Dua Pilihan

Dua Pilihan
Insiden.


__ADS_3

Esok pagi di rumah Hansel. Ia hendak berangkat kerja.


"Hans, tunggu bentar." panggil Melodi dengan membawa beberapa plastik kecil di tangannya.


"Ada apa sayang?."


"Ini, ada beberapa baju kantoran untuk Wilo, nanti berikan padanya ya. Hampiri dia sebelum dia ke kantor, biar dia bisa pake baju ini." Melo memberikan plastik itu pada Hans.


"Dari mana ini sayang? kau membelikannya? kenapa peduli banget sama dia? apa kau gak cemburu kalo aku dekat dengannya?" timpal Hans bingung.


"Oh itu, aku kan mau buka butik Hans, kebetulan barang-barangnya sudah siap. Itu hadiah buat Wilo.


Oh iya, soal ruko butik, mending beli aja ya, soalnya lama kalo mau bikin."


"Iya sayang, nanti aku cariin ya.


Ya sudah aku pergi dulu, sudah siang." Hans mengecup kening Melodi.


"Hati-hati sayang."


_


Hans melajukan mobilnya cukup kencang.


Setibanya di rumah Wilo, terlihat ada mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Mobil siapa itu?" gumam Hans sambil keluar mobil.


Wilo dan Evan terlihat keluar rumah bersamaan, di iringi oleh mama Wilo.


"Ternyata Evan. ya sudah nanti saja aku berikan ini." Hans kembali masuk ke dalam mobil.


Kemudian Evan dan Wilo juga berangkat ke kantor, namun mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa Hans melihat mereka.


Di sisi lain, mobil berwarna merah juga berhenti tidak jauh dari mobil Evan.


"Ternyata rumah kamu di sini Wil? aku akan terus mengikuti sampai kau memaafkan aku." gumam Vino.


Vino tanpa sengaja bertemu mobil Evan, ia pun membuntutinya hingga tiba di rumah Wilona.


_


Setibanya di kantor, Wilo sudah di tunggu Hans di lobi kantor.


"Wil, ikut ke ruanganku sekarang." tegas Hans sembari melangkah menuju lift.


Saat Wilo hendak mengiringi, tiba-tiba dua sahabatnya itu datang menghampiri.


"Wil, sekarang Bos Hans kok kayaknya dekat banget sama kamu." ujar Sinta


"Iya, ntar istrinya marah lo." sambung Mita.


"Kalian apaan sih, kita kenal sudah lama, masa kalian menuduh sahabat sendiri.


Gini, istrinya bos Hans memintaku untuk jadi asistennya. Kalian pikir aku mau? pasti aku akan di suruh itu ini kayak babu." jelas Wilo.


"Lah, terus? kenapa kamu mau?" tanya Mita penasaran.


"Tadinya aku menolak, tapi nyonya Melodi yang memaksa, karna sekalian aku jadi asistennya dia ntar."


"Wilo, ayo cepat!!" tegas Hans yang sudah berada di depan pintu lift.


"Guys, maaf ya. Aku pergi dulu. dahh." Wilo segera menyusul Hans kemdian masuk ke dalam lift.


Sementara itu, Mita dan Sinta memberitahu semua staff bahwa Wilona sekarang menjadi asisten Bos mereka.


"What? asisten?" timpal Sila yang baru saja tiba di kantor.

__ADS_1


"Iya, kenapa? iri ya?" ketus Sinta.


"Idih.. jaga tuh mulut, aku bisa laporin kalian ke bos Hans." sahut Sila yang sudah terpancing emosi.


"Eleh.. ,bilang aja iri ya kan? mulai hari ini, pasti Wilo lebih sering di ajak pergi, dari pada kamu. Hahaha..


Dan yang terpenting, ini semua atas permintaan nyonya Melodi." lanjut Mita sembari tertawa.


Silsila langsung pergi karena sudah merasa kesal. *Gimana bisa cewek udik itu jadi asistennya bos? aku gak bisa biarin!.* gerutu Sila dalam hati.


_


Saat dalam lift, Hans memberikan baju yang di kirim oleh Melodi.


"Ini baju baru kamu, mulai hari ini pakai baju-baju ini. Kalau kurang banyak, ntar aku beliin lagi."


"Baju? ini udah banyak bos. Apa perlu aku pakai baju bagus kayak gini? aku kan cuma asisten." timpal Wilo sembari mengecek isi plastik itu.


"Itu titipan dari istriku, jangan menolaknya. Kau harus bisa dandan kayak Sila, karna mulai sekarang kau harus ikut kemanapun aku pergi." tegas Hans.


"What?!"


Bruaakkkk....!!


Tiba-tiba lift berhenti seketika. dan membuat hentakan kecil, hingga Hans dan Wilo terjatuh ke lantai.


"Bos. ada apa ini?? jangan-jangan lift nya rusak." Wilo mulai panik, ia takut kalau lift akan jatuh ke lantai dasar, dan taruhannya adalah nyawa.


"Wil, kamu tenang ya, ini hanya salah teknis, sudah biasa kayak gini kok."


*Kenapa lift nya bisa macet? padahal selama ini gak pernah kayak gini.*


Hans kembali berdiri, ia pun menjulurkan tangannya untuk membantu Wilo berdiri.


Namun, saat mereka hendak berdiri, lift itu kembali turun dan membuat hentakan.


"Stt.. diam, atau gerak perlahan. Jika tidak, kita beneran akan terjatuh ke lantai dasar, dan kita pasti mati." bisik Hans dengan suara kecil.


"Hah?? ba... baik." ada rasa tidak nyaman di hati Wilo, karna dia berada dalam pelukan suami orang. Tapi ia juga takut untuk bergerak, demi keselamatan nyawa mereka.


