
Entah bagaimana keadaan Vino setelah ia di larikan ke rumah sakit. Entah dia bisa di selamatkan atau tidak. Semua info tentang dia tenggelam begitu saja.
Evan meminta perpanjangan waktu libur untuk Wilona kepada Hans. karna Evan ingin luka di leher Wilo benar-benar hilang tanpa bekas jika nanti mereka sudah pulang ke tanah air.
Beberapa hari di kota paris, keadaan fisik dan batin Wilo sudah jadi lebih baik.
Setiap hari ia mendapat perhatian lebih dari kekasihnya, Wilo pun mulai menanam rasa buat Evan. di hatinya mulai mencintai Evan dengan tulus.
Evan pun menanamkan sifat baru untuk Wilo, supaya dia lebih tegas, lebih ceria dan lebih profesional dari sebelumnya setelah kejadian pahit menimpanya.
Wilo menurutinya dengan senang hati, supaya orang-orang juga segan terhadapnya.
Ia juga mengubah warna rambutnya menjadi pirang layaknya orang paris kebanyakan.
Kulitnya terlihat makin cerah, di tambah matanya yang berwarna coklat karna memakai softlens yang cocok dengannya. rambutnya juga ia buat makin ikal dengan kriting gantung.
"Wahh.. pacarku sekarang sudah beda banget! kamu udah kayak artis aja sayang." Evan memuji penampilan baru Wilo.
"Harus dong, ini kan permintaan kamu. makasih ya sayang. Oh iya, gimana dengan luka di leherku? apa sudah hilang?" Wilo menunjukkan bekas luka di lehernya.
"Udah gak ada lagi kok sayang, jadi kita sudah bisa pulang. kapan nih rencananya kita pulang ke indonesia?"
"Hm.. dua hari lagi lah. Soalnya aku masih pengen bersama kamu disini. entah kenapa, aku nyaman menghabiskan waktu bersama kamu. Aku juga sudah benar-benar melupakan Hans. makasih banyak Van"
Dengan lantang Wilo mengucapkan bahwa ia sudah melupakan Hans di iringi senyuman manis dari bibirnya.
Evan tersenyum bangga dan lega melihat kekasihnya itu sudah move on. ia pun merangkul Wilo dengan pelukan haru.
*Mulai saat ini, kebahagiaanmu dan kesehatanmu adalah tanggung jawabku.*
Dua hari kemudain, Evan dan Wilo kembali ke tanah air. namun mereka langsung menuju rumah Evan dan disambut hangat oleh orang tua Evan.
Keluarga Evan sangat menyukai Wilona yang ramah dan baik di matanya. Wilo juga bersikap sopan dan manis hingga hati orang tua Evan berhasil membuatnya di sanjung.
"Wah.. kalian makin cocok setelah pulang dari paris. kalian sudah layak menjadi pasangan suami istri." ujar mama Evan sembari merangkul Wilo dan membawanya masuk ke rumahnya.
"Tante bisa aja. doain aja ya tan. karna kami juga baru pacaran, jadi semoga aja hubungan kami langgeng sampai saatnya nanti menikah" jawab Wilo dengan senyuman manis.
Evan tersenyum mendengar ucapan Wilo, itu artinya Wilo sudah serius menjalani hubungan dengannya, ia pun makin bersemangat untuk bekerja dan membahagiakan pacarnya itu.
"Kamu beneran sudah pacaran sama gadis itu? apakah kamu sudah menilai dirinya lebih dalam?" tanya papa Evan dengan nada kecil.
"Dia teman SMA aku pa. kita kenal sudah hampir 10 tahun, aku tahu betul dengan sifat dan sikapnya. percaya saja pada pilihanku." jawab Evan berbisik.
"Pilihan kamu memang top! papa mendukung kamu. dia juga mudah beradaptasi dengan keluarga kita. Papa merestui kalian. jaga gadis itu baik-baik sampai kalian menikah nanti." papa Evan tersenyum sembari melirik Wilo yang tengah ngobrol bersama istrinya itu.
Kebetulan hari itu hari minggu. Wilo di minta untuk tetap di rumah itu untuk beristirahat sembari menunggu sore.
__ADS_1
Di dalam ruang kamarnya, Evan mengeluarkan bingkai foto Wilo dan foto mereka berdua yang sempat ia print di paris tanpa di ketahui Wilo.
Ia memajang foto-foto itu di meja kerjanya, ia selalu memandangi foto Wilo sambil tersenyum.
Siapa menyangka bahwa hati bisa berubah. Bukan setahun atau dua tahun menanti pohon untuk berbunga. tapi jika kita sabar dan terus menyiraminya dengan air yang sejuk, maka pohon itu perlahan mengeluarkan kuncup dan akan menjadi kembang.
Mencintai seseorang, bukan sekedar mencintainya. tapi kita harus menjaganya dan mempertanggung jawabkan cinta kita untuknya. supaya akan kekal lebih lama.
Dia gadis biasa di mata orang lain, namun istimewa di hatiku. memang banyak mawar yang lebih indah, tapi aku hanya mencintai melati. dia lebih berseri, lebih suci dan lebih menarik.
Selamat hari jadian untuk tanggal 20 november 20xx. kota Paris jadi saksi cinta kita, di sana juga aku telah mengucap janji untuk selalu setia padamu sampai akhir hayatku. aku mencintaimu my bunny. tetaplah pegang tanganku.
