Dua Pilihan

Dua Pilihan
Menyelamatkan Wilona


__ADS_3

Melihat kekasihnya tengah di sergap. Evan pun langsung emosi. namun saat ia hendak menuju mereka, ia melihat masih ada dua penjaga yang berada tak jauh di belakang Vino dan Wilo.


Evan kembali melangkah mundur untuk menyiapkan dua suntikan. kemudian ia maju perlahan dengan mengendap-endap.


Crusss.....


Tangan kiri dan kanan Evan menusukkan jarum suntik itu ke punggung dua orang tersebut.


Braaakkk...


Dua penjaga itu terjatuh seketika.


Mendengar suara itu, Vino pun menoleh ke belakangnya. ia kaget melihat Evan yang sudah berdiri di dekatnya.


Vino makin mempererat cengkaman tangannya terhadap Wilona. ia pun mengambil pisau lipat dan mengarahkannya ke leher Wilo untuk mengancam.


"Wah.. wah.. Ada penyelamat yang sudah datang. hebat kamu bisa menemukan rumahku." Vino menyeringai santai.


Evan melangkah perlahan, dan mencoba tetap tenang.


"Heh, Vino...Vino.. apa kau lupa, sewaktu kita SMA, kamu pernah mengajakku kemari? apa kau juga lupa bahwa aku, kamu, Wilo dan mantan istrimu itu pernah bersahabat baik? lalu di mana Vino yang dulu?"


Evan mencoba mengecoh Vino, supaya dia lengah. karna ia melihat wajah Wilo yang sudah sangat ketakutan.


Vino terdiam sejenak sambil berfikir mengingat masa lalu. Namun ia kembali emosi saat menatap Wilona.


"Gak!! dulu kita memang bersahabat! tapi tidak untuk saat ini. Aku masih sangat mencintai Wilo. jika aku gak bisa dapetin dia, maka lebih baik dia mati, biar adil!!"


Vino makin memperkuat menekan pisau di leher Wilo, hingga Wilo merasa kesakitan, lehernya pun gores dan mengeluarkan sedikit darah.


"Hmm. Vino, jika kau bahagia atas kematianku. maka lakukanlah. Karna aku juga sudah pasrah sejak tadi. Apa kau lupa bahwa aku takut ketinggian? Yaa dari tadi aku sudah gemetar, tapi aku pasrah. jika memang ajalku di tanganmu, lalu aku harus gimana? lakukanlah sesuka hatimu Vin, tapi kau harus ingat, aku tau dengan sifatmu, jika gak ada yang mempengaruhimu, maka kamu gak akan berbuat sejahat ini."


Dengan nada lemas dan air mata berlinang, Wilo menatap Vino dengan pandangan tulus dan jujur.


Vino merasa tersentuh, ia pun melonggarkan pisaunya. ia tertunduk berfikir. *Pengaruh?? apa ada yang mempengaruhiku? apakah itu Sila?*


Braaakkk...


dengan sigap. Evan melempar pisau yang di pegang Vino , kemudian ia langsung meraih tangan Wilo dan membuka tali di tangannya dengan pisau yang ia punya.


Wilo langsung memeluk Evan sambil menangis ketakutan.


"Van.. aku.. aku takut sekali.. hikss.."


"Tenang sayang. ada aku di sini. kamu gak akan kenapa-napa." Evan mengusap air mata Wilo lalu mencium kepalanya. ia juga memberikan baju jaketnya untuk menutupi baju Wilo yang sudah robek.


sementara Vino masih merunduk bingung, bimbang seperti orang kehilangan akal.


Evan menyuruh Wilo untuk diam di belakangnya, sedangkan ia berjalan lebih dekat pada Vino.


"Vin, aku tau kamu orang yang baik, bahkan sangat perhatian pada Wilo. tapi untuk mendapatkan hati seorang wanita, tidak akan berhasil jika menggunakan cara kekerasan apa lagi pelecehan seksual.


Seharusnya kau mengejar cintanya dengan tulus, dan memberikan perhatian lebih banyak lagi supaya hatinya luluh. atau kau bisa juga mengalahkan orang yang dia cintai.

