Dua Pilihan

Dua Pilihan
Masa Lalu


__ADS_3

Esok pagi.


Wilona pergi ke rumah Hans, karna Melodi yang menelfonnya untuk datang.


Namun ia tak sendiri, karna Evan datang untuk menemaninya.


Pasalnya, di hari libur ini, Wilo ada janji dengan Evan untuk jalan-jalan. Namun harus batal karna permitaan istri bos nya.


Ding...Dong...!!


Wilo menekan bel rumah megah itu.


Melodi datang untuk membukakan pintu.


"Haii Wil, kau datang lebih pagi ya. Ayo masuk." sambut Melo dengan ramah.


"Iya karna aku mau pergi. Sudah ada janji soalnya."


"Begitu ya? kamu sama siapa ke sini? mobil siapa di depan? kalau kamu ajak teman, suruh masuk saja." tutur Melodi.


"Eh, gak usah Mel, dia udah biasa di luar kok. Biarin aja dia nunggu di mobil." timpal Melodi cengengesan.


Mereka pun masuk dan menemui Hans yang sedang menikmati teh nya.


"Silahkan duduk Wil. Ada yang mau kami sampaikan padamu." ucap Melodi sembari menyodorkan makanan ringan.


"Oke, silahkan langsung saja."


"Wil, mulai hari ini, kau menjadi asisten pribadiku, dan kau tinggal disini mulai besok." tegas Hans.


Wilo terdiam sesaat sembari menelan ludah.


Dalam pikirannya terbesit bahwa dia akan di jadikan budak oleh bos nya itu.


"Wil??" Melodi menepuk pundaknya.


"Eh.. maaf.. Tapi aku gak bisa, bukannya aku menolak. Maaf banget Bos." Wilo menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.


"Wilo, ini permintaan istriku. Tujuan kau tinggal di sini supaya Melo ada temen ngobrol." timpal Hans kembali.


"Hah? maaf Mel, tapi aku kayaknya gak di izinin sama mama papa. Tapi aku janji, kalo kau butuh aku, aku pasti selalu ada kok." sahut Wilona tersenyum sembari menggenggam tangan Melodi.


Melo tertunduk diam sesaat, merasa kecewa, namun ia sadar bahwa Wilo juga punya kehidupan sendiri.


"Iya Wil, maaf ya. Aku kayak memaksa. Tapi kalo aku minta kau menginap ke sini, kau harus mau ya?"


"Iya m, aku janji. Tapi....aku beneran jadi asistennya bos kah?" tanya Wilo lagi untuk memastikan.


"Iya, jadi mulai sekarang kau harus ikut kemana aku pergi. Begitu juga dengan Melodi." tegas Hans sekali lagi.


*Kan.. kan.. Pasti deh ntar aku capek banget. Pengen ngundurin diri lagi aja.* gumam Wilo dalam hati


"Kenapa diem? jangan bilang kalo kamu ada niatan untuk resign?" ketus Hans menatap Wilo.


"Tau aja nih orang." gerutu Wilo dengan suara kecil.


"Em... enggak kok bos. Kalo gak ada yang mau di sampaikan lagi, aku pergi dulu ya."


"Hati-hati ya Wil. Salam buat temen kamu." timpal Melodi sembari mengiringi Wilo berjalan keluar.


_


Sementara itu, Evan sudah hampir ketiduran karna kelamaan menunggu.


"Van, Ayo jalan."

__ADS_1


"Eh.. udah selesai? ada apa?" Evan sedikit kaget dengan kehadiran Wilo.


"Nggak ada apa-apa. Ayo kita pergi, kau mau ajak aku kemana?"


"Ke suatu tempat." sahut Evan tersenyum manis. Pria 26 tahun itu kemudian mengemudikan mobilnya.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di suatu tempat.


Di atas hamparan lahan yang luas, di penuhi dengan bunga warna warni, serta angin yang berhembus pelan mengundang suasana romantis.


Namun Wilo terdiam sesaat, karna tempat ini mengingatkannya pada suatu kejadian.


"Van, apa tujuan kamu membawaku kemari?" tanya Wilo tegas.


Evan menggenggam tangan Wilona.


"Aku gak bermaksud apa-apa. Kau masih ingat dengan kejadian 5 tahun yang lalu di tempat ini?"


Wilo memalingkan wajahnya dari tatapan Evan.


"Buat apa mengingat hal yang menyakitkan itu? aku sudah mencoba melupakannya, tapi tetap saja melekat di fikiranku."


Evan tersenyum dan kembali menatap Wilo.


"Iya, kau benar, itu sulit di lupakan. Tapi kamu gak tau saat itu aku ada disini."


"Maksudmu?" tanya Wilo heran.


"Saat pacarmu selingkuh, dan kau mengetahuinya disini. Saat itulah aku juga ada di sini. Aku melihat dan mendengar semua pertengkaran kalian, aku mau membela kamu, tapi aku menahan diri dan bersembunyi disini." jelas Evan.


