Dua Pilihan

Dua Pilihan
Pencarian Bukti


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Evan belum juga sadarkan diri, dokter sudah melakukan beberapa operasi kecil pada tubuhnya.


Fisik luarnya sudah membaik, namun ternyata ada masalah dari dalam kepalanya, itu yang menyebabkan dia belum sadar.


Wilona dan keluarga Evan sudah banyak meneteskam air mata melihat Evan yang tak kunjung bergerak itu.


setiap hari Wilo menemaninya di rumah sakit. ia selalu berdoa supaya pacarnya itu segera sadar.


*Van, hari ini aku akan mengungkap kejahatan yang sudah mengorbankan kita. dan aku gak akan mengampuni pelakunya. kau tenang saja, aku akan membalaskan rasa sakitmu. hikss... cepatlah sadar, aku rindu padamu.*


Air mata Wilo mengalir di tangan Evan yang sedang ia genggam erat.


Selama seminggu ini, ia dan Hans kesana kemari untuk mencari bukti kuat mengenai kejadian yang menimpa mereka.


Hari ini, Wilo dan Hans akan mengungkap itu semua.


"Wil, ayo kita pergi sekarang. waktu kita gak banyak." ujar Hans menghampirinya.


"Baiklah Hans. ayo kita pergi." Wilo mencium kening Evan lalu menyelimuti tubuhnya.


Mereka berdua pergi menuju kantor polisi untuk di ajak ke kantor perusahaan Hans.


Tiga orang polisi pun segera pergi ke kantor Hans.


setibanya di sana, karyawan kantor kaget sekaligus takut melihat bos mereka datang bersama polisi.


"Ada apa ini? kok ada polisi?" gumam Sila heran. ia pun menyambangi Wilona untuk bertanya.


"Eh, ada apa ini? kenapa polisi itu kemari?" ketus Sila.


"Mau menangkap koruptor." sahut Wilo cuek, lalu pergi dari hadapan Sila.


"Hah? siapa yang sudah korupsi? wah, bakal seru nih." gerutu Sila tersenyum.


Hans mengajak polisi itu ke ruangan yang kedap suara, supaya tak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Wilo. kunci pintunya dengan pasword." printah Hans.


"Siap bos!" sahut Wilo sambil mengunci pintu dengan cepat.


"Silahkan duduk pak. Aku akan memperlihatkan semua bukti yang telah kami cari selama satu minggu ini. kalian bisa lihat dulu video ini, supaya aku dan asistenku bisa menjelaskannya secara rinci."


Hans menunjukkan beberapa video beserta kertas catatan bukti itu pada ketiga polisi tersebut. Wilona pun mulai menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.


Satu jam kemudian.


"Sila, di panggil bos ke ruangannya. katanya mau di kasih bonus." ujar Wilo saat menghampiri meja kerja Sila.


"What! serius? oh iya ya, ini kan akhir bulan. Ya udah aku ke sana sekarang." dengan semangat Sila langsung bergegas menuju ruangan Hans.


"Kau mau kemana? ruangannya bukan itu, tapi di ruangan kedap suara. ayo ikut aku." pungkas Wilo yang berjalan mendahuluinya.


Saat masuk ruangan, wajahnya bingung karna masih ada polisi di sana. sementara Wilo langsung mengunci pintu.


Wilo bertepuk tangan setelah Sila masuk ke ruangan itu.


"Ternyata singa juga bisa kena jebak ya.!" ujar Wilo tersenyum menatap Sila.

__ADS_1


"Hah? maksudmu apa Wil?


bos, ada apa menyuruhku kemari?" Sila nampak kebingungan.


Dengan emosi dan tatapan tajam, Wilo mencekal tangan Sila dengan kuat.


"Tak kusangka, ternyata kau wanita berhati ibl*s!! Kau sudah membunuh anak Melodi!! dan kau juga hampir saja membunuh Evan!! apa kau sudah gila.!!"


Wilo berteriak kencang sembari menangis dengan emosi yang meluap.


"Ehh apa ini? kau bicara apa Wil? aku gak ngerti." Sila tersenyum paksa dan mencoba mengecoh mereka.


"Maaf semuanya. aku benar-benar gak ngerti. tolong lepaskan tanganku. aku mau lanjut kerja."


Sila melepaskan tangannya dari cengkaman Wilona. namun Wilo menarik kembali tangannya lalu menampar wajahnya.


Paaakkkkk!!!


Bekas telapak tangan Wilo menempel jelas di pipi Sila.


"Akhhh.. apa-apaan ini! kenapa kau menamparku!" tegas Sila sembari menggosok pipinya.


"Sakit?? apa sakit hah!!" Wilo menjambak rambut Sila dengan kencang, lalu mendorongnya hingga Sila tersungkur ke lantai.


"Mohon maaf nona. biar kami yang menanganinya langsung. di larang ada kekerasan." ujar polisi yang mencoba melerai.


"Kalian bertiga jangan ikut campur. biarkan Wilona melakukan yang ia mau. karna ini bukan kantor polisi.!!" tegas Hans.


polisi itu pun hanya bisa menonton aksi mereka.


"Wilona! apa kau sudah gila.!.apa yang kau lakukan padaku!" teriak Sila.


"Dengarkan ini!! apa kau menyukai Hans?!


waktu itu kau sengaja menaruh minyak hingga aku terjatuh menimpa Hans.


Lalu kau menghasut Melodi supaya dia membenciku?


kemudian kau memberi obat pada minuman Hans, lalu kau membawanya tidur bersama di hotel xx. itu juga kau menuduhku!!


Kau juga yang menyuruh orang untuk merusak rem mobil Evan hingga kami mengalami kecelakaan, dan Evan pun masih dalam keadaan koma.


nyawanya hampir saja hilang. dan itu semua karna kamu!! kau melakukan ini supaya aku dan Evan tidak menemukan bukti.


Dasar kau wanita iblis..!!! kau gak punya hati.. mati saja kau!! mati saja!!!


Apa kau gak tau betapa menderitanya Melodi saat dia kehilangan calon bayinya hah?!! kau pantas mati Sila..!!!"


Wilo memukuli dan menampar wajah Sila seperti orang sedang kesurupan.


ia juga menjambak rambutnya dan memijak tangan Sila hingga ia tak berkutik.


"Wilo sudah cukup. tenangkan dirimu." Hans menghampiri Wilo dan membantunya berdiri.


sementara Sila masih duduk di lantai dengan kondisi wajah yang babak belur, dan bibirnya berdarah.


"Hans.. biarkan aku menghajarnya!! aku masih ingin menyakitinya. aku ingin membunuhnya!! biar dia tau rasa!!" teriak Wilona dalam tangisan.


Hans langsung mendekap Wilo dengan kuat.

__ADS_1


"Wilo!! tenangkan dirimu! redakan dulu emosimu. jika dia kau bunuh, maka kau yang akan di penjara. tolong tenanglah."


Hans terus mendekap Wilo yang masih saja berontak ingin melepaskan diri.


"Gak!! aku masih ingin membalaskan dendam orang yang sudah ia buat celaka. lepaskan aku Hans..!!!" Wilo memukuli tubuh Hans cukup kencang. namun Hans tetap menahannya.


Melihat mereka tengah sibuk. dan polisi pun hanya fokus pada Wilo dan hans. Sila pun mencoba untuk bangkit untuk melarikan diri.


Tapi sayangnya, Sila tidak bisa membuka pintu ruangan itu.


*Sial, pakai pinger print dan pasword!*


"Pak polisi, cepat borgol dia.!!" tegas Hans menunjuk pada Sila.


"Jangan pak. tolong.. jangan bawa aku!. ini semua bukan salahku. tapi salah Vino. dia lah yang merencanakan semua ini!!"


Sila terus saja berontak, meski kedua tangannya sudah terkunci dengan borgol.


"Diam!! jangan berikan alasan apapun lagi! semua bukti sudah jelas! kamu masih saja menuduh orang lain.!! ayo ikut kami ke kantor polisi!!"


"Gak!! aku gak mau!! bos Hans, Wilona. kumohon bantu aku. aku janji akan mengabdi pada kalian seumur hidupku. kumohon."


Sila menangis sambil berlutut. namun Hans tak menghiraukannya.


"Pak, segera bawa dia, dan penjarakan sesuai hukum yang berlaku.!" tegas Hans.


"Baik tuan. kami permisi."


ketiga polisi itu menyeret Sila dengan paksa, karna ia tak mau berjalan.


Ia menjerit sambil menangis selama berjalan keluar kantor, semua karyawan pun heran melihat kejadian itu.


"Itu Sila kan? kenapa dia di seret polisi?


"Iya, mungkin dia korupsi."


ujar mereka saling berbisik.


Sementara itu, Wilo dan Hans masih berdiam di ruangannya dan Hans masih mendekap Wilo.


"Wil, apa kau sudah tenang? sekarang kita gak perlu cemas lagi soal kejahatan Sila. Semoga dia mendapatkan balasan yang setimpal atau di berikan hidayah oleh yang kuasa."


Wilo hanya diam, sembari mengatur nafas akibat menangis.


"Ayo kita ke ruanganku. kau bisa tidur di sana."


"Aku harus ke rumah sakit. aku mau nungguin Evan sadar" ujarnya terbata-bata.


"Nanti sore saja. baiknya kau tenangkan dulu amarahmu. kalo kamu langsung kesana, kamu pasti akan menangis lagi. lebih baik kamu tidur dulu, mata kamu sudah bengkak."


Hans menggandeng tangan Wilona, lalu mereka kembali ke ruangan Hans.


*Kasihan sekali Wilo, dia masih dalam keadaan sakit. namun seminggu ini tak pernah istirahat menemaniku untuk mencari bukti demi Evan dan Melodi. dia selalu mengutamakan kepentingan orang lain dari lada dirinya sendiri.*


Hans nampak cemas saat melihat Wilo yang berbaring di sofa dengan wajah yang kusam dan lesu.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2