
Esok hari.
Wilo pulang ke rumah orang tuanya, di bantu oleh Evan.
Sebenarnya, Evan tidak ingin Wilo pulang, ia ingin Wilo tetap berada di rumahnya. Supaya iya bisa bertemu Wilo dengan bebas.
Tapi dia kasihan pada Wilo, jika ia bekerja, Wilo tinggal sendirian, sedangkan Wilo orang yang penakut.
Sebelum itu, Evan menyuruh Wilo membuang semua pakaian yang di beri oleh Hans. ia pun menggantinya yang baru dengan mengajak Wilo belanja di Mall.
Saat mereka tiba di rumah, orang tua Wilo sangat senang menyambut kepulangan anak sulungnya itu, yang selama ini tidak pulang ke rumahnya sendiri.
Orang tua Wilo juga sangat berterimakasih pada Evan, karna Wilo di bekali makanan dan pakaian untuk mereka sumua. Evan pun merasa senang melihat mereka bahagia.
~
Di sisi lain.
Orang tua Hans datang berkunjung kerumahnya.
Ia kaget, karna Wilo sudah tak berada dalam rumah itu lagi. Melodi pun berusaha untuk memberirahunya.
Namun, mama Hans sangat marah, karna telah memperlakukan Wilona dengan cara yang tidak terpuji.
Hans hanya bisa diam, karna ia tidak ingin mamanya tau kalau sebenarnya dia sudah mengetahui Wilona menyukai nya. Itu bisa membuat mama Hans makin menjodohkan mereka.
Mamanya begitu marah, ia memaksa Hans untuk datang ke rumah Wilo dan minta maaf.
~
Malam hari, Hans, orang tuanya dan Melo datang ke rumah Wilona. di sana sudah ada Evan yang sedang ngobrol bersama keluarga Wilo.
"Eh, ada tamu? silahkan masuk." sambut mama Wilo dengan ramah.
"Halo jeng, apa kabar?" ujar mama Hans sambil mendekap mama Wilo.
"Yaa, seperti yang kau lihat jeng. Ayo silahkan duduk.
Tumben kemari rame-rame, ada apa?" tanya mama Wilo.
"Gak apa-apa. kami hanya silaturahim. Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami. maaf ya jika kedatangan kami mendadak." sahut papa Hans.
"Kenapa mesti repot-repot, dengan kedatangan kalian saja, kami sangat senang." timpal papa Wilo.
Melihat kondisi Wilo. Melodi pun mendekatinya.
"Wil, kamu sudah sehat? maafkan atas prilaku Hans ya. aku sendiri bingung kenapa dia bersikap seperti itu." tutur Melo dengan lembut.
"Gak masalah Mel. aku juga gak tau. Tapi aku baik-baik saja kok. besok aku sudah bisa kerja lagi." timpal Wilo tersenyum.
"Oh iya, kau meninggalkan ini di kamarmu. aku menemukannya saat merapikan kamar itu." Melo memberikan sebuah kalung.
*Kalung itu sengaja aku tinggalakan. itu kalung dari Hans.*
"Ah iya. aku lupa Mel. makasih banyak ya. aku mencarinya kemana-mana." ujar Wilo terpaksa mengambil kalung itu.
Hans melirik pada mereka. *Itu kan kalung dariku. pasti dia sengaja meninggalkannya.*
Setelah berbincang cukup lama. mereka pun pulang, begitu juga dengan Evan.
__ADS_1
~
Esok pagi, Wilo berangkat kerja bersama Evan. tak banyak yang mereka bicarakan selama dalam perjalanan.
Di kantin perusahaan, Sila sedang sarapan sambil merencanakan sesuatu. Ia memberitahu rencananya itu dengan rekannya, Vino.
Saat Wilo dan Evan tiba di parkiran. Hans dan Melo juga tiba bersamaan.
"Loh, Mel? kamu juga ikut ke kantor?" tanya Wilo.
"Iya Wil, mulai sekarang aku ikut Hans. dia yang memintaku. Ayo masuk bareng." Melo menggaet tangan Wilo dan masuk bersamanya.
Sedangkan Hans dan Evan masih berada di depan mobil mereka.
"Hans. tolong jangan sakiti Wilona. kau bisa menjauhinya dengan cara yang lain. Aku titip dia." Evan pergi begitu saja dari hadapan Hans.
Hans berjalan masuk kantor dengan pikiran yang kosong.
~
"Fiuhh.. kenapa aku gak fokus kerja. Kepalaku pusing." Wilo memijat sedikit keningnya.
Silsila datang membawakannya makanan ringan.
"Haii Wilo. lama tak jumpa. gimana kabarmu? ini ada makanan ringan dari nyonya bos."
"Eh, dari Melo? oke makasih." timpal Wilo
"Oh iya Wil. aku melihat hubunganmu dan bos Hans agak kurang baik. kalian ada masalah ya?" tanya Sila.
"Apa urusanmu? aku dan bos baik-baik saja." Wilo pergi begitu saja menuju toilet, ia meninggalkan meja kerjanya.
Wilo lupa membawa ponselnya. dan masih terletak di atas meja dalam keadaan menyala.
"Woww.. kesempatan bagus.!" dengan cepat, Sila membuka ponsel Wilo dan mencari semua hal yang mencurigakan.