"Benarkah?"


"Iya, dan saat kau pergi, aku menemui pacarmu itu dan selingkuhannya, lalu kami pun bertengkar dan saling pukul."


"Aku ingin membalaskan sakit hatimu, karna aku mencintaimu."


Wilo terbelalak kaget dengan pengakuan Evan.


Namun Evan langsung meraih kedua tangan Wilo untuk membuatnya tidak marah.


"Wil, tolong jangan membenciku, aku hanya mengungkapkan perasaanku, kau gak perlu menjawab atau membalasnya."


"Sejak kapan kau menyukaiku?"


"Aku gak tau pasti, tapi saat kau pacaran dengannya, aku mulai merasa cemburu. Aku memilih diam karna kalian berdua sahabatku. Maafkan aku Wil, tolong jangan membenciku. Kita masih bisa berteman kan?"


"Aku gak membencimu Van, karna cinta gak salah. Tapi kita tetap seperti teman biasa." jawab Wilo dengan senyuman.


Tanpa ia sadari, Evan memeluk Wilo dengan gembira. "Makasih banyak Wil, aku menyanyangimu."


"Aku juga, tapi hanya sebatas sahabat. Ya sudah, ayo kita pulang."


Walaupun Wilo menganggapnya sahabat, tapi itu cukup membuat Evan merasa lega dan gembira.


Ketika mereka berdua hendak masuk mobil, tiba-tiba ada seseorang memanggil nama Wilo.


"Wilona..!!" terdengar suara dari kejauhan.


Wilo dan Evan langsung menoleh mencari sumber suara itu.


"Wil apa kabar?"


"Kau?? ada perlu apa? kami mau pulang" jawab Evan tegas pada pria tersebut.


"Aku mau bicara pada Wilona, sebentar saja." paksa Pria itu.

__ADS_1


Wilo tak menghiraukan pria itu, bahkan ia tak menatap wajahnya.


Ingatan itu masih jelas betul, perasaan sakit masih menusuk hati saat melihat wajah pria di hadapannya.


Pria itulah yang membuat Wilona menutup hati selama ini karna rasa trauma.


Ia adalah mantan pacar Wilo 5 tahun silam, saat mereka masih kuliah.


Pria itu bernama Vino Sinaga, pria yang telah menghianati kesetiaan Wilona demi wanita lain.


Vino menggenggam tangan Wilo utuk minta maaf.


"Wil, aku minta maaf karna dulu aku pernah menyakitimu. Kamu mau kan maafkan aku? apa kau mau berteman lagi denganku?"


Prakk!!


Wilo menampar keras wajah Vino.


"Kamu mau minta maaf? mau temenan sama aku? Apa kau gak sadar bahwa kau sudah punya istri Vin!!!" bentak Wilo


"Wil, aku sudah cerai dengannya. Dia selingkuh dengan teman kantorku. Sekarang aku gak peduli padanya!" tegas Vino, sementara Evan masih diam.


"Oh.. terus aku harus peduli gitu?


Gimana rasanya di hianati Vin? apakah kau bahagia?" timpal Wilo tersenyum.


Vino tetap meraih tangan Wilona.


"Wil, tolong maafkan aku. Aku gak minta lebih, cukup berteman baik saja untuk menebus keslahanku."


"Maaf Vin, aku gak butuh teman sepertimu!!


Kau nikmati saja kepahitan hidupmu sekarang. Mungkin ini adalah karma untukmu!


Asal kau tau, aku hampir kehilangan nyawaku karna terlalu stres dan sakit hati saat kau hianati. Aku hampir bunuh diri Vin!! itu semua karna kamu!!"


Wilona teriak sembari meneteskan air mata. Luka yang sudah lama terkubur itu kembali terbuka walaupun tak di ingat.


"Van, ayo kita pergi. Biarkan dia di sini." Wilo meraih tangan Evan untuk masuk ke mobil.


Namun Vino kembali menangkap tangan Wilona dan memaksa untuk di maafkan.


Evan menepis tangan Vino dan mencekamnya erat.


"Kau punya indra pendengar gak?!


Inget ya Vin, sudah cukup kau sakiti Wilo, dulu aku mungkin membiarkannya. Tapi sekarang tidak!! karna aku akan melindunginya!"


Tatapan tajam mata Evan tertuju pada wajah Vino. namun Vino hanya diam dan membenarkan ucapan Evan.


Saat dalam mobil, Wilo masih menteskan air mata yang harusnya tak perlu ia keluarkan.


Evan menggegam tangannya untuk menguatkannya, karna ia tau perasaan Wilo pasti sangat sakit.


Ia pun menyeka air mata Wilo yang masih mentes di pipinya.


"Kau bukan seperti Wilo yang aku kenal, air mata ini gak pantas mengalir di pipimu."


Wilo tetap diam dan mencoba melupakan kesedihan itu.


•••


BERSAMBUNG


Like. Komen. Vote🙏

__ADS_1


__ADS_2