
Sore hari.
Hans mengajak Wilona ke rumahnya atas permintaan sang istri.
"Sayang, aku pulang." tutur Hans sambil memencet bel.
Wilo masih melongo melihat rumah yang megah itu.
*Gila.. ini rumah atau istana?*
Dari dalam terdengar suara langkah kaki Melodi, kemudian ia membuka pintu.
"Hans? Pulang cepat ya?" tak lupa Melo mencium tangan suaminya itu, tiap Hans pergi atau pulang kerja.
"Kan kamu yang nyuruh cepat pulang." Jawab Hans sembari merangkul istrinya.
"Eh, Wilo??
Ayo masuk. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian berdua." tutur Melodi dengan senyuman.
*Ini kan masih sore.*
"Iya.. Makasih banyak ya Mel." timpal Wilona agak malu.
Melodi pun segera menyiapkan hidangan makan malam. Wilona pun turut membantunya.
"Siaaappp!! Ayo kita makan." ujar Wilona girang.
"Hahaha,, kamu lucu ya Wil." Melodi tertawa kecil dengan tingkah Wilona.
Tanpa pikir panjang, Wilona langsung memborong makanan dan menaruhnya di piring miliknya. *Untung aku gak punya malu, hehe. * Batin Wilona sembari melahap makanan.
"Kamu gak makan berapa hari?" tanya Hans dengan wajah heran.
"Bos, seharian tadi aku istirahat di kantormu. Tapi kau tidak memberikanku makanan apapun. Aku lapar sekali." ketus Wilo sambil melanjutkan makan.
"Hans? kamu gak kasih dia makan? Apa kau juga gak makan?" tanya Melodi menatap Hans.
"Aku mana sempat makan siang sayang, kerjaanku numpuk. Aku juga gak merasa lapar kok. Kamu tenang aja ya." Hans membelai rambut istrinya itu.
Wilo melongo melihat kemesraan mereka.
"Uhuukk... uhuuk... "
"Wil? kamu kenapa?" tanya Melodi panik.
"Aku.... keselek sendok." jawab Wilona sembari minum.
Melodi dan Hans saling tatap. Mereka hanya menaikkan bahu karna heran.
*Gadis gak waras* batin Hans tanpa mengiraukan Wilona.
Setelah makan, Melodi hendak membuatkan teh untuk Hans.
"Kau buat teh untuk bos?." tanya Wilo.
"Iya, di udah biasa ngeteh sehabis makan. Tolong kamu antarkan ya. aku mau cuci piring."
"Gak ada pembantu kah?"
__ADS_1
"Ada kok, tapi aku lebih suka bekerja sendiri. Nih teh nya, berikan pada Hans. Biasanya dia di ruang kerja." Melodi memberikan secangkir teh itu.
*Ruang kerja dimana ya? Bodo amat lah, cari sendiri aja.*
Wilo membawa segelas teh itu untuk Hans.
Setelah muter-muter, akhirnya ketemu ruangan kerja Hans.
"Maaf mengganggu Bos, aku mengantarkan teh hangat." Wilo meletakkannya di atas meja Hans.
"Mana Melodi? kenapa kau yang mengantarkannya?" ketus Hans.
"Dia yang menyuruhku, karna dia mau cuci piring. Tadi aku mau bantu, tapi katanya gak perlu.
Bos, bentar lagi antar aku pulang ya"
Hans menoleh sinis pada Wilona. "Kenapa gak pulang sendiri saja."
"Bos, aku ke sini naik mobil bersamamu. aku pulang naik apa coba." ketus Wilona.
"Ya sudah, nanti jam 9." Hans masih terus menghadap laptop nya.
"What? lama banget Bos?
Ya udahlah, aku tunggu. Aku keluar dulu." Wilo hendak pergi, namun ia ingat sesuatu dalam benaknya. Ia pun kembali lagi.
"Kenapa belum pergi?" tanya Hans, tanpa menatap Wilo.
"Bos, aku mau tanya, ini di luar pekerjaan sih.
Tapi jangan marah ya bos." ujar Wilo tersenyum paksa.
"Hmm.. " sahut Hans singkat.
Hans sepertinya marah, ia langsung menutup laptopnya dengan keras membuat Wilo kaget dan takut.
"Emmm.. maaf.. Akuuu gak bermaksud...
Aku pergi sekarang..." Wilo hendak mengambil ancang kaki seribu, namun Hans menarik tangannya dan mendorongnya ke dinding.
"Kau? Apa hakmu bertanya itu padaku?! Memangnya tau apa kau soal anak! Kau menikah saja belum! Kau mana ngerti!!" bentak Hans di hadapan wajah Wilona.
Merasa sangat takut dan terancam. Wilona pun menangis tanpa ia sadari.
Ia ingin lari, namun Hans masih menggenggam erat tangannya.
