
Dokter Meri masuk ke kamar Wilo untuk memeriksanya. Namun ia kaget melihat Wilo yang diam berdiri di balik pintu.
"Loh, non Wilo udah sadar? Kenapa di sana? Ayo berbaring di sini." dokter Meri membantu Wilo berjalan dan berbaring kembali di kasurnya.
"Dok, segara periksa keadaanku sekarang." ujar Wilo dengan tatapan kosong.
"Baik non." dokter Meri segera melakukan pengecekan pada suhu tubuh, dan juga syaraf otak Wilo.
"Gimana dok hasilnya?" tanya Wilo dengan wajah datar.
"Alhamdulilah, semuanya baik-baik saja. Gimana dengan ingatan nona? Apakah sudah pulih?"
"Dok, apakah aku masih terlihat seperti orang hilang ingatan? Bagaiamana cara seorang dokter memahami jika orang itu hilang ingatan tanpa mengecek syaraf otaknya?"
Pertanyaan Wilo itu membingungkan dokter Meri.
"Non, pada dasarnya, dokter gak akan tau jika orang itu hilang ingatan jika kita tidak mengecek syaraf otaknya. Karna penyakit amnesia gak bisa di terawang hanya dengan pandangan semata." jelas dokter Meri.
"Bagus.
Dok, sebenarnya ingatanku sudah pulih total. Tapi tolong rahasiakan ini. Dan tolong bantu aku. Karna aku ada misi di keluarga ini."
"Hah? Ingatan non Wilo sudah kembali?
Oke, jadi apa rencanamu? Aku akan bantu."
Wilo dan dokter Meri mulai membahas hal yang hendak di lakukan Wilo.
Ditengah percakapan mereka, mama Hans pun datang mengejutkan mereka yang tengah membahas suatu hal yang rahasia.
"Wil, kau sudah sadar? Sukurlah, gimana keadaanmu sekarang?.
Tadi tante dengar kau bilang Rahasia? Rahasia apa Wil?"
Wilo mulai panik, namun berusaha tenang.
"Gak ada kok tante, aku cuma bilang pada dokter Meri, Rahasiakan kalo aku masih sakit, bilang saja sudah sembuh biar aku bisa cepat pulang. Itu aja kok tan."
Mama Hans duduk di samping Wilo yang sedang berbaring.
"Tidak... Tidak. Kau tidak boleh pulang, apalagi kalo belum pukih total. Walaupun kau sembuh juga tante tidak akan mengizinkanmu pulang."
"Hah? Kenapa tante? Aku bukan siapa-siapa tante kan? Aku juga bukan keluarga Hans atau Melo, aku orang asing di sini. Lalu, apa tujuan tante membiarkanku tetap tinggal di sini?" ujar Wilo heran.
"Kamu memang orang asing sekarang, tapi tidak untuk nanti. Karna suatu saat kau akan menjadi bagian keluarga ini." ucapnya dengan senyuman saat menatap mata Wilo.
"Maksud tante apa?" tanya Wilo bingung.
"Sudahlah, nanti kau akan mengerti. Sekarang tante keluar dulu, tante akan panggilkan Hans kemari."
__ADS_1
Saat mama Hans keluar, Wilo dan dokter Meri tersenyum riang.
"Dok, langkah awal kita baru di mulai, kedepannya aku masih butuh bantuanmu." ucapnya pada dokter Meri.
"Aku akan mendukungmu non, aku juga kasihan pada nyonya Melo. Dia terlihat tertekan saat ada nyonya besar di sini." sahutnya tertunduk.
"Ya, kau benar, aku heran sama tante itu, mertua macam apa dia. Kurang baik apa lagi Melodi hingga dia begitu membencinya." Ketus Wilo kesal.
"Nyonya Melo gak ada kekurangan non, tapi cuma satu yang membuat mereka membencinya, yaitu kemandulannya."
"Ya, aku tau. Tapi ini gak adil buat Melo, Dia berhak bahagia. Aku akan berusaha membuat hubungan mereka membaik."
Tok.. Tok....!
Hans datang membuka pintu.
"Hans?? Kamu gak kerja?." tanya Wilo
"Bagaimana bisa aku kerja kalo kamu saja tidak sadarkan diri. Gimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?" ujar Hans menatap Wilo.
"Maaf tuan, biar aku yang menjawab. Kondisi tubuh nona Wilo sudah stabil. Tapi ingatannya belum pulih total. Masih butuh waktu untuk mengembalikannya seperti semula." jelas dokter Meri.
"Baguslah, kamu sudah sehat. Istirahat yang cukup ya."
"Hans.. Bolehkah kau mengantarku bertemu Evan?" ujar Wilo berharap.
"Aku siap mengantarmu. Kapan akan pergi?"
"Wil, kamu baru saja sadar dari pingsan. Apa kau yakin sudah kuat berjalan? Takutnya nanti kau sakit lagi." ujar Hans cemas.
"Jangan khawatir, aku selalu membawa obat dari dokter Meri. Oh iya, dimana Melo?"
"Dia ke butik, karna ada konsumen.
Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang. Biar kubantu berjalan."
Hans membantu Wilo beranjak dari kasurnya, lalu Hans menunggunya di ruang keluarga.
Wilo mengganti bajunya kemudian bersolek sedikit supaya terlihat fresh.
"Hans, ayo kita pergi." ujar Wilo yang langsung menemui Hans.
Kemudian mamanya pun datang menyambangi.
"Wilo? Kamu mau kemana?"
*Aku gak bisa bilang kalo aku mau menemui Evan, karna dia sekarang gak suka sama Evan.*
"Aku dan Hans mau ke kantor, aku sudah sehat kok tante, jangan cemas ya." ujar Wilo dengan senyuman.
__ADS_1
"Oh, jika kau sudah merasa baikan, tidak masalah jika kalian mau pergi, lagian kau pergi bersama Hans, tante gak perlu mencemaskanmu. Silahkan pergi. Semoga menyenangkan ya." ucapnya tersenyum sambil menepuk kepala Wilo.
"Ya udah, kami pergi dlu ya ma."
Hans dan Wilo pun meninggalkan rumah.
Saat dalam mobil, Hans ingin mengatakan tenteng mamanya yang ingin menjodohkan mereka berdua.
"Wil. Apa kau tau kenapa mamaku menyukaimu dari pada istriku?" ucapnya menatap Wilo.
"Aku tau walaupun dia gak ngomong langsung.
Tapi kamu tenang saja Hans, aku gak akan merusak rumah tangga kau dan Melo, aku sadar diri kok. Aku ingin ingatanku cepat pulih, supaya aku bisa keluar dari rumah itu." sahut Wilo tertunduk.
"Bukan itu maksudku Wil, aku gak terganggu dengan keberadaan kamu di rumah kami. Tapi aku gak setuju dengan pendapat mama yang menyakitkan hati Melodi."
"Aku ngerti Hans. Selagi mama kamu ada di rumah kamu. Aku yakin hati Melo sangat tertekan. Aku akan berusaha menjaga Melo, dan membuat mama kamu cepat pulang."
Wilo tersenyum menatap Hans.
"Kau gadis yang baik, semoga kau mendapatkan jodoh yang baik pula." Hans mengusap kepala Wilo dengan senyuman bangga.
*Aku gak mau kau memperlakukanku kayak gini Hans, kau begitu lembut, membuat hatiku selalu berdebar menatapmu. Cintaku untukmu makin bertambah. Tapi aku tak kuasa, karna kau sudah di miliki orang lain. Aku ingin mengubur perasaan ini, namun....*
Wilo tertunduk sedih, tanpa ia sadari sudah menjatuhkan air mata.
Saat Hans menoleh padanya, ia heran karna ada air mata di pipi Wilo.
"Wil, ada apa denganmu?" dengan cemas, Hans langsung menepikan mobilnya.
*Astaga, kenapa aku jadi nangis. Ahh gawat.* dengan cepat, Wilo menghapus air matanya.
"Heii ada apa denganmu? Apa kau sakit lagi, kita ke rumah sakit sekarang."
"bukan Hans. Aku sendiri gak tau kenapa tiba-tiba aku jadi sedih dan menangis. Aku gak ngerti dengan perasaanku. Aku gak apa-apa kok. Jangan cemas." Wilo mencoba tersenyum kembali.
"Astaga, aneh sekali kau ini. Apakah perkataanku tadi ada yang menyinggungmu?"
"Gak kok. Ya sudah, ayo kita jalan lagi."
"Hm.. Bikin cemas saja. Hapus air matamu ini." Hans mengusap sisa air mata Wilo yang ada di ujung matanya.
Wilo menatap Hans tanpa berkedip, karna jaraknya terlalu dekat. "Hans, maaf. Biar aku saja." Wilo memalingkan wajahnya segera.
"Oke. Kita jalan lagi sekarang. Maafkan aku ya."
"Hm.. " Wilo tertunduk diam.
Ia sadar, ia harus menjaga rahasianya. jangan sampai Hans tau kalau ingatannya sudah kembali lagi.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG