Dua Pilihan

Dua Pilihan
PARIS


__ADS_3

Evan begitu cemas dengan Wilo, ia pun menyusulnya ke perusahaan Hans. dan langsung menerobos ruangan Hans.


"Van? ada apa? kamu bikin kaget saja." ujar Hans sambil berdiri.


"Di mana Wilona?" tanya Evan tergesa-gesa.


"Di meja kerja nya lah." timpal Hans.


"Kalo dia ada disana, gak mungkin aku nyarinya sampai ke sini Hans. Apa kalian gak tau dengan masalah kantor ini?"


"Hah? maksudmu apa Van?" tanya Melodi


"Astaga, jadi kalian gak tau. Kalian cek sendiri deh di sosmed. aku mau nyari Wilo dulu." dengan langkah cepat, Evan langsung keluar untuk mencari Wilona.


Mira menghampiri Evan yang sedang kebingungan itu.


"Van. kau mencari Wilo? tadi kulihat dia ke toilet, tapi sudah lumayan lama. Aku ingin menyusulnya, tapi aku takut mengganggunya." tutur Mira.


"Benarkah? ya sudah, makasih banyak Mir." Evan segera menuju toilet dengan rasa khawatir.


Evan terus menelfon Wilo untuk mengetahui keberadaannya.


Suara ponsel Wilo pun terdengar dari slaah satu ruang toilet.


"Wil.. kamu di dalam?" Evan terus memanggilnya.


"Wilo, kumohon bicaralah jika kau mendengarkan aku." teriak Evan lebih keras.


Wilo pun keluar tanpa bicara. wajahnya lusuh, rambutnya berantakan, matanya pun sembab karna habis menangis.


Evan langsung memeluknya dengan cemas. "Astaga Wil, sukurlah kamu gak apa-apa. kenapa kamu jadi begini sih. Ayo lah kembali ceria lagi kayak dulu."


Evan merapikan rambut Wilo, ia juga mengusap sisa air mata Wilo. namun Wilo tetap diam.


"Kita makan siang dulu ya. Habis itu minum obat. ayo ikut aku." Evan menggandeng tangan Wilo dan mengajaknya ke kantin.


"Ayo makan. jangan terlalu banyak fikiran." Evan menyuapi Wilo yang seperti patung itu.


"Besok aku ada meeting di paris. Kau harus ikut aku. Kau butuh cuci mata untuk menghilangkan stres. malam ini kamu tidur di rumahku. biar aku yang mengatur semuanya, termasuk berpamitan pada orangtuamu."


Wilo hanya mengangguk dalam diam.


Evan juga terdiam melihat kondisi Wilo yang seperti itu. Ia tak hentinya memandangi Wilo.


*Entah derita apa lagi yang harus kau alami Wil?. yang kucemaskan hanya satu. yaitu penyakit kamu.*


Setelah makan siang, Evan mengajak Wilo menemui Hans di ruangannya.


Wilo berjalan dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Wilo? Evan? kami sudah melihat sosial media. entah siapa yang menyebarkan foto itu. karna akunnya gak ada website kantor." ujar Hans.


"Sudahlah, untuk apa di bahas." ketus Wilona.


"Hans, tolong izinin Wilo cuti lagi seminggu. aku mau mengajaknya ke luar negri. dia perlu menangkan diri dari semua masalah. ini demi menghindari hujatan di kantor ini"


Evan meminta izin untuk cuti Wilona. demi untuk mendinginkan suasana.


"Baiklah. gak masalah. kasihan juga dia terlihat stres."


"Makasih banyak Hans."


~


Setelah pulang dari kantor Hans, mereka langsung menuju ke rumah Wilona.


Evan meminta izin pada orang tua Wilo karna mau mengajaknya menginap di rumahnya.


Setelah membujuk, akhirnya orang tua Wilo menyetujui.


"Aku mau nyiapin pakaian dulu." Wilo hendak masuk kamar untuk berkemas.


"Gak perlu Wil. aku akan membelikan semua kebutuhanmu. Ayo kita berangkat sekarang." timpal Evan.


Setibanya di rumah Evan, Wilo di sambut baik.oleh orang tuanya. mereka pernah bertemu saat membesuk Wilo di rumah sakit.


"Ehh nak Wilo? ayo masuk. Evan sudah memberitahu tante kalo kamu mau ke sini. Tante sudah siapin kamar untukmu." sapa mama Evan dengan ramah.