__ADS_1


Aku gak keberatan kok misalnya kamu mau bersaing secara gentlemen denganku. aku malah bersemangat jika ada saingan untuk mendapatkan hati Wilo. fikirkanlah Vin. kita dulu sahabat sangat baik, sudah mengenal satu sama lain lebih dalam.


jangan berbuat hal yang akan menghancurkan dirimu sendiri. percayalah, cinta itu akan tumbuh jika di bumbui dengan kasih sayang yang tulus dan perhatian yang penuh. Kami permisi."


Evan menggendong Wilo dan turun ke bawah meninggalkan Vino yang tengah terdiam tanpa suara. ia hanya merunduk meratapi apa yang sudah ia lakukan.


Vino pun kembali menghadap ke pemandangan lepas di atas rumahnya itu. ia menatap langit yang seakan mengingatkannya pada masa lalu mereka.


Semasa SMA, mereka adalah teman baik. Wilo dan Vino pernah berpacaran selama beberapa tahun, namun semua itu berakhir ketika Vino menghianati Wilo dengan sahabatnya sendiri.


Evanlah penyelamat Wilo, yang selalu ada untuknya dalam kebahagiaan dan kesedihan Wilo. dari dulu hingga saat ini ia masih mencintai Wilo, walaupun mereka pernah berpisah beberapa tahun.


Vino menjatuhkan lututnya kelantai sambil terisak. ia baru sadar bahwa apa yang ia lakukan ini sangat salah. ia menyesal sudah menyakiti Wilo, orang yang sangat ia sayangi.


Ia menatap langit sembari berteriak kencang.


"Aaakkhhhhh!!!! kenapa aku jadi seperti ini!! apa yang membuatku jadi berambisi memilikinya. bahkan aku hampir membunuhnya. kenapa aku bodoh sekali!! aku sudah gila!!


Maafkan aku Wilona..!!! maafkan aku.. aku benar-benar menyesal telah menyakiti kamu. Evan benar, jika aku menginginkan kamu, maka aku siap bersaingan dengan orang-orang yang kamu cintai.


Wilo.. maafkan aku..!! apa tadi kau terluka?.. Aaakkkhhh!!!"


Vino berdiri dan berlari menuju pisau yang tadi sudah terlempar oleh Evan.


Dengan emosi tinggi dan penyesalan yang mendalam, ia tak pikir panjang lagi untuk menyakiti dirinya sendiri seperti orang tak waras.


"Akkhhhhh... apa kau sakit seperti ini??" Vino menyayat wajahnya sendiri dengan pisau tipis tersebut hingga wajahnya penuh luka goresan dengan darah yang bercucuran.


Tak hanya di wajah, ia juga menggores lehernya dan juga tangannya beserta di beberapa bagian tubuhnya untuk membalaskan kesakitan Wilona yang ia perbuat sendiri.


Kedua penjaganya itu pun sadar setelah obat bius dalam tubuhnya telah habis. mereka kaget dan juga takut karna bosnya sudah pingsan dan tubuhnya berlumur darah.


"Bos!! sadar bos!! siapa yang melakukan ini??" ujar salah satu anak buahnya.


"Tunggu, dia bukan di bunuh, tapi sepertinya bos kita memang sengaja melukai dirinya sendiri" timpal yang lain.


Saat mereka mengecek denyut nadi dan detak jantung, ternyata Vino masih hidup. merekapun buru-buru membawa Vino ke rumah sakit.


Di lain sisi. Evan dan Wilo masih berada di dalam mobil. Wilo masih merunduk ketakutan mengingat kejadian yang hampir saja menewaskannya dan merenggut kesuciannya itu.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. semoga Vino bisa berfikir jernih untuk ke depannya. Kita ke rumah sakit dulu ya, leher kamu masih berdarah" Evan tersenyum sembari mengusap rambut Wilo.


Wilo tetap diam merunduk. Evan mencoba menghibur gadis yang sangat ia sayang itu. ia tak tega melihat keadaan Wilo seperti itu.


*Aku ingin sekali bertanya apa yang terjadi padanya, tapi waktunya belum tepat, dia terlihat trauma berat. maafkan aku Wil, aku datang terlambat.*


Evan mengajak Wilo ke rumah sakit yang lebih dekat, supaya ia segera di obati.


Setibanya di rumah sakit, Evan melihat anak buah Vino yang tengah menggotong Vino keluar dari mobil. ia begitu heran melihat wajah dan tubuh Vino yang di penuhi darah. namun ia hanya mengamatinya dari dalam mobil.


*Itu Vino bukan sih? tapi kenapa di di lumuri darah? hmm.. jangan sampai Wilo melihatnya.*


"Sayang, kita cari rumah sakit yang lain saja ya, yang lebih bagus dari ini." tutur Evan tersenyum pada Wilo.

__ADS_1


Evan segera menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit tersebut.


Setelah berobat, mereka pun kembali ke hotel. tak lupa Evan menyempatkan untuk membeli makanan karna sudah siang.


Dalam kamar Wilo. ia masih tetap diam tanpa sepatah katapun. Evan berusaha mengajaknya bicara perlahan.


"Sayang, makan dulu ya, habis ini kamu mandi." Evan hendak menyuapi Wilo namun Wilo menepis makanan itu.


"Aku gak lapar!" tegas Wilo bercampur emosi.


"Ya sudah, sekarang mandi saja dulu, habis itu kita makan di restoran saja ya." Evan tetap tersenyum, karna ia tau apa yang Wilo rasakan.


Entah apa yang ada di pikiran Wilo. ia melepaskan baju jaket Evan yang sedang ia pakai, lalu dengan cepat ia membuka kancing baju tidurnya itu sambil menangis.


Evan kaget bukan kepalang, ia langsung mendekap Wilo supaya Wilo menghentikan aksi intimnya itu.


"Wil, apa yang kau lakukan?!" Evan mendekap erat Wilo sambil mengusap kepalanya dengan rasa khawatir.


Wilo berontak sambil memukuli dada Evan dengan kencang. "Dasar bajing*n!! Bukan manusia!! bedeb*h! aku benci dia... aku BENCI dia!! Van, lihat dadaku, lihat!!"


Wilo memaksa Evan untuk melihat dadanya yang penuh tanda merah akibat kecupan brutal Vino yang sempat ia lakukan sebelum Wilo meloloskan diri dari kamarnya.


"Vino melakukan ini?" Evan menatap mata Wilo yang masih terisak sembari memegang kedua pipinya.


"Siapa lagi kalo bukan bajing*n itu! kau boleh memutuskan hubungan kita, kau boleh membenciku.


aku benci diriku sendiri Van!!.hikss.."


"Katakan, apa dia sudah melebihi batas intim? apa dia sudah menodaimu?" Evan terus menatap mata Wilo.


Wilo menggelengkan kepalanya. "Jika aku gak kabur, itu bisa saja terjadi. tapi aku sudah tidak mencintai diriku Van, aku jijik dengan diriku sendiri."


Evan mengambil handuk, kemudian menutupi tubuh Wilo.


Lalu ia memeluk Wilo kembali. *Dasar kepar*t bajing*n!! jika tadi aku tau ini, aku gak akan biarin kamu begitu saja Vino!! tunggu kau, aku akan mencarimu nanti.* Evan menggepalkan kedua tangannya sambil menggertakan gigi.


Evan kembali menurunkan amarahnya, karna kondisi Wilo lebih penting.


"Sayang, dengerin aku. Aku gak akan pernah ninggalin kamu, apapun yang terjadi padamu. sekalipun kau sudah di nodai oleh kepar*t itu. Tapi sukurlah itu tidak terjadi. Aku akan menjagamu lebih ketat lagi.


Tolong tenangkan diri kamu ya, jangan menangis lagi. aku selalu ada di sisimu. Maafkan aku yang terlambat menolongmu. maafkan aku."


Evan terus mengusap kepala Wilo dan menciumi keningnya.


Wilo masih di pelukan Evan, perlahan tangisnya reda, keadaan batinnya juga mulai tenang. Evan tetap memeluknya sampai Wilo sendiri yang melepaskannya.


Seketika suasana jadi hening, sedangkan Evan masih terus mengelus kepala Wilo. saat ia mengintip wajah Wilo, ternyata matanya sudah terpejam.


Wilo sudah tertidur dalam pelukan Evan. mungkin karna dia terlalu lelah berlari ke sana kemari menyelamatkan diri dari Vino selama beberapa jam.


Ia juga mengantuk karna efek obat yang diberikan dokter padanya dan juga lelah karna banyak menangis hingga ia terlelap dalam pelukan Evan.


Evan pun menggotongnya ketempat tidur. lalu menyelimutinya dan membiarkannya beristirahat.

__ADS_1


•••


BERSAMBUNG


__ADS_2