Hans memencet tombol Emergency supaya lampu darurat menyala.


Ia juga langsung menelpon pihak teknisi. Namun butuh waktu berjam-jam untuk melakukan perbaikan.


Tubuh Wilona mulai panas, karna kurangnya oksigen. "Bos, masih lama kah? aku gak tahan, ini sudah mulai panas. Aku akan beranjak pelan-pelan."


"Baiklah, tahan gerakmu, jangan terlalu cepat." Hans juga membantu Wilo duduk perlahan, kemudian ia juga duduk di sampingnya.


"Akhirnya kita bisa duduk juga, aku lega. Tapi ruangan ini mulai panas." gerutu Wilo sambil melepas sepatu kerjanya.


Satu jam kemudian, belum ada tanda-tanda lift itu akan terbuka. Hans sudah menelpon teknisi beberapa kali, tapi mereka tetap meminta waktu untuk perbaikan.


Saat Hans menoleh pada Wilo, ternyata ia sudah tidur.


"Kasian gadis ini, kepanasan." Hans mencoba mengipasi Wilo menggunakan jas kerja nya.


Dua jam sudah menunggu, udara dalam lift sudah mulai habis. Wilo dan Hans sudah merasakan kepanasan dan sesak nafas.


"Aku..... Gak bisa nafas." Wilo mencoba menghirup udara sekuat tenaga, Hans juga sudah mengipasinya namun percuma, karna tidak ada udara.


"Astaga, gimana ini?"


"Bos,, aku.. " Wilo kehabisan nafas, ia pun pingsan. Tubuhnya jadi lemah gemulai.


Hans mulai panik, karna pasti dia juga akan menyusul.


"Heii kalian diluar! apa kerja kalian hah?! sampe dua jam lift ini belum terbuka juga!! Cepat buka!! kami sudah kehabisan oksigen!" teriak Hans sambil memukul pintu lift.

__ADS_1


Suara ricuh di luar mulai terdengar. Mereka berusaha keras untuk membuka pintu itu.


Beberapa menit kemudian, pintu itu berhasil dibuka.


Pemandangan yang tak biasa mereka lihat, pasalnya Hans tengah merangkul Wilo yang sudah tak sadarkan diri.


Melihat lift yang sudah terbuka, Hans merasa lega dan mulai bernafas normal.


Desas desus mulai menghiasi ruangan, mereka mulai menuduh Wilo mengambil kesempatan untuk mendekati Bos mereka itu.


Namun Hans tak menghiraukan mereka, yang ia pikirkan adalah keselamatan Wilona.


Hans menggendongnya dan membawa ke ruangannya.


Dibalik kerumunan orang, Melodi juga menyaksikan itu, karna ia juga baru tiba di kantor.


"Maaf, ada apa dengan suami saya dan asistennya." tanya Melo dengan seorang staff.


Dengan cepat Silsila mendekati melodi.


"Hai buk, mau tau apa yang terjadi? si Wilona itu cewek gak bener, masa dia masuk satu lift sama bos. Itu kan lift pribadinya bos. Terus tadi dia pura-pura pingsan biar di gendong bos." jelas Sila dengan santai.


"Astaghfirullah. Sila, jaga bicaramu! Wilona bukan orang seperti yang kau tuduhkan! dia gadis yang baik, maka dari itu aku menyuruhnya menjadi asisten suamiku."


Melodi pergi begitu saja dari hadapan semua staff yang menyaksikannya. Sedangkan Sila merasa kesal sendiri.


Setibanya di ruangan Hans, Melodi masuk dengan cemas. Ia melihat suaminya itu tengah berupaya menyadarkan Wilona dengan memberinya minyak angin.


"Hans..." panggilnya sembari berjalan cepat.


"Sayang, sama siapa kamu ke sini?"


"Aku sama supir, tadinya mau ngajakin Wilo pergi, tapi kayaknya dia gak sehat.


Kalian terjebak di lift ya? kamu gak apa-apa kan? sini, biar aku bantu Wilo."


"Aku gak apa-apa sayang, jangan cemas. Wilo juga baik-baik saja, dia hanya kehabisan oksigen."


"Wil, bangun dong." Melo mengusapkan minyak kayu putih di dekat hidung Wilo, ia juga menggosok telapak tangan Wilo supaya dia cepat sadar.


Tidak lama kemudian, Wilo membuka matanya perlahan.


"Dimana aku?" memikirkan apa yang sudah terjadi.


"Bos Hans di mana? apa dia baik-baik saja?" Wilo langsung beranjak duduk.


Hans mendekat padanya. "Aku di sini Wil, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" jawab Hans dengan senyuman.


"Sukurlah, aku pikir kita gak akan selamat." mata Wiona masih terlihat ketakutan.


"Jangan cemas, kita baik-baik saja sekarang.


Lebih baik kamu istirahat ya."


Melihat Hans dan Wilo yang saling mencemaskan, perasaan cemburu di hati Melodi mulai muncul, namun ia tidak memikirkan itu, karna ia percaya pada Hans dan Wilo.


*Ya allah, begini rasanya jika melihat suami mempedulikan wanita lain di hadapanku sendiri.


Astaga mikir apa aku ini!. aku percaya suamiku, aku percaya Wilona wanita baik. Jauhkanlah pikiran menyesatkan ini.*


Batin Melodi.


Melo tetap tersenyum, dan menghilangkan segala prasangka buruknya. Ia tetap merawat Wilona dan menemaninya selagi ia tidur, sekaligus menemani Hans bekerja.


•••


BERSAMBUNG

__ADS_1


Like. Komen. Vote🙏


__ADS_2