
Satu minggu kemudian, di rumah Wilona.
"Ma, kenapa kak Wilo gak pulang-pulang sih, udah seminggu ini." ujar Dona, adiknya Wilo itu.
"Biarin lah, dia kan menginap di rumah temannya. Lagian ada Evan yang menjaganya, kita gak perlu khawatir." sahut mamanya.
Mamanya berusaha membuat adik Wilo itu tidak cemas, walaupun dalam hatinya ia juga merasa khawatir.
~
-Rumah Sakit-
"Van, hari ini jadi kan aku pulang? Aku sudah bosan di sini, lagian aku sudah sehat kok" ujar Wilona
"Iya, sebentar lagi kamu pulang. Sepertinya kamu butuh refreshing untuk menghilangkan kebosananmu." timpal Evan.
"Aku gak mau refreshing, apa lagi sendirian. Aku mau langsung kerja aja." timpal Wilo sembari turun dari tempat tidurnya.
"Baiklah. Apapun keputusanmu, aku akan mendukung." Evan tersenyum sambil mengusap kepala Wilo.
Hari itu, Wilona kembali lagi ke rumahnya. Walaupun kondisi tubuhnya sudah sehat, namun badannya terlihat lebih kurus.
Saat orang tuanya bertanya, ia cuma menjawab bahwa ia sedang melakukan diet ketat.
~
Esok pagi, ia berangkat kerja bersama Evan yang selalu siap mengantarnya. Semenjak ia mendekati Wilona, Evan tidak lagi menggunakan jasa supir pribadi.
Setiba di parkiran kantor perusahaan Hans, mereka turun dari mobil sambil berbincang sejenak.
"Kau bawa obatmu kan? Aku akan menelponmu nanti untuk mengingatkanmu minum obat. Jangan makan sembarangan, jangan terlalu capek. Pokoknya jaga kesehatan kamu." tutur Evan panjang lebar.
"Kamu udah kayak emak-emak aja. Cerewet banget." timpal Wilo agak cuek.
"ini demi kesehatan kamu. Kau selalu membuatku cemas. Ya sudah masuklah, aku akan pergi jika kau sudah di dalam kantor." ujarnya tersenyum sembari menepuk lembut kepala Wilo.
"Iya,, kamu hati-hati ya. Aku masuk dulu. Dahh.." Wilo tersenyum menatap Evan, lalu ia meninggalakannya masuk ke dalam kantor.
Di sisi lain, Hans menyaksikan itu semua dari dalam mobilnya bersama Melodi.
"Sayang, aku senang melihat Wilo tersenyum bersama Evan. Semoga mereka segera pacaran. Evan pria yang baik dan perhatian terhadap Wilo. Dia juga sangat menyayangi Wilo." ujar Hans pada istrinya itu.
"Aku juga begitu Hans, semoga saja dia bisa melupakanmu. Aku yakin Wilo gak akan merebutmu dariku. Tapi aku tetap cemas dengan cintanya kepadamu." timpal Melodi tertunduk.
Hans merangkul Melo dan mencium keningnya. "Kau harus tau, walaupun dia mencintaiku, bahkan dia menginginkanku. Tapi hatiku tidak akan terbuka untuk wanita manapun selain kamu. Percayalah padaku."
"Makasih banyak Hans. Aku takut kehilanganmu. Aku juga takut di duakan." Melo memeluk Hans dengan haru.
"Jangan mikir macem-macem. Ya sudah, ayo kita keluar." Hans membukakan pintu mobil untuk istrinya itu, kemudian mereka masuk ke kantor bersamaan.
~
Wilo membersihkan meja kerjanya yang telah ia tinggalkan selama seminggu lebih. Ia juga menyalakan laptopnya dan siap untuk menerima tugas dari atasan.
__ADS_1
"Hm.. Dia sudah masuk kerja? Bagus!" gumam Silsila yang melihatnya dari kejauhan.
Hans dan Melo pun datang melewati meja kerja Wilo.
"Selamat pagi Wil, kamu sudah sehat?" sapa Melodi dengan senyuman.
"Selamat pagi juga. Ya aku sudah membaik." sahut Wilo membalas dengan senyuman.
"Sukurlah, selamat bekerja ya. Jangan sakit lagi." Melo dan Hans meninggalkannya setelah menyapa sebentar.
*Hans masih bersikap dingin. Baiknya aku benar-benar harus melupakannya dengan serius.*
Wilo membuka Ponselnya, ia menghapus semua foto-foto Hans yang ada di galerynya. "fiuhh.. Lega"
Wilo bertekad kuat bahwa ia tak ingin lagi memikirkan orang yang tidak akan mungkin menjadi miliknya.
Karna semakin mencintai, hatinya semakin sakit.
Semua orang di kantor itu pun sibuk beraktifitas menjalankan tugas masing-masing. Namun tidak dengan Silsila. Ia berfikir keras mencari cara untuk membuat Wilona di depak dari perusahaan tersebut.
*Akkhh.. Gimana caranya sih.. Nanti aja deh pikirkan lagi, sekarang kerja dulu.* Sila kesal sendiri sambil meremuk kertas yang ada di depannya.
Waktu istirahat makan diang tiba. Saat itu Wilona pergi ke toilet.
Getaran ponsel Wilo berbunyi, ia mendapat panggilan dari Evan. Ia pun menjawabnya sambil berjalan keluar toilet.
Di sisi lain. Hans juga sedang berjalan sambil membaca dokumen setelah ia kembali dari ruangan direktur.
Tanpa ada yang melihat, Sila menumpahkan minyak sayur di jalan dekat ruangan Hans, karna Wilona melalui jalan itu saat hendak menuju meja kerjanya.
Wilo dan Hans sama-sama tak memperhatikan jalan, karna Wilo tengah sibuk ngobrol dengan Evan di dalam telponnya.
Braakkkk......
Wilo tak kuasa menahan tubuhnya akibat terpeleset karna jalan yang licin. Ia sempat berpegangan dengan Hans, namun Hans juga ikut terjatuh. Hingga akhirnya Wilo menindihi tubuh Hans di bawahnya.
*Sempurna!!* Sila menyeringai bangga sambil mengintai mereka dari kejauhan. Kemudian Sila langsung menelpon Melodi untuk menyuruhnya keluar dari ruangan Hans.
Saat Melo membuka pintu, betapa kagetnya dia melihat Hans dan Wilo dengan posisi yang begitu intim.
"Wilona.!! Hans..!! Apa yang kalian lakukan?" teriak Melo kesal.
Wilo dan Hans pun langsung berdiri. Sepertinya kaki Wilona terkilir. Ia pun mencopot sepatunya.
"Maaf sayang, tadi Wilo terpeleset, kau lihat disana, ada minyak di jalan yang membuatnya licin" jelas Hans
Sementara Wilo masih duduk sambil memijat kakinya yang sakit. "Maafkan aku Mel, aku gak sengaja, dan gak ada maksud apapun. Sekali lagi aku minta maaf." tuturnya tertunduk.
"Wil, kau bisa berdiri?" tanya Hans.
"Sepertinya bisa." Wilo mencoba berdiri dengan bertumpu pada satu kaki.
"Akkhh.. Kaki kananku sakit sekali." gumam Wilo sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Hans melihat kaki Wilo yang sudah lebam dan sedikit bengkak. "Sayang, kamu bantu Wilo duduk di kursi itu" perintahnya pada Melodi.
Melodi pun menopang Wilo untuk duduk di kursi. Kemudian Hans mencoba memijat kakinya dengan berbekal sedikit pengalaman.
Kraakkk....
Suara kaki Wilo saat Hans menariknya dengan teknik pijatan yang ia bisa.
"Akkhhh....." gerang Wilo kesakitan.
"Sudah selesai. Apa maih sakit?" tanya Hans menatap Wilo.
Wilo mencoba menggerakkan kakinya. "Ehh,, udah gak sakit lagi.. Makasih banyak bos." ucapnya riang.
Melodi hanya diam melihat perlakuan suaminya terhadap wanita lain. Ia merasa sangat cemburu.
*Kali ini aku maklumi kamu Wil, karna di sana memang ada minyak, dan sepertinya kau juga gak bohong, karna kakimu beneran lebam dan bengkak.*
"Maaf permisi, Wil apa ini ponsel kamu? Tadi aku menemukannya disana." Sila datang membawakan ponsel Wilona yang terjatuh. Dan pura-pura tidak tau dengan kejadian itu.
"Ah iya. Makasih Sil."
"Kalau kakimu sudah sembuh, kembalilah ke meja kerjamu. Aku dan Melo mau ke kantin dulu. Ayo sayang." Hans menggandeng tangan istrinya itu keluar dari kantor.
Setelah mereka pergi, Wilo menatap tajam mata Sila.
"Ada apa kau menatapku seperti itu?" ketus Sila.
"Ini semua kau yang melakukannya kan?!" tegas Wilo.
"Hah? Kok tau? Wahh kamu hebat Wil.!! Ya memang aku yang melakukannya, supaya Nyonya bos percaya bahwa kau akan merebut bos Hans darinya. Itu belum seberapa, akan ada kejutan lainnya nanti. Hehe. Bye Wilona.."
Sila pergi dengan tersenyum puas.
"Kurang ajar! Kau pikir aku akan diam saja. Dasar bedeb*h!!" Wilo menggepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi dengan geram.
Tidak lama kemudian, Wilo mendapatkan notif pesan dari Sila. Saat ia membukanya, ternyata itu foto dirinya bersama Hans saat sedang terjatuh tadi.
Foto itu juga langsung di sebarkan Sila ke sosial media miliknya. Hingga menjadi viral di kalangan perusahaan.
Wilo mendapat banyak kecaman dan komentar pedas akibat foto dengan caption ^Pelakor^ itu.
Foto itu pun di lihat oleh Evan, betapa kagetnya ia melihat posisi dalam foto itu dan juga komentar yang sangat tidak enak di baca.
"Ya alllah, ada apa lagi ini. Kenapa sih hidupmu serumit ini Wil." Evan mengusap wajahnya, ia seketika khawatir dengan keadaan Wilona.
Evan mencoba menghubungi Wilo, namun tak ada jawaban. Karna saat itu Wilona sedang menangis di toilet.
•••
BERSAMBUNG
like. komen🙏
__ADS_1