Ungkapan hati Evan yang ia tulis di balik fotonya bersama Wilo, foto itu menjadi kenangan paling indah sepanjang hidup Evan.
~
Sore hari, Evan berpamitan untuk mengantar Wilo pulang ke rumahnya. tapi sebelum itu, mereka jalan-jalan terlebih dahulu.
Di hamparan luas tanaman bunga, terlihat berbagai warna warni yang menyejukkan hati. Angin sore menyapu wajah mereka berdua saat melintas, di iringi wangi bunga yang wangi semerbak.
Di bawah pohon rindang terdapat bangku dan sebuah ayunan yang makin mempercantik taman bunga tersebut. di tambah danau kecil di samping pohon makin menyejukkan mata yang melihatnya.
Mereka duduk di bawah pohon itu, Evan merangkulnya dan memanjakannya. Wilo pun meletakkan kepalanya di bahu Evan, keromantisan itu makin terasa saat melihat matahari terbenam. walau bukan di tepi pantai, tapi itu terasa lebih indah.
*Sudah lama aku gak ngerasain di cintai seperti ini. aku benar-benar telat membuka hati untuk Evan. selama ini dia hanya kuanggap sebelah mata. maafkan aku Van. tapi sekarang aku benar-benar telah mencintaimu. dan aku bahagia disisimu*
Evan menyadari bahwa Wilo sedang menatapnya. "Ada apa? apa kau sudah kagum padaku? ya aku tau, aku tak kalah tampan dari Hans. hehe" Evan mencubit gemas hidung Wilo.
"Pede sekali dah. tapi menurutku, kamu lebih tampan darinya. Dulu sih dia emang tampan. tapi sekarang dia sudah di kalahkan olehmu."
Wilo tersenyum memasang wajah imut membuat Evan makin gemas dan makin mempererat rangkulannya, tanpa sadar, ia mencium pipi Wilo.
Mereka berdua pun kaget bersamaan, saling tatap dalam diam. "Emm. sayang maafin aku ya. tadi tuh reflek, hehe" Evan tersenyum paksa dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Gitu ya? sekarang pejamkan matamu!" tegas Wilo dengan wajah datar.
*Duhh... ini kesalahan fatal. aku merusak suasana aja deh. aku pasrah jika dia menamparku* Evan memejamkan matanya untuk bersiap menahan sakit.
Cup....
Alih-alih menampar, Wilo justru balik mencium pipi Evan, lalu ia tersenyum malu.
Evan membuka matanya dengan mulut ternganga.
"Wil? kau cium aku??" matanya masih terbelakak dengan pandangan kosong.
Wilo jadi malu, ia pun berdiri membelakangi Evan. *Astaga, apa yang aku lakukan? masa cewek gitu sih? malu banget sumpah.*
__ADS_1
Bruukk...
Evan tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan erat membuat Wilo kaget.
"Van... lepasin. aku gak bisa nafasssss"
"Eh.. maaf.. maaf. aku tuh gemes. hehe" lagi-lagi Evan mengacak rambut Wilo.
"Btw...." Evan melihat leher Wilo dengan teliti.
"Ngapain liat-liat!" tegas Wilo.
"Jangan salah faham dulu sayang. coba sini." Evan mendekap Wilo, kemudian ia melepaskan kalung yang menggantung di leher Wilo.
*Astaga, aku lupa melepas kalung ini. tapi apa Evan tau kalo kalung ini dari Hans?*
"Ke... napa di lepas??" tanya Wilo heran.
"Karna aku ada penggantinya. kau simpan kalun itu ya." Evan mengeluarkan kalung yang sudah ia siapkan untuk Wilo.
Kalung itu ia beli selagi di paris. ia sengaja menempahnya dengan huruf inisial W. kemudain ia memasangkannya kembali ke leher Wilo.
Kalung itu lebih indah dengan warna perak di hiasi beberapa diamond di dekat hurufnya. Wilo tersenyum senang, karna ada pengganti kalung itu.
"Van, ini.. indah sekali. kapan kau membelinya?" Wilo mamandangi kalung itu, sesekali ia menciumnya.
"Hm.. rahasia. tapi sukurlah jika kamu suka. aku seneng melihatmu tersenyum. jaga baik-baik ya." dengan senyum bahagia, ia mengusap kepala Wilo yang masih tertunduk memandangi kalungnya.
Harta yang Evan punya saat ini. tak sebanding dengan perasaan bahagia yang tengah menghampirinya. ia siap melakukan apapun demi membuat pacarnya itu bahagia.
Akibat terlalu lama menunduk, kepala Wilo seketika sakit saat ia mencengatkan kepalanya. matanya pun mulai berkunang-kunang. keseimbangan tubuhnya mulai goyang.
"Sayang. kamu kenapa?" dengan panik, Evan langsung merangkul Wilo dan membawanya kembali duduk.
"Kepalaku sakit Van. kayaknya aku kecapean."
"Astaga. kamu sudah minum obat belum?" kepanikan Evan makin menjadi.
Wilo menggelengkan kepalanya. "Obatnya sudah habis waktu di paris kemarin"
"Ya allah. kenapa gak ngomong, sayang. ayo sekarang kita ke rumah sakit dulu. bentar lagi akan gelap."
Evan menggendong Wilo menuju mobilnya. ia sangat cemas jika penyakit Wilo kambuh lagi. ia pun segera membawanya ke rumah sakit langganan mereka.
•••
BERSAMBUNG
__ADS_1