
Tiga hari kemudian..
Mereka berempat sedang berada di bandara, hari ini Melodi dan Evan kembali ke tanah air.
Evan memeluk erat tubuh Wilo karna hendak berpisah cukup lama.
"Sayang, jaga dirimu selama jauh dariku ya. Aku pasti sangat merindukanmu. Aku akan menjemputmu jika hendak pulang nanti." ujar Evan sembari mengusap kepala Wilona.
"Doakan saja kerjaanku dan Hans di sini cepat selesai. supaya kami cepat pulang. aku juga pasti merindukanmu." Wilo menatap Evan dengan senyuman.
Hans dan Melodi juga tengah berpamitan untuk berpisah.
"Hans, kau tau? ini pertama kalinya kita berpisah cukup lama. aku merasa sangat keberatan. tapi demi pekerjaanmu, aku harus bisa berusaha sendirian."
Melo menatap Hans seakan hendak menangis.
Hans langsung memeluknya erat. "Aku gak lama kok, kamu jaga kesehatan kamu ya sayang. jangan lupa hubungi aku setiap hari. hati-hati di jalan. aku menyayangimu."
Hans cukup lama memeluk dan mencium kening Melodi. sedangkan Melo berusaha menahan air matanya.
"Ehem.. Mel, ayo kita naik pesawat sekarang." Evan menghentikan percakapan mereka yang haru itu.
Pesawat pun terbang tinggi. Hans dan Wilona pergi dari bandara dengan hati yang merasa kesepian.
Malam hari.
Saat dalam kamarnya, Wilo melihat sebuah kotak kecil di atas ranjangnya.
"Apa ini?" Selembar kertas menempel di atas kotak tersebut.
Sayang, ini adalah obat yang kau butuhkan. semoga cukup sampai nanti kau pulang dari jepang. jaga kesehatanmu ya, jangan sampai sakit. i love u
'Dari: orang yang menyayangimu.'
Wilo tersenyum haru membaca surat dari kekasihnya itu.
"Evan apaan sih. dia segitu telitinya sampai memberiku obat sebanyak ini. makasih banyak Van, aku bahagia memilikimu"
Wilo menutup kembali kotak obat tersebut dan menyimpannya di dalam lemari.
Tok.. tok..!!
"Wil, ayo kita makan malam." Hans memanggilnya dari luar.
"Oke, tunggu bentar."
Tak lama kemudian, Wilona keluar dengan pakaian seadanya karna ia tak sempat mencari baju tebal.
"Hans, ayo ke bawah." ujarnya sambil mengunci pintu.
"Apa kau gak kedinginan dengan pakaian kayak gitu? menurut info, malam ini akan turun salju. di kamar kamu ada baju dan selimut tebal?" tanya Hans.
Wilo menjawabnya dengan ragu. "Em.. kayaknya ada, hehe. ya sudah nanti sajalah, ayo kita makan dulu, aku sudah lapar soalnya."
"Gak bisa, ayo ikut aku dulu." Hans menarik tangan Wilona dan membawanya ke kamarnya.
__ADS_1
"Ini, ada baju Melo yang tertinggal, kau pakai saja. besok aku akan mengajakmu ke mall." Hans memaksa Wilo mengenakan baju istrinya.
"Eh, apa gak masalah nih aku pake bajunya Melo?"
"Gak apa-apa. kau malah mirip dengannya. ya sudah ayo kita makan di resto."
Wilo mengiringi Hans keluar kamarnya.
Hans memilih tempat di luar ruangan, supaya bisa makan sambil melihat langit malam kota tokyo.
* Dia sama seperti Evan, tak melewatkan momen apapun, bahkan saat makan.* batin Wilona
Makanan telah di hidangkan
"Wil, ayo makan. Oh iya selama di sini, semua kebutuhanmu aku yang tanggung."
"Hah? gak perlu Hans, untuk makan dan minum biar aku bayar sendiri saja." timpal Wilo sambil mengaduk makanan.
"Gak bisa. pokoknya aku yang bayarin semua." tegas Hans tak mau mengalah.
"Haiss.. ya udah deh, serah.
btw, ini makannya gimana? aku gak ngerti" Wilo kebingungan dengan makanan di hadapannya yang selama ini belum pernah ia lihat.
"Astaga, sini aku ajarin." Hans mencontohkan bagaimana cara memotong makanan tersebut.
"Owwhh. oke, makasih Hans. hehe"
"Iya. oh iya Wil, tadi siang aku sudah mengurus surat-surat pembelian apartemen. Jadi, besok pagi kita pindah ke apartemen itu. malam ini kamu kemasi barang-barang kamu ya."
"Apartemen?" tanya Wilo untuk meyakinkannya
"Iya, tapi aku cuma beli satu doang. jadi kita tinggal bersama. tapi ada tiga kamar kok. Aku beli itu supaya kita gak perlu nginap di hotel jika lagi mengurus kerjaan di sini." jelas Hans.
Wilo makin kaget karna meteka tinggal bersama.
"Tinggal berdua? maaf Hans, aku gak bisa. gimana tanggapan Evan kalo dia tau. aku lebih baik menginap di hotel." Wilo langsung menolak.
Hans tersenyum. "Kamu tenang saja. aku sudah memberitahu Evan dan Melodi tentang ini. jangan khawatir."
"Owhh gitu? fiuh.. aku lega. aku takut mereka salah faham."
"Wil, aku mau tanya. sebenarnya waktu itu kamu sakit apa?" tatap Hans serius.
"Hm.. aku juga gak tau Hans, yang tau soal penyakitku hanya Evan, dia sama sekali tidak memberitahuku. tapi aku yakin, aku baik-baik saja." jelas Wilo singkat.
"Sukurlah. Evan memang yang terbaik untukmu. Aku yakin, kau akan bahagia bersamanya." Hans tersenyum lega.
"Makasih Hans.
Aku udah nih makannya. ayo kita balik ke kamar. aku agak kedinginan di sini." Wilo menggosok-gosok bahunya yang di tiup angin malam.
"Ya udah, ayo ku antar."
Saat di depan kamar Wilo. Hans menunggunya membuka pintu, memastikannya masuk ke kamar.
__ADS_1
"Selamat tidur. mimpi yang indah ya. masuklah." Hans mengacak rambut Wilo dengan senyuman manis.
"Oke, good night" Wilo pun masuk dan langsung mengunci pintu.
Wilo masih bersandar di pintu. "Hans tolonglah, jangan perlakukan aku kayak dulu lagi. sekarang aku sudah punya Evan. aku takut masa lalu akan terulang. aku gak mau itu terjadi." gumam Wilo
Ponsel Wilo berdering, mendapatkan panggilan video dari Evan.
Mereka pun berbincang sampai Wilo tertidur. tak lupa Evan selalu mengingatkannya untuk minum obat dan memakai baju dan selimut yang tebal.
Esok pagi. Hans dan Wilo sudah berada di apartemen yang baru di beli Hans.
"Nah, inilah rumah yang akan kita tinggali selama di sini. Ayo masuk." Hans hendak membuka pintu, namun seseorang menyapa mereka.
"Halo, apa kalian baru pindah?" ujar Pria tampan itu menggunakan bahasa inggris.
"Iya, kami baru saja pindah. apa kau juga?" timpal Hans dengan ramah.
"Aku di sini sudah seminggu yang lalu. senang bisa punya tetangga. salam kenal ya, namaku Andres, aku dari new york."
pria itu mengulurkan tangan mengajak Hans dan Wilo bersalaman.
"Salam kenal juga Andres, namaku Hans dan dia Wilona. kami dari indonesia."
"Wah.. aku tau negeri itu..oh iya. apa kalian sepasang suami istri?" tanya Andres.
Hans dan Wilo saling pandang, bingung harus menjawab apa.
"Em.. iya. kita suami istri. baru menikah tahun lalu." Hans merangkul bahu Wilona dan berpura-pura menjadi suaminya.
"Kalian sangat cocok. istri kamu sangat cantik. semoga langgeng ya.
Baiklah, aku berangkat kerja dulu. sampai jumpa."
Wilo langsung menyingkirkan tangan Hans setelah Andres pergi. mereka pun masuk ke dalam apartemen.
"Hans. kok tadi kamu bilang gitu sih?" Wilo sedikit kesal.
"Wil, masa iya aku bilang kalo kita cuma partner kerja tapi tinggal satu atap. pasti dia mikir yang enggak-enggak kan?." jelas Hans
"Iya ya. kau benar. maafkan aku" sahut Wilo tertunduk.
"Sudahlah, jangan di fikirkan. walaupun kita satu atap. tapi kita beda kamar juga. Oh iya, kamu pilih aja mau kamar yang mana."
"Aku kamar itu saja." Wilo menunjuk pada kamar depan.
"Ya sudah, aku kamar yang di samping nya. Ayo kita beres-beres. "
mereka bergegas menuju kamar masing-masing untuk menyusun pakaian.
Cuaca makin dingin. salju makin tebal. Wilo pun tak bisa menahan kantuknya.
dengan cepat ia menyusun bajunya kemudian ia tidur pulas.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG