Dua Pilihan

Dua Pilihan
Kehilangan


__ADS_3

Dalam ruangan IGD, beberapa dokter tengah menangani Melodi, nampaknya keadaan Melo cukup parah.


Hans begitu panik, ia merasa sangat bersalah atas celakanya istrinya itu.


"Hans, apa yang sudah terjadi sebenarnya? kenapa kau bisa berada satu ranjang sama Sila?" tanya Wilo heran.


"Aku sendiri gak tau Wil. saat aku bnagun, tiba-tiba kami sudah di sana." jawab Hans merunduk.


"Tapi kamu gak nuduh aku kan, seperti yang Sila tuduhkan?."


"Gak kok, aku percaya padamu. pasti ada sesuatu di balik ini." jawabnya.


*Aku yakin, ini pasti ulah Sila sendiri.* batin Wilona.


Evan pun datang sambil berlari kecil setelah Wilo memberitahunya kejadian itu.


"Sayang ada apa ini? kenapa bisa Melodi sampai masuk IGD?" ujar Evan panik.


Wilo pun menjelaskan kejadian itu pada Evan.


ia pun mendekati Hans yang masih duduk diam.


"Hans, kamu tenang saja. aku akan mencari pelaku di balik ini. percaya saja padaku ya." Evan mencoba menyemangati Hans yang sedang terpuruk.


Tak lama kemudian. orang tua hans datang.


di susul oleh orang tua Melodi yang datang dari bandung.


satu jam kemudian..


Dokter keluar dan menyambangi mereka.


"Dok, gimana dengan istri saya? apakah kandungannya bisa di selamatkan?" Hans panik sambil menahan tangis.


"Kami sudah berusaha Tuan, tapi kandungannya lemah, mungkin itu karna nyonya Melodi sering mengkonsumsi obat-obatan hingga berdampak buruk untuk janin yang ia kandung. dan....


Kami mohon maaf. Calon bayi kalian tidak bisa kami selamatkan, nyonya Melodi keguguran karna pendarahan hebat."


mendengar penjelasan dokter, Hans sangat terpuruk. tubuhnya terasa gemetar seakan tak terasa memijak bumi.


Orang tua Hans turut shok mendengar itu.


mereka semua menangis.


Bagaimana tidak, membayangkan Melo yang selama ini sudah menginginkan seorang anak. kini harapan mereka pupus begitu saja.


"Gak.. ini salahku!! ini semua salahku.!!" Hans berteriak kencang.


"Hans, tenangkan dirimu, berdoa saja untuk kesembuhan Melo." Wilona turut berduka sambil menangis.


"Katakan, gimana aku bisa tenang Wil, gimana?!! aku sudah merusak impian kami selama ini. gimana jika Melo tau tentang ini, aku khawatir dengan jantungnya."


Hans begitu emosi, kesedihan kehilangan calon bayi begitu menyakitkan hatinya.


Tidak lama kemudian, Melo di pindahkan ke kamar pasien. mereka pun bisa menjenguknya langsung. namun keadaan Melo masih lemah dan belum sadarkan diri

__ADS_1


Hans langsung memeluk dan menciuminya sembari menangis. ia takut Melo akan kembali drop mendengar kabar buruk itu.


"Sayang maafkan aku.. maafkan kesalahanku."


Air mata Hans mengalir deras saat meggenggam tangan Melodi.


Tak ada yang sanggup menenangkan Hans. ia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.


Hingga akhirnya Melo sadar. ia heran melihat kamar itu ramai.


namun Melo diam sejenak memikirkan apa yang sudah terjadi padanya.


Hanya Wilona yang menyadari bahwa Melo sudah membuka matanya.


"Mel..?? semuanya... Melo sudah sadar!!" seru Wilo sambil mendekati ranjang Melodi.


"Sayang, kamu sudah sadar? gimana keadaanmu, apa masih ada yang sakit?" ujar Hans cemas.


Melodi menepis tangan Hans, ia menghindar dari pandangan Hans, ia masih kesal dan membenci suaminya itu.


"Jangan sentuh aku!!" tegas Melodi.


"Sayang, kumohon maafkan aku. aku akan menjelaskan semuanya dari awal." Hans memaksa menggenggam tangan Melodi.


Namun Melo tetap tak ingin di sentuh.


"Hans, tolong mengertilah keadaan Melodi, tunggu saatnya nanti untuk bicara. saat ini dia sedang berduka karna kehilangan janinnya." ujar mama Hans


Melo ternganga kaget mendengar ucapan mertuanya itu.


teriak Melo sambil meraba perutnya.


