Dua Pilihan

Dua Pilihan
Kecemburuan Melodi


__ADS_3

Malam Hari.


"Van, gimana ini? pasti orang tuaku khawatir karna aku belum pulang." tutur Wilo cemas.


"Oh iya. aku juga lupa. gimana ya? bilang saja kau menginap di rumah Shinta atau Mira." usul Evan.


"Iya, nanti aku telfon mama. Van, berapa lama lagi aku di rawat? aku merasa sudah sehat, bolehkan pulang besok?"


"Gak, kamu harus sembuh total, baru pulang." tegas Evan.


Drrtt....drrtt.. ponsel Wilo bergetar.


Nampak nama Hans yang sedang menelponnya.


"Kenapa dia menelponku?" gumam Wilo sambil menatap ponselnya.


"Siapa? Hans kah? angkat saja." ujar Evan santai.


"Em.. baiklah."


"Halo Hans, ada apa?" dengan suara lemas, Wilo mencoba tegas.


"Kamu kemana hah? kenapa mama kamu nelfon aku nanyain kamu. Kamu di bawa Evan kemana?"


Evan langsung merebut ponselnya.


"Dia masih di rumah sakit. dan kemungkinan akan di rawat satu minggu lagi. tolong katakan pada orang tua Wilo, dia lagi menginap di rumah temannya. dan tolong jangan ganggu istirahat Wilo. oh iya, dia libur sampe dia sembuh."


Evan langsung menutup telfonnya. Wilo hanya diam dengan tatapan kosong.


"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak fikiran. jalani saja pengobatan, supaya cepat sembuh. Mulai sekarang aku akan lebih tegas terhadap kesehatanmu."


"Iya, makasih banyak Van." jawab Wilo merunduk.


*Fiuhh.. aku udah kayak ngurus istri aja.* batin Evan


~


Esok hari, Evan harus bekerja karna ada meeting penting.


"Wil, maaf, hari ini aku gak bisa temenin kamu. tapi aku sudah telfon Mira buat jagain kamu, ntar dia ke sini. Aku juga sudah izinin ke Hans kalo Mira libur. makan yang banyak ya."


Evan mengusap kepala Wilo sebelum ia berangkat ke kantor.


"Van, makasih banyak atas semua perhatianmu, dan atas semua yang kau lakukan untukku. Aku gak tau harus gimana membalasnya." Wilo meraih tangan Evan dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Evan tersenyum. "Kau hanya perlu membalasnya dengan kesehatanmu. itu saja. oh iya, nanti malam aku akan ajak mama dan papaku kesini."


"Hah? buat apa?" Wilo kaget


"Supaya mereka mengenalmu. Ya sudah, aku pergi dulu ya. Turuti nasihat dokter. obatnya di minum. oke."


"Iya iya. "


~


Pagi itu, Silsila sudah membuat janji dengan Melodi. mereka pun bertemu di kantin perusahaan.


"Sil, ada apa kamu mengajakku kemari?" tanya Melo.

__ADS_1


Sila langsung menunjukkan ponselnya. "Ini nyonya Bos. kemarin aku gak sengaja melihat Hp Wilona. ternyata dia menyimpan ratusan foto Bos Hans. menurutku, dia menyukai suamimu. hati-hati dengannya nyonya"


Sila mulai meluncurkan aksinya untuk menghasut Melodi supaya membenci Wilona.


Melo kaget dan tak bisa berkata-kata setelah melihat foto suaminya di ponsel wanita lain.


"Nyonya bos. si Wilo itu bermuka dua. jangan percaya dengan sikapnya yang baik itu. ntar lama-lama dia merebut Bos Hans." tambah Sila


"Sumpah, aku gak percaya.." Melo menangis. ia langsung pergi dari kantin.


Saat dalam ruangan Hans, ia masih merenung.


*Apakah Hans tau kalo Wilona mencintainya? *


"Sayang, ada apa pagi-pagi melamun?" kedatangan Hans menyadarkan Melodi yang tengah bengong.


*Baiknya aku tanya. biar pasti.*


"Hans. aku baru dapat info. dan aku mau tanya sama kamu. Apa kamu sudah tau kalo Wilona menyukaimu?" Melo menatap suaminya itu dengan mata berkaca-kaca.


Hans duduk di sebelahnya. "Sebelum aku jawab, aku juga mau tanya. Kau tau info itu dari siapa?"


Melo tertunduk. "Dari seseorang." jawabnya pelan.


"Aku tanya sekali lagi. tau dari siapa?" Hans mulai tegas


"Itu.. aku tau dari sekretarismu. Jangan marahi dia, karna aku yang menyuruhnya untuk mencari tau. Soalnya aku curiga dengan sikapmu semenjak kau mengusir Wilona dari rumah. Apakah ini alasannya.?"


Melo memberanikan diri untuk menjawab jujur.


"Kau menyuruh orang untuk menyelidiki suamimu? begitu percayanya kamu dengan Sila?. apa kamu gak tau kalo dia selama ini gak suka sama Wilona? kamu sudah memberikan kesempatan padanya Mel.!" tegas Hans.


Hans merangkulnya dan mengusap kepalanya. "Sudahlah, jangan minta maaf. Ya, aku tau kalo Wilona mencintaiku. Makanya itu aku menyuruhnya keluar dari rumah, dan tidak memberitahumu. karna aku takut kau sakit hati. itu saja."


"Hikss... ternyata ini demi aku. maafkan aku Hans, aku sudah terlalu curiga denganmu. Lalu aku harus gimana?"


"Untuk itu terserah kamu. tapi tolong, jangan sampai mama tau ya. Kau tau sendiri kan mau nya mama?" Hans memegang kedua pipi Melo dan menatapnya dengan cinta.


