Dua Pilihan

Dua Pilihan
Keinginan Melodi


__ADS_3

Sore Hari.


Setelah jam kerja selesai, Wilo bergegas mengemasi meja kerjanya.


"Wil, kita jalan-jalan yok." ajak Mita dan Sinta.


"Gak deh, aku mau langsung pulang aja, soalnya aku mau beliin obat untuk adikku. Mama bilang kakinya sakit lagi."


"Oh, ya udah, gak apa-apa. Kita pergi duluan ya Wil."


"Iya, kalian hati-hati di jalan."


Drrttzz...


Getaran ponsel Wilona.


"Nomor baru?" gumamnya sambil menjawab telpon.


"Halo, siapa ini?."


"Halo wil, ini aku evan, kita ngobrol bentar yok di taman."


"Kamu mau ke sini ya? aku nitip obat ya, untuk pereda nyeri dan penurun panas, dan juga buat demem. ntar uangnya aku ganti."


"Okelah, aku langsung ke apotik, tunggu ya Wil."


"Makasih banyak Van."


Selang beberapa saat, Evan pun tiba di depan kantor XY.


"Wilo..." panggilnya dari kejauhan.


"Evan? cepat amat sampe nya." gumam Wilo sembari menghampiri evan.


"Kupikir kamu sesat nyari alamat kantornya" ujar Wilo cengengesan.


"Ya enggak lah, gampang kok. Oh iya, ini obat yang kamu pesan." Evan menyodorkan plastik kecil itu pada Wilo.


"Makasih banyak ya Van, maaf merepotkan. Berapa totalnya?"


"Gak perlu di ganti Wil, gak mahal juga kok" tolak Evan dengan senyuman.


"Seriusan nih, ya udah makasih ya.


Aku traktir makan es krim mau? kebetulan di depan ada jualan es krim."


"Boleh, udah lama gak makan es krim." sahut Evan.


"Kamu tunggu di bangku taman itu. Biar aku yang beliin es krimnya." Wilo bergegas pergi menuju kedai es krim di depan kantor tersebut.


Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan dua cup es krim di tangannya.


Mereka pun ngobrol sebentar di taman depan kantor sebelum mereka pulang.


Di waktu yang sama, Hans baru saja terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Ia di kagetkan saat melihat jarum jam sudah menuju angka 04.15


"Astaga! sudah sore? aku tidurnya lumayan lama. Hmm.. mungkin ini karna aku jarang istirahat, aku merasa lelah. Tidur siang ini membuatku merasa lebih baik." gumam Hans sambil merapikan meja kerjanya.


"Ahh,, kepalaku masih saja pusing, hidungku juga mampet." Hans bergegas keluar. Karyawan yang bekerja di atas sudah sepi, mereka sudah ke bawah semua karna hendak pulang.


Ketika Hans ke luar kantor, ia melihat Wilo yang sedang bersama Evan duduk santai di bangku taman samping kantor.


"Itukan cowok yang di tempat meeting tadi.


Wilo sedang pacaran, padahal aku mau minta beliin obat. Ya sudahlah, aku pulang saja."


Hans berjalan menuju parkiran mobil, secara kebetulan, Wilo melihatnya.


"Van, tunggu bentar ya, aku mau ke sana dulu." ucap Wilo yang berlalu meninggalkan Evan.


"Bos.." panggil Wilo dan mendekat pada Hans.


"Nih." Wilo memberikan sesuatu pada Hans.


"Istrimu kan gak ada di rumah, mungkin ini bisa membantumu. Jangan lupa, sampai di rumah ntar langsung makan, minum obat, dan buat teh hangat, terus tidur." jelas Wilo.


Hans masih bingung. "Ini apa?"


"Itu obat. Ya sudah aku pergi dulu."


Saat Wilo pergi, Hans membuka kantong itu dan melihat isinya. "Ternyata beneran obat, dia kenapa pengertian sekali. Apakah dia memang orang yang mempunyai jiwa sosial tinggi? ahh bodo lah."


_


"Hans, kau sudah pulang? " tanya Melo.


"Sayang, sebenarnya aku gak enak badan. Tubuhku demam panas"


"Apa? kenapa gak bilang dari tadi, Aku pulang sekarang ya."


"Gak usah sayang. ini sudah malam. Lagian aku sudah di belikan Wilona obat."


"Baik sekali dia, tapi tetap saja aku mencemaskanmu. aku tutup telponnya ya. Dahh.".


Setelah telpon berakhir, Melodi duduk diam di atas kasurnya.


"Astaghfirullah.. Apa yang aku pikirkan ini.!


Kenapa aku mesti cemburu dengan kebaikan Wilona. Harusnya aku berterima kasih padanya. Aku harus pulang sekarang."


Melodi langsung berkemas, kemudian ia memanggil supirnya dan berpamitan pada orang tuanya untuk kembali ke jakarta.


Hans masih berbaring di sofa di ruang tamu rumahnya.


"Tuan, ini teh yang anda minta, saya sudah mencampurnya jahe merah." ujar pembantu rumah tangga itu.


"Iya bik, makasih banyak ya."


Hans merasa lebih lega setelah minum teh dan obat.

__ADS_1


Selang beberapa waktu, Melodi datang dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu, karna terlalu mencemaskan suaminya itu.


"Hans, kau baik-baik saja?" Melodi langsung meraba kening Hans yang masih agak panas.


Hans meraih tangan Melo dan menggenggamnya. "Aku gak apa-apa sayang, hanya demam biasa. Harusnya kamu gak perlu pulang." ia menyelipkan belaian kecil di wajah Melodi.


"Aku khawatir padamu, lagian jarak bandung ke sini gak terlalu jauh. Kau sudah minum obat?


Obat apa yang diberikan Wilona?"


"Itu di atas meja. Setelah aku minum obat, aku merasa baikkan. Lagian besok weekend, aku bisa istirahat seharian."


"Hans, sepertinya Wilona cocok jadi asisten kamu. Dia orang yang pengertian dan peduli terhadap sesama." Melodi menatap dalam mata Hans.


"Gak sayang, aku gak perlu asisten, karna aku punya kamu. Aku bisa bermanja denganmu saat aku lagi kayak gini." jawab Hans tersenyum.


"Kau tau tujuan aku ke bandung? aku mau membuka butik di sana, supaya aku punya kegiatan. Maka dari itu, kau membutuhkan bantuan Wilona." jelas Melodi.


"Hah? kenapa harus di bandung sayang? aku bisa membuatkanmu gedung butik di sini, kenapa harus jauh-jauh. Gak! aku gak setuju, aku gak mau jauh darimu."


"Hans, tolonglah ngertiin aku ya, di sana aku banyak teman, keluarga dan banyak anak-anak tetangga yang bisa ku ajak bermain. Bukannya aku menjauhimu, tapi di jakarta ini aku merasa kesepian. Aku butuh teman ngobrol atau curhat." timpal Melodi.


"Enggak! aku akan membuatkanmu butik di sini. Kau bisa mengajak karyawanmu atau temanmu pulang ke rumah kita, asalkan kau tidak ke bandung."


"Tapi Hans aku...."


"Gak Melo! jika kau di bandung, kita hanya bisa bertemu satu kali saja dalam seminggu. Aku gak sanggup! jika kau membantah suami, dosa nya tanggung sendiri.!"


Hansel beranjak bangun hendak pergi ke kamarnya karna merasa kesal.


Namun Melodi menahannya dan memeluknya dari belakang.


"Hans, maafkan aku. Aku gak mau berdosa.


Aku gak akan ke bandung, aku tetap di sini bersamamu. Hiks.." tetesan air mata Melodi langsung menyerap ke dalam baju Hans, dan itu sangat di rasakan olehnya.


Hans memutarkan tubuhnya dan berbalik memeluk Melodi.


"Maafkan aku juga sayang, aku gak maksud bicara kasar padamu. Aku gak bisa jauh darimu." Hans mengecup kening istri kesayangannya itu.


"Tapi dengan syarat.." Melo menatap dalam mata Hans.


"Aku mau Wilona tinggal di sini, aku mau berteman dengannya. Bebaskan dia dari kerjaan kantor, supaya aku bisa mengajaknya pergi kapanpun saat aku butuh." sambung Melodi.


Hans terdiam sejenak, banyak pikiran yang terlintas di benaknya. "Baiklah.. Demi kamu" sahut Hans setelah menarik nafas dalam-dalam.


"Makasih banyak sayang, besok aku suruh Wilona ke sini ya." senyum semeringah dari wajah Melodi sambil kembali memeluk Hans.


Tidak ada kebahagiaan lain bagi Hansel, selain senyuman dan kebahagiaan istrinya.


•••


BERSAMBUNG


Like. Komen. Vote🙏

__ADS_1


__ADS_2