
Wilo bertanya-tanya, ada apa mama Hans malah menyuruhnya periksa. Padahal tadi dia bilang bahwa mama Hans itu mau cek-up.
Namun ia memberi alasan dan mengatakan, "Kesehatan Wilo lebih penting"
Wilo tak mempersalahkan itu, karna itu suatu kebaikan baginya.
"Wil, gimana kalo kita ke kantor Hans sebelum kita pulang." saran mama Hans.
"Boleh tante, udah lama juga gak liat kantor, aku jadi kangen."
_
Setibanya di kantor, mereka yang melihat Wilo bersama nyonya besar itu begitu heran dan melongo.
Tak terkecuali dengan Silsila.
*What?? Kok bisa dia ke sini sama nyonya besar? Bukankah dia hilang ingatan?*
"Halo nyonya besar, salam hormat dari kami semua. Apakah kalian mau ke ruangan bos Hans? Biar saya antar." ujar Sila dengan senyuman dan penuh kesopanan.
"Em.. Kamu siapa ya? Kayak gak asing." tanya Wilo heran.
"Elah, aku sekretaris bos! Masa kamu lupa." ketus Sila dengan wajah males.
"Heii kau! Yang sopan bicara dengan Wilona! Kamu sekretaris Hans kan? Dan Wilo asisten pribadinya. Jadi lebih tinggi posisi Wilona dari pada kamu.
Satu lagi, kami gak perlu di antar!." timpal mama Hans emosi.
"Maaf ya, tante gak maksud menyinggung kamu kok." tutur Wilo dengan wajah cemas.
*Dih.. Apaan sih dia. Sok baik! Awas aja lu Wilona.!!* tatapan Sila memancarkan kebencian pada Wilo, membuatnya makin heran dengan Sila.
Saat melintasi meja kerja nya, Wilo berhenti sejenak.
"Meja ini tak asing bagiku." gumam Wilo sambil duduk sejenak di kursi kerja nya.
"Mungkin ini meja kerja kamu Wil." sahut mama Hans.
"Hm.. Bisa jadi. Tapi.....
*Ahh.. Kenapa kepalaku jadi sakit!!*
Sedikit bayangan terlintas di ingatan Wilo saat ia sering duduk dan bekerja di meja itu.
Kepalanya jadi sakit akibat kerja keras dari syaraf otak.
"Wil, ada apa? Kamu sakit? Ayo kita ke ruangan Hans." dengan cepat, mama Hans menuntun Wilo berjalan menuju ruangan Hans.
Namun keadaan Wilo sudah dalam setengah sadar dan setengah di bawah sadar.
Dalam keadaan seperti itulah banyak ingatan-ingatan kecil bermunculan, namun sayangnya memori otak Wilo belum siap untuk merekam semuanya.
Tok.. Tok..!!
"Hans.. Tolong Wilo." mama Hans mendorong pintu sembari sempoyongan memapah tubuh Wilo.
"Mama? Astaga, Ada apa dengan Wilona?!" dengan langkah buru-buru, Hans langsung menghampiri mereka dan menggendong Wilo untuk meletakkannya ke sofa.
"Hans, sepertinya Wilo mengingat sesuatu saat dia melihat meja kerjanya. Coba lain kali kau ajak dia ke tempat yang pernah kalian kunjungi bersama, dengan begitu, maka ingatannya bisa saja cepat kembali."
"Iya, mama benar. Aku akan melakukannya." sahut Hans sambil menatap wajah Wilo yang masih berkeringat menahan sakit.
*Hm.. Ini kesempatan bagus untuk meninggalkan mereka berdua.*
"Hans, mama pulang dulu ya, nanti Wilo pulang bareng kamu saja, jangan lupa ajak dia makan siang." tutur mama Hans.
"Loh, kok mama pulang sih? Ntar di cariin Wilo ma."
"Emm.. Tadi itu Melodi menitip minta di beliin mangga, yaa walaupun dia minta di beliin sama Wilo, tapi kan Wilo nya lagi kayak gini. Jadinya mama terpaksa membelikannya." sahutnya berbohong.
