Dua Pilihan

Dua Pilihan
Menuju kebahagiaan Wilo


__ADS_3

Dua bulan kemudian..


Setelah hampir 3 bulan berpacaran dengan Evan, kini kehidupan Wilo sudah lebih baik dari sebelumnya. ia makin semangat dan ceria karna selalu di beri asupan cinta dan kasih sayang dari pacarnya itu.


Perusahaan Evan juga semakin maju, bahkan mampu bersaing dengan perusahaan terbesar, yaitu perusahaan Hans.


Kedekatan Wilo dengan keluarga Evan semakin erat, begitu juga sebaliknya.


Malam ini, Wilo dan keluarganya di undang untuk makan malam di rumah Evan.


Evan pun menjemput mereka setelah magrib berlalu.


Saat makan malam berlangsung, suasana hangat di penuhi canda tawa.


"Silahkan makan yang banyak.".tutur mama Evan dengan ramah.


"Makanannya enak sekali jeng. aku jadi lahap. maaf ya. hehe." timpal mama Wilo.


"Ma, jangan bikin malu deh." sahut Widona, adik bungsu Wilo itu.


"Gak apa-apa kok. habisin aja, ini memang di sediakan untuk kalian. kamu juga makan yang banyak ya Wil."


"Oh iya, apa kalian tau kenapa kami mengundang makan malam di sini?" ujar papa Evan.


"Memangnya ada apa tuan?" tanya papa Wilo.


"Begini. sudah beberapa hari ini, Evan selalu merundingkan hal mengenai hubungannya dengan nak Wilona. dia ingin menunang anak gadis kalian." jelas papa Evan.


Wilo dan keluarganya kaget mendengar ucapan itu.


"Maksudnya Wilo dan Evan akan tunangan?" ujar papa Wilo seakan tak percaya.


Evan pun angkat bicara soal itu. "Benar om, tante. aku memikirkan ini sudah lama. tapi aku baru mengambil kesimpulan."


"Tunggu. tapi kenapa kamu gak merundingkan ini denganku juga hah? apa maksudmu?" ketus Wilo.


Evan meraih tangan Wilona. "maafkan aku sayang. sebenarnya aku hanya ingin memberi kejutan ini padamu. hehe. tapi kau mau kan kalo kita tunangan?"


"Hm.. untungnya aku mau. Kau ini ada-ada saja."


"Ya maaf. jadi, kita akan tunangan minggu depan. gimana?" tanya Evan.


"Aku sih terserahmu saja. tapi di mana kita akan melaksanakannya?" timpal Wilona.


"Nak Wilo, kami semua sudah merencanakannya. Kita akan melangsungkan pertunangan kalian di rumah Evan yang tertinggal. rencananya rumah itu buat kalian setelah menikah nanti." jelas mama Evan.

__ADS_1


"Aku menuruti Evan saja tante. aku siap jika dia membawaku kemanapun dia pergi" Wilo tersenyum menatap Evan.


"Kamu memang berbakti. ya sudah. Ayo lanjut makan lagi."


...


Malam itu, Wilona tak bisa tidur, hatinya merasa sangat bahagia. ia selalu memikirkan tentang pertunangannya dengan Evan. ia tak menyangka bahwa seserius ini hubungan mereka.


Karna terlalu lama berdiri di dekat jendela, Wilo merasa lapar. ia pun memutuskan untuk membeli makanan di luar.


"Ma, aku keluar bentar ya. mau cari makanan."


"Ini sudah jam sepuluh malam Wil, jangan lama-lama ya."


Wilo menyeberangi jalan, kedai makanan tak jauh dari rumahnya. susasana di sana juga masih terlihat ramai.


Ia membeli makanan cukup banyak. saat hendak menyeberang, terlihat sebuah mobil berhenti di dekatnya.


"Kayak kenal sama ni mobil" pikir Wilo


Mobil itu adalah mobil Hans yang kebetulan lewat saat hendak pulang ke rumahnya. ia berhenti karna melihat Wilo yang masih di luar rumah di malam hari.


"Hans??" ujar Wilo saat Hans berjalan mendekatinya.


"Jam berapa ini? gak baik gadis berada di luar rumah malam hari seperti ini. Ayo masuk mobilku. ada yang mau aku katakan."


"Astaga, tu orang, kebiasaan." gerutu Wilo sembari menuju mobil Hans.


Saat masuk mobil, Wilo menawarkan makanan yang ia beli untuk Hans. "Mau ini? kau mungkin saja belum pernah memakannya"


"Gak, aku udah kenyang." timpal Hans


Wilo tetap mengeluarkan sedikit makanan itu dan memaksa Hans untuk memakannya.