Kedekatan Wilo dengan keluarga Evan pun mulai terjalin. orang tua Evan sangat perhatian padanya. terlebih mereka sudah tau dengan penyakit Wilona. namun Evan meminta untuk merahasiakannya.


~


Esok pagi, Evan dan Wilo berangkat ke paris. Wilo merasa lega setelah berada di pesawat, karna ia sibuk memandangi awan dan penampakan di atas langit itu.


Evan juga memasang headset di telinganya dan juga mantel supaya tubuhnya hangat. Evan juga selalu mendekapnya saat Wilo tertidur.


Setibanya di Paris, Wilo terperangah melihat kota yang sama sekali belum ia lihat dengan nyata.


"Wil, kita mau kemana? kita jalan-jalan dulu ya sebelum ke hotel." tutur Evan melihat mata Wilo yang tengah menatap pemandangan.


"Aku mau ke sana Van." dengan antusias Wilo menunjuk ke arah menara Eifel itu.


"Wah, pilihan yang bagus. Ayo kita ke sana."


Evan menggenggam tangan Wilo, mereka berjalan santai menuju menara Eifel. kemudian mereka duduk di tengah keramaian pengunjung.


Teringat lagi dengan masalah, Wilo tertunduk diam dengan raut wajah sedih.


"Wil.. aku tau apa yang kamu pikirkan. Tapi tolong singkirkan sejenak selama kita di sini." Evan menggenggam tangan Wilo.

__ADS_1


Wilo tetap merunduk dan membisu.


"Wil, aku tau kau mencintai Hans." tegas Evan.


Wilo kaget dan langsung menatap Evan. "A...pa?? kau tau dari mana?"


Evan membuka tasnya dan langsung memberikan buku diary Wilona. "Ini buktinya." ujar Evan singkat.


Wilo baru menyadari bahwa buku diarynya tidak ada padanya. "Kenapa buku diaryku ada padamu Van?"


"Aku mendapatkannya dari Hans. buku ini tertinggal di dalam mobilnya. Hans juga tau bahwa kau mencintainya." jelas Evan.


"Jadi..... dia mengusirku karna itu?? astaga, aku harus gimana, aku malu. Van, aku memang mencintainya, tapi dari awal aku sudah berusaha melupakannya. bantu aku Van"


mata Wilo berkaca-kaca menatap Evan.


"Aku harus bantu apa Wil? aku sudah membantu apa yang aku bisa." sahut Evan membalas tatapan Wilo.


Wilo terdiam sejenak. terbesit sesuatu dalam benaknya.


"Van, aku mau kita pacaran." ujar Wilo dengan yakin.


"Hah?" mata Evan terbelalak kaget.


"Ya, kita pacaran. dengan begitu Melodi dan Hans akan percaya kalo aku memang ingin melupakannya.


Van, aku akan berusaha membuka hati untukmu, aku akan mencintaimu dengan tulus, percayalah padaku."


Wilo menangis. ia sungguh-sungguh ingin membuka hati untuk Evan yang selama ini sudah begitu baik padanya.


Evan memeluknya dengan penuh cinta. "Tolong jangan menangis, aku gak maksa kamu buat mencintaiku. karna cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. dengan status pacaran saja aku sudah sangat bahagia."


Wilo masih menangis tersedu-sedu. Evan memang tempat yang tepat untuk ia mengadu.


"Wil, tolong berhentilah menangis. Aku gak mau melihat pacarku meneteskan air mata yang gak penting. Mulai saat ini, aku akan memastikan kebahagiaan kamu. karna aku menyayangimu."


Evan mengusap air mata Wilo dengan kedua tangannya.


"Van, makasih banyak. maafkan aku jika nanti aku mengecewakanmu. tapi aku akan berusaha menjadi pacar yang baik untukmu."


"Jangankan nanti, sekarang pun kau sudah baik untukku. makanya aku bisa mencintaimu seperti orang gila. Aku selalu membuatku khawatir, kau juga selalu membuatku merindukanmu." Evan mengusap lembut kepala Wilo.


"Betapa butanya hatiku selama ini yang tidak melihat orang sebaik kamu berada di depanku. maafkan aku yang baru menyadarinya."


Evan kembali merangkul Wilo. "Semua akan indah pada waktunya. dan aku percaya itu. Makasih telah membuka hatimu untukku. My Little Bunny" Evan mengecup kening Wilo.


Suasana romantis tercipta ketika pasangan telah bersama. hembusan angin dan pemandangan yang indah menambah kenyamanan dalam dekapan.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2