"Oh.. Gitu. Ya baguslah, silahkan mama belikan. Mama gak lupa kan kalo mangga itu buah kesuakaan Melo?."
__ADS_1
"Mama lupa. Ya sudah, mama pulang dulu. Jagain Wilona."
Setelah mama nya pergi, Hans membantu untuk menyadarkan Wilo dengan memijat kepalanya menggunakan minyak kayu putih.
Namun Wilo masih dalam alam bawah sadarnya.
Ingatan kecil yang muncul itu berisikan momennya bersama Hans.
"Gak... Ini gak boleh terjadi... Dia milik orang lain.. Tidak..!!" teriak Wilo mengigau.
Hans mencoba membangunkan Wilo dengan menepuk wajahnya perlahan. "Wil.. Bangun. Ada apa denganmu? Wilona..!!"
Mendengar suara Hans, mata Wilo pun terbuka ia langsung duduk dan memeluk Hans secara spontan.
"Wil, ada apa denganmu? tolong jangan kayak gini." tanya Hans bingung.
Mata Wilo terbelalak kaget karna sedang mendekap tubuh Hans, ia pun langsung melepaskan diri.
"Maaf Hans,, aku gak sengaja. Kupikir... Kupikir tadi bukan kamu. Maaf ya." Wilo merasa malu sendiri dengan yang ia lakukan.
Namun Hans mengerti dengan perasaannya, karna itu bukan ia sengaja.
"Gak apa-apa Wil. Kamu istirahat saja dulu.
Atau kamu mau pulang? Biar di antar sama supir."
"Iya, lebih baik aku pulang. Aku gak mau mengganggu kamu kerja." sahutnya tertunduk.
"Ayo ku antar ke bawah." Hans membantunya mengantar sampai parkiran.
Saat Hans membukakan pintu mobilnya untuk Wilo, tiba-tiba Evan datang menghampiri.
"Maaf, Wilo mau kemana?"
"Nah, kebetulan ada kamu. Kau bisa antar dia pulang kan? Kepala nya sakit, mungkin dia lebih nyaman jika bersamamu." ujar Hans pada Evan.
"Baiklah. Ayo Wil ku antar pulang." Evan membantu Wilo naik ke mobil nya.
"Hm.. Aku akan tetap menjaganya, selama aku bernafas.
Ya sudah, kami pergi dulu."
Saat dalam perjalanan pulang. Evan terus menatap Wilo yang sedari tadi hanya murung dan diam merunduk.
Ia tengah memikirkan apa yang sudah ia lakukan pada Hans.
"Wil?? Ada apa?"
"Hah? Gak ada apa-apa kok.
Van, pulangnya nanti saja, aku ingin jalan-jalan. Setelah itu antar aku ke rumahku ya."
"Baiklah ratu."
Dengan senang hati, Evan mengajak Wilona ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi sewaktu kuliah dulu.
Sedikit demi sedikit, bayangan masa lalu itu melintas di ingatan Wilona.
_
Di sisi lain, di rumah Hans.
Notif di ponsel Melodi berbunyi.
"Pasti chat dari Hans." ujar nya riang sambil mengambil ponsel nya.
"Mel..." panggil mama Hans yang baru saja tiba.
Melodi meletakkan kembali ponselnya. Lalu menghampiri mertuanya itu.
"Ma udah pulang? Mana Wilona?"
__ADS_1
"Udah jangan banyak tanya, ini buah mangga. Wilo lagi di kantor, mama suruh dia kerja."
"Wah, mama beliin aku mangga? Makasih banyak ma." Melo tersenyum senang.
"Tapi kok Wilo di suruh kerja? Bukankah tadi kalian ke rumah sakit?"
"Hm.. Dia mau kerja. Ya sudah, mama mau tidur siang dulu. Jangan lupa makan mangganya."
