Dua Pilihan

Dua Pilihan
Lika liku


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Hari ini, Hans, Melo, Wilo dan Evan pergi ke tanah suci mekah.


Ini kali pertamanya mereka berempat menginjak tempat berkunjungnya sejuta umat tersebut.


Wilo dan Melo makin terlihat cantik berseri ketika mengenakan mukenah putih yang menutupi seluruh aurat.


Tak rerasa air mata Wilo menetes melihat pemandangan yang selama ini juah dari benakknya, bahkan tidak terniat sedikitpun.


*Ya allah.. Aku merasa sejuk sekali menginjak rumahmu yang paling besar ini. Sucikanlah fikiranku dari kemusrikan. Teguhkanlah imanku. Amiin*


"Wil, ayo kita mengelilingi ka'bah. Kita harus kuat, karna nanti kita akan ke padang arafah." ujar Melodi tersenyum lembut


"Bentar Mel..lihat itu." Wilo menunjuk pada seseorang.


"Siapa sayang?" tanya Evan heran.


"Di sana ada kakek-kakek. Dia terjatuh, kasihan sekali. Ayo kita bantu dia." Wilo bergegas menuju orang itu, disusul oleh Evan dan yang lainnya.


Dengan cemas Wilo membantu kakek itu berdiri. "Kakek gak apa-apa? Dimana keluarga kakek?" ucapnya dengan bahasa inggris.


Kakek tersebut hanya menggelengkan kepala.


"Kau mau punya anak? Nanti kau akan merasakan hamil. Tapi ada resiko di balik itu." kakek itu menunjuk ke arah Melodi.


Mereka kaget mendengar tuturan kakek itu.


"Hah??.. Hamil..? Maaf kek. Aku di vonis mandul. Dan gak bisa hamil. Tapi aku masih berharap bisa merasakannya." Melo seakan percaya tak percaya dengan ucapan orang tersebut.


"Dan kau (menunjuk Wilona). Jalan hidupmu sangat berliku. Banyak sekali cobaan datang silih berganti sampai akhir hayatmu. Jika kau menjalaninya dengan ikhlas dan sabar, maka syurga menunggumu."


"A...ku??" Wilo menunjuk dirinya sendiri.


Braakkkkkk!!


Seseorang tanpa sengaja menabrak Wilo karna keadaan ramai dan celah yang sedikit.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" ucap Evan cemas sambil membantu Wilo berdiri.


"iya aku gak apa-apa. Eh. Dimana kakek tadi?" Wilo dan lainnya mencari dengan memandangi sekeliling.


"Sepertinya kakek itu sudah pergi. Ya sudah, sekarang kita lanjutkan tugas kita." timpal Melodi.

__ADS_1


~


Saat sholat mahgrib berjama'ah di masjidil harram. doa tulus pun terucap sembari meneteskan air mata.


Melodi:


*Ya allah, dari tadi aku berfikir tentang ucapan kakek itu, jika benar apa yang dia katakan, maka aku dengan senang hati menjalaninya walaupun dengan resiko tinggi. berikanlah aku keturunan ya allah, aku janji akan menjaga amanahmu dengan baik. aku percaya mukzizatmu itu ada.*


Wilona:


*Ya allah, jika memang takdir hidupku di penuhi dengan duri kepedihan, kuatkanlah hatiku untuk menjalaninya. berikanlah aku sedikit kebahagiaan walau hanya sebentar kurasakan. aku ingin menikah, punya anak, dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik. lindungilah kami semua di sertai kesehatan. aku ingin orang-orang di sekelilingku bahagia walau harus aku yang sengsara.*


Hansel:


*Melihat istriku begini, aku turut kasihan ya allah. kabulkanlah do'anya. berikanlah kami keturunan dan kesehatan. dan juga, berikanlah Wilona jodoh yang baik untuknya, semoga dia bahagia.*


Evan:


*Ya allah, berikanlah Wilona kesehatan, angkat semua penyakitnya, dan berikanlah dia kebahagiaan dalam hidupnya, kabulkan semua do'anya. lindungilah dia dari kemusrikan. dan iri dengki dari orang yang ingin menyakitinya. amiin*


Dalam keheningan itu, hanya air mata yang tercurah, doa yang ingin mereka panjatkan telah mereka sampaikan, berharap semua akan jadi kenyataan.


_


Sampai larut malam pun Melo belum bisa tidur, kepalanya mulai berdenyut sakit, dadanya juga turut sesak, jantungnya berdetak lebih cepat.


"Aakkhh.. ada apa dengan jantungku?!" Melo merunduk memegang dadanya yang terasa sakit.


Mendengar suara rintihan Melo, Hans pun terbangun dari tidurnya, ia langsung duduk mendekati Melo.


"Sayang, ada apa denganmu?" ujarnya panik.


Melo tak sanggup lagi bicara, ia hanya menunjuk dadanya dengan mata terpejam menahan sakit.


Tanpa pikir panjang, Hans langsung menggendongnya dan membawanya ke klinik kesehatan yang sudah di sediakan.


Namun pada saat itu, keadaan klinik tengah ramai, karna banyaknya pasien. Melo pun hanya di beri obat, tanpa di rawat.


Beberapa hari berada di mekah. akhirnya merekapun pulang ke tanah air dengan perasaan yang lebih lega dan lebih tenang.


Mulai saat itu, setiap hari Melo rutin mengkonsumsi obat herbal dari Wilo yang ia beli di paris beberapa pekan lalu.


Keadaan Melo makin sehat dan lebih fresh, ia merasa ketagihan meminum obat tersebut.

__ADS_1


Hari ini. waktunya Wilona cek up ke dokter. ia pun di paksa Evan untuk ikut bersamanya.


"Van, kenapa harus tiap bulan aku cek up. memangnya penyakitku sudah parah? tapi aku merasa aku sudah gak ngerasain apa-apa kok." tutur Wilo selagi menunggu dokter.


"Kita cek up hanya untuk memastikan bahwa kau sudah sehat sayang. jangan cemas. kamu gak apa-apa kok." Evan tersenyum sambil mengusap lembut kepala Wilo.


Setelah dokter tiba, Wilo pun segera di periksa, walaupun Wilo sendiri bingung dan tidak tau sama sekali mengenai penyakitnya, namun dia tetap menuruti Evan jika dia mengajaknya kontrol.


"Wah.. ini berita yang sangat bagus tuan. saat ini penyakit nona Wilo sudah sembuh total. bahkan akarnya pun sudah tak terlihat. ini benar-benar mukjizat. kami sudah mencoba melakukan pengambilan xample, dan hasilnya sangat mengejutkan. Selamat ya nona Wilo.! jaga terus kesehatannya."


Dokter itu memberikan sebuah kertas laporan kesehatan Wilona pada Evan.


Evan tersenyum lega membaca laporan itu, iya sangat bersukur, dan merasa doanya telah di kabulkan. Evan pun memeluk Wilona dengan haru.


"Terimakasih ya allah, kau sudah mengangkat penyakit orang yang aku sayangi ini. jaga kesehatanmu ya sayang dan jangan sampai sakit lagi sedikitpun. aku gak tega melihatmu sengsara."


Evan terus mengusap kepala Wilo yang tengah ia dekap.


"Van...? kenapa kau secemas ini sih? bukannya dari dulu aku baik-baik saja? memangnya aku sakit apa?"


"Enggak sayang, kau gak sakit apapun, hanya penyakit biasa, tapi itu sudah membuatku cemas. tapi sekarang aku lega karna kau sudah sembuh." Evan tersenyum sembari menggenggam tangan Wilona.


"Makasih banyak Van, aku bersukur punya seorang pacar sepertimu. ya sudah, ayo kita pulang."


Mereka pergi dari rumah sakit itu, tapi Evan membawanya jalan terlebih dahulu karna ia merasa sangat bahagia.


Evan mengajak Wilo ke mall, belanja dan makan bersamanya untuk membuat Wilo bahagia.


*Aku gak tau penyakit apa yang bersarang di tubuhku sebelumnya. hanya kamu yang tahu Van, tapi aku bersukur karna semangat darimu bisa membuatku sembuh. jujur saja, saat rasa sakit menyerangku, tubuhku terasa lemah dan sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. tapi aku juga seneng karna aku sudah sembuh dari penyakit itu. aku yakin penyakitnya bukan penyakit biasa, jika tidak, kamu gak akan secemas ini.*


"Heii.. kenapa kau menatapku kayak gitu?" Evan mengejutkan Wilo yang tengah fokus memandangnya.


"Ehh.. maaf. aku memandangimu karna aku mengagumimu. aku baru sadar, ternyata aku sudah mencintaimu sedalam ini." Wilo tersenyum malu.


Evan juga tersenyum. "Aku bahagia di cintai gadis yang baik sepertimu Wil, usahaku selama ini gak sia-sia. Makasih banyak ya sayang."


Mereka pun saling genggam tangan dan saling tatap dengan rasa cinta yang dalam. berharap waktu berhenti sejenak untuk mendukung suasana moment itu.


•••


BERSAMBUNG


Like. komen🙏

__ADS_1


__ADS_2