
Esok pagi.
Wilo bangun untuk membuat sarapan, walaupun cuacanya cukup dingin, namun ia senang berada di dapur karna lebih hangat.
Wilo menatap keluar jendela, pepohonan dan tanah sudah tertutup salju.
"Astaga, dingin sekali. Aku harus mandi air hangat nanti."
Wilo memanggang roti dan masak air untuk membuat dua gelas teh untuknya dan Hans.
Hans keluar dari kamarnya masih menggunakan piama.
"Ehh.. Kau sudah bangun duluan?" ujar Hans menuju meja makan untuk mengambil air minum.
"Iya, aku sengaja bangun pagi. supaya bisa bikin sarapan sebelum kita kerja." Wilo menghidangkan roti yang sudah ia panggang.
"Kita kan bisa makan di luar, ngapain capek-capek masak. " ujar Hans dengan santai.
"Sudah, makan aja. jangan banyak bicara.
ehh. kamu belum cuci muka? sana cuci muka dulu. jorok amat sih." ketus Wilona.
"Iya.. iya.." Hans beranjak menuju kamar mandi.
Ia melihat Panci berisi air di atas kompor. "Wil, kamu mau masak apa?" tanya Hans bingung.
"Aku masak air aja. mau bikin teh." jawab Wilo sembari mematikan kompornya.
"Astaga, kan ada Teko listrik. ngapain pake itu, bisa tumpah bahaya." timpal Hans cemas.
"Aku akan hati-hati kok. aku gak tau kalo ada teko listrik di sini." Wilo mengangkat panci itu menggunakan lap tebal.
"Ya sudah, bikin cemas saja." Hans melanjutkan menuju kamar mandi di dekat dapur itu.
Setelah siap. mereka pun sarapan bersama.
Hans lupa bahwa gelas teh nya masih hangat, saat ia mengangkat gelas tersebut ia kaget dan langsung melepaskannya begitu saja.
Tumpahan teh yang keluar dari gelas itu mengenai tangan Wilo dan juga mengalir ke bajunya.
"Akkhh.. panas." Wilo mengusap tangannya menggunakan bajunya.
"Wil. maaf. aku gak sengaja." Hans langsung meraih dan meniup tangan Wilo dengan cemas.
"Tunggu bentar." Hans berlari menuju kamar mandi. ia mengambil pasta gigi dan langsung mengoleskannya ke tangan Wilo yang sudah memerah.
"Maaf ya. aku ceroboh." ujar Hans sambil mengusap tangan Wilo.
"Gak apa-apa. panasnya sudah mulai hilang. makasih Hans."
"Ya sudah, ayo kita lanjut makan lagi."
Wilo tersenyum. *Apakah kayak gini suasananya jika nanti aku sudah menikah dengan Evan?. hm.. aku merindukannya. *
~~
__ADS_1
Setelah siap, mereka pergi menuju tempat kerja.
Hari ini Hans dan Wilo tengah mengurus surat pembelian gedung.
"Sekarang kita sudah punya gedung. tinggal di renovasi beberapa ruangan dan mengganti cat. setelah itu kita bekerja dari rumah untuk mencari karyawan." jelas Hans saat berada di depan gedung yang baru ia beli.
"Hans, kurasa gak perlu banyak yang di ubah. ini saja sudah bagus kok." sahut Wilo.
"Wil, aku mau buatin ruangan khusus buat kamu. karna ntar kamu akan jadi sekretarisku. kita harus memimpin di sini selama setahun ke depan." timpal Hans.
"Hah? jadi kita harus bolak-balik indo ke jepang?. memangnya gak ada karyawan atau atasan senior dari PT pusat?"
"Pastinya ada. tapi kita tetap di sini dulu selama setahun, aku tau kau capek jika pulang sebulan sekali. Aku juga begitu. tapi ini demi perusahaan yang baru kita bangun."
"Oke. baiklah." Wilo tertunduk cemberut.
"Tenang saja, aku akan menjagamu.
Ayo kita masuk, kita melihat-lihat dulu ke atas."
Hari itu, Hans dan Wilo mencari pekerja bangun dan juga membuat design kantor sesuai keinginan mereka.
Esoknya, para pekerja mulai merenovasi gedung. sementara Hans dan Wilo sibuk mengatur alat-alat kantor yang mereka beli secara online.
Mereka mengerjakan itu setiap hari, walau banyak pekerja lainnya. tapi Hans dan Wilo tetap membantu menata ruangan supaya bisa selesai dalam satu bulan.
