Dua Pilihan

Dua Pilihan
Keinginan mengungkapkan


__ADS_3

Pagi hari.


"Hans, aku dan Wilo hari ini di rumah aja, kita mau merawat mama." ujar Melo sambil menyiapkan pakaian kerja Hans.


"Iya sayang, semoga hati mama bisa luluh." timpalnya sambil mengecup kening Melo.


Setelah Hans pergi, Melo bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk mama mertuanya.


"Mel, mau nyiapin makanan untuk tante ya?" sapa Wilo dengan senyuman.


"Iya Wil, ayo kita ke sana."


Mereka berdua menuju kamar mama Hans. namun saat di depan kamar, Melo menghentikan langkahnya.


"Loh, kenapa Mel?" ujar Wilo heran.


"Wil, aku gak yakin mama mau makan kalo aku yang menyuapinya. Yang ada, dia malah marah padaku. kamu aja ya yang masuk." Melo menyerahkan makanan itu pada Wilo.


"Ya udah, ini hanya awal. nanti kamu sendiri yang maju. Jangan menyerah!" timpal Wilo memberi semangat pada Melo.


Tok... tok..


"Tante, sarapan pagi dulu." Wilo langsung masuk ke kamar.


"Wilo? wah.. pagi-pagi sudah nganterin makanan, makasih ya. kamu memang perhatian." ujar mama Hans dengan senyuman.


"Iya tante, ayo makan."


Wilo menyuapi mama Hans dengan santai, hingga makanan itu habis.


"Wah, tante lahap sekali. sukurlah.


Gimana makanannya, enak gak tan?"


"Ya, enak sekali Wil. ini kamu yang masak atau pembantu rumah tangga." timpal mama Hans tersenyum.


"Bukan dua-duanya tan. ini Melodi yang masakin.


sukurlah tante suka."


"Dih, kalo aku tau, aku gak akan mau makan masakan dia." ketusnya cuek.


"Tante gak boleh gitu, karna mulai saat ini, Melodi akan masakain tante tiap hari, dan mengurus tante sampai sembuh."


"Gak, aku gak mau. Aku gak akan makan."


"Tan, cobalah tante buka hati sedikit saja dan hilangkan prasangka buruk pada Melodi. dia itu sangat baik dan lembut. jangan hanya karna satu kekurangan tapi membencinya berlebihan." jelas Wilo dengan berani.


mama Hans hanya diam.


"Te, ini obatnya. aku keluar dulu ya. istirahat ya tante, biar cepat sembuh." Wilo langsung meninggalkan kamar itu


Sedangkan Melo masih mengintai mereka dari balik pintu.


Saat Wilo keluar kamar, Melo langsung meraih tangannya.


"Wil, makasih banyak atas yang kau lakukan untukku, harusnya kau tidak perlu mengatakan itu."

__ADS_1


"Mel, aku tau perasaanmu, dan yang kulakukan bukan apa-apa, selebihnya kau berjuang sendiri. Aku yakin kau pasti bisa. Aku akan membantumu dari belakang"


_


Melo merasa dapat kekuatan dan semangat atas bantuan Wilona. Ia beriskeras untuk meluluhkan hati mertuanya itu.


Setiap hari, Wilona selalu memuji Melodi di depan mama Hans, supaya ia berfikir bahwa Melo bukanlah wanita biasa.


Melodi meninggalkan pekerjaannya demi mengurus sang mertua. Namun Wilo menggantikannya menjaga butik.


Satu minggu lebih waktu berlalu, kini sikap mama Hans lebih lembut di banding sebelumnya terhadap Melodi.


Tentu saja ada jasa Wilona di balik itu semua.


Sekarang mama Hans baru menyadari bahwa sikap Melodi padanya selama ini benar-benar tulus.


Karna ia pernah melihat Melo tersiram air panas pada tangannya sewaktu ia masak, namun Melo tak menghiraukan itu.


Ia juga pernah melihat Melo ketiduran di kursi akibat kelelahan. Itu membuat hati mama Hans mulai terbuka, namun ia belum mengakuinya.


Esok hari, mama Hans berpamitan untuk pulang ke rumahnya karna ia sudah merasa sehat.


"Hans, Melo, Wilo. Mama pulang dulu, kalian jangan sungkan-sungkan main ke rumah ya. Mama selalu ada di rumah. Kamu juga ya Wil."


"Iya tante. Aku usahain kalo gak sibuk. Jaga kesehatan ya tan." timpal Wilo sembari memeluk mama Hans.


"Insya allah hari minggu aku dan Hans kesana ma. Mama sehat-sehat ya." ujar Melo yang turut merangkul mertuanya itu.


"Oke, mama tunggu. Mama pergi dulu ya."


Melo dan Wilo saling tatap dan saling tersenyum setelah Hans dan mamanya pergi.


Mereka berdua saling rangkul karna merasa berhasil sudah menaklukan hati dingin mama Hans.


"Wil, ini semua berkat kamu. Sekarang mama sudah baik padaku setelah 9 tahun ini." Melo menggenggam tangan Wilo dengan haru.


"Ini juga berkat kerja kerasmu Mel, ada hikmahnya tante tinggal disini selama dua minggu ini. Aku senang melihatmu bahagia." sahut Wilo turut tersenyum.


Kini perasaan Melo sangat lega setelah yang ia inginkan terwujud. Karna perhatian dari mertua sangat penting untuknya.


_


Esoknya


Wilo bekerja seperti biasa di kantor Hans.


Hari ini ia berniat untuk memberitahu Hans bahwa ingatannya sudah kembali beberapa waktu lalu.


Drrtt....


Telpon dari Evan di layar ponsel Wilo.


"Halo sweety, selamat siang."sapa Evan dengan semangat.


"Van, ini belum waktu istirahat. Aku masih kerja, ada perlu kah?"


"Gak sih. Aku cuma mau tanya soal ucapanmu tadi pagi. Apa kau sudah memberi tau Hans?"

__ADS_1


"Ya, rencananya makan siang ini aku mau memberitaunya.


Tapi aku takut jika dia marah kalo selama ini aku hanya pura-pura lupa ingatan. Aku juga takut kalo Melo turut membenciku."


"Wil, niat kamu itu baik, mereka gak akan membencimu kok. Yakinlah. Nanti kubantu bicara."


"Hm,, tapi aku gak yakin Van.


Ya sudah telpon lagi nanti ya. Aku masih banyak kerjaan. Dah.."


Setelah menutup telpon, Wilo tertunduk ragu dengan keputusannya.


Tidak ia sadari, bahwa seseorang sudah merekam percakapannya.


_


Saat makan siang, Wilo sengaja mengajaknya berdua saja di kantin vip, karna ia mau menyampaikan yang sebenarnya.


"Hans, ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Aku sudah tau." ketus Hans singkat dengan wajah datar.


"Hah? maksudmu?"tanya Wilo heran.


"Jangan mengganggu selera makanku. Kita bahas itu di rumah nanti."


"hm.. baiklah. maafkan aku." Wilo merunduk diam.


*Kenapa aku jadi gugup. apa benar Hans sudah tau? tapi siapa yang memberitahunya? gak mungkin Evan kan? *


perasaan Wilo sedikit takut, namun ia harus terima apapun yang mereka katakan padanya.


_


Sore hari, Hans tidak mengizinkan Wilo pulang di antar oleh Evan. karna Wilo harus pulang bersamanya.


Setibanya di rumah, Wilo sangat kaget karna di rumah Hans ada orang tuanya dan orang tua Hans.


"I..ini.. ada apa??"ujar Wilo heran.


"Wil, kamu harus pulang ke rumah hari ini." timpal mamanya dengan wajah datar.


"Ma, pa. jelasin dulu ada apa ini? apa kalian hanya menjemputku? atau ada masalah lain?" tutur Wilo masih bingung.


Melodi, Hans dan orang tua mereka hanya tertunduk diam tanpa kata.


"Kalian kenapa sih? ada apa ini sebenarnya? aku gak bisa baca fikiran kalian.


Oke, aku pulang hari ini. karna memang ini bukan rumahku. dan memang keinginanku untuk pergi dari sini."


Wilo mulai terbawa suasana, ia pun menangis karna kesal, emosi dan bingung dengan suasana ini.


•••


BERSAMBUN


Like. komen. vote🥰

__ADS_1


__ADS_2