Saat mama Hans hendak ke kamar, Melo kembali melihat ponselnya. Namun ia sangat kaget karna mendapat foto saat Wilona sedang memeluk Hans di ruang kerjanya.
Foto itu di kirim oleh Silsila, tak lupa ia menyelipkan kata-kata yang membuat hati Melo tertekan.
^Buk Bos, itu kelakuan Wilona saat bersama pak Bos. Dia itu gadis penggoda, jangan percaya dengan wajah polosnya. Kembalikan aja dia ke rumahnya, ntar dia jadi pelakor di rumah tangga kalian.^
Membaca pesan beserta foto itu, air mata Melo langsung menetes begitu saja. Ponsel yang ia pegang tiba-tiba jatuh hingga layarnya retak. Tubuhnya jadi lemas, Melo pun buru-buru duduk di sofa.
Mama Hans menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat dan memungut ponsel Melo yang jatuh.
*Hm.. Berani sekali dia mengambil gambar ini* gumam mama Hans.
"Nih ponsel kamu. Jika suatu saat Hans mencintai Wilona, maka jangan salahkan Wilona ataupun Hans. Tapi itu salah kamu, karna Hans ingin mempunyai keturunan, dan aku ingin punya cucu."
Ucapan itu makin membuat hati Melodi hancur berkeping-keping. Ia tak sanggup lagi mencengatkan wajahnya.
Air matanya bercucuran tanpa henti. Bagimana tidak, saat ini tak ada tempat untuk dia bercerita ataupun mengadu untuk meringankan perasaannya.
Melo berlari ke kamar tanpa menghiraukan ponselnya. Ia tak tau apa yang harus ia katakan saat Hans dan Wilo pulang.
Ia tak tau apakah mereka bersalah atau tidak, tapi hanya satu yang menguatkan hatinya, bahwa ia sangat mempercayai suaminya, apapun yang suaminya lakukan.
Tok... Tok..
"Nyonya, bolehkah saya masuk?" ujar dokter Meri.
"Silahkan." jawa Melo dengan suara serak. Ia masih menutupi wajahnya dengan guling.
Dokter Meri mendekat dan duduk si samping Melo sambil memberikan ponselnya.
"Nyonya, aku tau yg anda rasakan. Kalo aku boleh berpendapat, jangan mudah percaya dengan apapun itu. Karna belum tentu yang kita lihat itu adalah yang mereka lakukan, karna bisa saja seseorang hendak menghancurkan hubungan kalian bertiga."
Ucapan dokter Meri membuat Melo merasa sedikit lega.
"Kau benar, belum tentu Hans dan Wilo melakukan itu, bisa saja itu tidak mereka sengaja. Makasih dok, perasaanku sedikit lega."
"Baiklah, aku permisi dulu, jaga air matamu nyonya."
*Ya, benar. Aku dan Hans saling cinta dan saling percaya. Kenapa aku mudah tersakiti hanya dengan foto seperti itu. Mmungkin Sila tak sengaja melihatnya*
Drrttt...... Drrtt..
"Telpon dari hans?" Melo ragu-ragu untuk menjawab, namun ia tetap menerima telpon itu.
"Halo sayang, lagi apa? Tadi mangganya di beliin mama kan?"
"iya, aku lagi tidur." jawabnya singkat.
"Ada apa dengan suaramu? Kenapa agak serak?"
"Ini, tenggorokanku sedikit kering karna tidur, tapi gak apa-apa kok. Kamu sudah makan?"
"Sudah, kamu juga jangan lupa makan ya. Oh iya, apa Wilo sudah sampai? Tadi dia pulang bareng Evan."
"Belum, mungkin sebentar lagi. Ya sudah aku tutup dulu ya telponnya. Assallamu'alikum." belum sempat Hans menjawab, Melo sudah menghentikan telponnya.
"Hans gak ngomong apa-apa. Itu artinya emang gak ada apa-apa. Aku jadi lega." gumam Melo.
•••
BERSAMBUNG
Like komen
__ADS_1