"Iya, aku akan merahasiakan ini."


~


Siang hari, Melodi minta izin pada suaminya untuk menjenguk Wilo di rumah sakit. ia di antar oleh supir pribadinya. tak lupa ia membelikan buah tangan untuk Wilona.


Namun saat ia hendak masuk ke kamar pasien, ia mendengar percakapan Wilona dengan seseorang. Melo pun mengintipnya dari luar pintu.


*Bukankah itu Vino? kenapa dia di sini? di mana Evan? aku jadi khawatir.* gumam Melo


-Di dalam kamar Wilo-


"Aku senang bisa melihatmu lagi Wil, tapi aku juga sedih karna kondisimu seperti ini." ujar Vino cemas.


"Kamu tau dari mana kalo aku di rawat disini?" ketus Wilona.


"Kamu gak perlu tau. karna mudah bagiku untuk menemukanmu. Aku gak mau mengganggu istirahatmu terlalu lama. Semoga cepat sembuh ya. Aku ingin melihatmu tertawa lagi kayak dulu. Kau harus tau, aku selalu menunggumu. karna aku masih mengharapkanmu."


"Vin, sudah berapa kali aku bilang. lebih baik kau kubur saja harapanmu itu. karna aku gak akan mau balik lagi sama kamu, sampai kapanpun itu. Kau tau, sudah ada Evan di sampingku." tegas Wilona.


"Ya, aku tau. Tapi selagi kalian belum menikah. aku akan terus mengejarmu. Ya sudah, aku pergi dulu ya. Cepat sembuh Wil." Vino pergi dari ruangan itu setelah mengusap lembut kepa Wilona.

__ADS_1


Saat Vino keluar, Melo hendak masuk. mereka bertemu di depan pintu. Mereka saling tatap sejenak tanpa tegur sapa.


Melo menyambangi Wilona dan memberikan bingkisan yang ia bawa. Setelah bertanya tentang kondisi Wilo, Melo ingin membahas suatu yang serius.


"Oh iya Wil. dimana Mira? bukannya dia jagain kamu?" tanya Melo.


"Dia lagi makan siang."


Melo lebih mendekatkan kursinya pada ranjang Wilo.


"Wil, aku ingin bicara serius padamu. jangan kaget ataupun shok. bukan maksudku untuk membuatmu Down" tutur Melodi menatap serius mata Wilona.


"Katakan saja Mel. aku gak keberatan kok." jawab Wilo tersenyum.


"Apa benar kau mencintai Hans? aku butuh kejujuranmu Wil."


"Hm.. sudah ku duga. Kau pasti tau dari Silsila kan? kemarin dia sampai mengancamku gara-gara foto itu." jawab Wilo santai.


"Dia mengambilnya saat ada kamu? lalu bagaimana tanggapan kamu Wil.?"


"Ya, bahkan aku dan dia sampai rebutan Hp.


Mel, jujur saja, aku memang mencintai suamimu. tapi kamu gak perlu cemas soal itu, karna aku tidak ingin merusak rumah tangga kalian. aku cukup mencintai Hans tanpa memilikinya." jelas Wilo.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu Wil? jujur saja, aku kecewa saat tau bahwa kau mencintai Hans. Aku merasa kebaikanmu selama ini ada tujuannya." timpal Melo.


"Astaghfirullah. Mel, kau sadar apa yang kau katakan itu? itu sudah termasuk tuduhan Mel. aku memang cinta pada Hans, tapi aku sudah berusaha melupakannya dari dulu Mel. jika aku mau, aku bisa langsung mengatakannya pada Hans, ataupun merayunya saat kamu gak ada."


Melo hanya diam dan berfikir mendengar penjelasan Wilona. "Lalu gimana aku bisa percaya lagi padamu Wil. hatiku sakit mendengar ini." timpal Melo


"Kau gak perlu percaya padaku. tapi aku cuma mau mengingatkan supaya kau berfikir. apa kau lupa aku sudah membuat hubunganmu dan mertuamu jadi lebih baik seperti sekarang? itu karna aku ingin melihatmu bahagia Mel, karna penderitaanmu gak adil menurutku. dan itu aku lakukan ikhlas dari hati."


"Tapi....." Melo masih tak ingin percaya.


"Oke, maafkan aku sudah salah mencintai orang, tapi percayalah, sejak aku sadar bahwa aku menyukai pria yang sudah beristri, sejak saat itu pula aku berusaha melupakannya."


"Wil, bagaimana jika Hans tau kalo kamu menyukainya? apa yang akan kau lakukan?" tanya Melo


"Mel, aku mohon sama kamu. jangan sampai Hans tau soal ini. Pasti dia akan memecatku, sedangkan aku butuh pekerjaanku. apa lagi sekarang aku lagi sakit, butuh biaya banyak, aku gak bisa terus-terusan mengandalkan Evan. sedangkan orang tuaku gak tau kalo aku ada di sini. tolong banget Mel."


Wilo menggenggam kedua tangan Melodi untuk membuatnya menutup rahasia ini. Melo mencoba menurutinya walaupun sebenarnya Hans sudah tahu.


*Kasihan juga Wilona. aku harus gimana?*


"Oke. aku gak akan kasih tau Hans. tapi tolong buatlah aku percaya kalau kamu gak ada hasrat ingin memiliki Hans."


"Makasih banyak Mel. aku akan membuktikannya. percayalah padaku." timpal Wilo meyakinkan Melodi.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Semoga kamu cepat sembuh. jaga kesehatanmu.


Assalamu'alaikum"


"Walaikumsallam. makasih banyak Mel."


*Bagaimana cara membuktikannya? akkhh.. bikin kepalaku sakit saja. ini semua gara-gara Sila sialan itu!*


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


Like. komen. vote🙏


__ADS_2