Saat kembali ke apartemen, mereka bertemu lagi dengan tetangga mereka yang bernama Andres itu.
"Haii Wilo, Hans. kalian sibuk sekali sepertinya. sudah beberapa hari ini aku gak liat." sapa Andres dengan ramah.
"Aku? ya seperti inilah. aku bekerja di perusahaan orang, bukan kantor sendiri kayak kamu." sahut Andres.
"Kamu di bagian apa?" tanya Wilo.
"Aku manager di bagian keuangan." jawab Andres.
"Nah... Hans, gimana kalo dia saja bekerja di kantor kita." ujar Wilona memberi usul.
"Gak bisa sembarangan Wil, dia pasti punya kontrak kerja dengan perusahaannya." timpal Hans.
"Iya juga sih."
"Maaf, apa kalian sedang mencari karyawan ya? aku bisa membantu. oh iya, bulan ini kontrak kerjaku habis, aku bersedia kok jika kalian mau mengajakku kerja sama." jelas Andres singkat.
"Wahh serius?? jadi gimana Hans?" pungkas Wilona.
"Baiklah. kita tunggu saja sampe bulan depan." timpal Hans tersenyum.
"Serius nih? makasih banyak Hans, Wilo.
ya sudah, aku pamit dulu ya. aku mau makan di bawah. kalian silahkan lanjutkan." Andres pun pergi dari hadapan mereka.
"Ayo buruan buka pintunya." ujar Hans pada Wilo.
"iya, ini lagi di buka. tapi kok susah ya."
__ADS_1
"Itu karna selama kita di sini kamu gak pernah membuka pintu." Hans berdiri di belakang Wilo untuk memutarkan kunci tersebut.
*Astaga, dia terlalu dekat gak sih?*
Wilo menoleh pada Hans, ia mengira jarak wajah mereka agak jauh.
Namun saat ia menoleh, hidungnya tanpa sengaja menyentuh dagu Hans.
Hans juga menoleh pada Wilo karna kaget. mereka pun bingung dan saling pandang dengan jarak yang sangat dekat.
Andres tanpa sengaja melihat kejadian itu, karna ia kembali lagi hendak mengambil dompetnya yang tertinggal.
"Ehemm... masuk dulu gih, baru bercumbu. jangan bikin jiwa jombloku ini meronta." ujar Andres tertawa kecil sambil melewati mereka.
Hans dan Wilo langsung memisahkan diri. mereka pun masuk tanpa sepatah kata pun.
Wilo langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu.
"Astaga, malunya aku. kenapa harus ada kejadian ini sih". Wilo menutup wajahnya dengan bantal.
Hans juga sama. ia berdiri di depan cermin. "Ya ampun. apa yang sudah kulakukan. tadi kita hampir saja saling cium. pasti Wilo merasa malu. aku jadi gak enak. aku harus minta maaf."
Hans menuju kamar Wilo. namun saat itu ia sedang melakukan panggilan video dengan Evan.
"Sayang kamu kenapa?" ujar Evan dalam telpon tersebut.
"Aku gak apa-apa. hari ini aku lelah sekali. aku mau istirahat." jawab Wilo sembari rebahan di tempat tidurnya.
"Ya sudah, kamu tidur saja dulu. tapi mandi dan minum obat dulu ya. jangan langsung tidur."
"Iya sayang. ya sudah aku mau mandi dulu deh, takutnya ntar ketiduran. dahh"
Evan dan Wilo pun mengakhiri panggilannya.
Saat masuk kamar mandi. aliran air hangatnya rusak, terpaksa ia mandi dengan air dingin.
"Gilaaa.. aku kayak mandi air es." tubuh Wilo mengigil setelah mandi. ia pun duduk di ranjang menggunakan baju tebal dan juga selimut untuk menghangatkan badannya.
~
Jam makan malam tiba. Hans mengetuk pintu untuk mengajaknya makan bersama, ia sudah memesan banyak makanan.
"Wil.. Ayo kita makan." panggil Hans sambil mengetuk pintu.
Tak ada jawaban dari Wilona.
"Dia ngapain sih? apa lagi mandi?"
Hans mencoba membuka pintu. "Ehh.. gak di kunci?" ia pun menyentulkan kepalanya untuk melihat Wilo sebelum tubuhnya masuk ke kamar.
Hans kaget melihat keadaan Wilona. ia pun langsung berlari masuk, menghampiri Wilo.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1