"Hah?? ini....?? hm.. kurang ajar!" dengan cepat, Sila membuka kamera di ponselnya dan memotret semua isi ponsel Wilona.
*Tamat riwayatmu Wil.! hehe* Sila tersenyum senyuman bangga.
"Sil?? ngapain kamu masih di sini?" Wilo kembali lagi dari toilet. ia kaget melihat Sila yang masih di depan meja kerjanya sambil memegang ponselnya.
"Ehhh ada orang nya. Upss.. maaf, aku cuma lihat-lihat galery kamu aja. Ternyata kamu beneran suka sama bos ya? galery kamu penuh foto dia, kamu pasti nyuri-nyuri saat dia lengah ya? hebat sekali kamu sebagai asisten pribadi."
Sila menunjukkan foto-foto yang sudah dia dapat dari ponsel Wilo.
"Sila.! kamu gak sopan banget! lancang kamu!" bentak Wilo.
"Heh, tadinya aku gak sengaja liat, tapi karna kepo, makanya aku buka galery kamu. dan ternyata aku menemukan hal yang tak biasa. hehe." Sila tersenyum puas.
"Hapus gak fotonya!!" Wilo mencoba merebut ponsel Sila. namun ia tak berhasil.
"Hapus? enak aja! Sebelum aku hapus foto ini. kau harus menjauhi Bos dan istrinya. karna aku gak suka kamu terlalu dekat dengan mereka." acam Sila.
*Hm... sepertinya dia iri padaku.*
"kau pikir aku dekat dengan mereka? apa kamu gak liat kalo sekarang hubungan kita merenggang. lalu apa maumu hah?. sekarang sih terserah kau saja. jika kau memberitahu Hans atau Melodi, bukankah itu menguntungkan untukku? dengan begitu, aku gak perlu lagi menyampaikan perasaanku dengan Hans."
Wilo pergi dari hadapan Sila dengan wajah santai.
__ADS_1
"Kurang ajar! tapi dia benar juga sih. Hm.. aku gak akan kasih tau bos. tapi..... aku punya rencanaku sendiri. hehe." gumam Sila.
Wilo hendak menuju ruangan Hans, namun seketika kepalanya pusing, pandangannya menjadi gelap.
"Sial. kenapa harus sakit kepala saat lagi begini sih." Wilo berpegangan pada pintu masuk, menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.
Secara kebetulan, Hans hendak keluar dari ruangannya. ia melihat Wilo yang saat itu sedang kesakitan sambil memegang kepala, namun ia memilih untuk cuek.
"Wil, kamu kenapa?" tanya Hans.
"Gak apa-apa bos." jawab Wilo singkat dengan menunjukkan ekspresi yang pura-pura tidak ada apa-apa.
"Owh." Hans berlalu begitu saja.
Namun ia penasaran, Hans pun menoleh kembali ke belakang. Ia melihat Wilo tengah tertunduk seakan mau pingsan.
*Akhh.. aku sudah gak tahan.* pandangan Wilo mulai meredup, dan.... ia terkulai lemas.
Dengan cepat, Hans menangkapnya hingga ia tidak terjatuh.
"Melo... tolong buka pintunya." teriak Hans memanggil istrinya itu.
Dengan cepat Melodi membuka pintu. "Eh.. Hans, ada apa dengan Wilo? buruan bawa dia masuk." ujar Melo cemas.
Hans meletakkan Wilo di sofa. "Aku gak tau ada apa dengannya, tadi dia pingsan saat hendak masuk kesini."
"Astaga. gimana kalo kita bawa ke rumah sakit saja."
"Gak perlu. panggil saja Evan suruh ke sini." ketus Hans.
"Serah deh. kamu kok aneh sih Hans." timpal Melo heran.
~
Sore hari.
Saat Wilo membuka matanya, ia langsung melihat wajah Evan. "Van?? kenapa kamu disini? eh.. di mana ini?"
"Di rumah sakit. Gimana keadaan kamu?. Kan aku sudah bilang, jangan kerja dulu. bikin cemas saja"
"Iya, maafkan aku Van. kemarin aku sudah baikan kok, tapi kepalaku sakit dengan tiba-tiba." timpal Wilo dengan wajah sedih.
"Ya sudah, gak perlu di ratapi. Istirahatlah yang banyak. Aku akan selalu ada untukmu. Apa kau lapar?" Evan mengusap lembut kepala Wilo.
"Aku gak lapar. oh iya, orang tuaku tau gak? tolong jangan beritahu mereka ya. nanti mereka cemas."
"Tenang saja. Ya sudah tidurlah. aku tunggu di sini sambil kerja." Evan kembali menyelimuti Wilona.
Saat Wilo tertidur, Evan membuka Laptopnya, namun ia tidak fokus bekerja. ia hanya menatap Wilo yang tengah berbaring.
*Wil, ternyata kamu punya penyakit yang serius. jika kau tahu ini, kau pasti shok. lebih baik cukup aku yang tau penyakitmu.
Aku gak mau melihatmu sedih. mulai sekarang, aku akan menjagamu dan benar-benar memperhatikan kesehatanmu. Aku gak mau kehilangan kamu Wil, aku menyayangimu.*
Kesedihan menghampiri perasaan Evan, ia sangat takut kehilangan Wilona untuk selama-lamanya. Tak terasa, air matanya mangalir begitu saja melewati pipinya.
Ia berharap supaya Wilo cepat sembuh.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG