Dua Pilihan

Dua Pilihan
Sebuah Kecurigaan


__ADS_3

Pagi Hari.


Wilo membuka mata saat alarm nya menyala. Namun keadaan badannya sangat tidak enak. Ia merasa pusing dan kedinginan.


"Akh,, aku lupa kalo ini di rumah Evan, pantas saja agak berbeda. Hm.. aku merasa tidak enak badan, Evan pasti sudah berangkat kerja."


Wilo mencoba mengirim pesan pada Evan, ia mengatakan bahwa ia tidak bekerja hari ini karna ia meriang.


Braakkk..!!


Pintu terbuka kuat mengagetkan Wilo, seketika ponselnya terjatuh menimpa wajahnya sendiri.


"Astaghfirullah..." ucapnya sambil duduk.


Evan masuk sambil berlari dengan wajah cemas.


"Wil... kamu gak apa-apa? kamu beneran sakit?" ujar Evan, ia langsung duduk di dekat Wilo.


"Kamu mengagetkanku. Aku hanya meriang. tolong bilang pada Hans ya. Aku gak berani untuk memberitahunya." ujar Wilo tertunduk.


"Kamu tenang saja, sekarang kau kembalilah berbaring. Aku pergi sebentar." Evan membantu menyelimuti Wilo, lalu ia pergi.


Evan melajukan mobilnya dengan kencang, ia membeli makanan yang banyak untuk Wilo. ia juga sudah menghubungi dokter untuk mengobati Wilo.


Suara mobil Evan sudah kembali, Wilo merasa tenang karna ia takut di tinggal sendirian dalam keadaan sakit.


"Mari masuk dok." ujar Evan yang sudah tiba bersama seorang dokter wanita.


"Loh, Van? kamu bawa dokter?" ujar Wilo kaget.


"Iya, untuk mengobati kamu. Ayo dok, segera periksa dia."


Dokter itu langsung memeriksa keadaan Wilona, lalu ia memberikan obat.


"Nona Wilo tidak apa-apa. Dia hanya meriang, suhu badannya cukup tinggi. Nanti jangan lupa di kompres saja. aku sudah memberinya obat penurun panas dan beberapa vitamin, supaya dia cepar fit lagi." jelas Dokter.


"Baiklah dok, terimakasih banyak." Evan mengantar dokter itu keluar rumahnya. setelah itu ia kembali lagi ke kamar Wilo.


Evan menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Ayo makan, abis itu minum obat."


"Van, harusnya kamu gak perlu panggil dokter kemari, aku hanya demam biasa, besok juga sembuh."


"Udahlah, jangan di bahas lagi, toh sudah terjadi kan? ayo makan, biar aku suapin. buka mulutmu." Evan hendak menyuapi Wilo, namun ia menolaknya.


"Aku bisa makan sendiri, aku bukan anak kecil."

__ADS_1


"Jangan banyak omong. buka mulut apa susahnya." tegas Evan memaksa. Wilo pun hanya bisa menurutinya.


~


Di waktu yang sama.


"Sayang, mulai hari ini, kamu ikut aku ke kantor ya." ujar Hans sambil memeluk Melo dari belakang.


"Hah? terus, gimana dengan butikku?"


"Kan sudah ada managernya. ngapain kamu mesti repot ngurusin butik. Udahlah, kamu cukup terima uangnya aja. oke sayang." rayu Hans sambil meletakkan dagunya di bahu Melo.


"Em... Oke deh. jadi hari ini aku ikut kamu? Tapi enak juga sih, aku bisa ngobrol sama Wilona." timpalnya tersenyum.


"Gak usah, jangan terlalu dekat dengannya. emm.. maksudku, jika kamu ngajak dia ngobrol terus, kerjaannya akan terganggu."


Hans menutupi itu dari Melo, dia tidak ingin istrinya tau kalau Wilo mencintainya. Ia berusaha bersikap netral, supaya Melo tidak curiga.


"Ya udah, ayo kita berangkat." Hans menggandengan tangan Melodi sampai depan mobil.


*Hans kenapa ya? kok sikapnya pada Wilona tiba-tiba berubah. Aneh sekali. Astaghfirullah, kenapa aku mencurigai suami sendiri. maafkan aku ya allah.*


~


Siang hari, Evan pergi ke kantor Hans, setelah memastikan bahwa Wilona sudah tertidur setelah ia minum obat dari dokter.


"Hans. Melo. selamat siang." sapa Evan dengan santai.


"Selamat siang, silahkan duduk Van." ujar Melo dengan senyuman .


"Gak perlu Mel, aku kesini sebentar aja. aku cuma mau menyampaikan hal tentang Wilona."


"Kebetulan kami sedang membahasnya, kemana dia? kenapa gak kerja tanpa izin?" pungkas Hans.


"Dia lagi demam." jawab Evan


"Hah? demam? di mana dia sekarang? aku mau menjenguknya." ujar Melodi cemas.


"Maaf Mel, lain kali saja, saat ini dia lagi gak mau di ganggu, dia juga butuh istirahat."


"Oh, baiklah." Melo tertunduk, ia merasa bersalah atas sikap suaminya yang sudah mengusir Wilo.


"Hans, ada yang mau aku bicarakan. Tapi hanya kita berdua." ujar Evan menatap dingin Hans.


"oke. Em.. sayang. kau tunggu di ruang istirahat saja ya. Atau bisa tunggu aku di kantin. aku ada urusan bentar sama Evan."ujar Hans pada Melodi.


"Baiklah. aku pergi dulu." Melo keluar setelah permisi.

__ADS_1


Hans memastikan bahwa Melo sudah jauh. ia pun mengunci pintu.


"Katakan ada apa?" ujar Hans.


"Kau tau kenapa Wilo sakit? itu karna kamu! kenapa kamu mengusirnya saat hujan hah? apa kamu sudah gak punya hati?" tegas Evan.


"Van, aku bersikap kayak gitu, supaya dia sadar bahwa aku gak pantas untuk dia cintai. Harusnya kamu mendukung aku dong!" timpal Hans.


"Maaf Hans, kali ini aku gak setuju dengan pola pikir kamu. kamu bisa kan menyuruhnya pulang dengan cara baik-baik?. setidaknya tunggu besoknya. Kenapa harus malam, hujan pula. Sekarang dia jadi sakit Hans!" tegas Evan kembali.


"Van, aku cuma ingin membuatnya membenciku, itu saja. supaya dia menjauh dariku."


"Iya, aku tau. tapi gak gitu caranya Hans. kau tau? dari kemarin dia bertanya-tanya tentang perubahan sikapmu. lalu aku harus bilang apa hah?!" timpal Evan.


"Katakan saja yang sebenarnya. dengan begitu, dia pasti langsung resign dan menjauhiku. ya kan?" sahut Hans dengan santai.


"Apa menurutmu itu baik? tapi tidak menurutku. Ya sudahlah. biarkan aku yang mengurusnya sendiri. Dasar kau payah!" Evan langsung keluar dari ruangan Hans.


Hans bersandar di kursinya.


*Maafkan aku Wil. bukannya aku tega. tapi ini demi kebaikanmu. Apa kata orang jika kau mencintai pria yang sudah beristri. sedangkan kau gadis yang baik. Sebenarnya aku cemas dengan keadaanmu sekarang. tapi lebih baik aku pura-pura gak tau.*


Di sisi lain, Melo sedang menunggu di meja kerja Wilona.


*Ada apa ya? perasaanku kok gak enak. ada yang mencurigakan dengan sikap Hans. apa aku gak boleh curiga pada suami sendiri?*


"Selamat siang Nyonya Bos. ada apa nih siang-siang melamun." sapa Sila dengan hormat.


Ucapan itu menyadarkan Melodi. "Eh.. Sila? gak apa-apa. hehe."


"Oh gitu, gak baik loh melamun."


"Iya Sil, tadi cuma bengong bentar. Oh iya Sil aku bisa minta bantuan kamu gak?" ujar Melo.


"Aku siap membantu nyonya Bos!." jawab Sila semangat.


Melo mendekatkan diri pada Sila. ia pun bicara dengan sangat pelan.


"Gini, aku cuma ingin kau awasi gerak gerik Hans. Akhir-akhir ini sikapnya berubah. tolong awasi, dan laporkan hasilnya ke whatsapp." bisik Melo.


"Hah? apakah Hans mencurigakan"? tanya Sila bingung.


"Benar. aku gak mau dia ada masalah. tolong ya Sil. aku pergi dulu sebelum di lihat Hans." Melo langsung beranjak pergi.


*Yes.!! tugas ini yang kutunggu. dengan begitu, aku bisa ngomporin Nyonya bos. aku akan ambil kesempatan ini untuk menjatuhkan Wilona. hehe.* Sila tersemyum jahat.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2