"Coba dulu deh." Wilo menyuapkan ke mulut Hans dengan paksa.


Tak ada pilihan lain, Hans pun terpaksa mengunyahnya. "Emm.. apaan sih, kok maksa? tapi enak juga sih."


"Tuh, enak kan? makanya coba dulu. hehe. ya udah kita makan bareng yok, aku laper nih."


Hans menatap Wilo yang tengah lahap makan tanpa rasa jaim. "kayaknya kamu lagi seneng banget ya?" ujarnya tersenyum.


"Iya dong. aku lagi bahagia."


"Karna kau mau tunangan dengan Evan??" tanya Hans.

__ADS_1


"Loh? kok kamu tau?" Wilo menghentikan makan nya.


"Ya, karna Evan yang menelfonku. dia bilang, kalian akan bertunangan minggu depan."


Evan meraih dan menggenggam tangan Wilo dan menatapnya serius. "Wil, jujur saja. aku juga turut bahagia mendengar kalian akan bertunangan, semoga kalian bertahan sampai ke pernikahan"


"Hans, aku minta maaf karna aku pernah mencintaimu. entah apa yang ada di benakku hingga aku jatuh cinta pada pria yang sudah beristri. aku menyesal akan hal itu. maafkan aku." Wilo tertunduk malu.


"Itu bukan salahmu. karna cinta tumbuh tidak memandang pada siapa ia akan berlabuh. aku seneng karna aku di cintai oleh gadis sebaik kamu. jika saja aku masih single, mungkin aku akan membuka hati untukmu. tapi itu gak bisa kulakukan karna aku berjanji setia pada istriku.


Aku berdo'a supaya kau mendapat jodoh yang lebih baik dariku. karna kau pnatas bahagia Wil. dan semoga kau juga memiliki keturuanan. jangan seperti aku dan Melo."


Mendengar ucapan itu, Wilo terisak tangis, ia pun memeluk Hans.


"Kenapa kau harus mengatakan itu Hans? kau percaya saja jika suatu saat kau bisa memiliki keturunan. Aku yakin, kalian berdua juga akan lebih bahagia."


Hans meletakkan dagunya di pundak Wilo, ia merasa begitu sedih.. "Entah apa lagi yang harus ku lakukan Wil. bermacam upaya sudah kami coba. Tidak ada yang mengerti dengan perasaanku dan keinginanku. Aku ingin sekali membahas kesedihanku bersama Melodi, tapi itu akan membuatnya makin terpuruk dan tak bersemangat."


"Hikss... Hans. aku tau perasaanmu sejak pertama kau mengatakan tak bisa memiliki keturuanan. Aku tau di lubuk hatimu kau begitu sedih. maka dari itu aku mencoba menghiburmu, tapi aku malah terjebak cintamu." Wilo masih terisak di dalam dekapan Hans.


"Sudahlah, jangan di bahas. kami akan terus berusaha sampai kapanpun. terimakasih atas dukunganmu Wil, aku merasa lega setelah mengeluarkan semua kepedihanku bersamamu." Hans membalas dengan mengusap kepala Wilo.


"Makasih juga untukmu Hans, berkat kau menjauhiku dan menyakitiku, aku bisa melupakanmu dan beralih mencintai Evan. makasih juga atas semua doa dan dukunganmu. Aku berharap, kita semua bahagia."


Wilo melepaskan pelukannya. Air matanya masih membasahi pipi.


"Yang terpenting saat ini adalah kebahagiaanmu. fokuslah pada pertunanganmu." ujar Hans sembari mengusap air mata Wilo.


"Makasih banyak Hans, ya sudah, aku pulang dulu ya. sudah malam."


"Tunggu Wil." Hans meraih tangan Wilo yang hendak membuka pintu mobil.


"Ada apa?" Wilo kembali duduk.


"Apa kalung yang ku hadiahkan di hari ulang tahunmu itu masih ada?" tanya Hans.


"Em.. ada, tapi..."


"Tidak apa-apa jika kau tak memakainya. kau simpan baik-baik ya. Jika nanti kau sudah punya anak. kau berikan kalung itu untuk anakmu." ujar Hans tersenyum.


"Iya Hans, sekali lagi makasih. Kau pulanglah, Melo sudah menunggumu. jangan sampai dia cemas. Aku pulang dulu ya. Selamat malam." Wilo pun keluar dari mobil Hans dan kembali ke rumahnya.


Setelah memastikan Wilo masuk ke rumahnya. barulah Hans menjalankan mobilnya.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2