hans mencoba membantu Wilo berjalan pelan-pelan.


"Maaf tante, ada apa ya tante membantuku berjalan. Aku jadi gak enak." ujar Wilo dengan senyuman.


*Hm.. selagi dia lupa ingatan, aku harus pengaruhi pikirannya untuk membenci Melodi, dan merebut Hans darinya.*


"Wil, tante cuma mau bantu aja kok.


Oh iya, apakah kamu nantinya ingin punya suami idaman seperti Hans? dia orang yang tomantis loh."


"Maaf tante, bukankah dia sudah lama menikah dengan Melodi, aku gak mau jadi pelakor. Lagian aku gak cinta sama Hans." tolak Wilona dengan lembut dan senyuman.


"Gak apa-apa. Tapi tante yakin, suatu saat kamu pasti mencintai anak tante.


Tante ambilin kamu air minum dulu ya. Tunggu sebentar." mama Hans masuk ke dapur untuk mengambil botol air.


*Tante ini kok aneh ya. Sudah ada menantu cantik dan baik seperti Melodi kok masih aja mau menjodohkan Hans dengan orang lain.* pikir Wilona bingung.

__ADS_1


Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang berjalan makin mendekat.


Datanglah seorang pria dari pagar belakang.


"Hei, apa kabar?" ujar nya dengan nada kecil.


"Siapa kamu?! kenapa kamu tiba-tiba ada di sini.?" tanya Wilo kaget.


*sepertinya dia lupa ingatan.*


"Wil, kamu gak kenal aku? kamu amnesia ya?"


"Iya, aku gak ingat siapapun. Kamu siapa?" ketus Wilo.


"Aku pacar kamu Wil. namaku Vino. Kita pacaran sejak kita kuliah. Kau ingat? dulu kita sering jalan-jalan ke puncak." Vino meyakinkan hati dan pikiran Wilo dengan memanfaatkan ketidak ingatannya.


"Benarkah? terus kenapa kamu datang ngumpet-ngumpet?"


"Aku gak ngumpet-ngumpet. Aku datang dari depan, tadi Hans menyuruhku lewat samping karna lebih dekat. Em.. kita jalan-jalan bentar yok."


"Hah? aku gak bisa jalan, memangnya mau kemana?" sepertinya Wilo sudah mulai percaya dengan bualan Vino.


"Tenang aja, aku bisa gendong kamu. ayo kita pergi, bentar doang kok. Aku sudah minta izin sama Hans dan mamanya."


Belum sempat Wilo menjawab, Vino sudah menggendong Wilo dan bergegas pergi dengan mobilnya.


Saat mama Hans keluar dengan membawa sebotol air minum, ia tidak mendapati Wilo, melainkan hanya kursi rodanya saja.


"Wil..


Dimana dia?


Wilona...!!" teriak mama Hans panik.


Lalu penghuni rumah itu berhamburan keluar saat mendengar teriakan mama.


"Ma ada apa?" tanya Hans.


"Hans... Wilo.. dia gak ada di sini, padahal mama tinggal sebentar. Tolong cari dia Hans." wajah mama mulai tidak tenang karna merasa bersalah.


"Loh.. mama gimana sih? Wilo itu tanggung jawab kita ma, gimana kalo orang tuanya tau." tegas Hans.


"Hans, liat deh, pintu pagar kita terbuka, jangan-jangan Wilo pergi lewat pintu belakang." sahut Melodi.


"Nggak mungkin nyonya, karna nona Wilo belum bisa berjalan. kakinya masih lemas." jelas si Dokter.


"Hm.. dokter Meri benar. sepertinya Wilo di culik. Kalian tunggu di rumah, biar aku yang mencarinya." Hans langsung bergegas menuju mobilnya.


Namun, saat di depan rumah, ada Evan, Sinta dan Mita yang datang untuk menjenguk Wilo.


"Selamat pagi bos. Bolehkan kita menjenguk Wilo." ujar Mita dan Sinta sembari memberi salam.


"Maaf, Wilona gak ada di rumah, dia di culik. Aku harus mencarinya."


"Tunggu! apa maksudmu Wilo di culik? jangan bercanda kau Hans!" tegas Evan.


"Aku gak bohong! sekarang aku mau mencarinya" Hans langsung masuk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hans, aku ikut bersamamu!


Mita, Sinta. kalian berdua tinggal disini dulu." Evan juga turut masuk mobilnya dan mengejar Hans.


Melihat kejadian ini, Melo sangat cemas, ia selalu berdoa supaya Wilona dapat di temukan dengan selamat.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


Like


__ADS_2