
Saat Vino melintasi salah satu mobil. Tiba-tiba ia di tarik sesorang dan masuk ke dalam mobil itu.
"Heii apa-apaan ini?!"
"Sttt... Lebih baik kau diam tuan. Namaku Silsila, sekretaris bos besar. Aku melihat semua kejadian barusan."
"Terus apa maumu? Dan apa hubungannya denganku.!" tegas Vino.
"Aku tau kau mencintai Wilona, sedangkan aku sangat membenci gadis itu."
"Heii apa maksudmu! Dia bahkan lebih cantik dan lebih baik darimu. Dasar gak guna.!" Vino membuka pintu mobil, ia hendak pergi, namun Sila mengunci pintu itu.
"Jangan salah faham tuan, baiknya kita pergi dulu dari sini."
Sila membawa Vino ke suatu kafe di dekat kantor.
Mereka melanjutkan berbincang setelah mereka memesan minuman dan sedikit cemilan.
"Apa maksudmu dengan semua ini.?" pertegas Vino.
"Aku tidak menyukai gadis itu, karna dia begitu dekat dengan Hans dan keluarganya. Dan aku yakin, bahwa Hans akan di jodohkan dengan Wilona oleh mamanya."
"Hah? Bukankah dia sudah punya istri?
Lalu apa alasan kamu membenci Wilo hah?!" ketus Vino.
"Karna aku menyukai Hans, dan aku gak mau jika Wilo di nikahkan dengan Hans.
Kau tau? Istrinya mandul, maka dari itu, orang tua Hans mencarikan istri kedua untuknya." lanjut Sila menjelaskan.
"Hm.. Itu artinya kita sama. Lalu apa yang akan kau lakukan untuk memisahkan mereka?"
"Aku punya caraku sendiri. Lalu kau? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sila balik
"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Wilona. Bila perlu, aku akan menyingkirkan siapapun yang bersangkutan dengannya. Termasuk Hans." tegas Vino dengan penuh keyakinan.
"Apa?! Kau sudah gila ya?! Dari pada kau menyingkirkan orang lain, belum tentu juga kau bisa memiliki Wilona kan?!" timpal Sila.
"Kau benar, jadi harus gimana?"
"Lebih baik kau singkirkan Wilona. Dengan begitu, maka siapapun gak akan bisa memilikinya. Setidaknya hatimu tidak sakit melihat kebahagiaannya bersama orang lain."
Pikiran licik Sila sudah tiada batas.
"Apa kau juga akan melakukan hal sama? Apa kau juga akan menyingkirkan Hans jika kau gak bisa memilikinya?." timpal Vino yang sudah mulai berfikir jahat.
"Tentu saja. Karna lebih baik aku di tinggal mati, dari pada melihatnya bahagia tapi bukan bersamaku.
Vin, kau pasti punya perusahakan?"
"Ya, aku punya perusahaan sendiri, tapi aku jarang ngantor, karna aku pusing dengan hidupku."
"Hm.. Bagus. Bagaimana kalo kita kerja sama?" ujar Sila.
"Maksudnya?"
"Aku adalah sektretaris, dan aku tau semua tentang data-data kantor. Jika kau mau, kita kerja sama. Aku akan membocorkan data kantor, supaya bangkrut. Lalu kita membuat perusahaan bersama. Tentu saja kita bagi hasil dan jadi partner kerja." jelas Silsila.
"Ternyata otakmu cerdik juga. Aku setuju, dengan begitu Wilona akan keluar dari kantor itu. Dan Hans akan menderita." pikiran Vino sudah di racuni dengan ucapan Sila.
"Tapi, jika suatu saat kau tidak juga mendapatkan Wilona. Maka kau harus benar-benar menyingkirkannya. Jika kau menjadi orang kaya nomor satu, maka wanita manapun bisa kau dapatkan." ujar Sila makin menabur racun.
"Tentu saja. Itu sudah pasti." Vino menyeringai jahat.
__ADS_1
*Hm.. Bagus, jika kau sudah membunuh Wilona, maka aku akan mendorongmu masuk penajara. Lalu, aku akan menyingkirkan Melodi dengan bantuan orang lain. Setelah itu, Hans akan jadi milikku satu-satunya.
Lalu semua hartamu akan aku ambil alih. Hehe.*
Ternyata hati Sila sangat licik. Ia berhasil memasukkan Vino ke dalam perangkapnya dan memanfaatkan sikap Vino yang mudah terpengaruh itu.
"Vin, aku ngantor dulu ya. Kita akan sering bertemu untuk membahas kerja sama kita. Ini kartu namaku."
"Baiklah. Terimakasih partner." ujar Vino dengan senyuman.
*Hm.. Dasar bodoh. Aku udah gak sabar menunggu hari itu, dimana kejayaanku di puncaknya.* batin Sila tersenyum jahat.
_
Dalam ruangan kerjanya, Wilo tengah kebingungan karna ponselnya sulit menyala. Ia hendak minta bantuan pada kedua sahabatnya Sinta dan Mita, namun ruangan mereka cukup jauh.
"Kok aku lupa ya cara nyalain hp ini. Ke ruangan Hans dulu deh." Wilo membawa ponselnya menuju ruangan Hans.
"Ada apa Wil?"
"Bos, ponselku gak mau nyala. Bisa tolong di lihat?" Wilo menyodorkan ponselnya pada Hans.
"Gimana mau nyala Wil? Kan batre nya lowbat. Kamu gimana sih? Isi daya dulu sana."
"Gitu ya? Maaf. Ya udah urus aja sama kamu ya bos, aku lupa caranya. Aku ambil lagi nanti kalo batre nya sudah penuh." Wilo langsung meninggalkan ruangan Hans.
"Dasar gadis payah." gumam Hans dengan senyuman.
_
Siang hari, Hans mendatangi meja kerja Wilona.
"Wil, ayo makan siang. Biar aku traktir.
Oh iya, ini ponselmu." Hans memberikan ponsel Wilo yang masih belum ia nyalakan itu.
"Nyalain aja sendiri, pencet tombol ini." Hans menunjukkan tombol daya pada ponsel Wilona.
"Ayo ke kantin, nyalain aja sambil jalan. Jangan lupa bawa tas kamu, karna habis ini kita gak balik lagi ke kantor." Hans berjalan lebih dulu, di susul oleh Wilo di belakangnya.
Saat ia menyalakan ponsel, Wilo sangat kaget ternyata wallpaper ponselnya adalah foto Hans.
*Hah? Apaan ini? Kenapa foto Hans terpajang di ponselku? Apakah aku lupa akan hal ini.* batin Wilo bingung.
Karna sibuk dengan ponselnya. Wilo tidak memperhatikan jalan.
Gubraakkkk...!
Wilo menabrak Hans yang berdiri di depannya saat berhenti ketika tiba di ruangan staff.
Ponsel Wilo pun terjatuh, ia juga turut terjatuh.
Sedangkan Hans merasa sakit pada belakangnya.
"Wil kamu gak apa-apa. Hati-hati kalo jalan." Hans mengulurkan tangannya untuk membantu Wilo berdiri.
*Gawat, jangan sampai dia melihat ponselku.*
Wilo buru-buru meraih ponselnya sebelum Hans melihatnya. "Aku baik-baik saja Hans. Gimana denganmu." sahut Wilo sambil berdiri.
"Agak sedikit sakit sih, tapi gak masalah. Ya sudah ayo kita pergi."
Sebelum Wilo keluar dari kantor, ia berpamitan dulu pada kedua sahabatnya, Mita dan Shinta.
__ADS_1
Sementara itu, Sila menyaksikan semua yang terjadi.
*Dih.. Dasar Wilona! Pasti sengaja tuh nabrak Bos. Pengen banget ku jambak rambutnya. Tapi sabar, aku gak boleh terlihat jahat, karna sekarang Bos lagi kurang percaya padaku. Aku harus bersikap baik.*
_
Saat di kantin, Hans memesankan makanan kesukaan Wilo.
"Eh, tunggu. Kok bos tau makanan favoriteku?" ujar Wilo
"Ya tau dong, hampir tiap hari makan sama kamu.
Oh iya, habis ini kita ke butiknya Melo ya. Aku ajak Evan juga." ujar Hans sambil makan.
"Boleh."
Tidak lama kemudian, Evan datang menghampiri mereka.
"Selamat siang cantik. Ini untukmu." Evan menyapa Wilo dengan senyuman sambil memberikan setangkai bunga mawar merah.
"Van, ada apa ini? Pake kasih bunga segala." sahut Wilo heran.
"Mulai hari ini, aku akan memberimu bunga setiap hari. Supaya kau selalu mengingatku." timpalnya sembari mengusap kepala Wilo.
"Oh iya, jika sudah makan. Ayo kita berangkat sekarang." ujar Hans sambil menuju mobilnya.
Kemudian Wilo pergi bersama Evan.
Setelah mobil mereka berlalu, sebuah mobil di belakangnya mundur perlahan. Ternyata itu mobil Vino yang sedari tadi mengintai mereka.
"Hm.. Bahagialah kalian sekarang. Karna itu tidak akan berlangsung lama." gumam Vino menyeringai jahat.
_
Setibanya di butik Melo, ingatan kecil Wilona mulai muncul kembali. Kepalanya makin terasa sakit.
"Wil, kamu kenapa? Sakit kepala lagi ya? Kita ke rumah sakit sekarang." kepanikan di wajah Evan sangat nampak.
"Gak usah van, aku baik-baik saja. Ayo kita masuk sekarang." Wilo mencoba pura-pura tegar, padahal kepalanya sangat sakit, tapi lebih baik begitu supaya ingatannya cepat kembali.
Saat masuk ke dalam ruko, kepala Wilo makin sakit, tapi ia menahannya supaya orang di sekelilingnya tidak cemas.
*Hmm.. sepertinya ingatanku sedikit demi sedikit sudah kembali. sukurlah. tapi belum semuanya aku ingat.* batin Wilo tersenyum.
Selama dalam butik, Wilo tak hentinya berfikir, siapa Hans? siapa Evan? dan siapa Melodi? dan kenapa mereka semua baik padaku.
Suara langkah kaki terdengar, menyadarkan Wilo dari heningnya berfikir.
"Wil, ayo makan camilan di depan." ujar Melodi dengan lembut.
"Eh,, iya. Makasih Mel."
Saat Wilo beranjak. Tanpa sengaja sesuatu terjatuh dari dalam tasnya.
"Apa ini? kenapa ada buku seperti ini di tasku?" gumam Wilo sambil membuka buku itu.
*Hah! Diary? * Wilo membuka halaman utama buku itu yg berisikan biodata lengkap Hans. Wilo sendiri bingung saat membaca isi cerita mengenai Hans dalam buku diary tersebut.
Namun, ia akan mengingatnya nanti.
Dengan cepat, ia menyimpan kembali buku kecil itu.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG
Like