"Gak kok sayang, mama salah omong." Hans mencoba menutupinya.


Wilo mendekat pada Hans.


"Hans, lebih baik beri tahu yang sebenarnya. kau hanya akan menyakitinya jika menutupi masalah ini. karna itu akan membuatnya berharap." ujar Wilo dengan suara kecil.


"Katakan!. apa itu benar?!" tegas Melo lagi.


Hans mencoba memberanikan diri untuk jujur.


"Iya.. benar" jawab Hans tertunduk


"Akkhhh tidak!! aku kehilangan janinku? kehilangan calon anakku?!! aku gak terima ini!! ini semua karna kamu Hans.. aku membencimu! aku benci padamu!!" teriak Melo dalam tangisan.


Hans hanya bisa diam. walaupun Melodi terus-terusan memukulinya.


*Aku harus membantu menyelesaikan masalah ini* batin Wilona.


saat Melodi melihat ke arah luar, ia melihat Sila yang nampak tersenyum manis dari kaca jendela kamar.


"Kau?!. ada apa kau ke sini hah?!! apa kau belum puas tidur dengan suamiku?! silahkan kalian tidur lagi. aku gak peduli. karna aku membenci kalian berdua!!" Melo menunjuk ke arah luar dengan tatapan kejam.


Mereka semua juga turut menoleh ke luar. namun mereka tak melihat siapapun di sana.

__ADS_1


"Mel, siapa yang kau maksud?" tanya Evan.


"Dia..!! siapa lagi kalo bukan wanita gak waras itu. aku sangat membencinya.!!"


"Maksud kamu Sila? tapi dia gak ada di sana Mel, mungkin itu perasaan kamu aja." timpal Wilo


"Gak.! tadi dia berada di sana! dia tersenyum ke arahku! aku baru tau kalo dia orang jahat!!" Melodi tetap bersikeras.


*astaga, baru kali ini aku melihat istriku seperti ini. dia sudah tak bisa mengendalikan diri* gerutu Hans dalam hati.


Semua orang mencemaskannya dan kesehatannya. karna sejak ia keguguran, ia seperti orang tak waras.


selama beberapa hari di rumah sakit, ia sering menangis dan tertawa sendiri. ia selalu menyebut nama Sila sebagai pelakor dan pembunuh janinnya.


Kondisinya yang seperti itu membuat Hans tak tenang, pikirannya terganggu, kerjaannya juga terganggu. ia pun tak fokus bekerja.


Tak tinggal diam, Wilona mengajak Hans dan Evan untuk mengusut masalah itu dan mencari bukti supaya jelas.


Setelah satu minggu di rumah sakit, akhirnya Melodi di rawat di rumahnya sendiri.


keadaan fisiknya sudah stabil, namun batinnya masih rapuh.


Melo lebih banyak diam dan bengong dengan tatapan kosong.


terkadang ia tiba-tiba menangis.


Tubuhnya pun sudah tak terurus, ia jarang sekali beribadah, tak seperti biasanya yang gak pernah tinggal lima waktu.


"Aku gak bisa liat dia kayak gini. aku harus kembalikan lagi semangatnya yang dulu." gumam Hans saat melihat Melo yang duduk diam bak patung.


~


Dalam ruangan kantor Hans. sudah ada Wilona dan Evan.


"Maaf aku terlambat. langsung saja ke inti, apa yang harus kita lakukan, dan dari mana kita akan mulai." ujar Hans buru-buru.


"Menurutku, kita selidiki dulu di hotel tempat kalian meeting waktu itu. karna di sana terakhir kali kau dan Sila berada." usul Evan.


"Benar, entah kenapa aku selalu menuduhnya.


Hans, apa kau tau, kayaknya dia suka sama kamu. mungkin ini siasatnya untuk mendapatkanmu." sambung Wilona.


"Entahlah, sekarang kita cari bukti saja dulu. apapun hasilnya nanti, aku akan terima. tapi aku gak akan mengampuni siapa pun yang sudah berbuat jahat padaku." tegas Hans dengan tatapan dendam.


"Hans, biar aku dan Wilona yang ke hotel itu. kau urus saja kerjaan mu. karna kantor ini sudah lama kau tinggalkan." pungkas Evan


"Makasih banyak, kalian berdua sudah menyempatkan diri untuk membantu mengurus masalahku."


Hans tertunduk, merasa tak enak pada Evan dan Wilo.


"Kau dan Melo sudah ku anggap sebagai keluarga, gak perlu berterimakasih Hans." ujar Evan sembari menepuk pundak Hans.


Lalu ia dan Wilona pun bergegas menuju tempat kejadian tersebut.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2