"Ma...af.. Aku hanya bertanya." air matanya mengalir deras sambil bicara terbata-bata dan tubuh sedikit gemetar, karna ia belum pernah di bentak dengan jarak sedekat itu. Ia sangat merasakan kemarahan Hans.
Hans melepaskan cengkraman tangannya, dan membantu Wilona duduk di sofa.
Hans berdiri membelakangi Wilo.
"Yang kau tanyakan itu sangat pribadi, kau mana ngerti, karna mungkin kau masih polos.
Berbicara soal anak, kau jangan tanyakan lagi, karna itulah yang aku inginkan dari dulu." Hans meredakan emosinya dan mulai bicara pelan.
Wilona hanya diam sambil merunduk untuk menutupi wajahnya sembari menenangkan tubuhnya yang masih gemetar.
Sedangkan Hans masih melanjutkan ceritanya .
__ADS_1
"Wilo, kau tau? selama ini aku ingin sekali memiliki seorang putra sebagai penerusku kelak. Tapi mau gimana? Melodi mungkin selamanya gak akan bisa memberiku keturunan, karna dia di vonis Mandul."
Hans menghentikan ucapannya sejenak sembari memukulkan kepalan tangannya ke dinding. Dari ucapannya, ia terlihat memikul beban yang amat berat.
*Melodi mandul? aku baru tau.* ucap Wilo dalam hati dan masih dalam keadaan merunduk.
Hans meneruskan ucapannya, namun kali ini ia duduk menghadap Wilona.
"Dan yang paling menyakitkan adalah, semua keluargaku tidak ada yang suka padanya sejak kami menikah 9 tahun lalu, sampai sekarang. Bahkan mereka menyuruhku untuk menceraikannya.
Tapi aku mencintainya Wilo.!! Maka dari itu aku selalu memanjakannya, dan membuatnya bahagia. karna dengan begitulah aku bisa melindunginya."
Wilo tetap diam dan tidak berani menatap Hans.
"Lalu apa hakmu menceritakan semua ini padaku? bukankah aku ini orang lain? Kau dan aku hanyalah Bos dan karyawan." tutur Wilona pelan tanpa mencengatkan kepalanya.
Hans kembali berdiri dan membelakangi Wilo.
"Selama ini aku ingin sekali berbagi rasa, tapi pada siapa!! Aku sudah muak menahan rasa ini bertahun-tahun!. Aku gak mungkin bercerita pada istriku sendiri."
Hans kembali menghadap Wilo.
"Wil, kau bekerja padaku sudah sebulan lebih, aku cukup mengenal sikap dan kinerjamu. Kau sedikit berbeda dari yang lain. Tolong jaga rahasia ini rapat-rapat."
"Hm... " jawab Wilona singkat.
"Sudahlah, ayo kuantar pulang." Hans berjalan lebih dulu. Kemudian Wilo menyusul di belakangnya.
*Apa-apaan ini, gue dibuat nangis sama orang ini. Liat aja, gak bakal gue tegur.*
Sedikit dendam melesat di pikiran Wilo.
Saat di ruang tamu, Melodi menghampiri mereka.
"Sayang, aku mau antar Wilona pulang. Ayo ikut." Hans merangkul bahu Melodi.
"Kau mau pulang Wil? di luar sedang hujan deras. Bermalamlah di sini, besok pagi saja pulangnya." tutur Melodi tersenyum.
"Gak deh, lebih baik aku pulang, kan naik mobil. Palingan cuma kena hujan sedikit. Makasih banyak Mel atas makan malamnya, aku sangat suka masakanmu."
Wilo tak menghiraukan hujan, ia bersikeras ingin tetap pulang, karna ia tak mau menatap bos nya itu.
"Ya sudah, kalau kau mau pulang, bawa payung ini untuk melindungimu menuju mobil." Melodi memberikan satu payung pada Wilona.
"Cuma satu sayang?" tanya Hans, karna Melodi tak memberinya payung.
"Payung kita cuma satu, besok aku beli lagi deh. Maaf ya sayang." rengek Melodi sembari menggenggam tangan Hans.
"Ya sudah, gak masalah, aku antar Wilo dulu ya. Lebih bagus dia pulang, dari pada bermalam di sini."
Wilo sudah pergi lebih dulu menuju teras rumah, kemudian Hans menyusulnya.
"Nih payungmu. Aku gak butuh." ketus Wilona sambil memberikan payung itu.
"Pakai saja olehmu." timpal Hans tegas, kemudian ia langsung berlari menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
Wilo terpaksa membuka payung itu dan memakainya. Kemudian naik ke mobil Hans.
Selama dalam perjalanan pulang, Wilo sama sekali tak membuka mulutnya, ia hanya diam dan menoleh ke luar jendela kaca mobil.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG